Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi goreng Spesial untuk Ayah
Malam semakin larut di kediaman Sutoyo. Di dalam kamar yang didominasi warna biru langit itu, suasana terasa begitu hangat. Hana berbaring di samping El, jemarinya dengan lembut menyisir rambut putranya, sebuah ritual sebelum tidur yang selalu mereka lakukan.
El bercerita banyak hal tentang pelajaran matematika yang sangat mudah baginya, hingga tingkah lucu teman-temannya. Namun, setiap kali kata "Ayah" hampir terucap di ujung lidahnya, ia segera menelannya kembali. Ada beban rahasia yang terasa berat, namun ia harus menjaganya.
"Bun, besok boleh tidak aku bawa bekal masakannya Bunda? Aku kangen nasi goreng kampung buatannya Bunda, tapi bikin dua porsi ya, untukku dan juga Axel," ucap El sambil menatap mata ibunya.
Hana tersenyum manis, merasa bangga putranya begitu perhatian pada sepupunya. "Tentu saja sayang. Besok pagi sebelum Bunda berangkat ke kantor, Bunda akan memasak nasi goreng kampung spesial buat kamu!"
"Tapi Bunda tidak merasa kerepotan kan?" tanya El memastikan. Ia sebenarnya punya rencana tersembunyi, ia ingin Ayahnya juga mencicipi masakan Bundanya.
"Tentu saja tidak. Ya sudah, kamu tidur gih, ini sudah malam!"
El pun berpura-pura menguap lebar dan memejamkan mata. Hana menunggu sekitar lima belas menit, memastikan napas El sudah teratur dan dalam. Ia kemudian bangkit perlahan, mengganti lampu utama dengan lampu tidur yang temaram, lalu mengecup kening El sebelum melangkah keluar dengan suara pintu yang tertutup rapat.
Begitu langkah kaki Hana tak lagi terdengar, El langsung membuka matanya. Ia menyibak selimut dan merogoh smartwatch canggih dari balik bantalnya. Dengan jantung berdebar, ia menekan tombol khusus. Tak sampai dua detik, layar itu menyala dan menampilkan wajah Cakra yang tampak sedang duduk di ruang kerjanya.
"Ayah?" bisik El sangat pelan.
Di seberang sana, wajah Cakra seketika cerah. "El! Ayah pikir kamu sudah tidur. Kenapa belum istirahat, jagoan?"
"Aku baru saja pura-pura tidur depan Bunda, Yah," El terkekeh kecil. "Yah, aku mau cerita. Dulu waktu di kampung, aku sering sekali mencari tahu tentang Ayah. Aku sampai menyelinap ke warnet punya Kak Ros cuma buat cari nama 'Cakra Ardiwinata'."
Cakra tertawa tertahan, matanya berbinar haru. "Oh ya? Terus ketemu tidak?"
"Ketemu! Ayah terlihat sangat hebat di foto-foto itu. Tapi gara-gara itu, aku jadi punya hutang cokelat Cadbury sama Kak Ros karena aku tidak punya uang buat bayar warnet," cerita El polos.
Cakra tertawa geli hingga bahunya berguncang. "Anak Ayah ternyata cerdik juga ya. Tenang saja, nanti kalau kita bertemu lagi, Ayah akan bawakan satu kotak penuh cokelat untuk membayar hutangmu pada Kak Ros."
Tawa mereka menyatu dalam frekuensi rahasia. Bagi El, ini adalah momen paling bahagia dalam hidupnya, meski ia harus melakukannya di kegelapan malam.
Sementara itu, suasana berbeda terjadi di depan gerbang megah Mansion Ardiwinata. Sebuah taksi berhenti, dan keluarlah Nyonya Inggit dengan wajah yang tampak lelah namun penuh tekad. Tinggal di penginapan kelas menengah selama beberapa hari telah mengikis kesabarannya yang setipis tisu.
"Aku tidak peduli apa kata Cakra nanti," gumam Nyonya Inggit sambil merapatkan syalnya. "Ini rumahku. Aku adalah nyonya besar di sini. Aku tidak bisa terus-terusan bersembunyi seperti pencuri!"
Pelayan yang membukakan pintu tampak terkejut. "Nyonya Besar? Anda sudah kembali?"
"Jangan banyak tanya! Bawakan koperku ke atas," perintahnya dengan nada ketus yang kembali seperti semula.
Nyonya Inggit tahu, kepulangannya akan memicu badai baru. Cakra pasti akan marah besar, dan rahasia tentang keberadaan El mungkin akan semakin rumit jika ia ikut campur. Namun, bagi Inggit, harga dirinya jauh lebih penting daripada intrik putranya.
.
.
Pagi hari di Mansion Ardiwinata yang biasanya tenang mendadak mencekam. Cakra dan Tuan Ardiwinata membeku di tempat saat melihat sosok Inggit duduk dengan tenangnya di kursi kebesarannya di ruang makan.
"Berani sekali Mamah pulang ke sini tanpa persetujuanku!" bentak Cakra, suaranya menggelegar hingga membuat para pelayan menunduk ketakutan.
Inggit meletakkan cangkir tehnya perlahan. "Ini adalah rumahku juga, Cakra. Belum puaskah kamu menghukum ibumu sendiri selama enam tahun? Ingat, Cakra, aku adalah ibumu, wanita yang berjuang setengah mati untuk melahirkanmu!"
Cakra tidak menjawab. Rahangnya mengeras, menahan luapan emosi yang jika meledak bisa menghancurkan apa saja. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar kunci mobilnya dan pergi begitu saja tanpa menyentuh sarapannya.
Tuan Ardiwinata, yang sejak tadi diam, kini menatap tajam ke arah istrinya. "Itu hukuman yang pantas untuk wanita kejam sepertimu. Andaikan kau tidak berulah, mungkin rumah tangga putramu tidak akan hancur seperti ini. Sampai kapan pun kau akan terus menorehkan luka terhadap Cakra. Ini yang kau sebut sayang terhadap anakmu? Melihatmu kembali, selera makanku hilang!"
Tuan Ardiwinata bangkit dengan kasar, meninggalkan Inggit yang kini mengepalkan tangan hingga kukunya memutih.
"Aku akan membawa bocah itu ke rumah ini. Hanya itu satu-satunya cara agar Cakra memaafkan ku," batin Inggit penuh ambisi.
TK Tunas Bangsa
Sementara itu, di sekolah, El menatap dua kotak bekal dengan mata berbinar. Axel yang duduk di sebelahnya mengernyit bingung.
"Kau bawa kotak bekal sampai dua... memangnya satu lagi untuk siapa?" tanya Axel penasaran.
"Untuk Ayahku, Xel. Nanti saat jam istirahat, Ayah janji akan bertemu lagi di kantin belakang," jawab El dengan senyum rahasia yang manis.
Begitu bel istirahat berbunyi, kedua bocah itu berlari lincah menuju sudut tersembunyi di dekat gudang olahraga. Di sana, Cakra sudah menunggu. Hari ini ia tampil lebih santai dengan kaos polos dan celana jeans, mencoba melebur agar tidak menarik perhatian.
"Ayah!" El menghambur ke pelukan Cakra. Kerinduan yang tertahan selama enam tahun seolah tumpah dalam dekapan itu.
"Ayah, aku sengaja bawa bekal nasi goreng kampung buatannya Bunda. Dulu saat di kampung, nasi goreng Bunda sangat terkenal!" ucap El antusias sambil membuka kotak makanannya.
Cakra terpaku. Harum bumbu nasi goreng itu menguar, aroma yang sangat akrab di indra penciumannya. "Oh ya? Ayah jadi tidak sabar mencicipi masakan ibumu," ucap Cakra dengan suara parau dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Saat sendok pertama masuk ke mulutnya, Cakra terdiam. Rasa gurih dan pedas yang pas, persis seperti yang sering Hana buatkan untuknya di masa-masa awal pernikahan mereka yang bahagia. Kenangan-kenangan indah saat Hana menyambutnya pulang kerja mendadak berputar seperti film di kepalanya.
Setitik air mata jatuh ke pipinya, namun Cakra dengan sigap menghapusnya dengan punggung tangannya agar El tidak melihat kerapuhannya.
"Bagaimana Ayah, enak tidak?" tanya El sambil menyuapi ayahnya lagi, lalu beralih menyuapi Axel yang juga tampak lahap.
"Wah, nasi goreng buatan bundamu enak sekali, El. Seperti masakan restoran bintang lima," puji Cakra, berusaha tetap ceria meski hatinya perih.
Di sela suapannya, Cakra menatap El yang tertawa bersama Axel. Hatinya menjerit pilu.
'Hana, aku sangat merindukanmu. Andaikan waktu bisa berputar kembali, aku tidak akan pernah menceraikanmu...'
Bersambung...