Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 – Darah di Antara Takdir
Sore itu langit Manhattan berwarna jingga keemasan. Valeria berdiri di depan rumah kecilnya, menatap langit dengan hati yang tak tenang. Sejak insiden di kampus, sejak tatapan Camille yang penuh racun dan bisikan-bisikan yang mencoba menjatuhkannya, hidupnya terasa seperti berjalan di atas kaca tipis.
Ia menghela napas panjang.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang ringan. Ia baru saja menyelesaikan ujian anatomi dengan nilai tertinggi di kelas. Beberapa dosen bahkan memujinya secara terbuka. Namun pujian itu seperti pedang bermata dua—mengangkatnya tinggi sekaligus menempatkannya sebagai sasaran.
Teleponnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
“Hallo?”
Suara di seberang terdengar panik. “Apakah ini Valeria Hernández?”
“Ya, benar. Siapa ini?”
“Saya dari unit gawat darurat St. Helena Medical Center. Kami menemukan nomor Anda di panggilan terakhir seseorang bernama Alexander Alejandro Castillo.”
Jantung Valeria berhenti berdetak selama satu detik.
Alexander.
Suara di ujung sana melanjutkan, “Beliau mengalami kecelakaan lalu lintas serius. Kondisinya kritis. Apakah Anda bisa segera datang?”
Dunia seperti runtuh.
Valeria tak ingat bagaimana ia sampai di rumah sakit. Kakinya bergerak sendiri, napasnya tercekat, pikirannya kosong. Hanya satu kalimat yang terus berputar di kepalanya:
Kritis.
Ia menerobos pintu UGD. Bau antiseptik menyergapnya. Monitor berdetak cepat. Para perawat bergerak tergesa.
“Di mana Alexander Alejandro Castillo?” tanyanya dengan suara gemetar.
Seorang dokter menunjuk ruang resusitasi.
Valeria berdiri di balik kaca transparan.
Dan ia melihatnya.
Alexander terbaring tak berdaya. Wajah tampannya yang biasanya penuh percaya diri kini pucat, penuh luka dan darah kering. Oksigen menutupi hidungnya. Selang infus menancap di kedua lengannya.
Hati Valeria seperti disayat ribuan pisau.
Alexander yang selalu terlihat kuat.
Alexander yang tertawa ringan saat mereka bertemu pertama kali.
Alexander yang berkata, “Kita pasti akan bertemu lagi.”
Air mata jatuh tanpa izin.
Ia ingin masuk. Ia ingin memegang tangannya. Ia ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun ia hanyalah mahasiswa kedokteran tahun pertama.
Ia tak punya hak.
Pintu ruang operasi terbuka. Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun masuk dengan langkah cepat namun penuh wibawa. Jas hitamnya rapi, tatapannya tajam dan dingin seperti baja.
Semua dokter langsung memberi jalan.
Valeria mengenal wajah itu dari brosur kampus.
Eduardo Alejandro Castillo.
Pendiri yayasan kampus.
Pemilik jaringan rumah sakit terbesar di Manhattan.
Ayah Alexander.
Tatapan pria itu berhenti saat melihat Valeria yang berdiri mematung dengan mata basah.
“Anda siapa?” suaranya dalam, tegas.
Valeria menelan ludah. “Saya… teman kuliahnya. Kami bertemu beberapa kali.”
memandangnya lama. Tatapan yang menilai. Menimbang. Membaca.
“Anda orang terakhir yang dihubungi Alexander,” katanya pelan.
Valeria mengangguk.
Pria itu tidak berkata apa-apa lagi, namun sesuatu berubah di matanya. Seperti ada rasa ingin tahu.
Dokter bedah keluar dari ruang resusitasi.
“Kami harus segera melakukan operasi. Ada pendarahan internal.”
Eduardo Alejandro Castillo. mengangguk singkat. “Lakukan yang terbaik. Tidak ada kompromi.”
Valeria menggenggam tangannya sendiri erat-erat. Tanpa sadar, ia melangkah mendekat.
“Dokter,” katanya dengan suara pelan namun tegas, “perdarahan internal kemungkinan besar di area limpa atau hati jika trauma tumpul di abdomen kanan. Tolong pastikan crossmatch darah dilakukan cepat. Golongan darahnya O negatif.”
Semua orang menoleh padanya.
Dokter itu terkejut. “Anda mahasiswa?”
Valeria mengangguk.
Eduardo Alejandro Castillo memandangnya lebih tajam sekarang.
“Bagaimana Anda tahu golongan darahnya?” tanya sang ayah.
Valeria tersentak. Ia teringat percakapan ringan mereka beberapa hari lalu. Alexander pernah bercanda bahwa ia sering jadi donor universal karena O negatif.
“Kami pernah membahasnya,” jawabnya jujur.
Eduardo mengangguk perlahan.
Alexander segera dibawa ke ruang operasi.
Lampu merah menyala.
Waktu berjalan lambat.
Valeria duduk di kursi ruang tunggu. Jantungnya belum berhenti bergetar. Ia tak pernah merasa seperti ini. Bahkan saat ujian tersulit, bahkan saat difitnah, ia tak pernah merasa takut kehilangan seseorang seperti sekarang.
Kenapa hatinya begitu sakit?
Padahal mereka belum pernah menyatakan apa pun.
Padahal hubungan mereka baru sebatas pertemuan-pertemuan yang tak disengaja.
Namun mungkin justru itu yang membuatnya menyakitkan—sebuah kemungkinan yang belum sempat tumbuh.
Eduardo Alejandro Castillo duduk di kursi seberang.
Beberapa menit hening.
Lalu pria itu berkata, “Anda tidak pergi.”
Valeria mengangkat wajahnya. “Saya tidak bisa.”
“Kenapa?”
Ia terdiam.
Karena saya peduli.
Karena saya takut kehilangannya.
Namun kata-kata itu tak mampu keluar.
“Saya ingin memastikan dia selamat,” jawabnya akhirnya.
Richard memperhatikannya lama.
“Banyak perempuan ingin berada di dekat anak saya karena nama Castillo. Karena kekayaan. Karena pengaruh.”
Tatapan pria itu menusuk.
“Anda berbeda.”
Valeria tersentak.
“Saya tidak mengenalnya karena itu,” katanya cepat.
Eduardo tersenyum tipis. “Saya tahu.”
Lampu operasi akhirnya mati setelah tiga jam yang terasa seperti tiga tahun.
Dokter keluar.
“Operasi berhasil. Pendarahan bisa dihentikan. Tapi ia kehilangan banyak darah. Kami harus mengawasi 24 jam pertama.”
Valeria menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata lega jatuh deras.
Eduardo berdiri, mendekati dokter, lalu menoleh pada Valeria.
“Terima kasih.”
Ia terkejut. “Saya tidak melakukan apa-apa.”
“Anda tetap tinggal.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat dadanya hangat.
Beberapa jam kemudian, Alexander dipindahkan ke ruang ICU.
Valeria berdiri di luar, memandang tubuhnya yang terbaring dengan mesin-mesin penunjang kehidupan.
Ia mengangkat tangan, menyentuh kaca.
“Cepatlah bangun,” bisiknya.
Di belakangnya, Eduardo berdiri.
“Nona Valeria,” katanya pelan.
Valeria menoleh.
“Saya sudah mengamati Anda sejak awal semester.”
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Nilai Anda luar biasa. Dosen-dosen memuji dedikasi Anda. Bahkan di rumah sakit ini, beberapa supervisor klinik sudah mendengar nama Anda.”
Valeria terdiam.
“Saya ingin menawarkan sesuatu.”
Ia menegakkan tubuh.
“Yayasan Alejandro Castillo memiliki program percepatan untuk mahasiswa dengan bakat luar biasa. Akses ke laboratorium riset, bimbingan langsung dari profesor bedah senior, dan jalur khusus menuju program bedah.”
Valeria hampir tak percaya.
“Kenapa… saya?”
Eduardo memandang ke arah Alexander yang terbaring.
“Karena saya ingin orang-orang terbaik mengelilingi anak saya. Dan karena saya melihat sesuatu di mata Anda tadi.”
“Apa?”
“Kejujuran. Dan keberanian.”
Hati Valeria bergetar.
Namun di sudut pikirannya, muncul bayangan wajah Camille.
Jika kabar ini sampai ke telinganya…
Konflik akan semakin besar.
Eduardo melanjutkan, “Keputusan ada di tangan Anda. Tidak ada paksaan.”
Valeria menunduk. Ini adalah kesempatan besar. Mimpi yang bahkan tak berani ia bayangkan.
Namun ia juga tahu—jalan ini tidak akan mudah.
“Bolehkah saya memikirkannya?” tanyanya pelan.
Eduardo mengangguk. “Tentu.”
Ia berbalik pergi, meninggalkan Valeria sendirian di depan kaca ICU.
Valeria memandang Alexander sekali lagi.
“Kenapa hidupmu harus serumit ini?” bisiknya.
Tak ia sadari, sejak kecelakaan itu, hidupnya tak lagi sekadar tentang bertahan di kampus.
Ia telah memasuki lingkaran keluarga Harrison.
Lingkaran kekuasaan.
Lingkaran ambisi.
Dan mungkin… lingkaran bahaya.
Ia tak tahu bahwa kecelakaan ini bukan sepenuhnya kebetulan.
Dan masa lalu yang selama ini tersembunyi, perlahan mulai mendekat.
Namun untuk malam itu, yang ia rasakan hanya satu hal—
Hatinya sakit.
Dan di sela rasa sakit itu, tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar simpati.
Cinta.
Dan tanpa ia sadari, sejak darah Alexander mengalir di meja operasi malam itu—
Takdir mulai menuliskan bab baru untuk Valeria.
Bab yang akan mengubah masa lalunya.
Dan mungkin… menyelamatkan masa depannya.