NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:990
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: PERTEMUAN DENGAN IBLIS

Koridor itu panjang dan sunyi.

Langkah kaki Ha-neul bergema di antara dinding-dinding batu, diiringi dua prajurit bersenjata lengkap di belakangnya. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara napas dan derap sepatu yang memecah keheningan.

Pikiran Ha-neul berpacu. Penguasa Sekte tahu siapa dirinya. Ia menyebut nama ayahnya. Ini bukan lagi permainan penyamaran—ini pertemuan yang sudah ditakdirkan.

"Tenang," bisik Hyeol-geon. "Apa pun yang terjadi, jangan kehilangan kendali. Dengarkan dulu apa yang ia katakan."

Ha-neul mengangguk pelan. Di dalam cincin, ia bisa merasakan energi gurunya bergetar—campuran antara kebencian, kewaspadaan, dan... ketakutan? Hyeol-geon takut pada muridnya sendiri.

Mereka berhenti di depan pintu besar berukir naga berkepala tiga. Prajurit di depan mengetuk, lalu membuka pintu.

"Kang Woo sudah dibawa, Tuan."

"Suruh dia masuk. Kalian tunggu di luar."

Ha-neul melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya.

---

Ruangan itu luas, lebih mirip ruang tamu mewah daripada kantor pemimpin sekte. Permadani tebal menutupi lantai batu. Lukisan-lukisan pemandangan alam tergantung di dinding—kontras dengan kegelapan di luar. Beberapa kursi empuk dan meja kayu berukir ada di sudut. Di tengah ruangan, sebuah perapian menyala, memberikan kehangatan.

Penguasa Sekte duduk di kursi dekat perapian. Di tangannya, secangkir teh mengepul. Ia tersenyum melihat Ha-neul masuk.

"Duduk, Kang Ha-neul. Atau kau lebih suka dipanggil Kang Woo?"

Ha-neul tidak bergerak. "Kau tahu siapa aku sejak kapan?"

"Sejak pertarungan pertamamu." Penguasa Sekte menyeruput tehnya. "Teknik tusukanmu... itu ciri khas guruku, Hyeol-geon. Aku mengenalinya meski kau mencoba menyamarkannya."

Ha-neul terkejut. Ia tidak menyangka akan setransparan itu.

"Jadi kau tahu dari awal?"

"Tentu. Tapi aku biarkan kau terus bertarung. Aku ingin lihat sejauh mana kau berkembang. Dan kau tidak mengecewakan." Ia menunjuk kursi di seberangnya. "Duduklah. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan."

Ha-neul ragu. Tapi akhirnya ia duduk, menjaga jarak aman.

Penguasa Sekte mengisi cangkir lain, menyodorkannya. "Teh? Ini baik untuk menenangkan saraf."

Ha-neul menolak. "Langsung saja. Apa maumu?"

Pria itu tertawa kecil. "Masih muda, selalu terburu-buru. Baik, akan kukatakan." Ia meletakkan cangkirnya, menatap Ha-neul dengan serius. "Aku tahu kau ingin membunuhku. Aku tahu Hyeol-geon ada di cincin itu, membisikkan kebencian padamu. Aku juga tahu ayahmu mati di tanganku—atau setidaknya, atas perintahku."

Darah Ha-neul mendidih. Tangannya mengepal di atas lutut.

"Tapi sebelum kau bertindak bodoh, dengarkan dulu." Penguasa Sekte menghela napas. "Apa yang kau tahu tentang diriku? Tentang masa laluku dengan Hyeol-geon?"

"Aku tahu kau muridnya. Kau mengkhianatinya, membunuhnya bersama musuh-musuhnya."

"Setengah benar." Penguasa Sekte tersenyum getir. "Aku memang muridnya. Aku juga ada di saat kematiannya. Tapi kau tahu kenapa aku 'mengkhianatinya'?"

Ha-neul diam.

"Karena Hyeol-geon adalah monster. Ia membunuh keluargaku—ayah, ibu, adik perempuanku—saat aku masih kecil. Ia membantai seluruh desaku hanya karena salah satu penduduknya berani menatapnya." Suara Penguasa Sekte berubah serak. "Aku selamat karena bersembunyi di bawah tumpukan mayat. Dan saat ia menemukanku, bukannya membunuh, ia malah tertawa. 'Kau punya bakat,' katanya. 'Aku akan jadikan muridku.'"

Ha-neul terpaku. Ini versi yang sama sekali berbeda.

"Kau pikir aku mau jadi muridnya? Aku anak kecil yang trauma, kehilangan segalanya. Tapi aku tidak punya pilihan. Ia mengajarkanku ilmu pedang, teknik-teknik iblis, dan setiap hari ia mengingatkanku bahwa keluargaku mati karena aku lemah." Mata Penguasa Sekte berkilat. "Selama dua puluh tahun aku berpura-pura setia, menunggu saat yang tepat. Dan saat itu tiba, aku tidak ragu."

Ha-neul membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia menoleh ke cincin di jarinya.

"Dia berbohong!" suara Hyeol-geon marah. "Jangan percaya! Itu semua dusta!"

"Aku tidak berbohong." Penguasa Sekte menatap cincin itu. "Keluarlah, Hyeol-geon. Sudah seratus tahun. Jangan sembunyi di balik murid barumu."

Sunyi. Lalu perlahan, Hyeol-geon keluar. Sosoknya tampak tegang, mata merahnya menyala.

"Kau pembohong, Geum Hwi. Kau bunuh keluargaku? Tidak. Kaulah yang membantai keluargaku dan menyalahkanku!"

Geum Hwi—itu nama asli Penguasa Sekte—tertawa pahit. "Sudah kuduga kau akan bilang begitu. Kau selalu ahli memutarbalikkan fakta." Ia menatap Ha-neul. "Kau lihat sendiri, Kang Ha-neul. Ia ahli manipulasi. Ia membuat kau percaya bahwa ia adalah korban, padahal ia adalah iblis sejati."

Ha-neul terdiam. Pikirannya kacau. Dua versi kebenaran. Dua cerita yang saling bertentangan. Siapa yang harus ia percaya?

"Ha-neul, kau percaya padaku, kan?" suara Hyeol-geon lembut. "Aku gurumu. Aku yang menjagamu, melatihmu, menyelamatkan adikmu. Jangan biarkan iblis ini mempengaruhimu."

"Aku tidak mempengaruhinya. Aku hanya memberi tahu kebenaran." Geum Hwi duduk tenang. "Terserah kau mau percaya siapa. Tapi ingat, Ha-neul. Hyeol-geon punya sejarah panjang penuh darah. Aku yakin kau sudah lihat sendiri bagaimana ia mengajarimu—tanpa ampun, tanpa belas kasihan. Itulah dirinya."

Ha-neul menggenggam cincinnya erat. Di dalam, ia merasakan energi gurunya bergetar—marah, takut, tapi juga... sesuatu yang lain. Rasa bersalah?

"Aku tidak tahu harus percaya siapa," katanya akhirnya. "Tapi satu hal yang kuyakini: kau tetap membunuh ayahku."

Geum Hwi mengangguk. "Aku tidak menyangkal. Ayahmu adalah pemimpin Klan Pedang Kang. Ia punya informasi yang aku butuhkan. Saat ia menolak memberikannya, aku terpaksa mengambil tindakan." Ia menatap Ha-neul tanpa rasa bersalah. "Itu dunia persilatan. Yang kuat bertahan, yang lemah mati."

"KAU!" Ha-neul bangkit, pedang kayunya teracung. Matanya merah, amarah meluap.

Tapi Geum Hwi tidak bergerak. Ia hanya tersenyum.

"Kau mau menyerangku sekarang? Silakan. Tapi kau tahu kau tidak akan menang. Aku sudah seratus tahun lebih tua, seratus tahun lebih berpengalaman. Satu gerakan darimu, dan kau akan mati di tempat."

Ha-neul gemetar. Ia tahu itu benar. Tapi amarahnya begitu besar.

"Ha-neul, jangan!" Hyeol-geon memperingatkan. "Ini jebakan!"

"Bukan jebakan. Aku hanya memberinya pilihan." Geum Hwi berdiri perlahan. "Dengar, Kang Ha-neul. Aku tidak ingin membunuhmu. Kau punya potensi besar. Aku bisa melatihmu, menjadikanmu yang terkuat di Murim. Bersamaku, kau bisa mencapai level yang tidak pernah kau bayangkan."

"Tidak pernah!"

"Tentu, kau akan berkata begitu sekarang. Tapi pikirkan. Hyeol-geon hanya bisa mengajarimu teknik-teknik kuno yang sudah usang. Aku punya ilmu baru, sumber daya, dan—yang terpenting—aku punya jawaban tentang masa lalu ayahmu." Geum Hwi mendekat, satu langkah. "Bekerja samalah denganku. Aku akan memberitahumu semua yang kau ingin tahu."

Ha-neul mundur selangkah. Pikirannya kacau. Tawaran ini... sangat menggoda. Tapi juga sangat berbahaya.

"Jangan pernah!" Hyeol-geon berteriak. "Dia akan menghancurkanmu seperti dia menghancurkan yang lain!"

"Diam, iblis tua." Geum Hwi melirik cincin itu. "Kau sudah hidup seratus tahun sebagai parasit. Sudah waktunya kau mati untuk selamanya."

Tangannya bergerak cepat. Ha-neul tidak sempat bereaksi. Telapak tangan Geum Hwi menyentuh cincin itu, dan—

"AAAAARGH!"

Hyeol-geon menjerit. Sosoknya bergetar hebat, seperti akan hancur. Ha-neul terhuyung, merasakan energi luar biasa menghantam cincin itu.

"GURU!"

"Dia... dia mencoba... menghancurkanku..."

Ha-neul melompat mundur, menjauh dari Geum Hwi. Ia mengaktifkan Bayangan Seribu Pedang—tiga pedang energi terbentuk, melesat ke arah musuh.

Geum Hwi menghindar dengan mudah. "Masih lemah. Tapi lumayan untuk usiamu." Ia tersenyum. "Aku tidak akan membunuhmu hari ini, Kang Ha-neul. Kau terlalu menarik. Pulanglah. Pikirkan tawaranku. Saat kau siap, kau tahu di mana mencariku."

Ia melambai. Pintu terbuka. Prajurit-prajurit masuk.

"Antarkan tamu kita keluar. Dengan hormat."

Ha-neul tidak punya pilihan. Ia berlari keluar, meninggalkan ruangan itu, meninggalkan iblis yang tersenyum di dekat perapian.

---

Di luar, udara malam menyambutnya. Ha-neul berlari tanpa henti, meninggalkan kompleks Sekte Iblis, melewati gerbang, melewati hutan, sampai ia tidak bisa berlari lagi.

Ia jatuh berlutut di tepi sungai kecil. Napasnya tersengal. Air mata—ia tidak tahu kapan mulai menangis.

"Guru... Guru..."

Cincin di jarinya meredup. Suara Hyeol-geon lemah, hampir tak terdengar.

"Aku... di sini... masih hidup..."

"Guru, maafkan aku... aku tidak bisa melindungimu..."

"Bukan... salahmu... Dia terlalu kuat..."

Ha-neul menggenggam cincin itu erat. Ia ingat semua yang dikatakan Geum Hwi. Dua versi kebenaran. Dua cerita. Siapa yang benar?

"Ha-neul... jangan percaya dia... Aku... akan jelaskan nanti... Tapi sekarang... bawa aku... ke lembah... Aku butuh... energi..."

Ha-neul mengangguk. Ia bangkit, menatap langit malam. Bintang-bintang bersinar samar di balik awan.

"Guru, aku akan selamatkan kau. Aku janji."

Ia berlari lagi, meninggalkan sungai, meninggalkan Sekte Iblis, menuju lembah tersembunyi tempat Soo-ah menunggu.

Di belakangnya, di puncak gunung, Geum Hwi berdiri memandang. Senyum tipis terukir di wajahnya.

"Kang Ha-neul... kau akan kembali padaku. Aku yakin."

]

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!