Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fondasi Pengetahuan
Waktu berjalan layaknya aliran sungai di pegunungan; tenang namun secara perlahan mampu mengubah bentang alam yang dilewatinya. Lima bulan telah berlalu sejak gerbang besar The Dendra Foundation pertama kali diayunkan terbuka untuk menyambut jiwa-jiwa kecil yang mendambakan perlindungan.
Kini, tempat yang dulunya merupakan lahan sunyi yang hanya berisi bayang-bayang masa lalu mendiang Dendra, telah bertransformasi menjadi sebuah ekosistem kehidupan yang berdenyut kencang.
Panti asuhan itu bukan lagi sekadar bangunan megah dengan arsitektur modern; ia telah menjadi sebuah rumah yang memiliki detak jantung, sebuah oase di mana tawa anak-anak menjadi musik harian yang paling merdu.
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti pucuk-pucuk pohon persik yang kini telah tumbuh jauh lebih rimbun dibandingkan saat pertama kali ditanam.
Luna berdiri di balkon lantai dua, menghirup aroma tanah basah dan kesegaran pegunungan yang tidak pernah gagal menenangkan jiwanya.
Dari ketinggian itu, ia dapat melihat perubahan signifikan pada bentang lahan yayasan tersebut. Di sisi timur, sebuah area luas yang dulunya merupakan tanah landai berumput liar, kini telah berubah menjadi sebuah lapangan olahraga yang representatif.
Isaac menepati janjinya. Sebuah lapangan sepak bola dengan rumput hijau yang terawat rapi serta garis-garis putih yang tegas kini berdiri tegak di sana.
Namun, sesuai dengan filosofi inklusivitas yang mereka anut, Isaac tidak membangun pagar tinggi yang memisahkan lapangan tersebut dari dunia luar.
Sebaliknya, ia membuat akses terbuka yang memudahkan siapa pun untuk masuk, karena sejak awal Luna dan Isaac telah bersepakat bahwa lapangan ini harus menjadi milik bersama—sebuah ruang publik di mana anak-anak panti dan anak-anak desa dapat melebur dalam semangat sportivitas.
"Lihatlah mereka, Luna," suara berat Isaac terdengar dari belakang, disusul dengan sepasang tangan yang melingkar hangat di pundak istrinya.
"Sepertinya 'Kapten Bumi' dan kawan-kawannya sudah memulai latihan pagi mereka."
Di bawah sana, tampak Bumi, Dito, dan Rian sedang berlari lincah mengejar bola bersama Jaka dan anak-anak desa lainnya.
Tidak ada lagi pemandangan canggung atau garis pemisah sosial.
Seragam olahraga mereka yang mulai bercampur dengan noda tanah menjadi bukti betapa eratnya persahabatan yang terjalin selama lima bulan terakhir ini.
Suara teriakan semangat dan tawa lepas mereka menggema hingga ke lereng bukit, menandakan bahwa lapangan itu telah memenuhi fungsinya lebih dari sekadar tempat berolahraga; ia adalah arena penyatuan hati.
Namun perhatian Luna dan Isaac pagi itu tidak hanya tertuju pada lapangan bola.
Tatapan mereka beralih ke sisi barat lahan, di mana aktivitas konstruksi kembali berdenyut.
Di sana, kerangka sebuah bangunan baru mulai menjulang tinggi.
Ini adalah proyek ambisius berikutnya yang menjadi mimpi besar Luna: sebuah sekolah formal yang akan memberikan pendidikan gratis berkualitas bagi seluruh penghuni panti dan anak-anak desa yang selama ini terhambat masalah biaya.
"Pembangunan ruang kelas utama sudah mencapai tahap penyelesaian struktur atap," ujar Isaac sembari menunjuk ke arah sekelompok pekerja yang sedang sibuk memasang balok-balok kayu penyangga.
Dalam proyek pembangunan sekolah ini, Isaac dan Luna tetap memegang teguh komitmen mereka untuk memberdayakan masyarakat lokal.
Seluruh tenaga kerja yang terlibat adalah warga desa setempat, termasuk para pria yang dulunya hanya bekerja sebagai buruh tani musiman.
Dengan bimbingan teknis dari Isaac, para pekerja lokal ini mampu menerjemahkan desain arsitektur yang kompleks menjadi bentuk nyata.
Desain sekolah tersebut tetap mengusung tema "arsitektur organik" yang menjadi ciri khas Luna dan Isaac; banyak bukaan jendela besar untuk pencahayaan alami, penggunaan material lokal seperti batu alam dan kayu berkualitas, serta integrasi taman di setiap selasar kelas.
Luna turun ke lokasi pembangunan sekolah, langkahnya mantap di antara tumpukan material yang tertata rapi.
Ia menghampiri Galih, yang kini dipercaya sebagai mandor lapangan untuk proyek sekolah tersebut.
"Bagaimana progresnya hari ini, Galih? Apakah ada kendala pada pengiriman material kayu untuk perpustakaan?" tanya Luna dengan nada formal namun penuh perhatian.
Galih segera meletakkan cetak birunya dan memberikan penghormatan kecil.
"Semua berjalan sesuai jadwal, Nyonya Luna. Kayu-kayu itu sudah tiba tadi subuh dan sedang dalam proses pemotongan sesuai presisi desain Tuan Isaac. Para warga sangat bersemangat mengerjakan sekolah ini. Mereka tahu bahwa bangunan yang mereka susun batu batanya ini adalah masa depan bagi anak-anak mereka sendiri."
Luna tersenyum tipis.
Ia bisa merasakan aura kebanggaan dari setiap pekerja yang ia temui.
Bagi warga desa, membangun sekolah ini bukan sekadar urusan mencari nafkah, melainkan sebuah pengabdian.
Mereka tahu bahwa selama ini banyak anak desa yang harus putus sekolah karena jarak yang sangat jauh menuju kota dan biaya yang mencekik.
Dengan adanya sekolah gratis di lingkungan The Dendra Foundation, harapan itu kini berada tepat di depan mata mereka.
Sekolah ini dirancang bukan sebagai gedung yang kaku.
Luna menginginkan sebuah tempat di mana ilmu pengetahuan tidak hanya didapat dari papan tulis, tetapi juga dari interaksi langsung dengan alam.
Setiap ruang kelas akan memiliki pintu geser yang bisa dibuka lebar menuju taman-taman kecil, memungkinkan anak-anak belajar di bawah naungan pohon atau di tengah semerbak aroma bunga.
"Isaac ingin memastikan bahwa setiap anak, baik dari panti maupun dari desa, mendapatkan fasilitas laboratorium dan perpustakaan yang sama dengan sekolah-sekolah terbaik di Jakarta," Luna menjelaskan kepada salah satu ibu warga desa yang sedang membawakan minuman untuk para pekerja.
"Pendidikan adalah hak dasar, dan kemiskinan tidak boleh menjadi tembok yang menghalangi seorang anak untuk menjadi jenius."
Sembari berkeliling, Luna masuk ke dalam kerangka ruang perpustakaan yang sedang dibangun.
Ia bisa membayangkan ribuan buku akan mengisi rak-rak yang nantinya akan bersandar di dinding ini.
Ia membayangkan Sinta yang akan duduk di sudut jendela sembari menggambar, atau Bimo yang akan menekuni buku-buku sains dengan penuh minat.
Di sini, di tempat ini, Luna sedang menanam benih-benih yang suatu saat akan tumbuh menjadi pohon-pohon pengetahuan yang kokoh.
Menjelang siang, Isaac bergabung dengan Luna di lokasi pembangunan sekolah.
Mereka berdiri di tengah calon aula utama yang luas.
Isaac membentangkan tangan, seolah sedang mengukur udara di sekitarnya.
"Di sini nanti, kita akan mengadakan upacara kelulusan pertama mereka, Luna. Kita akan melihat mereka mengenakan toga dan menatap masa depan dengan dagu tegak."
Luna menyandarkan kepalanya di bahu Isaac, merasakan kelelahan yang menyenangkan menyelimuti tubuhnya.
Lima bulan terakhir ini telah membuktikan bahwa meskipun badai masa lalu sangatlah hebat, kemampuan untuk membangun kembali jauh lebih kuat.
The Dendra Foundation telah berkembang dari sekadar panti asuhan menjadi sebuah pusat peradaban baru di desa tersebut.
"Lapangan bola itu untuk kekuatan fisik mereka, dan sekolah ini untuk kekuatan pikiran mereka," bisik Luna.
"Ayah pasti akan sangat bangga melihat bagaimana tanah ini akhirnya melayani begitu banyak nyawa."
Di lapangan sepak bola terdengar sorak sorai kemenangan saat Bumi berhasil mencetak gol ke gawang yang dijaga Jaka.
Anak-anak panti dan anak-anak desa itu berpelukan, merayakan momen kecil itu tanpa mempedulikan status sosial mereka.
Sementara di lokasi sekolah, suara palu dan gergaji terus bersahutan, menyusun keping demi keping harapan yang lebih besar.
Pembangunan fisik sekolah ini diperkirakan akan selesai dalam tiga bulan ke depan.
Namun bagi Luna dan Isaac, fondasi yang paling penting sebenarnya sudah terbangun sejak lama: yaitu fondasi kepercayaan dan rasa memiliki dari masyarakat setempat.
Dengan pekerja lokal yang menuangkan keringat mereka pada setiap adukan semen, sekolah ini akan memiliki jiwa yang kuat—jiwa yang akan terus hidup dan menjaga setiap anak yang belajar di dalamnya.
Sore pun tiba, membawa semilir angin yang menggoyangkan daun-daun pohon buah di kebun panti.
Luna dan Isaac berjalan kembali menuju gedung utama, melewati lapangan bola di mana anak-anak mulai mengemasi bola mereka untuk bersiap mandi sore.
Kehidupan di panti asuhan ini telah mencapai sebuah ritme yang harmonis, sebuah keseimbangan antara kerja keras, pendidikan, dan kegembiraan masa kanak-kanak yang tulus.
Malam itu, saat Luna menatap kembali maket sekolah di ruang kerjanya, ia menyadari bahwa perjalanannya masih panjang.
Masih banyak mimpi yang harus diwujudkan.
Namun dengan Isaac di sampingnya dan dukungan dari seluruh warga desa, ia tahu bahwa tidak ada hambatan yang tidak bisa dilampaui.
The Dendra Foundation kini telah menjadi mercusuar cahaya, dan sekolah yang sedang dibangun itu akan menjadi pelita yang akan menerangi jalan bagi generasi mendatang.
---
Tiga bulan berlalu dengan kecepatan yang menakjubkan, diiringi oleh dentang palu dan deru gergaji yang kini telah berganti menjadi keheningan yang megah.
Bangunan sekolah gratis yang diberi nama Lentera Dendra itu akhirnya berdiri tegak di sisi barat lahan yayasan.
Arsitekturnya yang elegan, dengan perpaduan material kayu lokal dan kaca-kaca besar, tampak bersahaja namun berwibawa di bawah naungan langit perbukitan.
Kini struktur fisiknya telah sempurna, namun ruangan-ruangan kelas yang luas itu masih kosong melompong, menunggu ruhnya ditiupkan melalui deretan meja, kursi, dan rak-rak buku yang memadai.
Luna berdiri di tengah aula sekolah yang masih beraroma kayu segar dan cat baru.
Gema langkah kakinya memantul di dinding, menciptakan kesadaran bahwa tugas berikutnya akan sangat menguras energi.
Mengisi sebuah sekolah dengan kapasitas ratusan siswa bukanlah perkara mudah.
Mereka membutuhkan furnitur yang ergonomis, tahan lama, dan mampu mendukung visi pendidikan modern yang mereka usung.
"Kita tidak bisa memesan ini secara daring atau hanya melalui katalog, Luna," ujar Isaac sembari melipat cetak biru interior ruangan.
"Kualitas material untuk sekolah ini harus kita pastikan sendiri. Kita harus kembali ke kota."
Luna mengangguk setuju.
Keputusan telah diambil.
Mereka harus melakukan perjalanan ke pusat kota untuk menemui pengrajin furnitur khusus dan distributor alat peraga pendidikan.
Mengingat volume pesanan yang masif—mencakup meja kursi untuk sepuluh ruang kelas, perlengkapan laboratorium, serta rak buku perpustakaan—Isaac memperkirakan mereka akan membutuhkan waktu setidaknya satu minggu penuh di sana untuk melakukan negosiasi dan pengawasan produksi awal.
Namun satu minggu bukanlah waktu yang singkat untuk meninggalkan panti asuhan yang kini dihuni oleh puluhan anak dengan dinamika emosional yang beragam.
Sebelum keberangkatan, Luna dan Isaac mengumpulkan seluruh penghuni panti di aula utama.
"Anak-anak, Kak Luna dan Pak Isaac harus pergi ke kota selama tujuh hari untuk menjemput 'isi' dari sekolah baru kalian," Luna memulai penjelasannya dengan nada suara yang tenang namun berwibawa.
"Selama kami tidak ada, Ibu Sari memegang tanggung jawab penuh atas rumah ini. Kami berharap kalian tetap menjaga ketertiban dan saling membantu satu sama lain."
Ibu Sari berdiri di samping mereka, wajahnya yang teduh menunjukkan kesiapan yang mutlak.
Selama lima bulan terakhir, ia telah membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pengasuh, melainkan pilar emosional bagi anak-anak tersebut.
"Jangan khawatir, Nyonya Luna. Saya akan memastikan setiap rutinitas berjalan sebagaimana mestinya. Fokuslah pada urusan di kota, agar sekolah ini bisa segera digunakan."
Keesokan paginya, mobil hitam milik Isaac telah terparkir di depan gerbang.
Luna memberikan pelukan terakhir kepada Aira dan memberikan pesan singkat kepada Bumi untuk menjaga adik-adiknya.
Saat mobil perlahan menuruni bukit, Luna menoleh ke belakang, menatap bangunan panti yang perlahan mengecil.
Ada rasa berat di hatinya, namun visi besar tentang pendidikan gratis bagi anak-anak desa memacu semangatnya kembali.
Perjalanan menuju kota memakan waktu beberapa jam, dan begitu mereka memasuki hiruk-pikuk pusat kota, kontras antara kedamaian perbukitan dan kebisingan urban terasa begitu nyata.
Selama satu minggu itu, jadwal mereka sangat padat.
Dari satu gudang furnitur ke bengkel pengrajin kayu lainnya, Isaac dan Luna memastikan setiap inci dari meja belajar yang mereka pesan memiliki sudut yang tumpul agar aman bagi anak-anak.
"Aku ingin kursi-kursi ini memiliki sandaran yang mengikuti anatomi tulang belakang anak-anak," instruksi Isaac kepada seorang pengrajin senior di sebuah bengkel furnitur ternama.
"Mereka akan menghabiskan banyak waktu untuk belajar, dan kenyamanan fisik adalah kunci fokus mereka."
Sementara Isaac mengurus aspek teknis dan struktural furnitur, Luna fokus pada pengadaan literatur.
Ia menghabiskan berhari-hari di distributor buku besar, mengurasi ribuan judul buku mulai dari ensiklopedia, sastra klasik, hingga buku cerita bergambar yang edukatif.
Baginya, perpustakaan adalah jantung dari sekolah Lentera Dendra.
"Kita membutuhkan setidaknya dua ribu judul buku untuk tahap awal," ujar Luna sembari mencatat daftar inventaris.
"Dan jangan lupa alat peraga sains untuk laboratorium. Anak-anak desa harus tahu bagaimana cara kerja mikroskop sejelas anak-anak di kota."
Di sisi lain, di panti asuhan, Ibu Sari mengelola situasi dengan sangat bijaksana.
Tanpa kehadiran sosok “orang tua” utama, beberapa anak sempat menunjukkan rasa rindu.
Dito menjadi sedikit lebih diam saat menyiram tomatnya, dan Aira sesekali bertanya kapan Kak Luna akan pulang.
Namun Ibu Sari selalu memiliki cara untuk mengalihkan perhatian mereka.
Ia melibatkan mereka dalam kegiatan memasak bersama atau mengadakan sesi bercerita di bawah pohon beringin saat malam hari.
"Kak Luna dan Pak Isaac sedang berjuang untuk masa depan kalian di kota," ujar Ibu Sari kepada anak-anak saat makan malam.
"Cara terbaik untuk menyambut mereka pulang adalah dengan menunjukkan bahwa kalian bisa menjadi anak-anak yang mandiri dan bertanggung jawab."
Malam-malam di kota dihabiskan Luna dan Isaac dengan melakukan koordinasi jarak jauh bersama Ibu Sari melalui telepon, memastikan tidak ada kendala berarti di panti.
Meski raga mereka berada di tengah kemewahan hotel dan hiruk-pikuk bisnis kota, hati dan pikiran mereka tetap tertambat pada bukit sunyi itu.
Setelah satu minggu penuh peluh dan negosiasi yang melelahkan, seluruh pesanan akhirnya rampung dan siap dikirim dengan armada truk kargo besar.
Isaac menghela napas lega saat menandatangani dokumen pengiriman terakhir.
"Semuanya sudah siap, Luna. Besok kargo-kargo ini akan bergerak menuju perbukitan."
"Mari kita pulang, Isaac," jawab Luna dengan senyum yang akhirnya merekah sempurna.
"Aku merindukan aroma pinus dan tawa mereka."
Perjalanan kembali ke perbukitan terasa lebih cepat.
Saat mobil mereka memasuki gerbang panti, anak-anak sudah berbaris menyambut dengan antusiasme yang meluap.
Di belakang mereka, sekolah Lentera Dendra berdiri kokoh, kini tinggal menunggu kedatangan truk-truk kargo tersebut untuk mengisi kekosongan ruangannya dengan ilmu pengetahuan dan harapan baru.