Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inti Kekosongan
Langkah Qiu Liong terhenti hanya sejengkal dari batu hitam itu.
Retakan bercahaya ungu di permukaannya berdenyut seperti jantung makhluk hidup. Setiap denyutan terasa selaras dengan detak jantungnya sendiri cepat, tak teratur, dipenuhi keraguan.
Udara di dalam gua menjadi berat.
Seolah dunia di luar sudah tidak ada.
“Sentuhlah.”
Bisikan itu kini jelas. Bukan lagi gema samar, melainkan suara yang bergetar langsung di dalam kesadarannya.
Qiu Liong menelan ludah. Tangannya terangkat perlahan, gemetar, lalu berhenti di udara.
Bagaimana jika ini jebakan?
Bagaimana jika ini iblis?
Namun di sisi lain, apa lagi yang ia miliki?
Ia adalah pecundang sekte.
Akar spiritual retak.
Bahan tertawaan.
Takdirnya sudah berada di jurang bahkan sebelum memasuki hutan ini.
Tangannya akhirnya menyentuh batu itu.
Dingin.
Bukan dingin biasa melainkan dingin yang merayap langsung ke tulang dan sumsum.
Dalam sekejap
DUNIA MENGHILANG.
Ia tidak lagi berdiri di gua.
Ia melayang di ruang tanpa batas.
Gelap.
Tanpa tanah.
Tanpa langit.
Tanpa suara.
Hanya kehampaan.
Qiu Liong berusaha bernapas, namun ia tak merasakan udara masuk atau keluar. Tubuhnya ada namun juga tidak ada.
“Apa ini…?”
Suaranya tak menggema. Bahkan suaranya sendiri terasa ditelan ruang kosong.
Di kejauhan, titik cahaya kecil muncul.
Sangat kecil.
Seperti bintang di langit malam.
Titik itu perlahan membesar, mendekat, berubah menjadi pusaran hitam yang berkilau samar.
Di tengah pusaran itu, sesuatu berdenyut.
Sebuah inti.
Gelap.
Namun bercahaya dari dalam.
“Inti… Kekosongan.”
Suara itu kini tidak lagi berbisik. Ia terdengar tua. Dalam. Tak terhingga.
Qiu Liong merasa jiwanya ditarik mendekat.
“Siapa kau?” tanyanya, meski ia tak yakin pertanyaannya memiliki arti di ruang ini.
“Aku adalah sisa… dari yang tak pernah ada. Aku adalah kekuatan yang ditolak dunia. Aku adalah kehampaan yang melahap segalanya.”
Jantungnya bergetar.
Ia merasa kecil.
Lebih kecil dari debu.
“Kenapa… aku?”
Pusaran itu berdenyut pelan.
“Karena kau retak.”
Jawaban itu menusuk.
Namun suara itu melanjutkan
“Yang utuh akan hancur jika menyentuhku. Yang sempurna akan dilahap. Hanya yang rusak… yang memiliki ruang untukku.”
Mata Qiu Liong membelalak.
Retak.
Cacat.
Kelemahan yang selalu ia benci
justru menjadi alasan ia dipilih?
Ia merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Meridian yang retak itu terasa terbuka, seperti celah yang selama ini ia kutuk kini menjadi pintu.
“Kau ingin kuat.”
Itu bukan pertanyaan.
Itu pernyataan.
Gambar demi gambar kembali muncul
Tawa di arena.
Tatapan hina.
Darah yang menetes di tangga batu.
Kesepian.
Kemarahan.
Rasa tidak cukup.
“Aku ingin…” suaranya serak.
Ia tak ingin hanya kuat.
Ia ingin berhenti merasa tidak berarti.
Pusaran itu perlahan mendekat hingga hampir menyentuh kesadarannya.
“Jika kau menerima… kau tak akan pernah sama.”
“Jika kau menolak… kau akan tetap menjadi pecundang.”
Pilihan yang kejam.
Namun juga sederhana.
Qiu Liong menutup mata.
Ia memikirkan satu hal
Jika hidupnya sudah berada di dasar, apa lagi yang bisa ia kehilangan?
“Aku… menerima.”
Dalam sekejap, inti hitam itu meledak menjadi cahaya gelap yang melahapnya.
Rasa sakit yang tak bisa dijelaskan menghantam seluruh eksistensinya.
Bukan sakit fisik.
Lebih dalam.
Seolah jiwanya dipecah, dibongkar, lalu disusun ulang.
Ia berteriak
Namun tak ada suara.
Meridian retaknya terbuka sepenuhnya.
Bukan diperbaiki.
Bukan disembuhkan.
Melainkan diisi.
Kekosongan itu mengalir seperti arus liar, memenuhi setiap celah di dalam dirinya.
Bukan qi biasa.
Lebih berat.
Lebih sunyi.
Lebih dalam.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya
Qiu Liong merasakan kekuatan.
Bukan kekuatan yang meledak-ledak.
Melainkan kekuatan yang tenang.
Seperti jurang tanpa dasar.
Seperti malam tanpa bintang.
Kesadarannya perlahan kembali.
Gua batu itu muncul lagi di hadapannya.
Ia terjatuh berlutut di tanah, napasnya kembali, tubuhnya berkeringat dingin.
Batu hitam di depannya kini retak sepenuhnya.
Cahayanya padam.
Hanya batu biasa.
Namun di dalam dirinya
sesuatu telah lahir.
Ia mengangkat tangannya.
Qi mengalir.
Tidak tersendat.
Tidak menyakitkan.
Melainkan halus.
Sunyi.
Dan dalam.
Qiu Liong menatap telapak tangannya dengan mata gemetar.
Di dalam pupilnya, untuk sesaat, bayangan pusaran hitam itu berkilau.
Inti Kekosongan kini tidak lagi berada di gua.
Ia berada… di dalam dirinya.
jangan bikin kecewa ya🙏💪