Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Hati yang Bertumbuh dan yang Ditentang
Waktu berjalan lebih cepat dari yang Nana sadari.
Hari pertama kuliah akhirnya tiba. Statusnya kini resmi sebagai mahasiswi Farmasi. Ia mengenakan kemeja putih dan rok panjang hitam, jilbabnya rapi seperti biasa. Ada rasa gugup, ada rasa bangga, dan ada semangat baru yang mengalir dalam dirinya.
Malang terasa berbeda ketika ia datang bukan lagi sebagai calon mahasiswa, melainkan sebagai bagian dari kampus itu sendiri.
Sejak awal, Nana memutuskan satu hal: ia ingin fokus.
Tentang Izzan?
Perlahan, nama itu tidak lagi sering muncul di pikirannya. Bukan karena ia membenci, tapi karena ia memilih melepaskan. Ia sadar, hidupnya terlalu berharga untuk diisi oleh sesuatu yang belum tentu menjadi miliknya.
Hari-harinya kini dipenuhi jadwal kuliah, praktikum, laporan, dan adaptasi dengan teman-teman baru. Dunia farmasi ternyata lebih kompleks dari yang ia bayangkan. Istilah latin, rumus kimia, anatomi tubuh—semuanya menuntut perhatian penuh.
Dan Nana menikmati itu.
Di tengah kesibukan itulah, ia berkenalan dengan seorang kakak tingkat dari Fakultas Manajemen. Mereka bertemu secara tidak sengaja saat kegiatan organisasi kampus. Namanya Arga.
Arga berbeda jurusan, tapi cukup sering membantu Nana memahami sistem organisasi kampus. Pembawaannya tenang, cara bicaranya sopan, dan ia selalu menghargai batasan.
Awalnya hanya diskusi ringan.
Lalu bertukar cerita tentang kehidupan kampus.
Kemudian mulai saling menanyakan kabar.
Nana tidak menyadari kapan tepatnya kedekatan itu mulai terasa berbeda. Arga sering menungguinya selesai praktikum jika jadwal mereka kebetulan bersamaan. Ia juga beberapa kali menawarkan bantuan ketika Nana terlihat kewalahan dengan tugas.
Ada rasa nyaman.
Ada perhatian yang tulus.
Namun suatu malam, ketika Nana menceritakan tentang Arga kepada Mamanya melalui telepon, suasana berubah.
“Teman kampus, Ma. Kakak tingkat, tapi beda fakultas,” ujar Nana santai.
“Iya, beda fakultas tidak masalah,” jawab Bu Hapsari. “Tapi dia satu keyakinan dengan kita?”
Nana terdiam sejenak.
Pertanyaan itu sederhana, tapi berat.
“Beda, Ma.”
Di seberang sana, Bu Hapsari menarik napas pelan.
“Nak, Mama tidak melarang kamu berteman dengan siapa pun. Tapi untuk hubungan yang lebih jauh… Mama tidak ingin kamu menjalani sesuatu yang nantinya menyulitkan kamu sendiri.”
Nada suara itu lembut, bukan memaksa. Namun jelas.
Nana memahami maksudnya.
Ia tahu bagaimana prinsip orang tuanya. Ia tahu bagaimana kehidupan rumah tangga yang berbeda keyakinan bisa menjadi rumit.
Dan Nana bukan tipe yang suka memberontak.
Beberapa hari kemudian, dengan hati yang cukup berat, ia mulai menjaga jarak dari Arga. Bukan memutuskan pertemanan, tapi menghentikan kemungkinan yang lebih jauh.
Arga sempat bertanya.
“Kamu berubah, Na.”
Nana tersenyum kecil. “Aku cuma nggak mau salah langkah.”
Arga tidak memaksa. Ia menghargai keputusan Nana, meski jelas terlihat ada kekecewaan di matanya.
Nana merasa sedikit sedih, tapi ia tahu ia memilih jalan yang benar menurutnya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Waktu berlalu
Di semester berikutnya, Nana semakin sibuk dengan perkuliahan. Praktikum yang padat membuatnya sering pulang sore. Di tengah kesibukan itu, ia semakin dekat dengan seorang teman seangkatannya sendiri—Rafi.
Rafi satu jurusan dengannya. Mereka sering berada dalam satu kelompok praktikum. Rafi ceria, humoris, dan sangat sabar ketika Nana panik menghadapi laporan yang menumpuk.
Awalnya hanya kerja kelompok.
Lalu makan siang bersama.
Kemudian belajar bareng di perpustakaan.
Hubungan itu terasa natural. Tidak dipaksakan. Tidak direncanakan.
Rafi selalu ada ketika Nana butuh teman berdiskusi. Ia juga tidak pernah melewati batas. Tidak pernah memaksa Nana untuk memberi status pada hubungan mereka.
Namun di antara candaan dan diskusi serius, ada rasa yang perlahan tumbuh.
Bukan cinta yang menggebu.
Lebih seperti rasa sayang yang hangat.
Rafi pernah berkata sambil tersenyum, “Kalau nanti kita sama-sama jadi apoteker, lucu juga ya.”
Nana tertawa, tapi dalam hatinya ada getar kecil.
Namun keduanya sepakat untuk tidak terburu-buru. Mereka menyebut diri sebagai sahabat. Meski dalam diam, ada perasaan yang saling mereka jaga.
Dan untuk pertama kalinya, nama Izzan benar-benar tidak lagi mengusik pikiran Nana.
Ia tidak lagi membuka profilnya.
Tidak lagi mencari tahu kabarnya.
Hidupnya terasa lebih ringan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sementara itu, di Jakarta, hubungan Izzan dan Cintya berjalan seperti biasa—setidaknya di permukaan walaupun ada jarak yang memisahkan mereka berdua, Izzan di Jakarta dan Cintya ada di Surabaya.
Namun rahasia itu tidak bisa disimpan selamanya.
Suatu hari, Izzan akhirnya membawa Cintya pulang ke pulangnya untuk bertemu orang tuanya secara resmi.
Ia tahu ini langkah besar.
Ia tahu Mama dan Papa mungkin tidak akan mudah menerima.
Namun ia merasa sudah waktunya.
Ketika Cintya melangkah masuk ke ruang tamu rumah itu, Bu Karin tersenyum tipis, tapi ada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan.
Perkenalan berlangsung formal.
Namun suasana terasa kaku.
Setelah Cintya pulang, percakapan serius terjadi.
“Apa maksud kamu membawa dia ke rumah?” tanya Bu Karin tanpa basa-basi.
“Dia pacar Izzan, Ma,” jawabnya tegas.
“Kamu lupa pernah dikenalkan dengan Nana?”
“Itu hanya dikenalkan, Ma. Tidak ada komitmen.”
Bu Karin menggeleng pelan. “Mama tidak setuju.”
Papa Izzan, Pak Sudirman, yang biasanya tenang, kali ini juga berbicara.
“Kami menolak mentah-mentah hubungan ini.”
Kalimat itu terasa seperti palu yang diketuk keras.
Izzan terdiam beberapa detik.
“Kenapa?” tanyanya.
“Karena kami tidak yakin dia yang terbaik untukmu,” jawab Bu Karin.
Perdebatan malam itu berlangsung lama. Suara meninggi. Emosi bercampur.
Namun satu hal jelas: orang tua Izzan menentang hubungan itu.
Dan Izzan, untuk pertama kalinya, memilih tidak mendengarkan.
“Ini hidup Izzan,” katanya tegas. “Izzan yang menjalani.”
Keputusan itu menciptakan jarak baru—bukan hanya antara kota, tapi antara anak dan orang tua.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di Malang, Nana tidak mengetahui konflik itu.
Ia hanya tahu satu hal: hidupnya berjalan baik-baik saja.
Ia sedang belajar.
Sedang bertumbuh.
Sedang merawat hati dengan cara yang lebih dewasa.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak lagi menunggu siapa pun.
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang