Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Memikirkan kemampuan yang baru saja ia peroleh, hati Zhang Yuze dipenuhi oleh kegelisahan sekaligus antusiasme yang sulit dibendung. Seolah ada api yang menyala di dalam dadanya.
Begitu selesai makan, tanpa menunda sedikit pun, ia segera berpamitan kepada ibunya dan keluar dari rumah.
Menurut penjelasan Roh Buku, penggunaan kemampuan khusus membutuhkan pengendalian penuh melalui pikiran. Niat harus lebih dulu bergerak, barulah tubuh mengikutinya. Hanya dengan cara seperti itulah kemampuan dan fisik dapat berkoordinasi secara sempurna. Selain itu, karena ia telah menguasai koordinasi tubuh dengan sangat baik, berbagai gerakan dan postur seharusnya tidak lagi menjadi kendala baginya.
Zhang Yuze mencari sebuah tempat yang relatif sepi dan jauh dari keramaian. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, ia mulai berlatih menggunakan kemampuannya. Pada awalnya, ia masih belum cukup terampil. Pengendalian kekuatannya pun belum stabil. Kemampuan Angin Cepat seharusnya memberinya kecepatan layaknya hembusan angin, dan benar saja, tubuhnya melesat terlalu cepat. Akibatnya, ia beberapa kali menabrak dinding dan pembatas di sekitarnya. Andai tubuhnya belum diperkuat oleh latihan sebelumnya, hidungnya mungkin sudah berdarah dan wajahnya bengkak.
Namun, berkat koordinasi tubuh yang telah meningkat drastis, Zhang Yuze dengan cepat menyesuaikan diri. Dalam waktu singkat, ia sudah mampu mengendalikan gerakannya dengan cukup bebas. Setelah itu, ia mulai mempraktikkan berbagai teknik tinju yang pernah ia unduh dari komputer. Ia tidak secara khusus mempelajari satu aliran tertentu, melainkan hanya melatih gerakan-gerakan yang menurutnya praktis dan efektif dalam pertarungan nyata.
Ia sendiri tidak yakin apakah ini disebabkan oleh penguasaan Energi Sejati atau karena tubuhnya telah diperkuat secara menyeluruh. Yang jelas, setelah beberapa sesi latihan, ia sama sekali tidak merasa lelah. Sebaliknya, ia justru merasa energinya melimpah, seolah masih memiliki cadangan tenaga yang sangat besar.
Kini, ketika membayangkan harus berhadapan kembali dengan Ruan Zixiong, Zhang Yuze merasakan kepercayaan diri yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ia merasa peluang kemenangannya sangat besar. Meskipun Ruan Zixiong dikenal sebagai salah satu dari sepuluh petarung terkuat di SMA Ketujuh, pencapaiannya hanyalah di bidang bela diri biasa. Mustahil baginya memiliki kemampuan luar biasa seperti ini.
Dengan semangat yang semakin membara, Zhang Yuze kembali melatih beberapa set tinju tambahan. Suasana bela diri di kota ini memang cukup kental. Dahulu, ia pernah belajar Tinju Keluarga He di Aula Bela Diri Heyuan. Namun, setiap kali ia melatih jurus-jurus tersebut, gerakannya selalu tampak lemah dan tidak bertenaga—sekadar formalitas tanpa substansi. Akan tetapi, sekarang keadaannya jauh berbeda. Setiap pukulan yang ia lepaskan terasa mantap dan penuh tekanan, memperlihatkan kekuatan sejati yang seharusnya dimiliki oleh teknik tersebut.
“Hah…!”
Zhang Yuze menarik napas panjang, dadanya terangkat, tinjunya mengepal erat. Dalam satu tarikan napas terakhir, ia melepaskan seluruh kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya. Hasilnya membuatnya sangat puas. Dahulu, hanya dengan melatih beberapa set tinju saja, ia sudah terengah-engah kehabisan napas. Kini, latihan semacam ini justru terasa seperti sebuah kenikmatan. Inilah perubahan nyata yang dibawa oleh kemampuan barunya.
Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak rokok. Saat membukanya, ia mendapati rokok di dalamnya telah habis. Hal itu membuatnya sedikit murung. Meskipun masih berstatus sebagai siswa SMA, ia telah kecanduan rokok selama tiga tahun. Orang tuanya tentu mengetahuinya, tetapi tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Mereka sempat menasihatinya beberapa kali, namun pada akhirnya hanya bisa membiarkannya, dengan syarat ia tidak merokok di rumah.
Zhang Yuze melangkah menuju Zhongmin, pusat perbelanjaan terbesar di Kota Nanmin. Di sana, ia membeli sebungkus rokok merek Septwolves, yang sekaligus menguras sisa uang di sakunya. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit. Dengan kebiasaannya, sebungkus rokok itu paling lama hanya akan bertahan setengah bulan. Artinya, ia harus benar-benar berhemat. Tampaknya, ia perlu segera memikirkan cara lain untuk mendapatkan uang. Jika tidak, kehidupannya akan semakin sulit.
Saat ia melangkah keluar dari pusat perbelanjaan, sebuah Audi baru berhenti tepat di depan pintu masuk. Namun, perhatian Zhang Yuze justru tertarik pada seorang wanita yang berdiri di depan mobil tersebut.
Wanita itu mengenakan kacamata hitam, dengan rambut panjang terurai di bahunya. Usianya tampak sekitar tiga puluh tahun. Ia mengenakan setelan sederhana yang dipadukan dengan atasan rajut berwarna biru tua berpotongan rendah, membuatnya terlihat anggun, mulia, dan penuh wibawa. Tubuhnya tinggi semampai dengan lekuk yang berisi, memancarkan pesona khas wanita dewasa. Berdiri di sana, ia tampak begitu menonjol, seolah seluruh keramaian di sekitarnya lenyap dan hanya dirinya yang tersisa.
Tatapan matanya tertuju pada Gedung Zhongmin di hadapannya. Di belakangnya, berdiri seorang wanita lain yang tampak seperti sekretaris, dengan sikap hormat dan rapi. Pemandangan itu memberi kesan bahwa wanita tersebut bukan datang untuk berbelanja, melainkan seolah sedang melakukan inspeksi.
Setelah mengamati beberapa saat, Zhang Yuze menggelengkan kepala pelan. Wanita seperti itu jelas bukan orang biasa. Lebih baik ia tidak ikut campur dan segera pergi. Ia berbalik dan berjalan menuju sisi jalan, sekitar sepuluh meter dari posisi wanita tersebut, bersiap untuk menyeberang.
Namun, tepat pada saat itu, sebuah insiden tak terduga terjadi.
Sebuah sepeda motor Prince melaju kencang dari kejauhan. Dalam sekejap, pengendara motor itu menyambar tas tangan wanita tersebut dan melesat pergi. Wanita itu menjerit kaget, wajahnya seketika dipenuhi campuran amarah dan keterkejutan yang mendalam.
Teriakan itu terdengar jelas oleh Zhang Yuze. Ia refleks menoleh. Motor yang ditunggangi pencuri itu sudah berada tepat di hadapannya, melaju dengan kecepatan tinggi, seolah hendak menerobos siapa pun yang menghalangi jalannya.
Pada detik itulah, jantung Zhang Yuze berdegup keras.
Tanpa sempat berpikir panjang, naluri bertarung yang baru saja ia asah bangkit sepenuhnya. Tubuhnya menegang, pandangannya mengunci target. Dalam benaknya, satu pikiran melintas dengan jelas—ini adalah kesempatan.
Kesempatan untuk menguji kemampuannya.
Kesempatan untuk membuktikan bahwa ia bukan lagi Zhang Yuze yang lemah dan tak berdaya seperti dulu.
Dengan satu langkah maju, niat dan tubuhnya menyatu. Angin seakan berdesir di sekelilingnya, dan sosoknya melesat maju, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
Tanpa ragu sedikit pun, ketika sepeda motor Prince berwarna hitam itu melaju mendekat, Zhang Yuze langsung bergerak. Tubuhnya berputar luwes di tempat, lalu sebuah tendangan putar ke belakang dilepaskan dengan keindahan sekaligus ketegasan yang nyaris sempurna.
“Bang!”
Benturan keras menggema. Sepeda motor itu seketika kehilangan keseimbangan, oleng hebat, lalu terhempas ke aspal. Gesekan logam dan suara benda jatuh bersahutan, memecah keramaian di depan pusat perbelanjaan.
Zhang Yuze hendak maju untuk menangkap dua pria di atas motor itu. Namun, di luar dugaan, kedua pemuda tersebut justru bangkit dalam amarah. Dengan gerakan kasar, mereka mencabut kunci pengaman motor dan mengayunkannya ke arah Zhang Yuze tanpa ampun.