Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09 - Jarak dan Keraguan
..."Hati yang pernah terluka tak perlu terburu-buru percaya lagi. Sedikit demi sedikit, perhatian kecil bisa menyalakan kembali rasa hangat yang lama tersimpan."...
Happy Reading!
Pagi itu, matahari belum sepenuhnya menembus tirai kamar Shaira. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, menatap buku, laptop, dan catatan yang berserakan. Setelah malam tahun baru yang hangat—meski sederhana—Shaira masih merasakan denyut hangat di dada. Tapi ia tahu, perasaan itu harus dikontrol. Jangan terlalu berharap. Jangan terlalu mudah luluh.
Ia menoleh ke ponselnya, membuka chat dengan Nara, tapi tidak ada yang penting. Hanya meme receh dari grup kelas. Shaira tersenyum tipis, menyadari betapa kecil tapi pentingnya momen kebersamaan yang ia alami malam kemarin. Hatinya hangat, tapi ada juga rasa takut. Bagaimana kalau perasaan itu terlalu cepat muncul lagi? Bagaimana kalau Raven… menjauh lagi tanpa alasan?
Sejenak, ia menutup mata dan menghela napas panjang. “Sabar dulu, Shaira. Jangan buru-buru,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara suara kipas angin kamar.
Ia menarik selimut sebentar, menyesap udara pagi yang sejuk dari jendela. Pikiran-pikiran kecil tentang Raven mulai muncul: senyumannya, caranya memberikan perhatian, bahkan momen singkat di halaman rumah Kak Ben. Shaira menepuk pelan meja belajar, berusaha menenangkan diri, lalu membuka laptop untuk memulai kelas online.
Kelas online dimulai seperti biasa. Shaira duduk di meja belajar, laptop menyala, webcam menghadap wajahnya. Teman-teman mulai berdatangan di layar: Arkan, Keno, Fadly, Nara, dan tentu saja… Raven. Hatinya berdegup lebih cepat ketika mata mereka bertemu, tapi ia mencoba tetap tenang. Percakapan berjalan normal—guru mengulang materi, beberapa siswa mengajukan pertanyaan—tetapi perhatian Shaira tetap terfokus pada Raven.
Saat guru meminta mereka berdiskusi soal tugas baru, Shaira membuka grup video call kelompoknya. Raven muncul di layar, tersenyum tipis, tampak santai.
“Gue yakin lo bakal ngerti materi ini,” ucapnya ringan, bukan terlalu dekat, tapi cukup membuat Shaira tersipu.
Ia menelan ludah, menatap layar, dan membalas, “Gue bakal coba.” Nada suaranya biasa, tapi di dalam hatinya ada getaran kecil yang sulit ia abaikan.
Sintia menimpali, setengah bercanda, “Eh, jangan salting lagi ya, Shaira. Gue liat lo panik tiap Raven ngomong.”
Shaira menahan tawa, menggeleng, tapi hatinya sedikit hangat. Raven hanya tersenyum, menatapnya sekilas sebelum kembali fokus pada catatan di depannya. Interaksi itu sederhana, tapi cukup untuk mengingatkan Shaira bahwa perasaan lama itu belum sepenuhnya hilang.
Video call berlangsung hampir satu jam. Mereka membahas materi, membagi tugas, dan sesekali bercanda ringan. Raven sesekali mengirim emoji lucu di chat kelompok, membuat Shaira tersenyum sendiri di depan laptop. Ia menahan diri untuk tidak menatap layar terlalu lama, tapi sulit menahan diri.
Ada rasa nyaman yang datang tanpa diminta—tidak kuat, tapi cukup untuk bertahan lebih lama di pikirannya.
Siang itu, Shaira duduk di meja makan sambil menatap piring kosongnya. Ia menatap jam dinding dan menyadari waktu hampir menunjukkan jeda istirahat sebelum pelajaran berikutnya. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Raven.
“Lo udah makan siang?”
Shaira tersentak, matanya membelalak. Ia menatap layar sebentar, lalu membalas pelan:
“Udah… baru aja.”
Raven membalas cepat:
“Oke… jangan lupa minum air banyak ya.”
Senyum tipis kembali muncul di wajah Shaira. Perhatian kecil itu membuatnya hangat, tapi ia masih menahan diri. Tidak terlalu responsif, hanya cukup untuk membalas sopan. Tidak ingin terlalu terlihat ‘antusias’.
Ia menaruh ponsel, menarik napas panjang, dan menatap keluar jendela. Matahari siang menembus tirai tipis, membuat bayangan lembut di lantai. Ia sadar satu hal: interaksi sederhana semacam itu cukup membuat hatinya berdetak lebih cepat. Tapi ia tidak mau terlalu cepat luluh. Ia ingin melihat dulu, perlahan.
Sore hari, Shaira memutuskan keluar sebentar bersama Nara. Mereka berjalan santai di taman dekat rumah. Angin sore menerpa wajah, dedaunan berdesir, dan suara anak-anak bermain terdengar samar. Nara terus membicarakan hal-hal ringan—film, gossip teman-teman, dan rencana liburan semester.
Shaira tersenyum tipis, sesekali menanggapi, tapi pikirannya tetap melayang ke Raven. Bagaimana dia akan menghadapi momen berikutnya dengan Raven? Bagaimana jika perhatian kecil itu membuat hatinya luluh lagi? Ia menelan napas pelan, mencoba menenangkan diri.
“Lo mikirin dia lagi, ya?” Nara tiba-tiba bersuara sambil menyenggol bahunya.
Shaira menatap Nara, tersenyum canggung. “Bukan… nggak juga. Cuma… biasa aja.”
Tapi Nara tahu. Senyum nakal muncul di wajahnya. “Iya deh, gue ngerti. Hati lo masih rapuh dikit kalo soal Raven.”
Shaira menatap jalan setapak, diam sebentar. Benar, hatinya memang masih rapuh. Tapi ia juga sadar, ia ingin hati itu tumbuh perlahan, tidak terburu-buru, tidak langsung luluh sepenuhnya.
Beberapa hari setelah video call pertama minggu itu, Shaira kembali membuka grup video call. Kali ini, kelompok mereka agak santai, karena guru hanya ingin mengecek progres tugas Kimia.
Raven muncul lebih dulu, seperti biasa, dengan wajah santai tapi ada senyum tipis. Shaira menelan ludah, tapi mencoba terdengar biasa.
“Eh, Shaira, jangan ngantuk lagi ya,” ucap Raven sambil menatap layar. Nada suaranya ringan, tapi ada kilatan nakal yang membuat Shaira menahan senyum.
Shaira menegakkan punggungnya, pura-pura serius. “Siap… ketua nggak boleh ngantuk, pak Raven,” jawabnya setengah bercanda, menegaskan posisinya.
Lisa dan Sintia tertawa kecil melihatnya. “Waduh, ketua kita udah disiplin banget nih,” celetuk Lisa.
Raven cuma tersenyum tipis, matanya sesekali menatap Shaira. Ada rasa nyaman tapi gemas di hati Shaira—perasaan perlahan muncul tapi masih ingin ia kendalikan.
Di tengah-tengah diskusi tentang tabel sistem periodik, Raven tiba-tiba mengangkat alis dan bertanya:
“Shaira… lo yakin tau posisi unsur ini?”
Shaira menelan ludah, berusaha terdengar yakin. “Iya, gue yakin.”
Raven mengangguk, lalu menimpali sambil menyunggingkan senyum ringan.
“Yakin sih boleh… tapi nanti gue cek lagi ya, ketua.”
Shaira menatap layar, rasanya jantungnya sedikit melompat. Ia menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama, tapi ada rasa nyaman yang perlahan muncul—hati yang mulai luluh tapi tetap ragu.
Sintia kembali ikut nimbrung, setengah bercanda, “Shaira, gue liat lo masih merah-merah tiap Raven liat lo.”
Shaira menatap Sintia, menahan pipinya panas. Ia tahu teman-temannya suka menggoda, tapi perasaan itu benar-benar muncul—perlahan tapi nyata.
Setelah satu jam lebih, video call hampir selesai. Tidak ada kata manis, tidak ada gestur terlalu dekat—hanya interaksi ringan, tapi cukup membuat hatinya berdebar.
Ia menutup laptop, merebahkan tubuh sebentar di sofa, menarik napas panjang, dan tersenyum tipis. Malam itu, hatinya hangat, tapi tetap rasional.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi muncul dari Keno:
“Eh, kita mau nongkrong di kafe sebentar, mau ikut nggak?”
Shaira menatap layar, ragu sebentar karena pasti ada kemungkinan bakal ketemu Raven.
Tapi pikirannya segera mengingatkan, “Sabar dulu, Shaira. Nggak usah buru-buru.” Ia membalas singkat:
“Nggak deh, gue mau santai aja di rumah.”
Ia menaruh ponsel kembali, memandangi buku hariannya. Hatinya sadar, interaksi kecil tapi bermakna dengan Raven sudah cukup untuk membuatnya tersenyum hari ini—tanpa harus memaksakan diri dekat lagi.
Malam itu, sebelum tidur, Shaira menatap langit dari jendela kamarnya. Lampu-lampu kota jauh di bawah berkelap-kelip, mengingatkan pada malam tahun baru yang baru saja lewat. Ia menarik selimut lebih erat, tersenyum tipis, dan berbisik pada dirinya sendiri:
“Pelan-pelan saja, hati. Jangan terlalu cepat luluh… tapi jangan juga menutup diri dari rasa hangat itu.”
Dan dengan pikiran itu, Shaira akhirnya menutup mata, merasa damai. Meski hatinya masih rapuh, ada rasa hangat yang baru muncul—perlahan tapi nyata.
Sesuatu yang membuatnya yakin, bahwa dengan waktu dan kesabaran, hati yang pernah terluka bisa perlahan sembuh… tanpa terburu-buru, tanpa takut lagi.
“Shaira — belajar percaya lagi.”
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/