NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 06: Teror Awal Asrama [5]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

"Sorry, sorry... otak gue masih agak konslet efek nabrak ruang waktu," Rakes mengusap wajahnya kasar, menyadari istilah yang ia gunakan barusan salah besar.

"Maksud gue Tanah Darah," koreksi Rakes dengan nada yang jauh lebih serius. "Bukan kristal maut atau istilah keren lainnya. Itu cuma sebutan halus buat sesuatu yang jauh lebih menjijikkan."

Zack mengernyitkan dahi. "Tanah Darah? Kedengarannya kayak sesuatu yang keluar dari mitos perang kuno."

"Emang, Bang," sahut Gaveen sambil menunjuk gumpalan di dalam kain hitam yang kini warnanya berubah menjadi merah pekat, bukan lagi biru. Warnanya sehitam darah yang sudah mengering, tapi berdenyut.

"Tanah Darah itu adalah sisa-sisa... sebut aja 'ampas' dari dimensi yang udah kiamat," jelas Rakes sambil menatap benda itu dengan rasa ngeri. "Benda ini disebut Tanah Darah karena dia dibentuk dari pengorbanan nyawa yang nggak terhitung jumlahnya di masa lalu. Dia bukan batu, dia itu kumpulan memori dan penderitaan yang memadat jadi uget-uget kayak sekarang."

Rakes menjelaskan kenapa benda itu begitu berbahaya. Tanah Darah punya sifat Magnetik-Temporal. Dia menarik kesialan, menarik entitas jahat, dan yang paling parah: dia haus akan tumpah darah baru untuk menjaga denyutnya tetap hidup.

"Berarti... tu alasan kenapa bom gereja kemarin meledak di koordinat yang searah sama jalur masuknya benda ini ke dunia kita," Hamu menyela, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. "Tanah Darah ini 'makan' energi dari kekacauan itu. Dia butuh tumbal supaya bisa stabil di dimensi kita."

Kale mundur selangkah, wajahnya semakin pucat. "Jadi... martabak yang kita makan tadi... lo beli pake duit hasil bawa ginian? Atau jangan-jangan benda ini juga yang bikin gue ngerasa ada di lemari tadi?"

"Benda ini bikin halusinasi, Le," jawab Rakes. "Dia nyari titik terlemah di mental seseorang. Dia tau lo lagi cemas, makanya dia manifestasi jadi 'Gue' yang palsu buat bikin lo buka pintu. Kalau lo tadi buka pintu lemari, Tanah Darah ini bakal nyedot eksistensi lo buat jadi nutrisi dia."

Tiba-tiba, detak di dalam kain hitam itu mengeras.

DAK DUK DAK DUK

Suaranya bergema di seluruh ruangan, sinkron dengan suara langkah kaki orang-orang berpakaian hitam yang mulai turun dari mobil di depan gerbang.

"Mereka yang di depan itu," Rakes menunjuk ke arah mobil-mobil mewah di gerbang, "Mereka adalah pemuja Tanah Darah. Mereka percaya kalau mereka bisa nanem mencuri benda ini, mereka bisa dapet kekuatan buat ngatur waktu juga hancurin keluarga Polarios. Tapi yang mereka ngga tau, mereka cuma jadi pion buat makhluk yang lebih gede."

Zack berdiri di depan jendela, menatap para tamu tak diundang itu dengan tangan mengepal.

"Jadi intinya, kita sekarang megang 'bom waktu' yang isinya nyawa orang, dan orang-orang di luar sana mau ambil itu buat bikin kiamat baru?"

Rakes mengangguk pasti. "Dan satu-satunya cara buat hancurin Tanah Darah ini adalah dengan netralin energinya pake frekuensi yang pas... yang cuma bisa kita buat kalau kita tetep satu tim."

Di luar, salah satu orang dari mobil hitam itu melangkah maju. Ia tidak membawa senjata api, melainkan sebuah lonceng kecil yang bunyinya membuat kaca-kaca asrama bergetar hebat.

"Rakes Polarios..." suara dari gerbang itu menggelegar, merambat lewat tanah.

"Kembalikan Tanah Darah itu, atau asrama ini akan kami jadikan kuburan massal pertama untuk membasahinya."

Suasana semakin mencekam. Tanah Darah di dalam kamar mulai berdenyut merah menyala, merespons suara lonceng di luar.

Suasana di dalam kamar Hamu mendadak kacau. Belum sempat Zack melangkah ke gerbang atau Rakes mengatur napas, suara ketukan yang tadi sempat berhenti kini kembali muncul. Tapi kali ini, ketukannya tidak berasal dari lorong, melainkan dari Pintu Misterius di pojok ruangan asrama, sebuah pintu mati yang selama ini terkunci rapat dan tertutup lemari tua, pintu yang konon katanya tidak menuju ke ruangan mana pun.

BAM! BAM! BAM!

Ketukannya begitu keras hingga debu-debu dari langit-langit berjatuhan. Suaranya bukan seperti tangan manusia, melainkan seperti sesuatu yang besar sedang mencoba mendobrak dari sisi lain realitas.

"Rak! Tanah Darah-nya!" teriak Gaveen histeris.

Kain hitam yang dipegang Gaveen tiba-tiba terbakar tanpa api. Tanah Darah yang tadinya berdenyut merah pekat itu melesat keluar, lepas dari genggaman Gaveen. Benda itu tidak jatuh ke lantai, melainkan melayang di udara, memancarkan cahaya merah silet yang menyakitkan mata.

"Tahan!" Zack mencoba menerjang benda itu, tapi sebuah gelombang kejut mementalkannya ke dinding.

Tanah Darah itu berputar cepat, menciptakan pusaran angin kecil di tengah kamar Hamu. Seolah ditarik oleh magnet raksasa, benda itu terbang lurus menuju Pintu Misterius tersebut. Setiap kali ketukan dari balik pintu itu terdengar, Tanah Darah itu berdenyut semakin terang, seolah-olah pintu itu adalah mulut yang sedang memanggil makanannya.

SREEEEET—

Tanah Darah itu menempel tepat di lubang kunci Pintu Misterius. Seketika, cahaya merah merembes ke celah-celah pintu, mengubah kayu tua yang lapuk menjadi terlihat seperti urat nadi yang dialiri darah panas.

"Jangan biarin pintu itu kebuka!" Rakes berteriak sambil melepaskan kilatan listrik emas dari tangannya, mencoba mengikat Tanah Darah tersebut dan menariknya kembali. "Kalau pintu itu jebol, apa pun yang ada di baliknya bakal masuk ke dunia kita pake kekuatan Tanah Darah!"

Hamu dengan sigap menyambar laptopnya, jemarinya menari gila. "Sakit banget sialan! ini nyusahin hidup gua banget dah sekarang!!"

Di luar asrama, orang-orang berpakaian hitam yang tadinya diam, kini mulai bersujud di tanah saat melihat cahaya merah memancar dari jendela kamar Hamu. Mereka tahu, ritual pemanggilan sedang terjadi secara tidak sengaja.

KRAAAKK!

Pintu Misterius itu mulai terbuka satu inci. Bau amis darah dan aroma tanah basah menyeruak masuk, membuat Kale mual dan jatuh terduduk. Dari balik celah pintu yang terbuka sedikit itu, terlihat kegelapan yang lebih hitam dari malam, dan ribuan mata kecil yang mengintip lapar.

"Zack! Dorong lemarinya! Tutup pintunya pake fisik!" perintah Rakes sambil menahan beban energi yang luar biasa dari Tanah Darah.

Zack bangkit dengan geram, urat-urat di lehernya menonjol. Ia memeluk lemari kayu jati besar dan mendorongnya dengan sekuat tenaga ke arah pintu yang mulai terbuka itu.

"Bang Zack... Saka udah ngga kuat lagi nahan nya. " ucap Saka karena dipukul mundur dengan keras.

"Saka harus kuat! Ayo kita dorong lagi!" yang mengatakan ini adalah Kale, dia menekan tubuh Saka.

"Bang Zack! Mas Kale! Hamu sama Saka! kalau memang kita bakalan masuk ke ruang waktu disana, itu adalah tanah kelahiran yang benar-benar ada hubungannya dengan kalian! jadi tolong... ingat, gua bakalan nyari kalian sampai ke zaman gua mati berkali-kali sepenuhnya demi kalian disana!"

Rakes berteriak dengan lantang yang membuat teman-teman nya terkejut dan bingung, ketika semakin kuat tarikan pintu yang ada di hadapan mereka satu per satu dari mereka pun terhisap dan saling melepaskan uluran tangan nya.

Gaveen tersandung jatuh di atas aspal halaman belakang, napasnya tersengal saat ia merogoh kolong kursi Pagani miliknya. Tangannya gemetar hebat, menyentuh berbagai benda logam dingin—koin dimensi, kunci cadangan, hingga botol sisa air suci—tapi tak ada satu pun yang terasa "pas" untuk menandingi kekuatan Tanah Darah.

"Sial, bukan ini! Bukan ini!" umpat Gaveen frustrasi.

Tepat saat ia berhasil mencengkeram sebuah kompas perak kuno, sebuah ledakan sunyi—jenis ledakan yang tidak mengeluarkan suara tapi sanggup membuat jantung berhenti berdetak sesaat—terjadi di lantai dua.

Gaveen mendongak. Cahaya merah yang tadinya memancar dari jendela kamar Hamu mendadak tersedot ke dalam satu titik pusat. Keheningan yang mengerikan menyusul, lebih menakutkan daripada suara ledakan apa pun.

"RAKES! BANG ZACK!" teriak Gaveen sambil berlari menaiki tangga asrama dengan langkah seribu.

Begitu ia menendang sisa pintu kamar Hamu yang sudah hancur, jantungnya seolah merosot ke perut. Kamar itu kosong melompong. Lemari jati yang tadi didorong Zack hancur berkeping-keping seolah dilewati oleh buldoser tak kasatmata. Pintu Misterius di pojok ruangan itu kini tertutup rapat, diam, dan mati—seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana.

Hanya ada satu sisa yang tertinggal: aroma hangus listrik milik Rakes dan ceceran martabak yang terinjak-injak di lantai.

"Enggak... ngga mungkin," bisik Gaveen, tangannya yang memegang kompas perak bergetar hebat.

Ia memeriksa seluruh sudut kamar. Nihil. Rakes, Zack, Hamu, dan Kale lenyap tanpa jejak. Ruang itu tidak hanya menghisap mereka, tapi seolah-olah menghapus keberadaan mereka dari koordinat bumi saat ini.

Gaveen terjatuh berlutut di tengah ruangan yang sunyi itu. Di luar sana, orang-orang berpakaian hitam yang tadinya bersujud mulai berdiri. Mereka menyadari bahwa "kunci" telah masuk ke dalam "lubang", dan mangsa mereka kini berada di dalam wilayah kekuasaan mereka sendiri.

Tiba-tiba, kompas perak di tangan Gaveen berputar liar. Jarumnya tidak menunjuk ke arah utara, melainkan menunjuk tepat ke arah Pintu Misterius yang sudah tertutup itu. Di permukaan kaca kompas, muncul pantulan tulisan samar yang terbuat dari embun darah:

"Sang malaikat suci ditinggalkan untuk menyaksikan akhir dari waktu."

Gaveen memukul lantai dengan tinjunya. "Gue bukan malaikat suci, brengsek! Gue cuma telat!"

Kini Gaveen sendirian di asrama yang sudah tidak lagi terasa seperti rumah. Ia memegang kunci mobil Pagani di tangan kiri dan kompas perak di tangan kanan. Ia tahu, jika ia tidak menemukan cara untuk membuka kembali pintu itu dari sisi ini, saudara-saudaranya akan terjebak selamanya di dalam dimensi Tanah Darah—tempat di mana waktu berjalan mundur dan memori manusia perlahan-lahan dimakan habis.

Gaveen berdiri, matanya yang tadi penuh ketakutan kini berubah menjadi tangisan pedih.

"Gue harap... Kalian bisa keluar dari sana hidup-hidup."

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!