"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 - PERMAINAN MEMATIKAN
Dara menatap pistol di tangannya... berat, dingin, penuh dengan kematian. Di depannya Arkan yang tidak sadarkan diri. Regan yang berdarah dan merintih kesakitan. Di belakangnya Bos Rendra dan Victor dengan senjata teracung padanya.
"Waktu terus berjalan, Dok," kata Bos Rendra santai. "Aku hitung sampai sepuluh. Kalau kamu belum pilih, aku bunuh keduanya."
"Kamu tidak akan dapat apa-apa kalau aku bunuh mereka..."
"Aku dapat loyalitasmu. Orang yang sudah membunuh untuk seseorang akan terikat selamanya. Kamu tahu itu, Dara. Kamu pernah melihatnya di kelompok kami."
Itu benar. Dara pernah melihat orang yang dipaksa membunuh untuk pertama kali akan hancur mentalnya, dan jadi lebih mudah dikontrol.
"Satu..."
Dara menatap pistol itu. Otaknya berputar cepat mencari jalan keluar.
"Dua..."
Jam tangan sinyal sudah dihancurkan. Alat perekam sudah diinjak. Tim pengawal Arkan sedang bertarung dengan anak buah Bos Rendra.
"Tiga..."
Tidak ada bantuan yang akan datang. Tidak ada keajaiban.
"Empat..."
Hanya ada satu cara bermain lebih pintar dari Bos Rendra.
"Lima..."
Dara mengangkat pistol, mengarahkannya ke Regan.
Regan membuka matanya yang sempat tertutup, menatap Dara dengan tatapan penuh kepercayaan. Seolah berkata: Aku percaya padamu. Lakukan apa yang harus dilakukan.
"Enam..."
Dara menarik napas panjang. Tangannya tidak gemetar lagi, kali ini stabil, seperti saat dia memegang pisau bedah dulu.
"Tujuh..."
Dia menatap Victor yang berdiri paling dekat dengan Regan sekitar dua meter.
"Delapan..."
Menghitung jarak. Menghitung sudut. Mengingat pelajaran anatomi.
"Sembilan..."
Maafkan aku, Regan. Ini akan sakit.
"SE..."
Dara menembak.
Tapi bukan ke Regan.
Dia menembak tali yang mengikat tangan Regan, peluru menembus tepat di tengah ikatan, memutuskannya.
Dalam waktu yang sama Dara melempar pistol keras ke wajah Victor, mengenai hidungnya dengan bunyi patah yang memuaskan.
Victor terhuyung, pistolnya jatuh.
Regan, meski kakinya terluka refleks meraih pistol Victor yang jatuh.
Dara sudah berlari bukan menjauh, tapi mendekat ke Bos Rendra, menggunakan perutnya yang besar sebagai perisai.
Dia tidak akan tembak ibu hamil. Terlalu berisiko.
Tebakan yang benar. Bos Rendra ragu sedetik dan sedetik itu cukup.
Dara menyikut wajahnya keras, tepat di rahang. Bos Rendra tersandung.
"REGAN! TEMBAK LAMPU!"
Regan menembak lampu besar di atas, meledak... Gudang kembali gelap.
Kekacauan meledak.
Dara merangkak cepat ke arah Arkan, mengabaikan nyeri di perutnya yang mulai kram. Tangannya menemukan tubuh Arkan, menyeret kepalanya ke pangkuannya.
"Arkan! Arkan, bangun!"
Arkan mengerang perlahan membuka mata. "Ki... ara..."
"Diam. Jangan bergerak. Aku akan keluarkan kita dari sini."
Tembakan berapi di kegelapan, peluru melintasi udara, mengenai dinding besi dengan bunyi keras.
"NYALAKAN LAMPU, BODOH!" teriak Bos Rendra.
Senter menyala menerangi gudang yang sekarang seperti medan perang. Debu beterbangan, asap dari tembakan, darah di lantai.
Dara melihat pintu darurat di sudut sekitar sepuluh meter dari posisinya.
Terlalu jauh.
"Regan! Tutup aku!"
Regan meski kakinya berdarah... bangkit. Menembak ke arah anak buah Bos Rendra yang mendekat, memaksa mereka berlindung.
Dara menyeret Arkan, setiap gerakan terasa seperti memindahkan gunung. Perutnya semakin kram, ada yang hangat mengalir di pahanya.
Tidak. Tidak sekarang. Kumohon jangan sekarang.
Tapi dia tahu... ini kontraksi. Stres ekstrem memicu persalinan prematur.
Lima meter lagi ke pintu.
Victor, hidungnya berdarah... bangkit, menodongkan pistol cadangan ke arah Dara.
"MATI KAMU..."
DOR!
Tapi yang jatuh bukan Dara.
Victor jatuh, peluru menembus bahunya dari samping.
Dari pintu darurat Nyonya Devi berdiri dengan pistol di tangan, wajah keras penuh tekad.
"JANGAN BERANI SENTUH MENANTUKU!" teriaknya.
Nyonya Devi?!
Wanita itu berlari masuk, menembak dua kali lagi, melukai kaki dua anak buah yang mendekat.
"Ayo! Keluar sekarang!" dia membantu menyeret Arkan.
Mereka berempat... Dara, Arkan, Regan yang pincang, dan Nyonya Devi berlari keluar pintu darurat.
Di luar, mobil sudah standby. Supir keluarga Adisaputra, Pak Hadi berdiri dengan pistol di tangan.
"Cepat masuk, Nyonya!"
Mereka berempat masuk mobil, Pak Hadi langsung menginjak gas.
Di belakang tembakan masih terdengar, tapi semakin jauh.
Dara merosot di kursi.. napasnya tersengal, tangannya memegang perut yang terasa diremas.
"Kiara, kamu berdarah..." Nyonya Devi menatap horror celana Dara yang basah darah.
"Aku... aku pikir aku akan melahirkan..."
"SEKARANG?!"
"Stres... memicu kontraksi..." Dara menggigit bibirnya menahan rasa sakit. "Ke rumah sakit... cepat..."
Pak Hadi menginjak gas lebih dalam.
Arkan yang sudah agak sadar, memegang tangan Dara. "Bertahan... kumohon bertahan..."
"Aku... akan bertahan... tapi bayinya..." Dara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Masih terlalu awal... dia belum siap..."
Nyonya Devi menelpon seseorang. "Dr. Sinta? Ini darurat. Kiara akan melahirkan. Prematur. Tujuh bulan. Kami dalam perjalanan ke rumah sakit, siapkan semuanya!"
Regan yang bersandar dengan kaki berlumuran darah menatap Dara. "Kak... maaf... ini salahku..."
"Bukan... salahmu..." Dara tersenyum lemah. "Kamu... sudah bagus... tembakan yang akurat..."
"Aku belajar dari yang terbaik."
Mobil meluncur di jalanan Jakarta malam melewati lampu merah, membunyikan klakson keras, tidak peduli aturan lalu lintas.
Di dalam mobil Dara merasakan kontraksi semakin kuat, semakin sering. Dia menatap keluar jendela langit Jakarta yang penuh polusi, lampu-lampu kota yang berkelap-kelip.
Aku sudah pernah mati sekali. Aku tidak takut mati lagi. Tapi kumohon selamatkan anakku.
Kumohon...
"KITA SAMPAI!" teriak Pak Hadi.
Rumah sakit sudah siaga, Dr. Sinta dan timnya berlari dengan brankar.
Dara dipindahkan dengan cepat tapi hati-hati.
"Pembukaan sudah lima," kata Dr. Sinta setelah pemeriksaan cepat. "Kita harus ke ruang operasi sekarang. Ini caesar darurat."
"Tapi... bayinya masih tujuh bulan..."
"Dia akan lahir malam ini, mau tidak mau. Yang bisa kita lakukan adalah pastikan proses seaman mungkin." Dr. Sinta menatapnya. "Nyonya Kiara, saya butuh kamu tenang. Bisa?"
Dara menatap langit-langit rumah sakit yang bergerak cepat saat brankar didorong.
Tenang?
Setelah hampir dibunuh, setelah dipaksa memilih siapa yang mati, setelah kabur dari kelompok mafia, sekarang harus melahirkan prematur?
Tapi kemudian tangannya digenggam... Arkan di sebelahnya, wajah babak belur tapi mata penuh tekad.
"Aku di sini. Aku tidak akan pergi kemana-mana."
Dara mengangguk lemah.
"Aku... takut..."
"Aku juga. Tapi kita hadapi bersama."
Pintu ruang operasi terbuka. Cahaya putih menyilaukan menyambut. Dan Dara, dokter mafia yang pernah melihat ratusan operasi, yang pernah membedah puluhan tubuh.
Untuk pertama kalinya menjadi pasien di meja operasi.
Ironi yang menyakitkan.
Tapi juga...
Harapan yang rapuh.
"Kumohon, bayiku. Bertahanlah."
lupita namanya siapa ya