Kusuma Pawening, gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA itu tiba-tiba harus menjadi seorang istri pria dewasa yang dingin dan arogan. Seno Ardiguna.
Semua itu terjadi lantaran harus menggantikan kakanya yang gagal menikah akibat sudah berbadan dua.
"Om, yakin tidak tertarik padaku?"
"Jangan coba-coba menggodaku, dasar bocah!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Kompak Wening dan Arka saling menoleh ke sumber suara, di mana pria dewasa itu tengah berdiri tak jauh dari tempat Wening duduk. Menatap tajam gadis itu.
"Kak Seno? Kita lagi ngobrol Kak, kebetulan ketemu di sini," ujar Arka merasa sungkan.
Pria itu tidak menanggapi, menatap dingin keduanya. Hingga membuat Arka merasa harus pergi dari sana karena merasa tak enak hati.
"Aku masuk dulu ya? Sudah malam, selamat beristirahat!" ucap pria itu mengangguk dengan senyuman.
Wening balas tersenyum, cukup manis hingga membuat Seno ingin menjewernya seketika. Dengan suaminya saja tidak pernah semanis itu, kenapa dengan Arka yang baru kenal langsung akrab.
"Ganjen, sengaja banget ya gabut, makanya deketin adik aku? Nggak usah kecentilan!" tukas pria itu jengkel.
"Kalau iya kenapa? Sayangnya Arka lebih menarik dari pada Om," jawab Wening penuh emosi. Berlalu dari sana meninggalkan Seno yang nampak speechless dengan jawaban istrinya.
"Astaga! Bocil beneran nantangin? Selama ini bahkan belum pernah ada satu jenis manusia PMS pun yang menolak pesonanya. Sungguh celaka bagimu, Ning. Kamu dalam masalah!" gumam pria itu penuh dendam kesumat.
Mengekor istrinya masuk ke kamar. Terlihat gadis itu masuk ke kamar mandi, sungguh pria itu menanti dengan tidak sabar. Ingin segera memberi wejangan agar istri kecilnya itu lebih tahu diri di mana saat ini dia berpijak. Dari mana dia dihidupi dan disekolahkan.
"Astaghfirullah! Harus banget nungguin depan pintu? Kenapa nggak sekalian aja masuk ke kamar mandi," ujar gadis itu penuh solusi.
Beneran nantangin? Nggak takut apa, kalau beneran aku terkam!
"Kamu terlalu percaya diri, Ning! Jangan coba-coba menggodaku, dasar bocil!"
"Yakin, Om nggak tergoda? Baiklah, aku suka gaya Om, karena aku juga nggak minat sama om-om. Hahaha."
Ptak!
Seno yang gemas menyentil jidat istrinya hingga menimbulkan panas.
"Ya ampun ... yang begini ini bikin cewek nggak respect. Udah ngeselin, nyebelin, eh malah KDRT. Sungguh malangnya nasibku!" ujar Wening mendrama. Mengusap keningnya perlahan.
Usai bersih-bersih, gadis itu langsung menuju ranjangnya. Tak peduli dengan tatapan Seno yang menahan kesal.
"Kamu nggak takut seranjang denganku? Kamu tahu kan di atas ranjang ini bisa saja terjadi hal-hal yang tak terduga."
"Apa yang harus aku khawatirkan. Kita kan tidak ada saling ketertarikan. Om tidak suka dengan aku, dan begitupun sebaliknya. Jadi, tidak perlu ada yang dirisaukan," jawab gadis itu benar adanya.
Sayangnya kadang napsu mengalahkan akal. Bahkan tanpa cinta pun bisa saja melakukan itu, mungkin Wening belum begitu paham dengan hal ini.
Berhadapan dengan suaminya yang arogan selalu membuat pertikaian di antara keduanya. Sungguh gadis itu merasa terusik dan tak tenang. Walaupun hidup di rumah mewah, dengan fasilitas yang ada. Gadis itu tak merasa bahagia sedikit pun. Tiba-tiba ia begitu merindukan suasana kampung yang selalu mendamaikan. Biar hidup sederhana, ia merasa bahagia.
Hatinya terasa pilu saat rindu pada ayah dan ibu. Belakangan sulit dihubungi, Kak Rara juga seperti menghilang ditelan bumi. Tanpa kabar yang berarti, membuat Wening seperti sendiri.
Apa kabar mereka di kampung? Bagaimana dengan kehamilan Kak Rara. Bagaimana kalau dirundung dan menjadi bahan olokan karena hamil di luar nikah? Sungguh Wening harus menemukan pria bejat itu dan menyeretnya untuk bertanggung jawab. Gegara orang itu, Kak Rara hamil, dan dirinya harus menggantikan hingga menikah tanpa cinta.
"Kenapa? Baru nyadar? Nggak usah nangis, dasar cengeng!" ejek Seno saat mendapati Wening terdiam sendu. Diam-diam Seno sangat puas melihat istri kecilnya itu nelangsa.
Wening masih bisa tahan dengan cacian itu, tapi kadang menjadi sangat rapuh kalau merasa sendiri. Terlalu banyak yang ia korbankan, masa remajanya yang indah penuh suka cita bahkan harus terampas dengan gelar status istri yang bahkan tidak pernah dianggap dan dihargai.
"Besok aku mau pulang," celetuk gadis itu menatap serius suaminya.
Seketika Seno tertawa ngakak mendengar penuturan gadis itu yang cukup frontal.
"Punya kaki kan? Punya otak juga, tahu lah seharusnya jalan pulang! Nggak usah nunggu besok, kenapa nggak sekarang aja!" usir pria itu terdengar menantang.
Dongkol, sakit, seonggok daging yang bernama hati terasa nyeri mendengar itu. Andai saja waktu tidak malam hari, sudah pasti Wening pamit jam itu juga. Akal sehat masih mendominasi, dan tidak ingin menjadi konyol. Gadis itu sekuat hati menahan diri untuk tetap stay di kamar itu.
Memilih tidur membawa lukanya sendiri. Menutup rapat tubuhnya dengan selimut.
"Bagi selimutnya!" Seno menarik dengan kasar dari tubuhnya.
"Ya ampun ... resek banget sih! Nggak bisa kalau minta baik-baik!" omel Wening terjaga kembali setelah sebelumnya merasa berat menemukan kantuknya. Gadis itu balas menarik selimut itu tak mau kalah. Terjadilah tarik menarik dengan sengit.