"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - PENGKHIANAT DARI DALAM
Seminggu kemudian, Dara mulai mengeksekusi rencananya. Regan berhasil mendapatkan salinan penelitian Salma dari kontak di kepolisian, dokumen yang disita saat penangkapan. Arkan mengatur pertemuan dengan tiga profesor dari Universitas Indonesia yaitu ahli neurologi, psikologi, dan etika medis.
Tapi saat mereka berkumpul di ruang kerja rumah Adisaputra untuk mendiskusikan penelitian Salma,
Pintu terbuka.
Seorang wanita muda masuk... sekretaris baru yang baru bekerja seminggu, direkrut oleh Nyonya Devi untuk membantu administrasi keluarga.
Namanya Dira.
"Permisi, Nyonya Kiara. Ada tamu yang ingin bertemu."
"Tamu? Siapa? Aku tidak ada janji..."
Dira tersenyum, senyum yang tiba-tiba terasa asing, dingin.
"Tamu dari masa lalu Nyonya."
Dara langsung waspada. "Regan..."
Tapi sudah terlambat.
Dira mengeluarkan pistol dari balik clipboard, mengarahkannya ke kepala Arkan yang paling dekat dengannya.
"JANGAN BERGERAK!" teriaknya.
Semua orang membeku.
"Dira, apa yang kamu lakukan..." Nyonya Devi yang baru masuk langsung terhenti di pintu.
"Tutup pintunya, Nyonya. Dan duduk. Sekarang."
Nyonya Devi menurut, wajahnya pucat.
Dira atau siapapun dia sebenarnya, menatap sekeliling ruangan dengan pistol masih teracung.
"Semuanya duduk. Tangan di atas meja. Kalau ada yang coba apa-apa, aku tembak Tuan Arkan duluan."
Dara, Regan, dan tiga profesor duduk perlahan... tangan di atas meja.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Dara dengan suara tenang... terlalu tenang.
"Namaku bukan Dira. Aku Rani. Asisten penelitian Salma." Wanita itu tersenyum bangga. "Aku yang bantu dia dengan semua eksperimen reinkarnasi. Aku yang dokumentasikan prosesnya. Dan aku yang akan lanjutkan penelitiannya sekarang, dengan atau tanpa dia."
"Kamu yang menyelipkan dirimu di keluarga ini..."
"Tentu saja. Salma minta aku masuk ke rumah kalian. Mengawasi. Melaporkan. Dan kalau perlu..." dia mengarahkan pistol ke Dara, "...menghilangkan ancaman."
Dara menatapnya tanpa berkedip. "Kamu mau bunuh aku?"
"Tidak di sini. Terlalu berantakan." Rani melirik dokumen penelitian yang terbuka di meja. "Tapi aku akan ambil semua dokumen itu. Dan aku akan pastikan kalian semua tidak akan menghalangi penelitian Salma."
"Penelitian Salma itu gila..."
"Penelitian Salma adalah terobosan! Dia menemukan cara untuk mengalahkan kematian! Untuk hidup selamanya!" Rani berteriak dengan mata berapi... fanatik. "Dan kalian... kalian semua tidak mengerti betapa bersejarahnya ini!"
"Dia membunuh orang untuk eksperimennya..."
"Pengorbanan yang perlu! Semua penemuan besar butuh pengorbanan!"
Dara menyadari, Rani bukan cuma asisten. Dia percaya sepenuhnya pada visi gila Salma. Dia tidak bisa dinegosiasi.
Dia harus bertindak.
"Baiklah," kata Dara. "Ambil dokumennya. Kami tidak akan halangi."
"Kiara..." Arkan menatapnya shock.
"Diam." Dara menatap Rani. "Tapi sebelum kamu ambil, aku mau kamu tahu satu hal."
"Apa?"
"Penelitian Salma salah. Secara fundamental salah."
Rani tertawa. "Kamu bukti hidup bahwa penelitiannya benar! Kamu Dara yang reinkarnasi di tubuh Kiara!"
"Aku bukan bukti. Aku anomali." Dara berdiri perlahan, mengabaikan pistol yang teracung padanya. "Salma pikir dia yang menyebabkan reinkarnasiku. Tapi dia salah. Reinkarnasi terjadi karena..." dia berhenti, mencari kata yang tepat, "...karena alasan yang bahkan Salma tidak mengerti. Bukan karena ritual. Bukan karena eksperimen. Tapi karena ada yang lebih besar dari sains."
"Kamu bicara omong kosong..."
"Kalau aku omong kosong, kenapa dari puluhan percobaan Salma, cuma aku yang berhasil? Kenapa subjek lainnya mati semua?" Dara melangkah maju, setiap langkah diperhitungkan. "Karena apa yang terjadi padaku bukan karena Salma. Itu kebetulan. Atau takdir. Atau apapun namanya. Dan Salma terlalu arogan untuk mengakuinya."
Rani mulai terlihat ragu. "Tapi... tapi dia bilang..."
"Dia bohong. Pada dirinya sendiri. Pada kamu. Pada semua orang." Dara sekarang hanya dua meter dari Rani. "Dan kalau kamu lanjutkan penelitian ini, kamu akan bunuh lebih banyak orang tidak bersalah. Untuk apa? Untuk mimpi yang tidak akan pernah jadi kenyataan?"
"BERHENTI!" Rani mengacungkan pistol lebih tinggi. "JANGAN MENDEKAT!"
Tapi Dara tidak berhenti. "Tembak aku kalau kamu mau. Tapi itu tidak akan buktikan Salma benar. Itu cuma akan buktikan kamu pembunuh."
Rani bergetar... pistol di tangannya tidak stabil lagi.
"Aku... aku harus..."
Regan memanfaatkan momen itu, melompat dari samping, menyapu kaki Rani.
Rani jatuh... pistol terlempar.
Arkan langsung mengamankan pistol.
Dara menindih Rani, lututnya di punggung wanita itu, tangan menekan kepalanya ke lantai.
"Ini selesai," katanya dingin.
Rani menangis bukan tangis sedih, tapi tangis frustrasi. "Kamu tidak mengerti... Salma jenius... dia akan mengubah dunia..."
"Dia tidak jenius. Dia gila. Dan kamu..." Dara menarik tangan Rani ke belakang, mengikatnya dengan ikat kabel yang dilempar Regan, "...kamu korbannya. Seperti aku dulu."
Polisi datang sepuluh menit kemudian, dipanggil oleh Nyonya Devi yang diam-diam mengirim pesan saat Rani tidak memperhatikan.
Rani dibawa pergi, masih berteriak tentang visi Salma, tentang penelitian yang akan mengubah dunia.
Setelah polisi pergi, Dara merosot di sofa... tubuhnya gemetar karena adrenalin yang baru surut.
"Kiara, kamu gila atau bagaimana?!" Arkan memeluknya. "Kamu jalan ke arah pistol, kamu bisa mati!"
"Aku tahu dia tidak akan tembak."
"Bagaimana kamu bisa yakin?"
"Karena dia fanatik. Dia percaya pada penelitian Salma. Dan kalau dia bunuh aku, bukti hidup bahwa penelitian itu berhasil. Maka semua yang dia percayai akan runtuh." Dara menatap Arkan. "Aku bertaruh pada psikologi manusia. Dan aku menang."
Salah satu profesor... Prof. Hartono, ahli neurologi menatap Dara dengan kagum sekaligus ngeri.
"Nyonya Kiara... boleh saya tanya, apa yang Nyonya katakan pada wanita itu tadi benar? Bahwa reinkarnasi Nyonya bukan karena eksperimen Salma?"
Dara terdiam.
Apa aku benar-benar tahu?
"Sejujurnya aku tidak tahu," akunya. "Aku tidak tahu apakah Salma yang menyebabkan reinkarnasiku atau tidak. Yang aku tahu, apa yang dia lakukan itu salah. Membunuh orang untuk eksperimen itu salah. Dan aku harus hentikan dia sebelum lebih banyak orang mati."
Prof. Hartono mengangguk. "Saya akan bantu Nyonya. Kami bertiga..." dia melirik dua profesor lainnya, "...akan review penelitian Salma dan buat laporan ilmiah yang menunjukkan betapa berbahayanya penelitian ini. Laporan itu bisa digunakan untuk memperkuat kasus hukum melawan dia."
"Terima kasih, Profesor."
Setelah para profesor pergi, Dara duduk dengan Arkan dan Regan di ruang tamu. Kelelahan terlihat jelas di wajah mereka semua.
"Ini tidak akan pernah selesai, ya?" kata Regan pelan. "Salma akan terus kirim orang. Terus mencoba."
"Sampai kami menghentikannya secara permanen," jawab Dara.
"Bagaimana caranya?"
Dara menatap dokumen penelitian Salma yang masih terbuka di meja.
"Dengan menghancurkan kredibilitasnya. Dengan membuat dunia ilmiah menolak penelitiannya. Dengan membuatnya jadi tertawaan bukan jenius." Dara tersenyum tipis. "Ego Salma adalah kelemahannya. Kalau aku bisa hancurkan egonya, aku bisa hancurkan dia."
"Tapi dia masih di penjara..."
"Untuk sekarang. Tapi kamu dengar Arkan, ada kemungkinan dia keluar dalam enam bulan. Itu artinya aku punya waktu enam bulan untuk menyiapkan segalanya." Dara bangkit meski tubuhnya lelah, mata masih menyala dengan tekad. "Enam bulan untuk mengumpulkan bukti. Enam bulan untuk membangun kasus yang sempurna. Dan saat dia keluar, aku akan siap."
Arkan menatapnya dengan campuran kekhawatiran dan kebanggaan. "Kamu tidak akan pernah berhenti, ya?"
"Tidak bisa. Bukan hanya untuk aku, tapi untuk Kirana. Untuk keluarga ini. Untuk semua orang yang bisa jadi korban Salma berikutnya." Dara menatap keluar jendela langit Jakarta yang mulai gelap. "Salma membunuhku sekali. Aku tidak akan biarkan dia lakukan lagi. Tidak padaku. Tidak pada siapapun."
Di kamar bayi, Kirana mulai menangis minta makan. Dara berjalan ke sana mengangkat bayinya yang kecil tapi kuat.
"Mama janji, sayang," bisiknya sambil menggendong Kirana. "Mama akan buat dunia ini aman untukmu. Apapun yang terjadi."
Dan dalam pelukan itu...
Dara merasakan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya. Bukan tekad Dara dokter mafia. Tapi tekad seorang ibu. Dan tidak ada yang lebih berbahaya dari seorang ibu yang melindungi anaknya.
👻👻👻👻