NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Kursi kosong disebelahmu

Suara Bu Sinta yang sedang menjelaskan rumus di depan kelas terdengar seperti dengungan jauh di telinga Aluna. Fokusnya telah tercurah sepenuhnya pada buku catatan milik Bara yang tergeletak di bawah meja. Setiap kata dalam puisi yang ia baca tadi seolah masih berdenyut, meninggalkan rasa perih yang tak kunjung reda.

​Aluna terus menatap buku itu, jemarinya mengusap pinggiran kertas dengan perasaan kalut. Ia tidak sadar bahwa sejak tadi, ada sepasang mata yang terus memperhatikannya dari belakang.

​Brian, yang merasa ada yang tidak beres dengan sikap Aluna, perlahan bangkit dari kursinya dan menghampiri meja gadis itu.

​"Luna, kamu kenapa? Kok seperti lagi banyak pikiran," bisik Brian lembut, mencoba memecah lamunan Aluna.

​Aluna tersentak. Dengan cepat ia menutup buku catatan Bara dan menyembunyikannya di balik buku paket. Ia mendongak, menatap Brian dengan wajah yang sedikit pucat. "Ah, nggak kok, Brian. Aku cuma lagi mikirin..."

​Ucapannya terhenti. Tenggorokannya terasa tercekat. Aluna tidak mungkin mengatakan kepada Brian bahwa ia sedang memikirkan Bara.

​"Kamu mikirin siapa?" tanya Brian lagi, matanya menyelidik.

​Aluna memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat hambar. "Em... aku mikirin kucing aku, tadi kayaknya belum aku kasih makan, hehe."

​Brian mengerutkan dahinya. Ia menatap Aluna lurus-lurus, merasa ada yang janggal.

Jawaban itu terdengar sangat tidak masuk akal mengingat betapa kosongnya tatapan mata Aluna sejak tadi pagi. Namun, Brian memilih untuk tidak mendesak lebih jauh.

​"Oh gitu, aku kira kenapa," sahut Brian pelan, meski keraguan masih jelas tertinggal di wajahnya.

​"Hehe..." Aluna hanya bisa meringis kaku, berusaha mengalihkan pandangannya kembali ke papan tulis.

​Namun, percakapan mereka ternyata tidak luput dari perhatian guru yang sedang mengajar. Bu Sinta menghentikan penjelasannya dan menatap tajam ke arah mereka berdua.

​"Brian, Aluna! Kalian kenapa malah asik mengobrol? Ibu lagi jelasin pelajaran hari ini lho, kalian malah ribut!" tegur Bu Sinta tegas.

​Aluna langsung menunduk dalam, wajahnya memerah karena malu sekaligus merasa bersalah. "Em, iya, maaf ya, Bu."

​"Ya sudah Brian, cepat kembali ke tempat duduk kamu!" perintah Bu Sinta tak terbantahkan.

​"Baik, Bu Sinta," jawab Brian singkat. Ia pun melangkah kembali ke kursinya, namun sempat menoleh sekali lagi ke arah Aluna yang kini kembali menatap kursi kosong di sebelahnya dengan tatapan yang jauh lebih hancur dari sebelumnya.

Sepanjang sisa pelajaran, Aluna tak ubahnya raga tanpa jiwa. Tangannya di bawah meja masih mencengkeram erat buku catatan Bara, sementara matanya tak sanggup berpaling dari bangku di sebelahnya yang kini terasa begitu dingin dan luas.

​"Bara, kamu ke mana? Kenapa kamu gak berangkat sekolah?" batinnya menjerit. Penyesalan semalam seperti duri yang tumbuh di dalam dadanya, makin lama makin menusuk.

​Teng... Teng... Teng...

​Suara bel istirahat berbunyi, memecah keheningan yang menyiksa. Aluna segera menyambar tasnya dan berlari menjauh dari kerumunan siswa. Ia butuh tempat untuk sendiri. Tujuannya adalah taman sekolah yang sepi, di bawah pohon rindang tempat mereka biasanya menghabiskan waktu bersama.

​Aluna duduk di bangku taman, napasnya sedikit terengah. Dengan tangan gemetar, ia membuka tasnya dan mengeluarkan bingkisan cokelat yang semalam sempat ia tolak dengan kasar. Ternyata, di dalam lipatan plastik bingkisan itu, ada selembar kertas kecil yang tersembunyi.

​Aluna membuka lipatan surat itu. Tulisan tangan Bara yang khas menyapa matanya.

​Aluna,

​Aku minta maaf ya kalau aku sudah bikin kamu sedih. Sungguh itu bukan niatku. Aku cuma kadang nggak pandai menjelaskan apa yang sebenarnya aku rasakan, jadi semuanya malah jadi salah.

​Oh iya, cokelatnya jangan lupa dimakan ya. Aku sengaja beliin cokelat ,yang enak banget, yang kayaknya belum pernah kamu coba. Semoga kamu suka.

​Sekali lagi, maaf ya.

​— Bara

​Air mata Aluna menetes tepat di atas nama Bara. Surat itu begitu sederhana, namun di balik kata-katanya, Aluna kini bisa merasakan ketulusan yang luar biasa.

​Aluna perlahan membuka bungkus cokelat itu. Ia mematahkan satu bagian kecil dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis yang lembut segera menyebar.

​"Em, enak banget cokelatnya... Bara memang pintar memilih cokelat," ujarnya lirih pada angin yang berhembus.

​Setiap kunyahan terasa seperti permintaan maaf yang terlambat. Cokelat ini memang enak, sangat enak, tapi rasanya tidak akan pernah lengkap tanpa kehadiran orang yang memberikannya. Aluna menatap sisa cokelat di tangannya, lalu menatap langit yang mulai mendung, sama seperti perasaannya saat ini.

​Ia tidak bisa hanya duduk diam dan menikmati cokelat ini sendirian. Ia harus melakukan sesuatu.

"Aku gak bisa diam aja," gumam Aluna sambil menghapus sisa air mata di pipinya. "Aku harus kasih Bara sesuatu agar dia senang. Aku gak mau dia salah paham lagi."

Sisa cokelat itu ia simpan dengan hati-hati ke dalam tas, seolah itu adalah harta paling berharga. Sepanjang sisa jam sekolah, pikiran Aluna sudah terbang jauh. Ia terus memikirkan Bara.dan hanya ingin menunjukkan pada Bara bahwa ia tidak membencinya.

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Aluna segera melesat. Ia tidak menunggu Brian. Kakinya membawanya ke sebuah toko aksesori di pusat kota. Di sana, matanya tertuju pada sepasang gelang couple dengan desain yang sangat sederhana namun elegan tali hitam dengan liontin kecil yang saling melengkapi.

"Ini pas banget buat Bara," bisiknya dengan senyum yang akhirnya kembali merekah. Gelang ini akan menjadi tanda bahwa ia sudah memaafkan segala sikap dingin Bara, sekaligus menjadi jembatan agar mereka bisa kembali seperti dulu.

Setelah membayar gelang itu, Aluna melangkah pulang dengan hati yang jauh lebih ringan. Kegembiraan menyelimutinya, menggantikan awan mendung yang sejak pagi membayangi wajahnya. Sepanjang jalan di dalam angkutan umum, ia tak henti-hentinya membuka kotak kecil itu dan menatap gelang di dalamnya.

"Ah, bagus banget! Aku gak sabar buat kasih gelang ini sama Bara," ucapnya pelan, jarinya mengusap permukaan gelang itu dengan lembut.

Aluna membayangkan reaksi Bara saat menerima gelang ini. Mungkin laki-laki itu akan kembali bersikap dingin karena gengsi, atau mungkin ia akan tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa pun reaksinya, Aluna hanya ingin Bara tahu bahwa ia masih ada di sana, menunggu di tempat yang sama.

Namun, di balik kegembiraan Aluna, ia belum tahu bahwa di sebuah kamar yang tertutup rapat, Bara sedang berjuang melawan demam tinggi yang membuat kesadarannya naik turun, terus-menerus menyebut nama Aluna di tengah tidurnya yang gelisah.

Bersambung.....

Jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️ terimakasih 🙏 semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲 🤲 🤲 ♥️

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!