NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 - Penjaga Malam

Aura duduk terdiam di kursi belajarnya. Kamar itu adalah saksi bisu perjuangannya selama bertahun-tahun. Matanya menyapu deretan buku persiapan IELTS yang sudah kusam karena sering dibuka, tumpukan formulir, hingga papan visi di dinding yang penuh dengan potongan gambar Big Ben dan suasana kota London.

Semua usaha itu, malam-malam tanpa tidur, dan doa-doa di sujud terakhirnya... mana mungkin ia tinggalkan begitu saja hanya karena permintaan Arfan?

Ketukan lembut di pintu membuyarkan lamunannya. Bunda Syakirah masuk membawa segelas susu hangat, lalu duduk di tepi ranjang, menatap putri bungsunya dengan penuh kelembutan.

"Ra... kenapa kok mukanya ditekuk gitu? Tadi Bunda dengar kamu agak ribut sama Bima di bawah," tanya Bunda pelan.

Aura menghela napas panjang, lalu beranjak duduk di samping Bundanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Bunda yang selalu terasa tenang.

"Bun... tadi pas pulang, Kak Arfan ajak Aura mampir ke taman. Dia... dia bilang kalau dia khawatir kalau Aura kuliah ke London. Kak Arfan minta Aura pikir-pikir lagi, bahkan nyaranin Aura kuliah di Jakarta aja biar dia bisa pantau terus," curhat Aura dengan suara lirih. "Aura heran, Bun. Selama ini Kak Arfan dukung, tapi kenapa sekarang seolah mau nahan Aura?"

Bunda Syakirah terdiam sejenak, tangannya mengusap lembut kepala Aura. Beliau tidak langsung menyalahkan Arfan, tidak juga memojokkan Bima.

"Kak Arfan mungkin begitu karena dia sangat peduli sama kamu, Ra. Baginya, kamu itu sudah seperti adik yang harus selalu dijaga keselamatannya. Begitu juga Bima, dia kakakmu, cara dia menunjukkan rasa sayang memang agak kasar, tapi tujuannya sama... dia ingin kamu aman," ujar Bunda bijak.

Aura mendongak, menatap mata Bundanya. "Terus Bunda gimana? Apa Bunda juga mau Aura di sini aja?"

Bunda tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memberikan ruang napas bagi Aura. "Ra, Bunda nggak mau membela siapa-siapa dalam hal ini. Bunda tahu betapa kerasnya kamu berjuang buat bisa kuliah ke luar negeri. Tapi Bunda juga mengerti kekhawatiran Kak Arfan dan Kak Bima."

Bunda memegang kedua tangan Aura. "Keputusan ini ada di tangan kamu, Nak. Ini hidupmu, masa depanmu. Pilih mana yang menurut hati kecilmu paling baik. Kamu sudah cukup dewasa untuk tahu mana yang sekadar rasa khawatir orang lain, dan mana yang benar-benar panggilan impianmu. Bunda akan selalu dukung, apa pun pilihanmu, selama itu bikin kamu bahagia dan tetap di jalan Allah."

Jawaban Bunda membuat perasaan Aura sedikit lebih ringan, tapi sekaligus memberinya beban tanggung jawab yang besar. Ia tahu, ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Arfan selain rasa hormat. Namun, tekanan halus yang diberikan Arfan tadi mulai terasa seperti kabut yang menutupi jalannya menuju London.

Aura kembali menatap papan visinya. Di sana, impiannya masih bersinar terang, namun bayangan Arfan yang berdiri di depannya seolah-olah menjadi penghalang yang perlahan-lahan membesar.

"Bunda pergi dulu ke kamar. Kamu jangan lupa istirahat ya, Nak. Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri."

Aura menganggukan kepalanya. Bunda Syakirah bangkit dan berjalan keluar kamar lalu menutup rapat pintu kamar Aura.

Aura menarik napas panjang, mencoba membuang segala keraguan yang sempat mampir di hatinya. Ia kembali ke meja belajar, menyalakan lampu kerja yang sinarnya langsung menyoroti tumpukan diktat dan latihan soal.

“London nggak akan menunggu aku kalau aku cuma melamun disini,” batinnya tegas.

Ia memutuskan untuk melupakan sejenak kata-kata Arfan di taman tadi, juga mengabaikan rasa kesalnya pada Bima. Fokusnya hanya satu yaitu beasiswa ke London. Suasana rumah perlahan mulai sepi. Suara televisi di bawah sudah dimatikan, pertanda Bunda sudah beristirahat. Hanya terdengar sesekali suara gesekan pena di atas kertas dan detak jam dinding di kamar Aura.

Satu jam, dua jam berlalu...

Pukul sebelas malam, Aura masih berkutat dengan esai motivasinya. Ia mengoreksi setiap kalimat, memastikan mimpinya tertuang dengan sempurna di sana. Sesekali ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal. Di saat seperti ini, biasanya Arfan akan mengirim pesan mengingatkannya untuk tidur, tapi malam ini ponselnya ia letakkan dalam mode diam dan ditaruh jauh dari jangkauan tangan. Aura tidak ingin konsentrasinya terganggu oleh siapa pun.

Tiba-tiba, sayup-sayup Aura mendengar suara motor dari arah depan pagar rumahnya. Suaranya sangat halus, mesin yang terawat, berhenti tepat di depan.

Aura terhenti menyalin kalimat. Ia melirik ke arah jendela yang tertutup gorden. Di tengah keheningan malam yang pekat, suara mesin itu terasa begitu nyata. Aura tahu betul itu bukan motor Bima,.motor Bima suaranya lebih kasar dan berisik.

Ia bangkit berdiri, berjalan pelan menuju jendela, lalu menyibakkan sedikit gordennya.

Di bawah sana, dalam temaram lampu jalan, sosok itu ada lagi. Arfan. Ia duduk di atas motornya, helmnya diletakkan di tangki motor, dan kepalanya menengadah menatap ke arah jendela kamar Aura. Ia tidak menelepon, tidak mengirim pesan, hanya diam di sana dengan raut wajah yang tenang, namun sorot matanya terlihat begitu dalam memandangi satu-satunya jendela yang lampunya masih menyala.

Aura merasa merinding. Ia teringat ucapan Bima soal Arfan yang sering datang tengah malam.

"Kak Arfan beneran di sana? Tapi buat apa?" pikir Aura bingung.

Tidak ada kebencian di hati Aura, tapi ada rasa tidak nyaman yang mulai merayap. Ia segera menutup gordennya kembali dengan rapat, mematikan lampu kamarnya agar terlihat seolah-olah ia sudah tidur, lalu merangkak ke tempat tidur dengan jantung yang berdegup kencang.

Di kegelapan kamar, Aura menyadari satu hal, perhatian Arfan yang dulu ia anggap sebagai bentuk kasih sayang kakak, kini mulai terasa seperti pengawasan yang tidak pernah ia minta.

Aura mengerjap saat suara alarm ponselnya memecah kesunyian kamar. Matanya terasa pedas. Ingatannya langsung melayang pada kejadian jam 11 malam tadi saat dia melihat Arfan di bawah, lalu ketakutan dan langsung mematikan lampu untuk merangkak ke tempat tidur.

Aura tidak tahu kalau di luar sana, Arfan ternyata baru benar-benar pergi jam 2 pagi.

Dengan gerakan lambat, Aura duduk di tepi tempat tidur. Ia menoleh ke arah jendela yang gordennya masih tertutup rapat. Ada rasa was-was saat ia berjalan mendekat dan membukanya sedikit. Jalanan sudah kosong, hanya ada kabut tipis sisa hujan semalam.

"Semalam itu beneran Kak Arfan atau aku cuma mimpi ya?" bisiknya pada diri sendiri.

Meskipun ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu mungkin hanya perasaannya, rasa tidak nyaman itu tetap membekas. Aura segera beranjak untuk mengambil air wudhu. Ia ingin menenangkan hatinya melalui sholat malam.

Saat jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, Aura turun ke bawah. Namun, di meja makan sudah ada Bima yang duduk dengan mata merah, seperti orang yang tidak tidur semalaman.

Bunda Syakirah sedang menyiapkan teh hangat. "Pagi, Aura. Kok matanya sembab gitu? Kurang tidur ya ngerjain tugas?"

"Iya, Bun. Banyak banget yang harus disiapin buat beasiswa," jawab Aura pelan, sambil melirik Bima yang diam saja.

"Tadi malam lo tidur jam berapa, Ra?" tanya Bima tiba-tiba, suaranya serak.

Aura tertegun. "Jam... jam 11-an lewat dikit, Kak. Kenapa?"

Bima mendengus sinis, matanya menatap tajam ke arah pintu depan. "Baguslah kalau lo tidur. Karena ada penjaga malam gratisan yang nungguin lo di depan pagar sampe jam 2 pagi. Lo tahu kan siapa?"

Gelas yang sedang dipegang Aura hampir saja terlepas. Jadi itu bukan mimpi? Arfan beneran ada di sana sampai jam 2 pagi?

Bunda terdiam, menatap Bima dengan bingung. "Maksud kamu apa, Bima? Siapa yang di depan rumah?"

"Siapa lagi kalau bukan Arfan, Bun?" jawab Bima sambil berdiri dari kursinya. "Bima liat sendiri. Dia nggak pergi-pergi dari sana. Bunda masih mau bilang dia anak baik yang cuma lewat?"

Aura terdiam seribu bahasa. Rasa hormatnya pada Arfan kini mulai bercampur dengan rasa takut yang nyata.

Bersambung.......

Assalamualaikum semuanya, terimakasih ya masih melanjutkan baca cerita ini. Jangan lupa like dan komen yaa, semoga sehat selalu kalian🫶🏻.

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!