Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: PECAHAN KACA DAN SERPIHAN INGATAN
BAB 23: PECAHAN KACA DAN SERPIHAN INGATAN
Suasana di kediaman Vashishth pagi itu terasa begitu kaku. Meskipun matahari bersinar terang di luar, di dalam koridor rumah mewah itu, hawa dingin ketidakpercayaan masih menyelimuti setiap penghuninya. Rayhan berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap paviliun belakang. Di sana, ia bisa melihat Vanya sedang duduk bersama Arlan di bawah pohon besar. Arlan tampak asyik bermain dengan kelopak bunga yang jatuh, sementara Vanya terus mencoba mengajaknya berbicara, berharap ada satu kata yang bisa memicu kembalinya ingatan pria itu.
Rayhan mengepalkan tangannya. Di atas mejanya tergeletak sebuah amplop cokelat berisi dokumen masa lalu ayahnya. Ia tahu kebenarannya, namun ia merasa seperti pengecut karena tidak sanggup mengucapkannya pada Arlan. Bagaimana ia bisa mengatakan pada pria yang jiwanya kini seputih kertas itu bahwa mereka adalah saudara seayah? Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa ibunya sendiri, Suman, adalah alasan mengapa Arlan dan Ibu Sujati menderita selama puluhan tahun?
Di taman, Vanya sedang berusaha keras. Ia membawa sebuah kotak kecil yang berisi barang-barang dari Simla yang sempat ia selamatkan. Ia mengeluarkan sebuah kalung manik-manik murahan yang dulu pernah Arlan menangkan di sebuah festival pasar malam.
"Arlan, lihat ini," ucap Vanya lembut, mencoba menarik perhatian Arlan. "Kau ingat ini? Kau berkelahi dengan tiga orang pria hanya untuk mendapatkan kalung ini untukku. Kau bilang, meskipun ini bukan emas, ini adalah bukti keberanianmu."
Arlan berhenti memainkan bunga. Ia menatap kalung itu dengan dahi berkerut. Matanya yang polos mulai bergerak-gerak gelisah. Ia mengambil kalung itu, memutar-mutarnya di tangan.
"Pasar... ada lampu warna-warni," bisik Arlan. Suaranya tidak lagi melengking seperti anak kecil, melainkan sedikit berat. "Ada bau manisan... dan ada pria jahat dengan kumis besar."
Vanya menahan napas. "Iya, Arlan! Teruskan! Siapa pria itu?"
"Dia... dia memukulku! Kayu! Sakit, Vanya! Kepalaku sakit!" Arlan tiba-tiba melempar kalung itu dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Ia mulai berteriak histeris, tubuhnya berguncang hebat. Kilasan memori pengeroyokan oleh anak buah Hendra menghantam otaknya seperti badai.
"Arlan! Tenanglah! Aku di sini!" Vanya mencoba memeluknya, namun Arlan yang sedang dalam kondisi trauma fisik luar biasa justru mendorong Vanya hingga terjatuh ke semak-semak.
Rayhan, yang melihat kejadian itu dari jendela, langsung berlari keluar. Ia sampai di taman tepat saat Arlan mulai menghancurkan pot-pot bunga di sekitarnya karena frustrasi dengan rasa sakit di kepalanya.
"Arlan! Berhenti!" teriak Rayhan dengan suara komando militernya.
Arlan menoleh, napasnya memburu, matanya merah. Melihat Rayhan yang berseragam, insting pelindungnya muncul kembali, namun bercampur dengan rasa sakit. Arlan berlari ke arah Rayhan dan mencengkeram kerah seragamnya.
"Tuan Tentara! Kenapa di kepalaku ada api? Kenapa monster itu terus muncul di mataku saat aku menutup mata?" tangis Arlan pecah. Ia menyandarkan dahinya di dada Rayhan.
Rayhan tertegun. Ia membiarkan Arlan mencengkeram seragamnya. Ia merasakan air mata adiknya membasahi kain bajunya. Di detik itu, Rayhan tidak lagi memikirkan pangkat atau martabat. Ia memeluk Arlan dengan sangat erat, menyalurkan kekuatan yang ia miliki.
"Api itu akan padam, Arlan. Aku di sini. Kakak di sini," bisik Rayhan, hampir tak terdengar.
Vanya yang baru saja bangkit dari semak-semak, membeku mendengar kata "Kakak" yang keluar dari mulut Rayhan. Ia menatap Rayhan dengan penuh tanya. Apakah Rayhan baru saja mengakui hubungan mereka?
Sementara itu, dari balkon lantai atas, Suman menyaksikan pemandangan itu dengan kebencian yang mencapai puncaknya. Ia melihat putranya, Mayor kebanggaan keluarga, memeluk "noda" masa lalu itu dengan penuh kasih sayang. Bagi Suman, Arlan adalah ancaman yang harus segera dimusnahkan sebelum kebenaran tentang garis keturunan mereka mencemari nama baik keluarga Vashishth.
Suman segera masuk ke kamarnya dan memanggil pelayan kepercayaannya. "Ambil obat penenang dosis tinggi dari laci ruang medis. Campurkan ke dalam susu yang akan diminum anak gila itu malam ini. Jika dia tidak bisa pergi secara sukarela, biarkan dia tertidur selamanya atau setidaknya biarkan dia kehilangan akal sehatnya secara permanen."
"Tapi Nyonya, jika Mayor Rayhan tahu—"
"Dia tidak akan tahu! Cepat lakukan!" perintah Suman dengan mata berkilat jahat.
Malam harinya, suasana rumah terasa sangat berat. Rayhan sedang berada di ruang doa, menatap foto ayahnya. Ibu Sujati masuk perlahan, membawa sebuah lampu minyak.
"Kau memiliki hati yang sama dengan ayahmu, Rayhan," ucap Sujati lembut. "Dia juga pria yang tidak bisa melihat ketidakadilan. Tapi dia tidak cukup kuat untuk melawan sistem dan istrinya sendiri."
Rayhan berbalik. "Apakah itu sebabnya dia meninggalkan Anda, Nyonya Sujati? Karena dia takut pada Ibu?"
Sujati tersenyum pahit. "Dia tidak pernah meninggalkan kami dengan sengaja di hatinya, Rayhan. Tapi Suman memiliki cara untuk menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya. Aku hanya takut... sekarang dia akan melakukan hal yang sama pada Arlan."
Rayhan terdiam. Ia tahu ibunya sanggup melakukan apa saja. Ia segera teringat pada Arlan yang sedang berada di paviliun bersama Vanya.
Di paviliun, Vanya sedang menyuapi Arlan makan malam. Arlan sudah kembali tenang, meski tatapannya masih sedikit kosong. Seorang pelayan masuk membawa segelas susu hangat.
"Ini susu untuk Arlan, Nona Vanya. Nyonya Suman yang memintaku mengantarkannya," ucap pelayan itu dengan tangan gemetar.
Vanya merasa aneh. Sejak kapan Suman peduli pada Arlan? "Letakkan saja di sana. Nanti aku yang berikan."
Setelah pelayan itu pergi, Vanya mengambil gelas susu itu. Saat ia hendak memberikannya pada Arlan, seekor kucing liar yang biasa masuk ke paviliun melompat ke meja, menyenggol gelas itu hingga jatuh dan isinya tumpah ke lantai marmer.
Kucing itu mulai menjilati tumpahan susu tersebut. Hanya dalam hitungan menit, kucing itu mulai mengejang dan tidak sadarkan diri. Vanya menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ketakutan.
"Susu ini... ada racunnya?" bisik Vanya dengan tubuh gemetar hebat.
Arlan menatap kucing itu dengan polos. "Kakak Cantik, kenapa kucingnya tidur setelah minum susu? Apakah susunya mengandung bubuk mimpi?"
Vanya tidak menjawab. Amarahnya memuncak. Ia tahu siapa yang melakukan ini. Tanpa pikir panjang, Vanya berlari menuju gedung utama, menuju kamar Suman.
Rayhan yang sedang berjalan di koridor melihat Vanya berlari dengan wajah penuh amarah. Ia mengejarnya. Vanya menendang pintu kamar Suman hingga terbuka.
"APA YANG KAU LAKUKAN, NYONYA SUMAN?!" teriak Vanya di depan wajah Suman yang sedang duduk tenang di kursi goyangnya.
Rayhan masuk ke kamar. "Vanya! Ada apa ini? Jaga sopan santunmu!"
"Sopan santun?!" Vanya tertawa histeris. "Ibumu baru saja mencoba membunuh Arlan, Rayhan! Susu yang dikirimnya ke paviliun mengandung racun! Kucing di paviliun mati setelah menjilatnya! Lihat sendiri jika kau tidak percaya!"
Rayhan mematung. Ia menoleh ke arah ibunya. Suman tetap tenang, namun jemarinya mencengkeram sandaran kursi. "Dia bohong, Rayhan. Aku hanya ingin membantu anak itu tidur karena dia terus berteriak seharian."
Rayhan tidak bicara. Ia berjalan mendekati ibunya, menatap langsung ke matanya. "Ibu... jika apa yang dikatakan Vanya benar, maka malam ini aku bukan lagi putramu. Aku adalah seorang Mayor yang akan memborgol ibunya sendiri atas percobaan pembunuhan."
Rayhan memanggil bawahannya untuk mengambil sampel tumpahan susu di paviliun. Suasana menjadi sangat dingin. Arlan muncul di pintu kamar, memegang mainan mobil-mobilannya. Ia menatap Suman, lalu menatap Rayhan.
"Kakak Tentara... kenapa semua orang marah?" tanya Arlan lirih.
Rayhan mendekati Arlan, ia berlutut dan memegang tangan adiknya. "Tidak ada yang marah, Arlan. Kita hanya sedang mencari kebenaran. Ayo, ikut Kakak. Kau tidak akan makan atau minum apa pun di rumah ini kecuali dari tanganku sendiri."