NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: DI ANTARA HARAPAN DAN JARINGAN BAHAYA

 

Pagi itu, langit kota tampak mendung, seolah turut merasakan kegelisahan yang melanda hati Putri. Rumah sakit besar tempat Rara dirawat terasa lebih sunyi dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Putri karena telinganya hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang.

Hari ini adalah hari operasi Rara.

Putri berdiri di depan ruang rawat Rara, memegang erat tangan Rizky yang hangat dan kokoh. Rizky tidak melepaskan genggaman tangan Putri sedetik pun sejak tadi malam. Dia ada di sana, menjadi tiang penyangga bagi Putri yang rasanya ingin roboh karena ketakutan.

"Tenang, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja," bisik Rizky lembut di telinga Putri, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Dokter yang menangani Rara adalah yang terbaik di negara ini. Mereka akan melakukan segalanya dengan sempurna."

Putri mengangguk pelan, meski air matanya terus menetes. "Aku takut, Rizky. Apa yang terjadi kalau... kalau ada hal buruk menimpa Rara? Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa. Aku tidak bisa kehilangan dia juga."

Rizky memutar tubuh Putri agar menghadapnya, lalu memegang kedua bahu istrinya dengan lembut namun tegas. "Dengar aku, Putri. Rara adalah gadis yang kuat. Dia punya semangat yang besar. Dan dia punya kita berdua yang mencintainya lebih dari apa pun. Dia akan melewati ini. Aku janji."

Pintu ruangan terbuka, dan dokter bedah yang menangani Rara keluar mengenakan baju hijau operasi. Wajahnya tampak serius namun tenang.

"Bu Putri, Pak Rizky. Kami siap memindahkan Rara ke ruang operasi sekarang," ucap dokter itu pelan. "Kami akan melakukan yang terbaik. Silakan berpamitan sebentar lagi."

Putri masuk ke dalam ruangan dengan langkah berat. Rara sudah terbaring di brankar, wajahnya pucat namun matanya tetap cerah melihat kakaknya. Dia tersenyum kecil.

"Kakak..." panggil Rara lemah.

Putri segera berlutut di samping brankar, mencium tangan kecil adiknya berkali-kali. "Iya, Sayang. Kakak di sini. Kakak akan menunggu di luar sampai Rara selesai. Nanti kalau Rara bangun, Kakak dan Pak Rizky sudah ada di sini menunggu dengan hadiah yang banyak."

"Rara tidak takut," ucap Rara, meski suaranya sedikit bergetar. "Karena Kakak dan Pak Rizky pasti mendoakan Rara. Nanti kalau Rara sembuh, kita mau jalan-jalan sama-sama ya, Pak Rizky?"

Rizky tersenyum, menunduk dan mencium kening Rara. "Tentu saja, Sayang. Kita akan pergi ke mana pun kamu mau. Ke taman bermain, ke kebun binatang, atau ke pantai. Tapi sekarang, Rara harus tidur dulu ya, supaya nanti bisa sembuh dan main lagi."

Rara mengangguk, lalu memejamkan mata saat perawat mulai mendorong brankar menuju lift operasi. Putri terus melambaikan tangan sampai brankar menghilang di tikungan koridor, lalu dia tidak sanggup lagi menahan dirinya. Dia jatuh ke dalam pelukan Rizky, menangis tersedu-sedu melepaskan semua ketakutan yang dipendamnya selama ini.

Rizky memeluknya erat, membiarkan Putri menangis di bahunya sambil membelai rambutnya perlahan. "Menangislah, Sayang. Keluarkan semuanya. Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana."

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di ruang tunggu. Putri duduk dengan tangan saling menggenggam, berdoa tanpa henti. Rizky tidak pergi, tidak menelepon, tidak bekerja. Dia hanya duduk di samping Putri, memberikan kehangatan dan ketenangan yang Putri butuhkan. Di momen itu, Putri benar-benar merasa bersyukur memiliki Rizky. Pria ini bukan hanya suami atas dasar perjanjian, tapi dia adalah pelindung, teman, dan sosok yang membuat Putri percaya bahwa masih ada kebaikan di dunia ini.

Namun, di balik rasa syukur itu, rasa bersalah itu kembali menyergap. Putri ingat bukti yang dia sembunyikan, ingat alat penyadap yang dia pasang di ruang kerja Pak Hidayat. Dia sedang berencana menghancurkan ayah dari pria yang sedang menyelamatkan nyawa adiknya. Perasaan itu begitu menyiksa hingga Putri merasa mual.

Sekitar lima jam kemudian, lampu hijau di atas pintu ruang operasi padam. Dokter keluar, melepas maskernya, dan tersenyum lega.

"Operasi berjalan lancar," ucap dokter itu, dan seketika beban di dada Putri hilang seketika. "Pendonornya cocok, dan tubuh Rara menerima ginjal baru dengan cukup baik. Tentu saja kami masih harus memantau kondisinya di ruang rawat intensif selama beberapa hari ke depan untuk memastikan tidak ada penolakan atau infeksi, tapi untuk saat ini, kabarnya sangat baik."

Putri merasa lututnya lemas, dan dia hampir jatuh jika Rizky tidak segera memeluknya. "Terima kasih... Terima kasih, Dok," isak Putri, kali ini air mata kelegaan.

"Alhamdulillah," ucap Rizky lirih, tampak juga sangat lega. Dia menatap Putri dengan mata berkaca-kaca. "Lihat, Sayang? Rara baik-baik saja."

Rara dipindahkan ke ruang rawat intensif, dan Putri serta Rizky diizinkan melihatnya sebentar dari balik kaca. Melihat adiknya terbaring dengan berbagai selang yang terpasang namun napasnya teratur, Putri tahu dia harus terus berjuang. Bukan hanya untuk membalas dendam, tapi untuk membangun masa depan yang aman bagi Rara dan dirinya bersama Rizky.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan Putri menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit. Rizky tetap datang setiap hari, kadang membawa makanan, kadang hanya duduk menemani Putri dalam diam.

Suatu sore, saat Rizky datang, Putri melihat dia membawa sebuah tas kertas berisi beberapa buku dan mainan edukasi. Namun, saat Rizky meletakkan tas itu, ada sebuah buku catatan kecil yang terjatuh. Putri dengan sigap mengambilnya sebelum menyentuh lantai.

"Ini milikmu, Rizky?" tanya Putri sambil menyerahkan buku itu. Namun, saat tangannya menyentuh sampulnya, dia melihat beberapa coretan angka dan nama tempat yang terlihat akrab baginya—nama-nama panti asuhan dan komunitas anak-anak di daerah pinggiran kota yang pernah dia dengar.

Rizky tampak sedikit terkejut, lalu dengan cepat mengambil buku itu dan menyimpannya kembali ke dalam tas. "Ah, iya. Ini... ini catatan pribadi saja."

Putri mengerutkan kening. Sebagai mantan mahasiswa hukum yang terlatih memperhatikan detail, dia merasa ada yang aneh. "Rizky, ini catatan tentang panti asuhan dan donasi, kan? Aku melihat nama Panti Asuhan Bunda Harapan di sana. Kamu sedang mengurus donasi?"

Rizky terdiam sejenak, menatap Putri. Dia tampak bergumul apakah harus menjawab atau tidak. Akhirnya, dia menghela napas panjang dan duduk di samping Putri.

"Sebenarnya... ini bukan sekadar donasi, Putri," ucap Rizky pelan, suaranya rendah seolah takut didengar orang lain. "Aku punya sebuah inisiatif kecil. Sejak SMA, aku selalu merasa tidak nyaman dengan... dengan cara keluarga kami mencari uang. Aku tahu banyak orang terluka karena bisnis ayah. Jadi, diam-diam, aku menggunakan sebagian uang sakuku dan keuntungan dari investasi kecil yang aku lakukan untuk membantu anak-anak yang menjadi korban kekerasan atau konflik yang berhubungan dengan dunia ayahku. Aku membayar biaya sekolah, biaya pengobatan, dan mencoba memberi mereka tempat yang aman."

Putri tertegun. Dia menatap Rizky dengan takjub. Jadi ini yang dimaksud dalam karakter Rizky—dia memiliki usaha rahasia membantu anak-anak korban mafia. Putri tidak menyangka bahwa pria ini memiliki hati sebaik ini, berani melawan arus dari keluarganya sendiri demi kebenaran.

"Rizky..." Putri menatapnya dengan mata berbinar. "Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku? Ini hal yang luar biasa."

"Aku takut," jawab Rizky jujur. "Aku takut ayah tahu dan marah. Dia akan menganggapku mengkhianatinya. Dan aku juga takut... takut kamu akan melihatku berbeda. Aku ingin jauh dari kekerasan, Putri. Aku ingin melakukan sesuatu yang benar, sesuatu yang berguna. Tapi aku terjebak di tengah-tengah."

Putri merasakan ikatan batin yang semakin kuat di antara mereka. Mereka berdua ternyata sama-sama terjebak, sama-sama menyimpan rahasia, dan sama-sama menginginkan keadilan. Putri ingin sekali memberitahunya segalanya—tentang bukti kematian orang tuanya, tentang Pak Darmawan, tentang alat penyadap itu. Tapi saat itu juga, ponsel Putri bergetar di sakunya.

Pesan masuk. Nomor tidak dikenal.

[Selamat atas keberhasilan operasi adikmu. Sekarang, saatnya kau membayar jasaku. Malam ini, jam 8. Di tempat biasa. Bawa laporan rekaman dari alat yang kau pasang. Jangan telat. - D]

Wajah Putri seketika berubah pucat. Rizky menyadari perubahan ekspresi istrinya.

"Putri? Ada apa? Siapa yang mengirim pesan?" tanya Rizky cemas.

Putri buru-buru menyembunyikan ponselnya, menggeleng cepat. "Tidak... tidak ada, Rizky. Hanya pesan dari perawat soal kebutuhan Rara. Aku harus... aku harus pergi sebentar. Ada yang harus diurus."

Rizky menatapnya dengan curiga, tapi melihat ketegangan di wajah Putri, dia memilih untuk tidak memaksa saat itu. "Baiklah. Tapi hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, telepon aku segera."

Putri mengangguk, lalu berdiri dan berjalan cepat meninggalkan ruangan, meninggalkan Rizky yang tampak bingung dan khawatir.

Malam itu, Putri kembali ke rumah Adinata sebentar untuk mengambil perangkat penerima sinyal kecil yang diberikan Pak Darmawan bersamaan dengan alat penyadap. Perangkat itu sudah merekam percakapan-percakapan yang terjadi di ruang kerja Pak Hidayat selama dua hari terakhir.

Putri duduk di dalam mobil sedan hitam Pak Darmawan lagi, perasaannya campur aduk antara marah dan takut.

"Selamat malam, Putri. Kau terlihat lebih segar," ucap Pak Darmawan dengan senyum miring yang menjengkelkan. "Kau bawa apa yang aku minta?"

Putri menyerahkan perangkat itu dengan kasar. "Ini. Bapak sudah dapat apa yang Bapak mau. Sekarang, tolong jangan ganggu aku dan adikku lagi. Rara baru saja operasi, dia butuh ketenangan."

Pak Darmawan memeriksa perangkat itu, lalu tersenyum lebar. "Bagus. Sangat bagus. Rekamannya jelas sekali. Aku sudah mendapatkan informasi yang aku butuhkan. Ayahmu memang pintar, Putri. Kau sangat berguna."

"Apa yang akan Bapak lakukan sekarang?" tanya Putri waspada.

"Rencanaku berjalan sesuai jadwal," jawab Pak Darmawan misterius. "Dalam beberapa hari lagi, Hidayat akan jatuh. Dan kau, Putri, akan menjadi pahlawan yang membawanya ke jurang. Tapi sebelum itu, ada satu tugas lagi untukmu."

Putri mengepalkan tangannya. "Apa lagi? Aku sudah melakukan semua yang Bapak minta."

"Masih ada satu hal penting yang hilang," ucap Pak Darmawan, matanya memancarkan kelicikan. "Aku butuh kau untuk mencuri dokumen asli dari brankas pribadi Hidayat. Dokumen yang berkaitan dengan kesepakatan bisnis ilegalnya tiga tahun lalu. Itu adalah bukti pamungkas yang bisa mengirimnya ke penjara seumur hidup. Dan aku tahu kau bisa melakukannya. Kau kan pintar."

"Bapak gila!" seru Putri tidak percaya. "Brankas pribadi Pak Hidayat adalah tempat paling aman di rumah itu. Hanya dia yang tahu kode sandinya. Bahkan Rizky pun tidak tahu. Bagaimana mungkin aku bisa mencurinya?"

"Itu urusanmu, Putri," jawab Pak Darmawan dingin. "Aku memberimu waktu tiga hari. Dalam tiga hari, dokumen itu harus ada di tanganku. Kalau tidak... kau tahu konsekuensinya. Aku bisa memastikan operasi adikmu gagal, atau bahkan... aku bisa membuatnya sakit lagi. Kau tidak ingin itu terjadi, kan?"

Putri gemetar hebat. Dia ingin meledak, ingin memukul pria di sampingnya ini, tapi dia tidak berdaya. Ancaman itu terlalu nyata dan terlalu menakutkan.

"Baiklah," jawab Putri lemas, suaranya pecah. "Aku akan mencobanya. Tapi aku tidak berjanji berhasil."

"Kau harus berhasil," ucap Pak Darmawan tegas. "Ingat, tiga hari."

Putri turun dari mobil dengan hati yang berat. Dia berjalan menuju rumah Adinata dengan langkah gontai. Tugas ini hampir mustahil. Mencuri dokumen dari brankas Pak Hidayat? Itu sama saja dengan berjalan ke mulut harimau.

Saat masuk ke dalam rumah, dia melihat Rizky sedang duduk di ruang tamu, menunggunya. Wajah Rizky tampak serius, seolah dia sudah menunggu lama.

"Kamu dari mana, Putri?" tanya Rizky, suaranya tenang namun ada nada tegas di dalamnya. "Aku meneleponmu berkali-kali, tapi tidak diangkat. Aku khawatir."

Putri terhenti di depan pintu. Dia menatap Rizky, pria yang mencintainya, pria yang menyelamatkan adiknya, pria yang diam-diam melakukan kebaikan. Dan dia tahu, untuk menyelesaikan tugas gila dari Pak Darmawan ini, dia mungkin harus melibatkan Rizky atau setidaknya menggunakan pengetahuannya tentang ayahnya sendiri. Tapi apakah dia berani? Apakah dia siap kehilangan kepercayaan Rizky selamanya?

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri baru saja mengetahui bahwa Rara selamat dari operasi berkat Rizky, dan juga menemukan rahasia baik Rizky yang membantu anak-anak korban mafia. Namun, Pak Darmawan kembali memberikan tugas mustahil: mencuri dokumen dari brankas pribadi Pak Hidayat dalam tiga hari dengan ancaman pada Rara. Putri kini berdiri di hadapan Rizky yang menunggunya dengan penuh tanda tanya. Jika kamu jadi Putri, apakah kamu akan memberitahu Rizky tentang ancaman Pak Darmawan dan meminta bantuannya, atau kamu akan mencoba melakukannya sendiri dengan risiko tertangkap dan dianggap pengkhianat?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!