Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Menyelamatkan warga di kawasan Klan Naga.
Malam menggantung rendah di kawasan perbatasan klan naga. Kabut tipis merayap di antara menara batu hitam, sementara obor-obor di gerbang utama berayun pelan tertiup angin. Dua penjaga berseragam ninja hitam berdiri berjajar di depan gerbang besi raksasa, tombak mereka berkilat redup.
Salah satu penjaga menguap.
“Sepi banget malam ini…”
Tiba-tiba—
sssh…
Sesuatu melintas di belakangnya. Bayangan kecil dengan sepasang telinga kucing melompat turun dari tembok, menutup mulut penjaga pertama dan menariknya ke balik kegelapan. Tidak ada teriakan. Hanya suara kain bergesek.
Penjaga kedua menoleh.
“Eh? Ke mana dia?”
Ia menggaruk kepala.
“Hei… kalau mau kencing bilang dulu ke aku—”
Tap.
Sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang.
“Hah—?!”
Bayangan putih menutup pandangannya. Dalam satu tarikan cepat, tubuhnya diseret ke balik gerbang, hilang seperti ditelan malam.
Gerbang kini tanpa penjaga.
Beberapa detik kemudian, sosok itu melompat ke pagar batu dan mendarat di sisi lain. Cahaya obor menyibak wajahnya: gadis kunoichi berambut putih, mata biru muda setajam es, dan sepasang telinga kucing berdiri di atas kepalanya. Syal tipis di lehernya berkibar.
“Dua penjaga sudah diurus,” ucapnya datar.
Dari balik semak, Chika muncul sambil mengacungkan jempol.
“Bagus, Hanabi.”
Princes mengintip di samping Xiaouman.
“Xiaouman… kita masuk sekarang?”
Xiaouman menoleh ke belakang sejenak. Di kejauhan, siluet murid-murid Dojo klan panda terlihat membantu warga, membangun barikade dan mengevakuasi yang terluka. Cahaya obor mereka berkelip seperti kunang-kunang.
Ia menarik napas.
“Baik. Kita bergerak.”
Hanabi berdiri di depan mereka.
“Di dalam wilayah klan naga… masih ada warga biasa, Lady Xiaouman.”
Xiaouman mengangguk, matanya sedikit melembut.
“Huaaah… berarti kita harus lebih hati-hati.”
Mereka bertiga berjalan menuju jembatan batu yang mengarah ke gerbang. Langkah mereka pelan, hampir tak bersuara. Rantai gerbang berderit lirih saat dibuka sedikit demi sedikit.
Greeeek…
Di dalam, wilayah klan naga terasa dingin dan suram. Bangunan-bangunan tinggi dari batu hitam menjulang seperti taring, sementara simbol naga terukir di setiap dinding.
Xiaouman menatap sekeliling.
“Tempat ini… pernah dijajah ayahku. Dan di sinilah… dia mengalahkan Orochi bersama para pahlawan masa lalu.”
Princes tersenyum kecil, mencoba mengusir tegang.
“Hehe… sekarang giliran kamu yang nerusin.”
Chika mengangguk.
“Iya. Versi upgrade-nya.”
Hanabi melirik mereka.
“Kalau begitu… kita masuk lebih dalam.”
Xiaouman menahan langkah Hanabi sejenak.
“Hanabi… sebelum itu… maafkan aku. Aku tidak bisa melindungi ayahku. Gurumu.”
Hanabi terdiam sesaat. Ekornya—yang biasanya bergerak santai—kaku sebentar.
“…Tidak apa-apa.”
Ia menatap lurus ke depan.
“Sekarang fokus pada tujuanmu.”
Ia melangkah maju, lalu berhenti setengah langkah.
“Aku akan berkeliling mencari informasi penting.”
Kabut putih seperti bulu halus menyelimuti tubuhnya.
Fwoosh…
Hanabi menghilang.
Chika menatap bekas kabut itu.
“Dia… dingin banget ya.”
Xiaouman menjawab pelan.
“Dia murid terkuat ayahku pada masanya.”
Chika mengangguk pelan.
“Pantas… dua penjaga gerbang tadi seperti… lenyap.”
Princes meraih tangan Chika.
“Kalau begitu… ayo kita mulai. Sesuai info, ada kristal aneh, kan?”
Xiaouman mengangguk.
“Empat kristal. Di dalamnya… jiwa warga ditahan untuk membangkitkan Orochi.”
Ia menghela napas.
“Tugas kita sederhana. Cari dan hancurkan semuanya.”
Chika menyeringai tipis.
“Sederhana… tapi pasti nggak mudah.”
Xiaouman menatap mereka berdua.
“Kita berpisah sementara. Supaya lebih cepat.”
Princes sedikit mengencangkan genggaman tangannya pada Chika.
“Janji ketemu lagi.”
Chika mengangguk.
“Hati-hati, Xiaouman.”
Xiaouman melangkah menjauh, lalu berhenti sebentar. Ia menoleh ke langit malam yang tertutup awan.
“ Ayah… lihat aku dari atas sana…”
Angin malam berdesir, membawa suara langkah mereka yang mulai menyebar ke dalam wilayah musuh—
satu ke kiri, satu ke kanan, satu ke depan—
meninggalkan jembatan dalam keheningan yang tegang dan penuh firasat buruk.
...----------------...
Di sisi kiri wilayah klan naga, Chika dan Princes melangkah menyusuri perumahan kota yang sunyi. Rumah-rumah kayu berjejer rapat, jendelanya tertutup rapat seperti kelopak mata yang dipaksa terpejam. Setiap kali langkah mereka berbunyi di atas batu jalanan, terdengar tok… tok… yang menggema aneh di antara bangunan kosong.
Begitu bayangan zirah Chika terlihat, satu per satu jendela ditutup lebih rapat. Tirai digeser tergesa, pintu dikunci dari dalam.
Klik. Klik.
Princes memeluk tongkat baseball-nya yang ukurannya hampir setinggi tubuhnya.
“Chika…” bisiknya sambil menoleh ke kiri-kanan. “Kenapa mereka ketakutan?”
Chika menggaruk pipinya di balik helm.
“Mungkin… karena kita pahlawan?”
Princes langsung tersenyum lebar.
“Hehehe… berarti mereka segan ya.”
“Atau takut karena kita nyelonong ke wilayah musuh,” jawab Chika santai.
Mereka berjalan lurus lagi. Udara terasa dingin, bau asap tipis tercium, seolah ada sesuatu yang terbakar di kejauhan.
Tiba-tiba…
“Uwaaah!”
Seorang anak kecil berlari dari ujung gang, terhuyung-huyung. Bajunya sobek di bagian lengan, wajahnya pucat, napasnya tersengal.
Ia berhenti tepat di depan Chika, menatap zirahnya dengan mata berbinar antara takut dan berharap.
“K-kamu… pakaian zirah… kamu kesatria, kan?!”
Chika berlutut agar sejajar dengannya.
“Iyap! Ada apa, adik kecil?”
Anak itu langsung berlutut di aspal.
“Tolong… tolong aku! Rumahku diserang ninja klan naga! Mereka mau menculik ibu dan ayahku!”
Princes terkejut sampai hampir menjatuhkan tongkatnya.
“Hah?! Diculik?!”
Chika langsung berdiri.
“Gawat. Tenang saja, adik kecil.”
Ia mengangkat pedangnya sedikit.
“Knight dari Gurial Tempest akan membantumu.”
Anak itu bangkit dengan mata berbinar.
“Terima kasih! Kalau begitu… lewat sini!”
Mereka bertiga berlari menyusuri gang sempit. Nafas Princes terdengar ngos-ngosan, tapi ia tetap berusaha mengejar langkah Chika.
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah halaman rumah. Lima ninja klan naga berpakaian hitam menarik sepasang suami-istri keluar dari rumah.
“Aku mohon!” teriak sang ibu sambil meronta. “Lepaskan aku!”
Sang ayah memeluk tubuhnya agar tidak diseret.
“Anakku masih kecil! Jangan tangkap kami!”
Salah satu ninja menendang tanah di depan mereka.
“Diam! Kalian akan jadi tumbal untuk membangkitkan kekuatan Tuan Orochi!”
“TIDAK AKAN KUBIARKAN!!”
Suara itu melengking keras dari belakang.
Para ninja menoleh. Mereka melihat Princes berdiri dengan kaki terbuka, tongkat baseball diangkat dengan kedua tangan. Di sampingnya, anak kecil itu bersembunyi sambil gemetar. Chika tidak terlihat.
“Aku Princes dari Gurial Tempest!” teriak Princes dengan suara cempreng tapi penuh tekad. “Aku tidak akan membiarkan kalian menculik mereka!”
Salah satu ninja menyeringai.
“Anak kecil?”
Ia menunjuk ke arah mereka.
“Hei kalian! Tangkap dua bocah itu!”
Dua ninja langsung melesat, langkah mereka ringan seperti bayangan.
Swish! Swish!
Anak kecil itu panik.
“Princes… mereka ngejar kita!”
Princes menarik tangannya.
“Tenang… kita alihkan perhatian mereka!”
Di sisi lain halaman, ninja pemimpin merasa ada yang aneh. Udara di belakangnya terasa dingin.
Thump.
Dua tubuh ninja jatuh ke tanah.
Ia menoleh—dua ninja yang tadi menahan orang tua itu kini tergeletak… tanpa kepala. Darah belum sempat menyembur, seolah tebasannya terlalu cepat.
“Hah?!”
Ia menoleh kiri-kanan.
“Lah?! Kok?! Ke mana dua orang payah itu?!”
Suara muncul dari atas atap.
“Di sini, pencuri.”
Ninja itu mendongak. Di atas atap rumah, Chika berdiri dengan kedua orang tua anak itu di belakangnya. Jubahnya berkibar pelan.
Chika melambaikan tangan kecil.
“Hehe… aku lebih cepat dari kalian, loh.”
Ninja itu mundur selangkah.
“Kesatria?! Bagaimana bisa kau masuk?! Siapa yang menjaga gerbang?!”
Chika menyandarkan pedangnya ke bahu.
“Hehe… mereka sudah nggak bisa lihat matahari lagi.”
Ia mencondongkan badan.
“Sekarang gimana? Kamu mau aku hancurkan juga, atau mau lari sambil nangis?”
Ninja itu bersiul keras.
“Fiuuuit!”
Sepuluh ninja muncul dari balik atap dan gang sempit, mengepung Chika dan kedua orang tua itu.
“Tangkap mereka!”
Sementara itu—
Di sisi Princes.
Dua ninja yang mengejar mereka menyerang bersamaan. Salah satu mengayunkan pisau ke arah Princes.
“WAAH!”
Princes refleks mengangkat tongkat baseball sambil membantu anak kecil berdiri.
Duk!
Tanpa sengaja, tongkatnya menghantam kepala ninja itu.
“Ngg—?!”
Ninja itu terhuyung lalu roboh seperti karung beras.
Ninja kedua melompat dari belakang.
“Hei, bocah—”
Namun yang terjadi malah absurd.
Princes tiba-tiba meloncat ke punggung ninja itu.
“WOOOAAH!”
Ia duduk di bahunya seperti naik kuda, lalu…
Tok! Tok! Tok!
Mengetok kepala ninja itu dengan tongkat baseball.
“Jangan culik orang tua!”
Tok!
“Jangan jahat!”
Tok!
“Dan jangan tinggi-tinggi!”
Tok!
Ninja itu oleng, berputar-putar.
“Berhenti! Berhenti! Kepala—”
Bugh!
Ia jatuh telentang, pingsan dengan mata berputar.
Princes turun dengan napas terengah.
“Huff… huff… Chika, aku menang!”
Di sisi lain halaman, Chika menatap sepuluh ninja di sekelilingnya dan tersenyum miring.
“Oke… giliran aku yang serius.”
Angin malam berembus lebih kencang, membawa bau besi dan debu.
Di tengah perumahan sunyi itu, pertempuran kecil antara kesatria, anak kecil, dan ninja klan naga baru saja dimulai.
Chika menghela napas pelan, lalu menggeser kakinya ke depan satu langkah. Perisai emas di tangan kirinya terangkat, sementara Pedang Lumina di tangan kanan berkilat—bilah bajanya memancarkan cahaya biru keputihan, seperti kilat yang ditahan di dalam logam.
Sebelas ninja mengepungnya membentuk setengah lingkaran. Atap rumah, gang sempit, dan bayangan lentera menjadi saksi bisu.
“Hei…” Chika mengangkat pedangnya sedikit. “Kalian ini mau antre, atau mau datang barengan?”
Salah satu ninja mendengus.
“Kesatria sok jago.”
Mereka menyerang serempak.
SWISH—!
Empat ninja melompat dari depan, dua dari kanan, tiga dari kiri, dan dua dari belakang. Pisau dan shuriken melesat seperti hujan.
Chika menunduk, berputar di tempat.
CLANG! CLANG!
Perisai emasnya menepis shuriken yang menghantam dengan suara logam keras. Percikan api kecil berhamburan.
“Waduh, kalian rame banget,” gumamnya.
Ia melangkah ke depan, tubuhnya condong rendah. Pedang Lumina ditarik ke samping, bilahnya bergetar, suara listrik mendesis.
“Teknik Pertama—”
Ia mengayun pedang secara horizontal.
“Lumina Slash!”
BRZZAAK—!
Gelombang petir berbentuk sabit menyapu tanah. Dua ninja di depan tak sempat menghindar.
“Gah—!”
Tubuh mereka terlempar ke belakang, menabrak tembok rumah dengan suara DUAK! lalu jatuh lunglai.
Tiga ninja dari kiri menyerang bersamaan, melompat tinggi.
Chika menunduk, lalu meloncat mundur sambil memutar tubuh.
“Eh, jangan dari atas dong. Aku pusing kalau lihat ke langit.”
Ia menjejak tanah dengan kuat.
DOK!
“Step of Thunder!”
Tubuhnya melesat seperti kilat pendek. Dalam sekejap ia sudah berada di belakang mereka. Pedangnya berputar satu lingkaran penuh.
SHRRK—!
Tiga ninja itu roboh bersamaan, jatuh seperti boneka yang talinya diputus.
Dari kanan, dua ninja melemparkan rantai besi yang melilit ke arah kakinya.
Chika tersentak.
“Eh—wah!”
Ia melompat, tubuhnya berputar di udara, rantai hanya menyapu ujung sepatunya.
Chika mendarat dengan satu lutut.
“Nyaris. Kalau kena, aku jatuhnya nggak keren.”
Ia menancapkan perisai ke tanah, lalu menekuk lutut.
“Aegis Thunder!”
Petir menyebar dari perisai ke tanah. Arus listrik menjalar seperti ular bercahaya. Dua ninja yang memegang rantai menjerit.
“UAGH—!”
Tubuh mereka kejang, lalu roboh pingsan dengan asap tipis keluar dari baju mereka.
Tersisa empat ninja. Mereka saling melirik, ragu.
“Jangan mundur!” teriak salah satu. “Dia cuma satu orang!”
Mereka menyerang bersama-sama, satu meluncur rendah, dua dari samping, satu melompat tinggi sambil memutar pisau.
Chika menarik napas panjang. Wajahnya mendadak serius, tapi masih ada senyum aneh di sudut bibirnya.
“Baiklah… paket kombo.”
Ia melompat ke depan, lalu tiba-tiba berjongkok rendah. Pisau ninja meleset di atas kepalanya.
“Spark Dash!”
Ia melesat menembus celah di antara mereka. Dalam satu tarikan napas, ia memutar tubuh, pedang Lumina berkilat.
“Twin Arc!”
BRASH!
Dua tebasan silang membentuk huruf X dari cahaya petir. Dua ninja terlempar ke arah berlawanan, menghantam dinding rumah dan jatuh tak bergerak.
Ninja terakhir meloncat mundur, melempar tiga shuriken terakhir dengan putus asa.
Chika mengangkat perisainya.
CLANG! CLANG! CLANG!
Ia menghela napas.
“Capek juga ya, jadi jahat.”
Chika mencondongkan badan, lalu berlari lurus ke depan.
“Lumina Breaker!”
Ia melompat, mengangkat pedang tinggi-tinggi, lalu menghantamkan ke tanah tepat di depan ninja itu.
DOOOM—!
Petir menyambar dari bilah pedang, meledak di tanah. Ninja itu terlempar ke udara seperti daun kering, lalu jatuh dengan bunyi PLAK dan tak bergerak lagi.
Hening.
Sebelas ninja tergeletak di halaman rumah, di gang, dan di atas genteng.
Chika berdiri di tengah, mengibaskan pedangnya pelan.
“Hmm… rekor pribadi: sebelas orang. Lumayan.”
Ia menoleh ke arah Princes dan anak kecil itu.
Princes melompat kecil.
“Chika! Kamu keren!”
Chika menggaruk kepala.
“Hehe… aku sih penginnya damai, tapi mereka maksa.”
Ia berjalan ke arah kedua orang tua yang dibebaskannya.
“Pak, Bu, kalian aman sekarang.”
Sang ibu menangis sambil memeluk anaknya.
“Terima kasih… terima kasih, Kesatria.”
Chika tersenyum kikuk.
“Eh… jangan panggil aku kesatria terus, nanti aku jadi besar kepala.”
Di kejauhan, suara angin malam menggeser dedaunan. Di antara rumah-rumah sunyi itu, tubuh-tubuh ninja klan naga tergeletak tak berdaya—menjadi bukti bahwa satu knight absurd dengan pedang petir bisa meratakan pasukan kecil sendirian.
...----------------...
Anak kecil itu akhirnya kembali ke pelukan kedua orang tuanya. Sang ibu memeluknya erat sampai tubuh mereka bergetar, sementara sang ayah menunduk dalam-dalam ke arah Chika dan Princes.
Chika menunjuk ke arah gang sempit yang gelap.
“Jadi… kristal aneh itu lurus, lalu belok kanan, terus ke kiri sedikit, ya?”
Sang ayah mengangguk cepat.
“Iya, Kesatria. Di dekat bangunan tua yang atapnya patah.”
Chika mengangkat ibu jarinya.
“Siap, rute tercatat di otak knight ini.”
Lalu ia menatap keluarga itu dengan wajah lebih serius.
“Kalian bertiga segera keluar lewat gerbang perbatasan. Dua penjaganya sudah kami urus. Masuk ke wilayah klan panda, murid-murid dojo di sana bakal lindungi kalian. Sebarkan ke warga lain supaya kabur juga. Jangan tunggu pagi.”
Princes mengangguk kecil dengan ekspresi tegas, meski tangannya masih menggenggam tongkat baseball lebih besar dari tubuhnya.
“Iya! Cepat pergi! Jangan main petak umpet sama ninja lagi!”
Ketiga orang itu menunduk bersamaan.
“Baik! Terima kasih, Kesatria! Terima kasih, Princes!”
Mereka berlari menjauh, langkah kaki mereka menggema di jalan batu yang sunyi.
Chika menatap punggung mereka sebentar, lalu menghela napas.
“Baik… satu keluarga selamat. Sekarang giliran kita cari batu aneh itu.”
Princes mengangkat tongkat baseballnya seperti pedang.
“Ayo! Aku siap! Kalau ada ninja lagi, aku gebuk kakinya!”
Mereka mulai berlari menyusuri jalan sempit. Lentera-lentera merah menggantung miring, cahayanya membuat bayangan mereka memanjang di dinding.
Tiba-tiba—
SWISH! SWISH!
Shuriken melesat dari atap rumah.
“CHIKA!” teriak Princes sambil refleks menunduk.
CLANG!
Chika mengangkat perisainya, shuriken memantul dengan bunyi logam tajam.
“Wah, mereka rajin banget ya. Belum capek apa?”
Di atas atap, bayangan ninja berlarian, melompat dari genteng ke genteng seperti laba-laba hitam. Kunai beterbangan seperti hujan tipis.
Chika berlari sambil meraih punggungnya. Cahaya biru menyala, Pedang Lumina berubah bentuk menjadi busur.
“Mode jarak jauh aktif. Lumina Bow!”
Ia melompat ke depan sambil membidik ke atas.
“Pegang kuat-kuat, Princes!”
Princes berlari sambil terengah.
“Aku pegang tongkat, bukan pegangan Chika!”
Chika menarik busurnya. Anak panah listrik terbentuk dari cahaya biru muda.
“Volt Arrow!”
TZAAK!
Anak panah melesat ke atap, mengenai satu ninja. Tubuh ninja itu tersetrum, kejang sebentar, lalu jatuh terguling ke balik genteng.
Ninja lain berteriak.
“Kejar mereka! Jangan biarkan mendekati kristal!”
“Waduh, mereka tahu tujuan kita,” gumam Chika.
Dua ninja melompat turun ke jalan di depan mereka, mengayunkan pedang pendek.
Chika meluncur ke samping sambil menarik Princes dengan satu tangan.
“WOOAH—!” Princes hampir terpeleset.
“Hei, aku bukan tas belanja!”
Chika tertawa pendek.
“Maaf refleks!”
Ia menembak sambil berlari mundur.
“Spark Shot!”
BRZZZT!
Anak panah listrik menabrak tanah di kaki ninja, meledak kecil, membuat mereka terlempar ke belakang dengan bau gosong.
Dari belakang, shuriken kembali melesat. Princes tiba-tiba melompat dan memutar tongkat baseballnya seperti kipas angin.
“HIYAA!”
PLAK! PLAK!
Dua shuriken mental tak tentu arah.
Chika melirik sambil tetap berlari.
“Kamu makin jago, tahu?”
Princes tersenyum bangga.
“Hehe, latihan darurat!”
Mereka berbelok ke kanan, sesuai petunjuk. Jalan makin sempit, dinding-dinding rumah hampir saling menempel. Suara langkah ninja menggema di atas atap.
“Chain Volt!” teriak Chika.
Ia menembakkan satu panah ke atap logam. Petir menyebar ke beberapa ninja sekaligus.
ZRRRRT!
“UGHH—!”
Beberapa tubuh jatuh beruntun seperti karung beras.
Chika terengah.
“Serius… klan naga ini stok ninjanya banyak amat.”
Princes menunjuk ke depan.
“Chika! Itu! Bangunan atap patah!”
Di kejauhan, terlihat bangunan tua dengan dinding retak dan atap miring. Dari celah jendelanya, cahaya ungu samar berdenyut seperti jantung.
Chika menyipitkan mata.
“Berarti… itu kristalnya.”
Sebuah kunai nyaris mengenai pipinya.
“Wah, kurang ajar.”
Ia melompat, memutar tubuh di udara sambil menembak ke belakang.
“Volt Rain!”
Beberapa anak panah listrik melesat seperti hujan kecil. Ninja-ninja di atap berteriak kaget, sebagian jatuh tergelincir.
Chika mendarat sambil berlari lagi.
“Ayo, Princes! Sedikit lagi!”
Princes mengangguk, wajahnya tegang tapi matanya bersinar.
“Aku nggak mau pulang tanpa batu ungu itu!”
Mereka melesat menuju bangunan tua, diiringi suara petir, benturan logam, dan teriakan ninja yang makin jauh tertinggal di belakang mereka.
Bangunan tua beratap patah itu berdiri miring seperti tulang rusuk raksasa yang menusuk langit malam. Dinding kayunya dipenuhi retakan, dan dari celah-celahnya memancar cahaya ungu yang berdenyut pelan—dum… dum… dum… seperti detak jantung.
Di tengah ruangan kosong tanpa lantai utuh, sebuah kristal ungu raksasa melayang setinggi dua orang dewasa. Permukaannya berputar perlahan, seperti cairan beku, dan di dalamnya terlihat bayangan-bayangan manusia yang terkurung, wajah mereka pucat dan tak bergerak.
Chika dan Princes berhenti di ambang pintu yang sudah setengah roboh.
Princes menelan ludah.
“Chika… itu… serem.”
Chika mengangguk, rahangnya mengeras.
“Itu dia. Pusat pengumpulan jiwa. Kalau kristal ini hancur… semua yang terjebak akan kembali.”
Suara langkah kaki berat terdengar dari belakang.
THUD—THUD—THUD—
Puluhan ninja klan naga muncul dari gang-gang sempit, meloncat ke atap, ke pagar, ke tanah. Mata mereka menyala merah samar di balik topeng.
“Jangan biarkan mereka menyentuh kristal!” teriak salah satu dari mereka.
Princes refleks memegang tongkat baseball dengan dua tangan.
“Mereka banyak banget…”
Chika menghela napas panjang, lalu tersenyum miring.
“Berarti… waktunya bersikap sedikit… berlebihan.”
Ia memutar Lumina Bow di tangannya. Cahaya biru muda menyelimuti busur itu, lalu menyebar ke udara seperti kabut listrik. Rambut Chika terangkat oleh arus energi, dan matanya memantulkan kilau biru terang.
“Princes, lindungi dirimu. Jangan dekati kristal dulu.”
Princes mengangguk cepat.
“Jangan mati dulu ya, Chika!”
Chika melirik.
“Kalimat itu nggak bikin tenang, tahu.”
Ia melompat ke depan, menjejak lantai kayu yang rapuh.
“Hujan Petir Lumina — Skyfall Volt!”
Ia menarik busur ke atas, bukan ke depan.
TZIIIIIIING!
Puluhan anak panah listrik terbentuk di udara, tersusun seperti sayap raksasa berwarna biru. Dalam satu tarikan napas—
FSSSSHHHH—!!
Panah-panah itu jatuh seperti hujan meteor listrik.
BRAK! BRAK! KRAAASH!
Atap bangunan sekitar disambar cahaya biru. Ninja-ninja berteriak saat petir menghantam tanah di sekitar mereka. Sebagian terpental, sebagian tersetrum hingga tubuh mereka kejang sebelum roboh.
“AAAA—!”
“Tarik mundur—!”
Chika mendarat dengan satu lutut, napasnya sedikit berat.
“Oke… itu lumayan dramatis.”
Princes menatap dengan mata berbinar.
“CHIKA KAYA DEWA HUJAN!”
“Bukan, aku cuma kesatria yang kebanyakan energi,” jawab Chika cepat.
Beberapa ninja yang tersisa masih berdiri, ragu-ragu. Namun saat Chika kembali mengangkat busurnya, mereka mundur panik, sebagian melarikan diri ke gang-gang gelap.
Sunyi.
Hanya terdengar suara kristal yang masih berdetak.
Dum… dum…
Princes melangkah maju pelan, menatap kristal itu.
“Di dalam situ… orang-orangnya kesakitan ya?”
Chika mengangguk.
“Cepat. Sebelum ninja lain datang.”
Princes mengangkat tongkat baseballnya, wajahnya berubah serius.
“Kalau begitu… izinkan aku yang mukul.”
Ia mengambil ancang-ancang seperti pemain baseball sungguhan.
“Hyaa—!”
DUUK!
Tongkatnya menghantam permukaan kristal.
KRING—!
Retakan kecil muncul.
Princes melongo.
“Eh… cuma segini?”
Chika teriak,
“Ulangi! Lebih kuat!”
Princes mengerahkan seluruh tenaga kecilnya.
“UNTUK IBU BAPAK ORANG-ORANG ITU!”
DUUOOOM!
Tongkat menghantam lagi. Retakan menyebar seperti jaring laba-laba.
Kristal bergetar keras.
WUUUUNG—!
Cahaya ungu di dalamnya berputar liar. Bayangan-bayangan manusia di dalam berteriak tanpa suara.
Chika berdiri di sampingnya, mengangkat perisai.
“Sekali lagi, Princes!”
Princes meloncat kecil, lalu memutar tubuhnya setengah lingkaran.
“SUPER BAT SWING!”
KRRAAAK—!!!
Kristal pecah.
Ledakan cahaya ungu meledak ke segala arah, berubah menjadi pusaran cahaya lembut. Dari pecahan kristal, ratusan cahaya kecil keluar seperti kunang-kunang dan melesat ke luar bangunan, menuju rumah-rumah kayu di sekitar.
Beberapa pintu rumah terbuka.
Seorang pria jatuh berlutut di lantai rumahnya sendiri, terengah.
“A… aku…?”
Seorang wanita memeluk kepalanya.
“Jiwaku… kembali…”
Anak-anak menangis, lalu berteriak memanggil orang tua mereka.
Bangunan tua itu dipenuhi suara hidup.
Chika berdiri di tengah reruntuhan kristal, dadanya naik turun.
“Berhasil…”
Princes menatap tangannya sendiri.
“Aku… beneran mukul jiwa orang-orang keluar…”
Chika tersenyum dan menepuk kepala Princes.
“Kamu pahlawan hari ini.”
Warga yang baru sadar keluar dari rumah-rumah mereka dengan wajah bingung dan ketakutan.
“Apa yang terjadi…?”
“Kenapa dadaku sakit…?”
Chika segera berdiri tegak.
“Dengarkan aku! Kalian semua harus segera pergi ke wilayah klan panda! Jangan tinggal di sini! Ninja klan naga akan datang lagi!”
Princes ikut berteriak sambil mengangkat tongkatnya.
“LARI SEKARANG! JANGAN LIHAT KE BELAKANG!”
Para warga saling pandang, lalu satu per satu mulai berlari ke arah perbatasan.
Di balik bangunan, suara langkah kaki ninja kembali terdengar samar dari kejauhan.
Chika memandang ke arah gang gelap.
“Waktunya kita juga bergerak.”
Princes mengangguk, napasnya masih terengah tapi matanya penuh tekad.
“Kristal pertama… hancur.”
Chika menarik Lumina Bow kembali ke punggungnya.
“Dan masih ada tiga lagi.”