"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang 25
"Haaah, dasar. Sebentar, kayaknya aku emang harus ngabari abah dan ummi deh. Mereka pasti lihat foto-foto itu."
Arundari mengusap wajahnya kasar. Dia lupa bahwa orangtuanya juga memiliki akses media sosial. Mereka juga bukan orang tua yang tidak melek tehnologi sehingga kabar ini pasti sudah sampai ke telinga Lintang dan juga Fikri.
Arundari bergegas mengambil ponselnya. Awalnya dia berpikir untuk menelpon lebih dulu dan baru mendatangi mereka. Akan tetapi, agaknya langsung datang menjadi pilihan yang lebih bijak sekarang.
"Kalau cuma telpon, mereka pasti jadi lebih khawatir,"ucap Arundari lirih.
Alhasil wanita itu memutuskan untuk langsung datang saja ke rumah orang tuanya.
Arundari mulai bersiap, dia melewatkan sarapan agar bisa segera pergi. Namun ketika baru saja memakai jilbabnya, suara orang yang begitu dikenalnya terdengar jelas memanggilnya.
"Arun!"
"Assalamualiakum dulu sayang,."
"Astagfirtullah. Assalamualaikum, Neng."
Drap drap drap.
"Ummi, Abah?"
Arun tekejut bukan main saat melihat Lintang dan Fikri berada di dalam rumahnya. Dia tidak mendengar suara mobil, maka dari itu dia terkejut melihat kedua orangtuanya tersebut.
Lintang langsung memeluk putrinya dengan erat. Arundari bisa merasakan bahwa ibunya itu menangis tersedu.
"Kamu pasti sedih banget ya, sayang?" tanya Lintang sambil terisak.
"Ummi, aku nggak apa-apa. Jangan nangis,"ucap Arundari sambil mengusap lembut punggung Lintang.
"Apa pas kamu pulang itu, sebenarnya masalah ini udah ada?" kini gililar Fikri yang bertanya.
Arundari menganggukkan kepala. Dia sedikit merasa bersalah karena tidak segera jujur kepada kedua orang tuanya saat itu. Akan tetapi Arundari memiliki alasannya sendiri. Dia tidak ingin mereka menjadi kepikiran. Ia ingin menyelesaikannya lebih dulu sebelum memberitahu abah dan ummi nya.
Ketiganya duduk, Arundari membawa Lintang dan Fikri menuju ke ruang makan. Ia juga langsung membuatkan teh hangat agar keduanya bisa minum dan menjadi lebih tenang.
"Jadi, kalian udah bener-bener berpisah?" tanya Fikri setelah menenggak teh hangat buatan putrinya.
"Iya, Bah. Aku sudah minta talak dari Heri. Dan sekarang aku lagi proses pelaporan ke kantor polisi. Pak Mirza, pengacara yang sekarang menjadi wakil ku akan mengurus semuanya. Aku nggak akan nglepas dia dengan mudah. Tuduhan perselingkuhan dan perzinahan yang akan membawa mereka ke dua pengadilan. Setelah itu baru aku akan mengurus perceraian resmi ke pengadilan agama."
Ucapan Arundari yang sangat tenang dan juga lugas malah membuat Fikri dan Lintang merasa sedih. Mereka yakin bahwa putrinya sudah lama menderita sendirian.
"Kalau semuanya sudah kamu pikirkan dan lakukan, kami akan mendukung penuh. Pria itu benar-benar kurang ajar. Abah kecewa berat dengan Heri. Dia lupa semua yang dikatakannya saat meminang mu dulu,"ucap Fikri geram. Air matanya berkaca-kaca. Rasanya sungguh sakit hati Fikri, putri satu-satunya disakiti sepeti itu.
Fikri dan Lintang sebenarnya juga baru tahu pagi tadi. Selepas mereka menjalankan ibadah sholat subuh, Lintang membuka ponselnya dan berselancar sejenak di media sosial. Siapa sangka dia melihat postingan HTU yang di dalamnya terdapat komentar-komentar netizen tentang Heri yang berselingkuh dengan Jelita.
Sontak Lintang terkejut bukan main. Dia tidak menyangka bahwa Jelita akan jadi orang ketiga dalam rumah tangga putri dan menantunya. Terlebih Lintang juga mengenal Jelita dengan baik.
Ia pun langsung melaporkan hal tersebut kepada sang suami setelah Fikri kembali dari masjid. Fikri jelas ikutan terkejut bukan main, dan akhirnya memutuskan untuk mendatangi kediaman putri semata wayangnya.
"Sudah Bah, nggak usah dibahas yang udah-udah. Pria itu nggak pantes untuk dikenang. Cukup bagiku pernah bersamanya, dan sekarang tak ada lagi sisa cinta dan sayang untuknya. Aku ikhlas dengan takdir dari Allah tentang perpisahan ini. Jadi Abah dan Ummi nggak perlu sedih. Anggap aja ini ujian untuk aku semakin lebih baik lagi."
"Oh sayang, anakku."
Lintang meraih tubuh Arundari, dia memeluknya dengan sangat erat setelah mendengar ucapan putrinya itu. Lintang tidak menyangka bahwa Arundari bisa setenang itu dan juga selepas itu dalam menghadapi pengkhianatan Heri dan Jelita.
Tapi di sisi lain Lintang bersyukur bahwasannya Arundari tidak berlarut-larut dalam memikirkan pengkhianatan suaminya.
"Kalau itu abah dan ummi istirahat aja dulu. Pasti capek kan perjalanan dari rumah ke sini. Sekarang udah jam sepuluhan, aku mau masak makan siang dulu."
"Mau ummi bantu?"
Arundari menggelengkan kepalanya. Kedua orang tuanya ia yakin sudah sangat lelah menempuh perjalanan yang tak hanya satu atau dua jam. Dia tak ingi melihat mereka lelah.
"Ya sudah kalau gitu kami istirahat sebentar ya. Tapi nak,kamu beneran nggak apa-apa?"ucap Lintang masih penuh dengan kekhawatiran.
"Nggak apa-apa, Ummi. Aku beneran nggak apa-apa. Jadi gih istirahat dulu,"jawab Arundari sambil tersenyum lebar. Dia bukannya berbohong, karena apa yang dikatakannya sesuai dengan apa yang dirasakannya.
Setelah kedua orang tuanya masuk ke kamar untuk istirahat. Arun memutuskan untuk pergi berbelanja.
Di dalam lemari pendinginnya, tak banyak bahan makanan yang ada. Mungkin jika hanya untuk dirinya sendiri, maka itu akan cukup. Akan tetapi sekarang ada abah dan ummi nya yang mungkin akan tinggal untuk beberapa waktu. Sehingga Arundari ingin menyiapkan makanan yang layak bagi mereka.
"Pasar atau supermarket ya?Supermaket ajalah ya udah siang juga."
Arundari masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi. Lebih dulu dia berpamitan kepada Anton karena khawatir kalau Lintang dan Fikri akan mencarinya.
"Tuan, Nyonya sedang pergi. Katanya mau ke belanja," lapor Anton kepada atasannya yang asli.
"Oke Ton, makasih,"jawab pria di seberang sana.
Anton langsung menutup ponselnya, dia lalu menghela nafasnya panjang. Ada sesuatu yang masih mengganjal pada dirinya sekarang ini tentang tuannya.
"Tuan Adyaksa bener-bener beda banget. Baru kali ini dia peduli dengan orang lain, telebih ini seorang wanita. Apa mereka punya hubungan sebelumnya? Tapi kayaknya enggak deh. Setahuku nggak ada satu wanita pun yang bisa deketin Tuan. Ah apapun itu bukan urusanku. Yang penting aku lakuin tugasku dengan baik,"ucap Anton lirih.
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣