Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Nadine terpaksa mengalah. Nadine mengangguk , " baiklah tuan muda, semoga anda tidak pegal-pegal setelah bangun nanti" ucap Nadine lalu pergi keluar kamar, Ia sendiri masuk ke kamar ibunya di sebelah, namun matanya tak bisa terpejam.
Di balik dinding yang tipis, Nadine bisa mendengar suara Aditya yang membisikkan sesuatu kepada Noah yang sudah terlelap.
"Siapa kamu sebenarnya, Noah? Dan siapa ayahmu yang sangat beruntung itu? Kenapa setiap kali aku menatapmu, aku merasa sedang melihat diriku yang hilang?"
Nadine memeluk bantalnya, air matanya membasahi kain. Ia ingin sekali berteriak bahwa pria yang dirindukan Noah ada di sana, sedang memeluknya. Namun ia tahu, ujian ini belum usai. Ia harus memastikan Aditya mencintai mereka melampaui logika, bukan karena sekadar fakta.
Hujan terus turun, menyembunyikan isak tangis Nadine di kamar sebelah, sementara di kamar sempit itu, Aditya tertidur dalam posisi duduk dengan Noah yang meringkuk di pelukannya, sebuah momen di mana waktu seolah berhenti demi menyatukan kembali jiwa yang telah lama terpisah.
" kamu kenapa nduk?" tanya ibunya yang melihat Nadine terisak.
" Nadine rasanya ingin berteriak pada mas Adit kalau Noah adalah putranya,namun itu semua belum saatnya" balas Nadine memeluk tubuh ibunya yang semakin renta.
" yang sabar nak, kalau sudah saatnya, kalian akan berkumpul kembali, Alloh tidak memberikan ujian pada hambanya kalau hambanya itu tidak mampu, yang sabar ya, semua akan indah pada waktunya" ibunya Nadine mengelus lembut punggung putrinya yang bergetar.
___
Pagi yang dingin itu terasa begitu hangat di dalam kontrakan sempit. Cahaya matahari menyeruak malu-malu di balik celah jendela kayu. Di atas meja kayu kecil, kepulan asap tipis membumbung dari piring berisi nasi goreng dan telur dadar, sarapan sederhana yang aromanya seketika menghentikan langkah Aditya saat ia baru saja akan keluar dari kamar .
Noah sudah berdiri di depan kamarnya"Om ayah... Ayo kita sarapan" ajak Noah dengan riang, Noah menggandeng tangan Aditya seperti seorang putra yang menggandeng ayahnya..., Aditya tersenyum dan mengikuti apa yang Noah mau, entah mengapa berada di dekat Noah perasaannya begitu sempurna... ia membayangkan Noah adalah putranya sendiri, pasti hidupnya akan lebih sempurna, Namun sayang sekali, anak sebaik Noah harus memiliki ayah yang tidak mempunyai perasaan, hilang tidak ada kabar.
Aditya bersumpah, kalau ia bertemu dengan ayahnya Noah, ia akan membuat perhitungan.
Di ruang makan yang bersatu dengan ruang tamu, jenis suasananya lebih hangat,
Aditya duduk di kursi plastik, sementara Noah dengan semangat bercerita tentang mimpi indahnya semalam. "Ibu buatkan nasi goreng kesukaan Om Ayah, ya?" tanya Noah polos.
Nadine tersenyum mengangguk"ibu tidak tahu kesukaan Om Ayah itu apa, yang jelas, ibu hanya ingin membuat sarapan yang simpel saja, karena sebelum ke kantor ibu dan Om Ayah harus kembali ke rumah dulu untuk mengganti pakaian dengan pakaian kerja.
Noah mengangguk lalu menatap sang ayah yang memang masih memakai kemeja putih dan celana bahan yang dipakai kemarin saat ke kantor, semalam Aditya tidur menggunakan sarung milik Nadine, sarung lama yang dipakai Nadine saat di pesantren dulu.
"bener juga ya,..., Om Ayah masih memakai baju kemarin"ucap Noah nyengir kuda, giginya yang putih terlihat, dan itu semua membuat perasaan Aditya semakin membuncah.
"Ayo sekarang kita sarapan, jangan sampai kalian telat ke kantor"ajak ibu Nadine dengan ramah seperti seorang ibu yang mengingatkan kepada putri dan menantunya pada umumnya.
Aditya mengangguk , ia menyuapkan sendok pertama. Matanya terpejam. Rasa ini... bumbu ini... ia merasa lidahnya sudah mengenal rasa ini selama bertahun tahun yang lalu. "Mona... rasa masakan ini... kenapa rasanya persis seperti sesuatu yang sangat kurindukan?"
Nadine hanya menunduk, "Mungkin hanya perasaan Tuan Muda saja. Ini hanya nasi goreng biasa. Maaf makanannya tidak semewah seperti di rumah Tuan" sahut Nadine pelan.
" justru masakan sederhana seperti ini membuat lidahku terasa sangat lezat dan menggigit, Aku ingin, kau membuat sarapan dengan menu nasi goreng lagi untuk besok pagi"kata Aditya dengan lembut.
Nadine mengangguk"insya Allah tuan muda, sesuai perintah"sahut Nadine dengan lembut.
Setelah sarapan selesai, Nadine Dan Aditya bersiap untuk masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumah utama.
"Om Ayah berangkat dulu ya nak, kau bisa main ke rumah Om ayah kapanpun kamu mau" ucap Aditya dengan lembut, ia berjongkok agar bisa sejajar dengan Noah.
Noah menoleh ke arah ibunya yang mengangguk.
"insya Allah Om ayah, Noah akan ke sana, tapi kalau sudah waktunya... untuk saat ini, Noah masih beradaptasi di tempat ini" jawab Noah dengan sopan.
Aditya mengusap rambut Noah dengan sayang"baik-baik di rumah, Om Ayah menyayangimu"Aditya memeluk tubuh kecil Noah seperti seorang ayah yang sangat berat untuk meninggalkan putranya.
"kami berangkat dulu ya sayang... Assalamualaikum?"ucap Nadine dengan lembut, ia memeluk dan mencium gemas putranya.
"Waalaikumsalam, hati-hati ibu... hati-hati Om ayah"sahut Noah dengan wajah berbinar cerah seperti matahari yang baru muncul di antara kegelapan malam. wajahnya yang polos membuat Aditya merasa gemas dan ingin mencium Noah bertubi-tubi, sayangnya ia harus jaga perasaan bahwa Noah memang bukan putranya, melainkan putra seorang pengecut yang entah berada di mana keberadaannya.
___
Pagi itu, suasana di depan gerbang megah mansion Pratama tampak tegang. Mobil mewah Aditya meluncur masuk dan berhenti tepat di depan pintu utama. Aditya turun lebih dulu, lalu dengan sikap protektif yang tidak biasa, ia membukakan pintu untuk Nadine..., kemarin sang sopir disuruh pulang menggunakan taksi saat mereka akan pergi ke kontrakan Nadine, jadi sekarang, Aditya lah yang mengemudikan mobil mewahnya untuk kembali ke rumah.
Nadine turun dengan langkah ragu. Ia masih mengenakan pakaian rumah yang sederhana karena baju kantor dan perlengkapan kerjanya tertinggal di kamarnya yang berada di dekat dapur. Ia merasa sangat tidak nyaman kembali ke tempat ini setelah malam yang penuh kedamaian di kontrakan kecilnya.
"Ayo masuk, Mona. Jangan menunduk," ucap Aditya tegas, seolah memberikan kekuatan.
Begitu pintu jati besar itu terbuka, badai sudah menunggu di ruang tamu. Aurel berdiri di sana dengan napas memburu, matanya merah karena semalaman tidak tidur , ia sibuk mencari keberadaan Aditya. Di sampingnya, Adelia juga tampak melipat tangan dengan wajah penuh penghinaan.
"BERHENTI DI SITU!" teriak Aurel, suaranya melengking memecah keheningan mansion. Wajahnya merah padam, menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
Ia berlari mendekat dan langsung menunjuk wajah Nadine dengan telunjuknya yang gemetar. "Jadi benar?! Kamu membawa calon suamiku untuk ke hotel?! Dasar wanita tidak tahu malu! Kamu menjebak Aditya dengan cara murahan apa semalam, pasti tubuh menjijikanmu itu?!"
Adelia ikut menimpali dengan suara sinis, "Aditya, lihat dirimu. Kamu CEO Pratama Group, tapi pulang dengan baju kusut dan aroma dapur dari pelayan ini. Apa kamu tidak sadar sudah dipermalukan oleh wanita buruk rupa ini?"
Nadine mencoba tenang, meski hatinya teriris. "Nona Aurel, saya hanya menjalankan tugas saya sebagai—"
PLAK!
Aurel melayangkan tamparan keras ke pipi Nadine sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. "Tugasmu itu di dapur, bukan di tempat tidur bersama tunanganku! Kamu sengaja kan, pakai masker dan pura-pura alim supaya Aditya penasaran? Aku tahu tipe wanita sepertimu, hanya mengincar harta!"