Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Kaisar langsung berdiri dari kursinya, terlalu cepat dan seolah udara di ruang makan itu tiba-tiba menyesakkan.
“Aku … ke kamar. Aku mau mandi dulu,” ucapnya singkat, nyaris tergagap.
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan menaiki tangga dengan langkah tergesa. Ini malam kedua mereka tinggal di bawah satu atap. Dan entah kenapa, justru malam ini terasa jauh lebih berat dari malam pertama.
Shelina menatap punggung itu sampai menghilang di ujung tangga. Dadanya menghangat dan bukan oleh lega, tapi oleh keraguan.
"Apa aku terlalu cepat? Apa ucapanku barusan bikin dia risih … atau malah ilfeel?"
Shelina menggigit bibirnya pelan. Sejak pernikahan itu terjadi, ia mempertanyakan keputusannya sendiri. Ia hanya ingin jujur. Ingin adil tetapi mungkin caranya salah.
Sementara itu, di dalam kamar, Kaisar menutup pintu pelan tapi tegas, lalu bersandar di sana. Telapak tangannya menekan dada, mencoba menenangkan napas yang tiba-tiba tak beraturan.
Kata-kata Shelina kembali terngiang, jelas dan lembut dan terlalu lembut untuk diabaikan.
“Gila…” gumamnya pelan.
Wajahnya memanas, bukan karena marah tetapi melainkan karena malu. Malu pada situasi, malu pada pikirannya sendiri. Dan lebih dari itu, malu karena ia sadar satu hal yang tak pernah ingin ia akui.
Selama ini orang-orang di kampus melabelinya macam-macam, nakal, playboy, berisik. Padahal kenyataannya, Kaisar bahkan belum pernah benar-benar pacaran. Semua cuma topeng, semua cuma omongan.
Dan sekarang justru di hadapan wanita yang paling tidak ia duga, dosen killer yang kini jadi istrinya ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Kaisar menutup mata, menghela napas panjang. Ia mundur bukan karena menolak Shelina. Ia mundur karena ia sendiri belum tahu harus bersikap bagaimana.
Shelina menutup keran, memastikan dapur benar-benar rapi. Piring sudah tersusun, meja makan bersih, lampu dimatikan satu per satu. Rumah itu kembali sunyi, yang terlalu cepat untuk malam yang seharusnya penuh percakapan. Ia menarik napas, lalu melangkah ke lantai atas.
Pintu kamar dibuka perlahan, Shelina berhenti di ambang pintu.
Kaisar sudah terbaring di ranjang. Punggungnya menghadap ke arahnya, tubuhnya kaku, napasnya terdengar teratur. Seolah ia ingin terlihat sedang tidur pulas.
Shelina paham, dia tidak langsung menegur.
Lampu utama dimatikan. Hanya lampu tidur yang dibiarkan menyala, memantulkan cahaya temaram di dinding kamar. Shelina melepas sandalnya, naik ke ranjang dengan hati-hati, lalu berbaring menatap langit-langit.
Beberapa detik berlalu. Ia melirik ke arah punggung Kaisar yang diam tak bergerak.
“Kai…” panggilnya pelan tetapi tak ada jawaban. Shelina menunggu, mengulang panggilan itu sekali lagi, lebih lirih.
“Kaisar…” Tidak ada gerakan, tidak ada sahutan.
Shelina tersenyum tipis dan bukan senyum bahagia, melainkan senyum yang menyimpan pengertian pahit.
'Pura-pura tidur,' batinnya.
Shelina memejamkan mata, membiarkan jarak di antara mereka tetap ada, jarak yang bukan tercipta karena ranjang yang terlalu luas, melainkan karena dua hati yang sama-sama belum siap saling membuka diri.
Tengah malam datang tanpa suara. Udara di kamar terasa lebih dingin dari biasanya ketika Shelina mengigau.
“Tidak … jangan…” Suaranya kecil, terputus-putus, seperti tertahan di tenggorokan.
Kaisar terbangun seketika, dia berbalik, menatap wajah istrinya yang pucat di bawah cahaya lampu tidur. Alis Shelina berkerut, napasnya memburu, kelopak matanya bergetar hebat meski tetap terpejam.
“Shelin?” panggil Kaisar pelan.
Tak ada jawaban, dia ragu sesaat, lalu mengulurkan tangan, menyentuh lengan Shelina dengan hati-hati. Namun, sentuhan itu justru membuat tubuh Shelina bergetar lebih keras. Air mata merembes dari sudut matanya, mengalir diam-diam.
“Jangan … jangan pergi…” lirihnya, nyaris tak terdengar. Tangan Shelina tiba-tiba mencengkeram tangan Kaisar erat, seolah takut kehilangan satu-satunya pegangan.
“Jangan tinggalin aku…”
Dada Kaisar mengencang. Tanpa berpikir panjang, ia mendekat, menarik Shelina ke dalam pelukannya. Lengan itu bergerak refleks, melindungi, menahan, menenangkan.
“Aku di sini,” bisiknya.
“Aku nggak ke mana-mana.”
Tangannya mengusap kepala Shelina perlahan, ritmis, seperti menenangkan anak kecil yang ketakutan. Kaisar menunduk, menempelkan dagunya di puncak kepala Shelina.
“Nggak ada yang ninggalin kamu., aku janji.”
Isak itu perlahan mereda. Napas Shelina kembali teratur, genggaman tangannya mengendur meski tetap bertaut. Beberapa menit kemudian, tubuhnya benar-benar rileks dan tertidur kembali.
Kaisar tidak melepaskan pelukannya.
Ia menatap wajah Shelina yang kini tenang, bulu mata basah oleh sisa air mata. Kaisar melihat istrinya bukan sebagai dosen killer, bukan wanita dingin yang menakutkan di kampus, melainkan seseorang yang rapuh, yang terlalu sering ditinggalkan.
“Maaf…” gumam Kaisar nyaris tak bersuara.
“Kalau selama ini aku nyebelin.”
Malam itu, tanpa mereka sadari, sebuah batas runtuh pelan-pelan. Akhirnya, Kaisar tidur dengan memeluk Shelina.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.