Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 18 - ORANG YANG TAK MAU DIAM
Ara kembali ke kelas dengan langkah yang lebih ringan dari pagi tadi.
Kotak bekal dimasukkan ke tas, buku catatan ditata kembali ke posisinya, dan ada sesuatu yang hangat yang masih tersisa di dadanya dari satu jam terakhir di atap. Sesuatu yang tidak bisa ia beri nama dengan tepat tapi tidak perlu diberi nama sekarang.
Via tak ada, mungkin belum kembali dari kantin.
Ara berjalan keluar kelas ke arah toilet yang ada di ujung lorong lantai dua, melewati beberapa siswa yang masih berlalu-lalang memanfaatkan sisa waktu istirahat, melewati papan pengumuman yang entah kapan ditambah satu lembar kertas baru tentang pendaftaran ekskul, melewati semua yang sudah sangat familiar sampai tidak lagi terasa perlu diperhatikan.
Toilet perempuan di ujung lorong selalu lebih sepi dari yang di lantai satu. Alasan yang membuat Ara lebih menyukainya, karena sepi berarti tidak ada antrean dan tidak ada terlalu banyak orang yang akan memperhatikannya memperbaiki rambut atau mengecek seragamnya di cermin.
Ia mendorong pintu masuk.
Dua bilik paling kiri kosong. Ara masuk ke bilik pertama, menutup pintunya, menguncinya.
Tidak sampai tiga puluh detik di dalam, suara pintu toilet terbuka dari luar. Langkah kaki lebih dari satu orang. Suara tas diletakkan di wastafel. Suara cermin yang dimanfaatkan, suara tawa kecil yang terputus-putus.
Ara tidak terlalu memperhatikan. Toilet sekolah selalu ada orang masuk keluar di jam istirahat.
Sampai salah satu suara itu menyebut sebuah nama.
Namanya.
"Sok cantik banget sih si Ara itu."
Ara berhenti bergerak.
"Iya kan? Kenapa juga Mike mau deket sama cewek kayak dia."
Suara pertama tertawa kecil. Suara yang terdengar seperti milik seseorang yang terbiasa berbicara dengan volume yang tidak terlalu memikirkan apakah ada yang mendengar karena biasanya percakapan seperti ini dilakukan di tempat yang mereka anggap aman.
Toilet yang tampak kosong adalah tempat yang mereka anggap aman.
Ara berdiri di dalam biliknya tanpa bergerak. Jantungnya berdetak dengan cara yang berbeda dari biasanya, bukan lebih cepat tapi lebih berat, seperti setiap detak membawa sesuatu yang sedikit lebih panas dari sebelumnya.
"Suka banget bikin drama di dalam kelas." Suara kedua, sedikit lebih nyaring dari yang pertama. "Pengen nunjukin dia jadi rebutan dua cowok? Lebay banget."
"Yang lebih parah," suara ketiga, yang paling pelan tapi paling tajam cara mengucapkannya, "dia malah milih si Gian. Cowok aneh itu. Apa matanya buta?"
Tawa kecil dari ketiganya.
Ara merapatkan tangannya di sisi tubuhnya. Pelan. Perlahan. Jari-jarinya menemukan telapak tangannya sendiri dan menggenggamnya dengan cukup keras.
Ini bukan pertama kalinya ia mendengar orang berbicara tentangnya. Ia sudah cukup lama menjadi Tiara Alexsandra untuk tahu bahwa menjadi orang yang diperhatikan berarti juga menjadi orang yang dikomentari, tidak selalu dengan cara yang menyenangkan, tidak selalu oleh orang yang mengenalnya.
Tapi biasanya ia bisa melewatinya.
Biasanya ada jarak yang cukup antara ia dan kata-kata itu sehingga kata-kata itu tidak benar-benar sampai ke tempat yang bisa terasa.
Tapi kali ini ada nama lain yang disebut di antaranya.
Dan itu berbeda.
"Kasihan Mike." Suara pertama lagi, nada puas yang menyebalkan di belakangnya. "Mending sama aku aja. Aku lebih cantik."
"Setuju." Suara kedua. "Sumpah, Ara bodoh banget."
"Iya. Apa bagusnya si Gian itu? Pendiem, nggak gaul, maniak game. Mukanya lumayan lah tapi itu doang."
"Mukanya lebih dari lumayan tapi tetep aja, sama Ara? Nggak worthit."
Darah di telinga Ara terasa lebih hangat dari seharusnya.
Ia bisa mengabaikan bagian tentang dirinya. Sudah terlatih untuk itu, sudah punya mekanisme yang cukup terasah untuk membiarkan kata-kata tentang dirinya lewat tanpa membuka pintu terlalu lebar. Bisa jadi tidak menyenangkan, tapi bisa dilewati.
Yang tidak bisa ia lewati dengan cara yang sama adalah kata-kata tentang Gill.
Cowok aneh. Tidak worthit. Apa bagusnya.
Sesuatu di dalam dada Ara yang tadi hangat sekarang mendidih dengan cara yang baru.
Bukan panas yang dramatis yang meledak ke luar. Lebih seperti panas yang sudah cukup dan sudah memutuskan bahwa sudah waktunya bergerak.
Ara melepas kunci biliknya.
Tangannya sudah di pintu, mendorong ke depan, sudah siap untuk melangkah keluar dan menghadapi ketiga suara itu langsung, ketika sesuatu yang tidak ia duga terjadi lebih dulu.
BRAK.
Bunyi keras dari bilik paling ujung, suara pintu bilik yang ditendang dari dalam ke arah luar dengan tenaga yang sangat tidak perlu untuk membuka pintu yang tidak dikunci.
Ketiga suara itu langsung berhenti.
Pintu bilik paling ujung terbuka.
Via keluar.
Rambut hitam pendeknya rapi seperti biasa, seragamnya bersih, dan ekspresinya adalah ekspresi yang Ara sudah sangat kenal dan yang selalu berarti bahwa seseorang di dekatnya akan sangat menyesal dalam waktu dekat.
Tiga cewek berdiri di depan cermin wastafel, ketiganya menoleh ke Via dengan ekspresi yang bermacam-macam tapi semua mengandung terkejut dalam kadarnya masing-masing.
Ara bisa melihat mereka sekarang dari celah pintu biliknya yang sudah terbuka. Tiga orang yang wajahnya ia kenal dari lorong dan kantin dan kelas-kelas yang berbeda tapi tidak cukup kenal untuk tahu namanya. Yang satu rambutnya auburn ikal sebahu, yang satu lagi hitam lurus dengan poni samping, dan yang ketiga rambutnya dikuncir dua dengan pita yang tidak sesuai usianya.
Yang dikuncir dua adalah yang pertama bicara. "Apa sih, kasar banget jadi cewek."
Via tidak menjawab.
Ia berjalan ke arah mereka dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi juga tidak ada jeda yang memperlihatkan keraguan, langkah seseorang yang sudah memutuskan sebelum melangkah.
"Via—" Ara mulai bergerak keluar dari biliknya.
Tapi tangan Via sudah bergerak lebih cepat.
Plak.
Keras. Tepat. Di pipi si rambut auburn yang tadi bersuara paling kencang di antara ketiganya soal Gill.
Toilet menjadi sangat hening selama setengah detik.
Si rambut auburn memegang pipinya, matanya membulat dengan campuran terkejut dan marah yang belum sepenuhnya tahu mana yang harus menang dulu.
"Kenapa nggak suka?" Via berkata. Pelan. Sangat pelan untuk situasi yang volume emosinya sudah sangat tinggi.
Si rambut poni samping langsung bergerak. Tangannya terangkat ke arah Via dengan kecepatan yang jelas menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya ia terlibat dalam sesuatu seperti ini.
Via mengelak.
Kepala miringnya ke kanan, tangan yang hendak mendarat di pipinya lewat begitu saja di atas bahunya, dan Via sudah memegang pergelangan tangan si rambut poni dengan cara yang memperlihatkan bahwa ia tahu apa yang dilakukannya.
Yang terjadi setelahnya adalah sesuatu yang belakangan, ketika Ara menceritakannya lagi kepada Via sambil tertawa sampai perutnya sakit, akan ia deskripsikan sebagai: aku tidak berencana ikut campur, tapi kemudian aku ikut campur.
Karena kaki Ara sudah bergerak sebelum kepalanya selesai memutuskan.
Ia keluar dari biliknya, melintasi jarak antara posisinya dan posisi ketiga cewek itu dalam tiga langkah, dan tangannya mendarat di pipi si rambut dikuncir dua yang masih berdiri di sisi paling kirinya dengan ekspresi seseorang yang sedang menimbang apakah perlu terlibat atau tidak.
Plak.
Si rambut dikuncir dua tidak menimbang lagi setelah itu.
Dan apa yang terjadi dalam dua menit berikutnya di toilet perempuan lantai dua gedung utama Eldria International High School adalah sesuatu yang tidak pernah tercatat di riwayat Tiara Alexsandra yang selama ini dikenal sebagai Princess Eldria yang ramah dan sempurna dan tidak pernah memperlihatkan hari yang buruk.
Bilik-bilik toilet berguncang di satu titik. Cermin wastafel bergetar karena seseorang membentur pinggirnya. Suara-suara yang bukan teriak tapi bukan juga percakapan normal memenuhi ruangan keramik itu dan memantul ke berbagai arah dengan cara yang membuat semuanya terdengar dua kali lebih ramai dari yang sebenarnya.
Ara tidak tahu ia bisa seperti ini.
Tapi rupanya bisa.
---
Semua berhenti ketika pintu toilet terbuka dari luar.
Bukan karena salah satu dari mereka memilih untuk berhenti. Tapi karena suara pintu itu, diikuti langsung oleh suara seseorang yang sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi situasi yang tidak diinginkan di lingkungan sekolah, memotong semuanya dengan cara yang tidak bisa dilawan.
"HEI."
Bu Wulan, guru Seni Budaya yang kelas-kelasnya selalu ramai karena beliau tidak pernah benar-benar marah dengan cara yang menakutkan tapi entah bagaimana selalu dipatuhi, berdiri di ambang pintu toilet dengan tangan di pinggang dan ekspresi yang mengumpulkan seluruh kewibawaan yang dimilikinya ke dalam satu tatapan.
Semua gerakan berhenti.
Enam orang berdiri di toilet itu, semuanya dengan kondisi yang tidak bisa disebut rapi, dengan berbagai tingkat kekacauan di seragam dan rambut masing-masing.
Bu Wulan melihat semuanya dari ambang pintu itu. Matanya bergerak dari satu orang ke orang lain, mengumpulkan informasi dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan ekspresinya yang tetap tenang.
Berhenti di Ara.
Berhenti lebih lama di Via.
Lalu ke tiga cewek yang lainnya.
"Semua keluar," beliau berkata. Suaranya tidak keras tapi cara kata-katanya diucapkan tidak menyisakan ruang untuk interpretasi lain. "Sekarang."
Mereka keluar.
Di lorong, beberapa siswa yang kebetulan lewat langsung memperlambat langkah mereka dengan cara yang sangat tidak kasual, memperhatikan enam orang yang keluar dari toilet dengan kondisi yang jelas bercerita tentang apa yang baru saja terjadi di dalamnya.
Bu Wulan berdiri di luar pintu, menunggu sampai semua keluar, lalu menutup pintu toilet di belakangnya.
"Ruang BK," beliau berkata. "Ikut saya."
---
Ruang Bimbingan Konseling ada di lantai satu, di ujung gedung yang lebih tenang dari lorong-lorong utama. Ruangannya tidak besar, tidak kecil, dengan beberapa kursi yang disusun menghadap meja Pak Dani selaku guru BK yang hari ini rupanya tidak menduga bahwa jam istirahat siangnya akan diisi dengan ini.
Pak Dani menatap enam orang yang masuk dan duduk di depannya dengan ekspresi yang sudah menyiapkan dirinya untuk percakapan yang panjang.
Bu Wulan menyampaikan situasinya singkat. Kata perkelahian disebut dua kali. Kata toilet disebut tiga kali. Nama-nama tidak disebut karena Pak Dani sudah mengenal semua yang duduk di depannya.
Terutama Ara.
"Tiara," Pak Dani berkata, memulai dari yang paling tidak ia duga akan ada di kursi itu.
"Iya, Pak," Ara menjawab.
"Bisa cerita apa yang terjadi?"
Ara menarik napas.
Di sebelahnya, Via duduk dengan punggung tegak dan tangan di lutut, memandangi titik di atas kepala Pak Dani dengan ekspresi yang sudah selesai memproses semua yang terjadi dan sekarang hanya menunggu konsekuensinya.
Di sisi seberang, tiga cewek yang tadi duduk berjejer dengan tingkat keberanian yang berbeda-beda. Si rambut auburn masih memegang pipinya sesekali. Si rambut poni memandangi lantai. Si rambut dikuncir yang tampak paling berani dari penampilannya ternyata paling sedikit bersuara sekarang.
Ara menatap Pak Dani.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia berkata sesuatu tanpa memikirkan terlebih dahulu apakah itu terdengar dengan cara yang tepat atau tidak.
"Kami mendengar percakapan yang tidak seharusnya kami dengar," Ara berkata. "Dan kami bereaksi dengan cara yang tidak seharusnya."
"Tapi juga tidak salah," Via menambahkan di sebelahnya, dengan nada yang sangat tenang untuk seseorang yang baru saja terlibat dalam perkelahian toilet.
"Via," Ara berkata pelan.
"Aku hanya bilang fakta."
Pak Dani menatap Via. "Fakta seperti apa, Via?"
Via tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke tiga cewek di seberangnya dengan cara yang menyampaikan bahwa ia memberikan mereka kesempatan untuk berbicara duluan jika mereka mau.
Tidak ada yang berbicara.
Via kembali ke Pak Dani. "Mereka bergosip tentang orang yang ada di bilik sebelah mereka tanpa menyadari orangnya ada di sana. Dan isinya bukan sesuatu yang ringan."
Pak Dani menoleh ke tiga cewek itu. "Kalian mau merespons?"
Si rambut auburn mengangkat kepalanya. "Kami cuma ngobrol, Pak. Nggak ada yang salah dengan ngobrol."
"Kontennya," Via berkata tanpa menoleh ke si rambut auburn, masih menatap Pak Dani, "berbeda dengan ngobrol biasa."
"Kamu yang mulai mukul duluan," si rambut poni bersuara akhirnya, menunjuk ke arah Via. "Nggak sopan banget."
"Kamu yang mulai bilang orang bodoh duluan," Via membalas dengan nada yang sangat datar. "Itu juga nggak sopan. Bahkan lebih tidak sopan karena orangnya ada di sebelah kamu dan kamu tidak tahu."
"Via." Pak Dani mengangkat tangannya. "Ara." Ia menatap keduanya bergantian. "Saya mengerti kalau situasinya menyulut emosi. Tapi kekerasan fisik tidak bisa dibenarkan dalam keadaan apa pun di lingkungan sekolah. Itu yang perlu kalian pahami."
Ara mengangguk. "Iya, Pak. Kami mengerti."
Via diam sebentar. Lalu mengangguk juga, satu gerakan yang lebih kecil dari Ara tapi ada.
Pak Dani beralih ke tiga cewek di seberangnya dengan tatapan yang menyampaikan bahwa percakapan berikutnya akan berlangsung lebih lama dan lebih tidak menyenangkan.
Ara menatap lantai di depannya.
Di sebelahnya Via duduk diam, tapi di antara mereka ada sesuatu yang hangat yang tidak perlu diucapkan. Dua orang yang masuk ke situasi yang sama dari arah yang berbeda dan berakhir di tempat yang sama karena alasan yang tidak perlu dijelaskan kepada satu sama lain.
Tanpa berkata apa-apa, tanpa menoleh, Via menggeser tangannya ke arah Ara dan menyentil lengannya satu kali.
Dalam bahasa rahasia yang sudah lama tidak terpakai itu, satu sentilan berarti: aku baik-baik saja.
Ara membalas dengan satu sentilan juga.
Aku tahu. Aku juga.
Pak Dani masih berbicara di depan mereka tentang etika komunikasi dan konsekuensi tindakan dan hal-hal lain yang penting untuk disampaikan dan perlu didengarkan dengan baik.
Ara mendengarkan.
Tapi di sudut pikirannya yang kecil, ada sesuatu yang baru ia sadari tentang dirinya sendiri hari ini.
Bahwa Tiara Alexsandra yang selama ini menjaga setiap senyumnya dan setiap kata-katanya dan setiap reaksinya agar selalu tepat dan terkontrol dan tidak mengecewakan siapa pun, rupanya juga punya batas.
Dan batas itu, ternyata, bukan soal dirinya sendiri.
Batasnya ada di tempat yang berbeda.
Di nama yang disebut dengan cara yang salah oleh orang yang tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Ara menatap kedua tangannya di pangkuannya.
Lalu menarik napas pelan.
Dan memutuskan bahwa penyesalan tentang tindakannya hari ini akan ia pikirkan nanti, setelah ruang BK selesai, setelah semuanya beres, setelah ia bisa memikirkannya dengan kepala yang lebih dingin.
Sekarang, di kursi ruang BK dengan Via di sebelahnya dan langit Eldria yang masih biru di luar jendela kecil di sisi ruangan itu, ia tidak bisa sepenuhnya menyesal.
Dan itu, ia pikir, sudah cukup jujur untuk hari ini.