Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPULANGAN DI AWAL YANG BARU.
Pagi yang tenang di pinggiran sungai itu menjadi saksi sebuah babak baru. Setelah sarapan dengan umbi-umbian rebus dan teh hangat, Ariya mengeluarkan selembar cek dari dompetnya. Ia meletakkannya di atas meja bambu yang sudah mulai lapuk. Itu adalah cek dengan nominal fantastis yang dijanjikan ayahnya sebagai imbalan bagi siapa pun yang menyelamatkan Arumi.
"Kek, ini adalah amanah dari Papa saya. Tolong diterima sebagai tanda terima kasih kami karena Kakek dan Nenek telah menjaga nyawa istri saya," ujar Ariya dengan suara yang sangat tulus.
Kakek menatap kertas itu dengan pandangan kosong, lalu menggeleng perlahan. "Nak Ariya, kami menolong Ayu bukan karena mengharap kertas ini. Kami menolong karena nurani."
"Saya tahu, Kek. Tapi ini akan membantu Kakek dan Nenek memiliki hidup yang lebih layak. Dan saya berniat membawa Arumi kembali ke Jakarta hari ini. Kami harus segera memeriksakan kondisinya agar ingatannya bisa pulih," lanjut Ariya.
Mendengar kata Jakarta, Arumi yang sedang duduk di samping nenek seketika terdiam. Wajahnya berubah muram. Ia menatap gubuk sederhana itu, lalu beralih menatap nenek yang sudah menganggapnya anak sendiri. Ada rasa berat yang teramat sangat untuk meninggalkan pasangan sepuh yang telah memberinya kasih sayang tanpa syarat di saat ia kehilangan jati diri.
Ariya menyadari perubahan raut wajah istrinya. Ia paham bahwa Arumi merasa berutang budi dan tidak tega meninggalkan dua orang tua itu sendirian di hutan yang rawan bencana.
"Kek, Nek, jika Arumi merasa berat untuk pergi, mengapa Kakek dan Nenek tidak ikut saja bersama kami ke Jakarta?" tawar Ariya dengan nada rendah.
Arumi tersentak, matanya berbinar menatap Ariya. "Bolehkah, Mas?" tanya Arumi spontan. Panggilan 'Mas' itu meluncur begitu saja, membuat jantung Ariya berdegup kencang karena bahagia.
"Tentu saja. Saya akan siapkan tempat tinggal yang sangat nyaman untuk Kakek dan Nenek. Jika kalian tidak ingin tinggal satu rumah dengan kami, saya akan belikan rumah yang dekat agar Arumi bisa mengunjungi kalian setiap hari," janji Ariya.
Arumi langsung menggenggam tangan nenek dengan manja. "Ikut ya, Nek? Di sini berbahaya kalau ada hujan gunung lagi. Kalau Nenek ikut, Ayu ada teman untuk bercerita. Ayu tidak mau kehilangan Nenek."
Nenek menatap suaminya, mencari persetujuan. Kakek yang melihat binar harapan di mata Arumi akhirnya menghela napas panjang dan tersenyum. "Baiklah, jika itu memang keinginan Ayu, kami akan ikut. Kami juga tidak tega membiarkan anak ini pergi sendirian dalam kondisi belum ingat apa-apa."
Tangis haru pecah di gubuk itu. Arumi memeluk nenek dan kakek secara bergantian. Tak lama kemudian, mereka mulai berjalan meninggalkan gubuk tersebut. Tim SAR telah mengoordinasikan titik jemput di pinggir jalan desa. Sebuah mobil gardan ganda sudah menunggu untuk membawa mereka kembali ke posko utama.
Sesampainya di posko, suasana mendadak riuh. Rekan-rekan medis Arumi yang selama ini berduka langsung berhamburan keluar. Tangis mereka pecah saat melihat Arumi turun dari mobil dalam keadaan sehat.
"Arumi! Ya Allah, kamu selamat!" teriak seorang rekan dokter sambil memeluknya erat.
Arumi hanya bisa tersenyum canggung. Ia membalas pelukan itu dengan hangat meskipun ia tidak mengenali siapa mereka. "Terima kasih banyak atas doa kalian semua."
Bukan hanya tim medis, para penduduk desa yang pernah diobati oleh Arumi sebelum musibah itu terjadi juga berkumpul. Mereka membawakan hasil bumi seadanya sebagai tanda syukur. Ariya berdiri di samping Arumi, merasa sangat bangga melihat betapa dicintainya istrinya oleh banyak orang.
Tak lama kemudian, suara deru baling-baling helikopter membelah langit. Helikopter besar milik keluarga Ferdiansyah mendarat di lapangan terbuka dekat posko. Mereka segera naik ke dalamnya. Selama perjalanan di udara, Ariya tidak sedetik pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arumi. Ia merangkul bahu istrinya seolah ingin menegaskan pada dunia bahwa ia tidak akan membiarkan Arumi hilang lagi.
"Kamu lelah? Tidurlah di bahuku," bisik Ariya lembut.
Arumi menatap mata Ariya, mencari kejujuran di sana. Meskipun ingatannya belum kembali, hatinya merasa sangat aman berada di dekat pria ini. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ariya, sementara kakek dan nenek tersenyum simpul melihat kemesraan mereka dari kursi seberang.
Helikopter mendarat dengan mulus di atas helipad gedung rumah sakit pusat milik Ferdiansyah di Jakarta. Di sana, Ferdiansyah dan Heni sudah menunggu dengan perasaan yang tak menentu. Begitu pintu helikopter terbuka, Heni langsung berlari mendekat.
"Arumi! Anakku!" teriak Heni sambil merangkul menantunya dengan tangis yang tak terbendung.
Arumi tampak bingung. Ia menoleh ke arah Ariya dengan tatapan bertanya. Ariya segera mendekat dan merangkul pinggang Arumi. "Sayang, ini Mama. Beliau adalah Mama mertuamu yang sangat menyayangimu."
Heni tertegun saat melihat tatapan kosong dari menantunya. "Dia benar-benar tidak ingat padaku, Arya?"
"Belum, Ma. Tapi kita akan berusaha," sahut Ariya sedih.
Ferdiansyah melangkah maju. Ia tidak banyak bicara, namun matanya yang memerah menunjukkan betapa besarnya rasa syukur di hatinya. Ia memeluk Arumi sebentar, lalu mengecup puncak kepala menantunya itu dengan penuh kasih sayang, layaknya kepada anak kandung sendiri.
"Selamat datang di rumah, Arum. Jangan khawatir, Papa akan pastikan kamu mendapatkan perawatan terbaik agar ingatanmu kembali," ujar Ferdiansyah dengan suara berat.
Arumi merasa sangat tersentuh dengan sambutan hangat keluarga ini. Meskipun ia belum mengingat satu pun momen bersama mereka, kehangatan yang ia rasakan di sini persis seperti kehangatan yang diberikan kakek dan nenek di gubuk tempo hari.
"Terima kasih, Pa, Ma," jawab Arumi pelan.
Ariya kemudian memperkenalkan kakek dan nenek kepada orang tuanya. Ferdiansyah menyalami mereka dengan penuh hormat. "Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa putri kami. Kalian adalah pahlawan bagi keluarga ini."
Rombongan itu kemudian bergerak masuk ke dalam rumah sakit. Ariya bersumpah dalam hati bahwa mulai detik ini, ia akan menghapus semua kenangan pahit yang pernah ia berikan pada Arumi dan menggantinya dengan kenangan baru yang jauh lebih indah. Namun, ia juga tahu bahwa perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Akankah Arumi bisa menerima Ariya kembali jika ingatannya tentang perlakuan kasar suaminya di masa lalu tiba-tiba muncul kembali?
***
Terus dukung Author ya jangan lupa berikan Bintang 🌟 Like 👍🏻 Vote ♥️ dan Hadiahnya 🎁 biar Author semakin semangat updatenya oke 😉
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra