"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takuuuut 29
"Surat dari kepolisian?"
Jelita berusaha untuk menyangkal bahwa memang benar itu surat adalah dari kantor polisi. Tapi kop surat yang diterimanya sangat jelas sekali bahwa itu surat dari sana.
Jelita mengusap wajahnya kasar. Dia pikir Arundari hanya berbohong soal melaporkan mereka ke kantor polisi. Jelita pikir, Arundari hanya menggertak dan langsung menceraikan Heri.
Akan tetapi surat pemanggilan yang sekarang ada di tangannya adalah sebuah hal yang nyata. Ini benar-benar surat pemanggilan dimana dia akan diperiksa sebagai saksi, tapi bisa berlanjut menjadi tersangka.
Jika sebelumnya Jelita masih sangat tenang, kini rasa takut menjalar dalam dirinya. Bahkan dia sampai jatuh terduduk di kursi.
"Mas, ini gimana Mas?" tanya Jelita dengan wajah pucat pasi. Ia sungguh ketakutan sekarang.
"A-aku juga nggak tahu. Yang jelas kita harus datang. Karena kalau nggak, kita bakalan dijemput paksa,"jawab Heri.
Tubuh Jelita bergidik ngeri. Membayangkan dirinya dijemput oleh polisi dan dimasukkan ke mobil putih bercorak garis biru itu, sudah sangat menakutkan dan memalukan.
"Nggak, aku nggak mau dijemput paksa. Lebih baik, lebih baik kita datang aja ke sana,"ucap Jelita.
"Sebaiknya juga kita pergi secara terpisah, Jelita. Aku akan datang lebih dulu, baru setelah itu kamu. Meski hanya terpaut beberapa menit, kita tetep nggak boleh datang secara bersamaan,"kata Heri.
Jelita mengangguk paham. Namun ketakutan sekarang sudah memenuhi dirinya. Jika tuntutan Arundari terlaksana, dan terbukti maka dia dan Heri benar-benar bisa mendekam di balik jeruji besi.
"Mas, aku takut. Aku nggak mau dipenjara. Ayo kita datang ke rumah Mbak Arundari buat narik tuntutannya,"ucap Jelita. Pupil matanya bergetar, wanita itu saat ini baru merasakan takut yang luar biasa.
"Nggak bisa, waktunya mepet. Kita lebih baik datangi kantor polisi dulu. Aku yakin Arundari juga ada di sana, kita bisa bicara dengan dia di sana besok,"jawab Heri. Meski berkata demikian, dia juga tidak yakin apakah Arundari akan datang atau tidak.
Heri mengusap wajahnya kasar. Sama halnya dengan Jelita, dia juga tidak menyangka bahwa Arundari akan menempuh jalur hukum. Dirinya pikir Arundari akan datang ke pengadilan agama untuk mengurus perceraian, tapi ternyata tidak demikian.
"Apa yang harus aku lakukan,"ucap pria itu lirih. Kebingungan memenuhi pikirannya. Masalah yang dimiliknya sekarang bertambah. Dan masalah ini adalah masalah yang paling besar serta berat.
Heri dan Jelita yang tengah ketakutan dan kebingungan setelah bersenang-senang, memiliki kondisi yang berbanding terbalik dengan orang yang menyeret mereka ke kantor polisi.
Orang tersebut saat ini malah sedang menikmati kopi bersama sang kuasa hukum.
Mirza berkunjung ke kediaman Arundari, ia memilih untuk berbicara di teras karena merasa tidak nyaman jika harus masuk ke rumah wanita yang tengah berada dalam proses hukum dengan sang mantan suami.
Meski Arundari sudah berkata bahwa di dalam rumah adah kedua orang tuanya, Mirza tetap memilih berada di luar.
"Jadi surat itu sudah diterima oleh mereka? Bagus, setelah pemeriksaan maka proses peradilan bisa dilaksanakan begitu kan, Pak Mirza?"
"Benar Nyonya, dan di sini Anda benar-benar tidak akan damai kan?"
Mirza berkata demikian untuk memastikan apa yang telah diputuskan kliennya ini tidak berubah.
"Iya, saya tidak akan berdamai. Mau apapun yang mereka katakan, saya tidak akan berdamai. Dan proses hukum ini harus tetap berlanjut sampai saya mendapatkan apa yang saya inginkan bagi mereka berdua."
Mirza menangguk paham. Itu pun yang dia inginkan. Dan jika demikian, maka prosesnya akan lebih mudah. Arundari bahkan tak perlu datang dan hanya diwakilkan Mirza saja sudah cukup.
"Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu Nyonya. Saya yakin dan berani jamin bahwa Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan,"ucap Mirza sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Terimakasih Pak Mirza,"jawab Arundari. Dia pun beranjak dari posisi duduknya, dan mengantarkan Mirza hingga masuk ke mobil.
Setelah pengacaranya itu pegi, Arundari menghembuskan nafasnya panjang. Dia melihat ke arah langit yang gelap karena mendung. Tapi kondisi hatinya tidak lah sama seperti langit yang dilihatnya. Saat ini Arundari sungguh sangat baik-baik saja. Dia benar-benar telah melepaskan semua perasaannya kepada Heri.
"Terimalah akibat dari pengkhianatan yang kamu berikan padaku, Heriawan. Aku nggak akan pernah mau damai sama kamu meski kamu berlutut di hadapanku. Tidak bagi pengkhianat yang sudah menyakiti seluruh hati dan perasaanku."
Arundari mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia kembali masuk ke rumah, dan dengan tersenyum lebar dirinya menemui kedua orang tuanya yang tengah duduk santai di ruang tengah.
"Gimana, lancar pembicaraannya dengan pengacaramu, Nak?" tanya Fikri kepada sang putri.
"Udah Bah, aman semua. Kata Pak Mirza, aku pun nggak perlu datang nggak masalah. Tapi nanti aku akan datang pas persidangan di mulai. Katanya prosesnya akan cepet kalau emang aku nggak pake upaya damai dengan mereka,"jawab Arundari sambil duduk di sisi Lintang.
"Alhamdulillah kalau begitu, Abah ikut seneng dengernya," sakit Fikri.
Haaah
Fikri dan Arundari langsung melihat ke arah Lintang secara bersamaan. Wanita paruh baya itu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Seolah ada beban berat dalam hatinya.
"Ummi kenapa? Ummi sakit?" tanya Arundari. Seketika dia menjadi khawatir dengan sang ibu. Ia takut jika ibunya sakit atau merasa tak nyaman dengan tubuhnya.
"Nggak, Ummi nggak sakit. Ummi nggak kenapa-napa. Ummi cuma masih nggak nyangka aja kalau nasib pernikahan kamu akan sependek ini. Ummi tahu ini semua sudah jadi qodar Allah, hanya saja tetep rasanya sedih. Kalau almarhum kakek dan nenekmu masih ada, mereka pasti akan sedih sekali,"jawab Lintang.
Ingatannya beberapa puluh tahun lalu muncul. Dia adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Dan Arundari merupakan cucu wanita satu-satunya karena pakde dari Arundari memiliki dua anak dimana adalah pria semua.
Saat Arundari lahir, Adam dan Ahsa yang merupakan kakek dan nenek Arundari dari Lintang sangat senang sekali. Tak hanya itu kakak lelaki lintang bersama istri dan kedua anaknya pun juga menyambut dengan sangat gembira.
Saat ini Arundari menghalangi Lintang dan Fikri untuk tidak memberitahu pakde dan kedua sepupunya yang berada di Semarang. Karena pasti akan ada kehebohan. Ia tak ingin situasinya jadi kacau.
"Sudahlah sayang, semua ini sudah terjadi. Kita berdoa saja semoga Arun nanti diberi jodoh yang lebih baik,"ucap Fikri.
Aamiin
Lintang dan Arundari menjawab secara bersamaan. Tapi dalam hati Arundari berkata lain. Saat ini masih terlalu dini baginya untuk membicarakan tentang jodoh baginya. Arundari saat ini memilih fokus menyelesaikan masalahnya dengan Heri dan Jelita. Lalu setelah itu, dia ingin bepergian meski masih sekitar dalam negeri saja.
TBC
Aku tunggu rencanamu Ady untuk ngerjain Jelita
jangan ngimpi bisa deketin Adyaksa, dia gak seperti si sampah Heri itu. kau emang cocoknya sama Heri 🤣