NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Perubahan Aneh pada Jimat Batu Misterius

Cahaya bulan yang pucat dan lembut menggantung tinggi di langit malam, menyelimuti bumi dengan selapis tirai perak yang tipis dan ilusi. Angin malam berembus lirih, membawa kesejukan yang menembus dedaunan, sementara seluruh kediaman Keluarga Lin telah terlelap dalam sunyi. Namun di dalam sebuah kamar sederhana, di balik kesunyian itu, sebuah gejolak tak kasatmata tengah terjadi.

Di dalam ruang spiritual yang gelap dan tak berbatas, sosok Lin Zhantian perlahan muncul kembali.

Begitu tubuh spiritualnya terwujud, dua bayangan cahaya segera mengikuti, seakan telah lama menunggu kehadirannya. Satu bayangan menampilkan jurus Tongbei Quan—Tinju Penembus Punggung—yang mengalir laksana arus deras. Bayangan lainnya memperagakan Delapan Tapak Kegersangan dengan aura ganas yang menyapu udara kosong.

Namun kali ini, pandangan Lin Zhantian tidak tertuju pada dua seni bela diri yang telah akrab baginya itu.

Tatapannya tertancap jauh ke belakang bayangan kedua.

Matanya menyala penuh ketegangan.

Pada siang hari, ia telah meneliti sepenuhnya gulungan seni bela diri bernama Segel Gerbang Ajaib—sebuah teknik misterius yang hanya berupa fragmen tak lengkap. Seperti yang pernah dikatakan oleh Lin Xia, gulungan itu memang sekadar sisa-sisa. Rumusannya rumit, jejak energinya berliku-liku, dan metode penyegelnya jauh berbeda dari seni bela diri biasa.

Jika Tongbei Quan dan Delapan Tapak Kegersangan memiliki pola tetap—gerakan yang jelas dan urutan yang tegas—maka Segel Gerbang Ajaib adalah dunia yang berbeda sama sekali.

Ia tidak sekadar mengandalkan gerakan tubuh.

Ia membutuhkan mudra—formasi segel tangan yang rumit—untuk memanggil dan menggerakkan Yuan Qi di dalam tubuh. Ketika segel dan energi berpadu, kekuatan dahsyat akan meledak keluar, melampaui apa yang tampak dari luar.

Namun justru di situlah letak kesulitannya.

Fragmen yang ia pelajari siang tadi berhenti di pertengahan. Segel-segel setelahnya hilang tanpa jejak. Tanpa kelengkapan itu, kekuatan sejati teknik ini mustahil dilepaskan sepenuhnya. Itulah sebabnya mengapa dahulu Lin Xiao maupun Lin Zhentian memilih meninggalkannya—tanpa rangkaian segel lengkap, teknik ini hanyalah cangkang tanpa jiwa.

Namun…

Lin Zhantian memiliki sesuatu yang tidak mereka miliki.

Jimat Batu Misterius.

Di bawah tatapannya yang tegang, kegelapan di belakang bayangan kedua bergetar pelan, lalu perlahan-lahan cahaya baru terbentuk.

Sosok cahaya ketiga akhirnya muncul.

Napas Lin Zhantian yang tertahan sejak tadi akhirnya terlepas.

Begitu bayangan cahaya itu stabil, kedua tangannya langsung bersatu, membentuk segel tangan yang kompleks dan sulit dipahami.

“Benar… ini adalah segel pembuka Segel Gerbang Ajaib…”

Tatapan Lin Zhantian berubah membara. Matanya tak berkedip sedikit pun.

Segel pertama terbentuk.

Lalu kedua.

Ketiga.

Keempat.

Kelima.

Keenam.

Perubahan demi perubahan berlangsung begitu rumit, namun berkat pembelajarannya siang tadi, Lin Zhantian masih mampu mengikuti alurnya dengan susah payah.

Namun ketika bayangan itu memasuki perubahan segel ketujuh—

Jantungnya seketika menegang.

Karena pada titik itulah fragmen gulungan berhenti.

Tidak ada catatan lebih lanjut.

Tidak ada petunjuk berikutnya.

Semua yang ada setelah itu adalah wilayah kosong.

Tatapan Lin Zhantian membara antara harap dan cemas.

Perubahan segel yang semula mengalir mulus tiba-tiba melambat. Seolah-olah bayangan cahaya itu sendiri mengalami keraguan.

Namun hanya sesaat.

Beberapa helaan napas kemudian—

Segel tangan itu kembali berubah!

Sebuah mudra yang asing, belum pernah ia lihat sebelumnya, namun terasa begitu selaras dan logis, lahir dari gerakan cahaya itu.

“Berhasil!”

Jika bukan karena ini ruang spiritual, mungkin Lin Zhantian sudah melonjak tinggi ke udara. Wajahnya dipenuhi kegembiraan yang tak terbendung. Jantungnya berdetak keras seperti genderang perang.

Teknik yang rusak…

Telah diperbaiki!

Fragmen yang terputus…

Telah disambungkan kembali!

Kemampuan Jimat Batu Misterius benar-benar melampaui akal sehat!

Ia hampir tertawa keras dalam ekstase. Dengan kemampuan ini, bukan hanya Segel Gerbang Ajaib—selama ia memperoleh fragmen teknik lain, ia mungkin bisa menyempurnakan semuanya!

Namun kegembiraan itu belum sempat mereda sepenuhnya ketika wajahnya tiba-tiba berubah drastis.

Ia menyadari sesuatu yang tidak biasa.

Bayangan cahaya itu…

Mulai meredup.

Cahayanya tidak lagi seterang sebelumnya. Gerakan segel tangannya pun perlahan melambat.

“Apa yang terjadi?”

Nada keterkejutan memenuhi batinnya.

Sejak ia memperoleh Jimat Batu Misterius, belum pernah sekali pun ia menyaksikan fenomena seperti ini.

Perubahan segel menjadi semakin lamban. Gerakan yang sebelumnya sehalus aliran sungai kini terasa tersendat-sendat, seperti obor yang kehabisan minyak.

Hingga akhirnya—

Gerakan itu berhenti.

Mendadak.

Tanpa peringatan.

Segel terakhir yang terbentuk jelas bukanlah penutup teknik tersebut. Dari intuisi yang ia rasakan, masih ada langkah lanjutan. Masih ada puncak yang belum tercapai.

Namun cahaya itu telah berhenti.

Diam.

Tak bergerak.

“Jangan-jangan… bahkan Jimat Batu Misterius pun tidak mampu menyempurnakan teknik ini sepenuhnya?”

Alis Lin Zhantian berkerut dalam.

Ia tidak bisa menerima begitu saja.

Setelah berhenti beberapa saat, bayangan cahaya itu kembali bergerak—namun bukan melanjutkan dari titik terakhir.

Ia mengulang dari awal.

Segel pertama.

Kedua.

Ketiga.

Keempat.

Kelima.

Keenam.

Ketujuh.

Dan—

Berhenti lagi di tempat yang sama.

Wajah Lin Zhantian perlahan menggelap.

Sekali lagi.

Dan sekali lagi.

Ia menyaksikan pengulangan itu berulang berkali-kali.

Setiap kali mencapai titik yang sama, cahaya memudar dan berhenti.

Tidak ada kemajuan.

Tidak ada tambahan.

Tidak ada penyempurnaan lebih lanjut.

Ruang spiritual yang luas dan sunyi itu kini terasa menekan.

Lin Zhantian berdiri diam, pikirannya berputar cepat.

Ia menolak percaya bahwa Jimat Batu Misterius tidak mampu. Selama ini, benda itu seakan tak memiliki batas—menyempurnakan teknik, memurnikan energi, bahkan mempercepat kultivasi.

Namun kali ini…

Seolah-olah ada sesuatu yang menghalangi.

“Bukan tidak mampu…” gumamnya dalam hati. “Melainkan… kekuatan yang diperlukan terlalu besar?”

Ia mulai menyadari sesuatu.

Setiap kali bayangan itu mencapai batasnya, cahayanya meredup.

Seolah-olah Jimat Batu Misterius sedang kehabisan energi.

Mungkinkah penyempurnaan teknik ini menguras daya yang jauh lebih besar dibanding teknik sebelumnya?

Jika benar demikian, maka ini berarti satu hal—

Semakin tinggi tingkat dan kompleksitas teknik, semakin besar pula konsumsi energi spiritual yang dibutuhkan untuk memperbaikinya.

Dan kekuatan Jimat Batu Misterius… bukanlah tanpa batas.

Pemahaman itu membuat jantungnya sedikit mendingin.

Ia terlalu bergantung pada kekuatan eksternal ini.

Jika suatu hari jimat itu benar-benar mencapai batasnya, maka ia sendirilah yang harus berdiri di garis depan.

Tatapannya perlahan berubah.

Dari kegembiraan membara menjadi keseriusan yang dalam.

Ia kembali menatap bayangan cahaya yang kini terus mengulang di titik yang sama.

“Baiklah…”

“Jika kau tidak mampu melanjutkan, maka aku sendiri yang akan mencari jalannya.”

Di ruang spiritual yang gelap itu, sosok Lin Zhantian berdiri tegak. Wajahnya masih muda, namun matanya telah memancarkan keteguhan baja.

Segel tangan yang telah diperbaiki hingga titik itu terpatri kuat dalam benaknya.

Ia akan menghafalnya.

Memahaminya.

Membongkarnya satu demi satu.

Jika Jimat Batu Misterius hanya mampu membukakan pintu, maka dialah yang harus melangkah masuk dan menaklukkan dunia di baliknya.

Di bawah cahaya bulan yang pucat, tubuh fisiknya yang tengah duduk bersila di kamar perlahan mengeluarkan napas panjang.

Malam itu—

Ia tidak lagi hanya bersandar pada keajaiban.

Ia mulai menyadari…

Jalan menuju puncak langit bukan sekadar hadiah dari takdir.

Melainkan medan ujian bagi mereka yang berani melampaui batas diri sendiri.

Lin Zhantian berdiri terpaku di dalam ruang spiritual yang gelap itu, menatap bayangan cahaya Jimat Batu Misterius tanpa berkedip. Cahaya yang tadi sempat menyalakan bara harapan kini tampak redup, seperti lentera yang kehabisan minyak di tengah badai malam. Untuk waktu yang lama ia hanya terdiam, hingga akhirnya desahan napas panjang keluar dari dadanya.

“Sudahlah… gunakan saja sebisanya,” gumamnya pelan, nada suaranya dipenuhi ejekan terhadap dirinya sendiri. “Bagaimanapun juga, ini sudah jauh lebih lengkap dibandingkan fragmen yang tersisa.”

Meskipun ada rasa enggan dan kecewa, ia tetap mengangkat kedua tangannya. Dengan penuh kehati-hatian, ia mulai menyusun segel tangan sesuai dengan rangkaian yang telah diperbaiki oleh bayangan cahaya tadi. Gerakan itu tidak lagi sepenuhnya asing, namun juga belum sepenuhnya akrab—seperti seorang pendekar muda yang baru saja memperoleh pedang pusaka, namun belum menyatu dengan jiwanya.

Latihan itu berlangsung lama.

Di dalam ruang spiritual, waktu seolah kehilangan makna. Segel demi segel terbentuk di ujung jari-jarinya, perlahan, penuh konsentrasi. Rangkaian mudra yang rumit itu terpatri satu per satu ke dalam benaknya.

Akhirnya, setelah entah berapa lama, Lin Zhantian mengendurkan kedua tangannya. Ia menarik napas panjang, membiarkan ketegangan di dalam dirinya mereda.

Segel-segel itu memang kompleks dan berliku, namun dengan bimbingan bayangan cahaya yang nyaris sempurna, menghafalnya bukanlah perkara yang terlalu sulit. Akan tetapi, menghafal dan menguasai adalah dua perkara berbeda.

Menyimpannya dalam pikiran mungkin mudah.

Namun ketika saatnya tiba untuk mengerahkan Yuan Qi dan memadukannya dengan segel tangan secara harmonis, kesulitan sejati akan muncul.

Ia memahami itu dengan sangat jelas.

Menurut catatan fragmen, Segel Gerbang Ajaib terbagi menjadi empat tingkat.

Namun fragmen yang tersisa hanya mencatat tingkat pertama.

Jika perkiraannya benar, maka rangkaian yang baru saja diperbaiki oleh Jimat Batu Misterius kemungkinan besar adalah tingkat kedua. Sebuah lonjakan yang tidak kecil dalam struktur teknik tersebut.

Namun mengapa tingkat ketiga dan keempat tidak dapat dipulihkan?

Apakah karena tingkat kesulitannya terlalu tinggi?

Ataukah karena energi Jimat Batu Misterius tidak mencukupi?

Tatapan Lin Zhantian berkedip-kedip dalam keraguan, sebelum akhirnya ia menggeleng pelan.

“Dua tingkat sudah cukup,” ujarnya dalam hati. “Dengan kekuatanku saat ini, mampu menguasai tingkat pertama saja sudah merupakan pencapaian besar.”

Kata-kata itu menjadi penghiburan bagi dirinya sendiri.

Setelah menenangkan pikiran, ia perlahan keluar dari ruang spiritual.

---

Di dalam kamar yang sunyi, Lin Zhantian membuka kedua matanya.

Cahaya bulan menembus celah jendela, jatuh di lantai kayu seperti lembaran perak tipis. Ia melompat turun dari ranjang dengan gerakan gesit, lalu menarik napas dalam, mengencangkan perut, dan mulai membentuk segel tangan yang rumit itu secara nyata.

Gerakannya sedikit kaku.

Jari-jarinya bergetar halus, menelusuri pola yang telah ia hafal.

Satu segel.

Dua segel.

Tiga segel.

Gerakan itu berlangsung lambat namun mantap. Saat rangkaian hampir selesai, benih Yuan Qi yang berputar di dalam meridiannya tiba-tiba bergetar pelan.

Getaran itu halus.

Nyaris tak terasa.

Seperti riak kecil di permukaan danau yang luas.

Namun sebelum sempat membesar, getaran itu menghilang begitu saja.

Lin Zhantian menurunkan tangannya, wajahnya menunjukkan sedikit rasa tak berdaya.

Ia memang telah menghafal segel-segel itu.

Namun menyelaraskan aliran Yuan Qi dengan perubahan mudra membutuhkan latihan panjang dan ketelitian yang ekstrem. Sedikit saja kelengahan, maka energi akan tercerai-berai sebelum sempat membentuk kekuatan sejati.

Bagaimanapun juga, tingkat pertama Segel Gerbang Ajaib sudah termasuk seni bela diri tingkat ketiga.

Tidak mungkin bisa dikuasai dalam semalam.

“Jika tingkat pertama sudah setara seni bela diri tingkat ketiga… maka tingkat kedua yang baru dipulihkan tadi, meskipun tidak sebanding dengan tingkat keempat, setidaknya pasti berada di puncak tingkat ketiga.”

Memikirkan hal itu, rasa murung di hatinya sedikit berkurang.

Ia menghembuskan napas panjang.

Kemudian tangannya secara refleks meraba dada, mengambil Jimat Batu Misterius yang selalu ia simpan dekat tubuhnya.

Namun begitu matanya menyapu permukaannya—

Wajahnya berubah drastis.

“Apa ini…?”

Jimat yang biasanya memancarkan kilau lembut seperti giok kini tampak kusam.

Warna abu-abu pucatnya terlihat hambar.

Rasa dingin halus yang biasanya menenangkan kini hampir lenyap.

Bahkan pola simbol misterius yang terukir di permukaannya tampak memudar.

Kini, benda itu nyaris tak berbeda dari batu biasa yang tergeletak di pinggir jalan.

Jantung Lin Zhantian berdegup keras.

Rasa panik menyelinap seperti kabut dingin.

Namun di tengah kegelisahan itu, secercah pemahaman tiba-tiba melintas dalam pikirannya.

“Energi… kekurangan energi?”

Pemahaman itu datang seperti kilat yang membelah kegelapan.

Ia tiba-tiba mengerti mengapa bayangan cahaya di ruang spiritual tadi berhenti di tengah jalan.

Untuk menyempurnakan seni bela diri, Jimat Batu Misterius pasti membutuhkan energi sebagai bahan bakar.

Selama ini, ia telah menggunakannya untuk menyempurnakan Tongbei Quan, Delapan Tapak Kegersangan, dan kini Segel Gerbang Ajaib.

Setiap penyempurnaan pasti menguras cadangan energi di dalam jimat tersebut.

Dan sekarang—

Energi itu telah habis.

“Jadi begitu…”

Keringat dingin muncul di dahinya.

Namun anehnya, setelah menyadari akar permasalahan, rasa paniknya justru mereda.

Masalah yang tidak diketahui adalah yang paling menakutkan.

Namun jika penyebabnya adalah kekurangan energi, maka itu berarti ada solusi.

Jimat Batu Misterius terlalu penting baginya.

Tanpanya, banyak kemajuan yang ia raih mungkin tidak akan terjadi.

Ia menatap benda itu dengan sorot mata serius.

“Jika kau kehabisan energi… maka aku akan mencarikan cara untuk mengisinya kembali.”

Dalam benaknya, berbagai kemungkinan mulai bermunculan.

Apakah ia perlu menyerap energi spiritual alam?

Ataukah mungkin jimat itu hanya bisa diisi melalui energi murni dari pil obat atau harta langit dan bumi?

Ia belum tahu jawabannya.

Namun satu hal jelas—

Ia tidak akan membiarkan benda ini menjadi batu mati tanpa daya.

Di bawah cahaya bulan yang dingin, sosok Lin Zhantian berdiri tegak, memegang jimat yang tampak biasa namun menyimpan rahasia agung.

Di matanya tidak lagi ada kepanikan.

Yang tersisa hanyalah tekad.

Jika langit menghalangi jalannya, ia akan menembus langit.

Jika jimat itu membutuhkan energi, maka ia akan mencari sumber energi yang cukup untuk mengguncang gunung dan sungai.

Karena ia tahu—

Perjalanan menuju puncak tidak pernah mudah.

Dan setiap krisis adalah gerbang menuju kekuatan yang lebih besar.

1
alex kawun
jangan gitu lah thor demi u memenuhi target tulisan & chapter harus nulis ber ulang2 poin yg sama
mbosenin thor
Eko
ayoooo tambah kuat
Eko
alur cerita yang bagus
Joe Maggot Curvanord
lin dong
REY ASMODEUS
💪💪💪💪
Dian Pravita Sari
liat ajakl gak tamat lagi faj gak guns ada komentar gak ada tindak lanjut dah sangat kecewa duanya cerita gak da yg tamatrenjijikkam pengarangnya hy mikir duit tp nol tanggung jawab alur cerita dan penyelesaian cerita gak bermutu blas
gak
REY ASMODEUS
up 10 eps
Jullsr red: okee bossskuuu
total 1 replies
REY ASMODEUS
lnjut
REY ASMODEUS
💪💪💪💪
REY ASMODEUS
bagusss
REY ASMODEUS
aku suka permulaan untuk sebuah nama : DENDAM , tapi setelah itu ? apa tujuanmu wahai Lin zhatian?
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!