Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas, Masih Menunggu ?
Hari ini, Raka terbangun bukan karena alarm yang memekakkan telinga tapi terbangun karena rumah terlalu sunyi. Biasanya, sunyi adalah teman kini seperti selimut basah—mencekik, merayap masuk ke sela-sela tulang, membuatnya sulit bergerak.
Demam itu alasan tapi bukan penyakit karena
Penyakit adalah tidak ada alasan untuk bangun.
Raka mematikan ponsel sebelum sempat membaca pesan. Layar mati, kamar gelap, tirai tak pernah dibuka. Bau tubuhnya sendiri sudah asing—seperti orang lain tidur di sampingnya, lalu pergi tanpa pamit.
Di dapur, air galon kosong. Ia diam menatapnya lima menit, lalu kembali ke kamar.
Sup ayam beku di kulkas—masakan Maya, dari minggu lalu. Ia tidak menyentuhnya tidak lapar hanya lelah dengan rasa itu sendiri.
Di kamar, ia mengambil bantal Kinan menciumnya tidak ada apa-apa lagi selain debu dan ingatan yang mulai pudar.
"Nan," bisiknya. Hanya untuk mendengar suaranya sendiri. "Gue kangen."
Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding yang terus berjalan, seperti biasa, seolah hidup tak pernah berhenti meski Raka merasa dunianya berhenti tiga tahun lalu.
Ia memeluk bantal menutup mata. Dan hari pertama pun berlalu, tanpa ia sadari.
---
Raka tidak masuk kerja selama tiga hari.
Ia mengirim surel ke HRD—sakit, katanya. Demam. Pilek. Alasan yang bisa dicek, bisa dibantah, tapi tidak pernah dipertanyakan. Kantor memerlukannya, tapi tak cukup untuk mengirim orang melihat keadaan nyata.
Ponsel berdering terus, Laras, Maya, Dika. Ibunya. Ia matikan bukan untuk menghindar tapi memohon izin untuk bernapas.
---
Hari kedua, Laras datang membawa sup ayam, obat flu, dan payung hitam yang Raka pinjam—entah lupa kembalikan. Semua diletakkan di atas meja dengan rapi, seolah Laras tahu persis di mana segalanya berada.
"Kamu demam, Ra...katanya mengusap keningnya, " Panasnya tinggi banget, gue kompres ya."
"Ras... terimakasih banyak," katanya berusaha duduk di kepala tempat tidur
" Lo nggak jawab pesan, Gue khawatir."
"Gue baik-baik aja," jawabnya sembari tersenyum "Cuma butuh istirahat."
"Istirahat dari apa?" Laras menatap pintu kamar yang tertutup. "Dari kerjaan? Atau dari… dari kita kita semua.?"
Raka tidak menjawab. Itu jawaban pendek."
Gadis itu berdiri berjalan ke pintu kamar berhenti. Tangannya di kenop, tapi ia tidak berani membuka.
"Gue tahu lo bingung, Ra. Gue tahu… gue tahu gue datang di waktu yang salah. Tapi gue di sini sekarang. Dan gue nggak akan pergi kecuali lo minta."
"Gue nggak bisa minta lo pergi," kata Raka lemah. "Karena gue nggak tahu apa yang gue mau."
"Maka gue akan tunggu." Laras melepaskan tangan dari kenop. "Lagi seperti dulu sampai lo tahu."
Ia pergi, sup ayam ditinggal. Obat flu di meja. Payung hitam—yang pernah jadi saksi pertemuan mereka—dibawa pulang.
Raka keluar setelah Laras pergi melihat sup yang masih hangat, sesuatu yang lebih rumit, utang, utang perhatian, utang waktu dan hutang jawaban yang tak ia punya.
---
Hari ketiga, Maya datang tidak dengan sapu, menekan bel, menunggu, seperti tamu, orang asing.
Raka membuka pintu. Mukanya pucat, matanya merah, rambut berantakan bukannya demam tapi tidak tidur.
"Lo kelihatan buruk," kata Maya mengkritik dengan pengamatan.
"Gue baik-baik aja," jawabnya sama seperti ke Laras sama bohongnya.
"Bohong." Ia masuk, tidak diundang tapi juga tidak dilarang duduk di sofa, menatap Raka yang masih berdiri di ambang pintu. "Duduk, Ra. Gue nggak akan gigit."
Raka duduk jauh di ujung sofa seolah jarak bisa melindunginya dari panas dan orang orang yang mencintai dan perhatian lebih.
"Gue dengar lo nggak masuk kerja," kata Maya dalam. "Laras juga nggak tahu Lo kenapa, dia begitu khawatir."
"Lo ketemu Laras?"
"Kebetulan. Di warung kopi." Maya tersenyum tipis. "Dia cerita lo sakit membawa sup. Dia… dia baik, Ra beneran baik."
Raka menatapnya mencari sarkasme didalam kalimat, namun tidak ia temukan. "Lo nggak marah?"
"Marah kenapa?" Maya mengangkat bahunya pelan "Dia cinta lo. Dia nunjukin itu. Itu hak dia. Seperti gue punya hak untuk… untuk nggak nunjukin apa-apa lagi."
Raka tersentak, sesuatu jatuh di perut dan dadanya dingin dan panas
"Maksud lo?"
"Gue sudah katakan apa yang perlu gue ungkapkan" katanya tenang tanpa basa-basi. "Gue nggak akan ulang dan meminta. Gue di sini bukan untuk lo—tapi untuk gue. Karena gue khawatir sebagai seorang teman, sebagai… sebagai seseorang yang pernah menyayangi."
"Pernah?"
Maya menatapnya lurus tanpa air mata dan penyesalan.
"Sayang itu kata kerja, Ra. Bukan kata benda. Bukan sesuatu yang lo punya, disimpan, menjadi milik lo selamanya. Sayang itu… itu sesuatu yang lo lakukan. Dan gue… gue lelah melakukannya sendiri."
Raka menunduk menatap tangannya sendiri—kering, kurus, tangan orang yang sudah lama tidak memegang apa pun dengan sungguh-sungguh.
"Gue letih, May," bisiknya. "Gue capek bukan karena pekerjaan bukan karena lo, atau Laras, atau siapa pun. Gue capek… jadi diri gue sendiri nggak bisa move on, orang yang nggak bisa lupa terjebak dengan kenangan."
Maya tidak mendekat, tidak menggenggam tangannya hangat seperti dulu, menawarkan solusi."Gue tahu Lo terjebak di tempat yang sama, waktu yang sama, dengan orang yang sudah tidak ada."
"Dan gue… gue pernah berpikir, kalau gue cukup sabar, cukup baik, cukup mirip dia—lo akan lihat gue. Tapi gue salah, Ra. Lo nggak terjebak karena lo cinta dia. Lo terjebak karena lo takut."
"Takut apa?"
"Takut hidup." Maya berdiri bejalan ke arah pintu berhenti. "Seandainya lo move on, lo akan lupa. Dan lupa berarti mengkhianati. Kan? Tapi Ra… lupa itu nggak mengkhianati. Lupa itu… manusiawi. Yang mengkhianati adalah lo nggak hidup, sementara dia—dia sudah pergi."
Pintu terbuka. Angin masuk, membawa bau jalanan—asap, makanan, hidup.
"Gue nggak minta lo pilih gue," kata Maya lagi, " itu yang gue katakan berulang ulang, Gue juga nggak minta lo pilih Laras, tapi pilihan lo sendiri. Gue cuma… gue cuma minta lo pilih hidup apa pun bentuknya dengan siapa pun. Karena kalau lo nggak—" ia berhenti, menelan sesuatu yang keras. " lo akan kehilangan semuanya. Termasuk… termasuk kenangan tentang dia. Karena kenangan itu hidup bersama orang yang hidup, Ra. Bukan orang mati."
Ia pergi tanpa menoleh tanpa menunggu jawaban.
Raka duduk sendiri. Di sofa yang sama. Dengan sup ayam yang sudah dingin. Dengan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya.
---
Malam itu, Raka keluar rumah pertama kali dalam tiga hari walau pun kepalanya berat
Ia berjalan ke taman kota kosong. Lampu pijar redup, bangku-bangku ditinggali sampah. Ia duduk di tempat biasa—tempat Kinan berjualan, tempat mereka bertemu
"Nan," panggilnya lirih, "Gue bingung, capek. Gue… gue nggak tahu harus gimana."
Tidak ada jawaban bau mawar dan hembusan angin, hanya keheningan terasa seperti penolakan. Seolah Kinan—jika memang masih ada—sudah lelah, muak dengan ratapan yang sama.
"Maafkan Mas, Nan bisiknya sendu. "Maafkan mas selalu minta, nggak akan pernah… pernah cukup."
Ia tertidur di bangku taman dengan jaket tipis, langit kota yang tak pernah benar-benar gelap.
---
Pagi pagi sekali, security taman membangunkannya.
"Pak, nggak boleh tidur di sini, bahaya."
Raka mengangguk berusaha berdiri, tubuhnya pegal, kepala berat, tapi sesuatu—sesuatu yang sangat kecil, sangat samar—terasa berbeda.
Kosong.
Bukan kosong yang menakutkan tapi kosong yang… siap siap diisi. Dengan apa? ia belum tahu.
Di rumah, ponsel dinyalakan. Puluhan pesan. Dari Laras. Dari Maya. Dari ibunya yang khawatir. Dari Dika yang bertanya, "Lo mati atau ketemu bidadari?"
Ia mengetik satu pesan. Kirim ke grup—ya, ada grup kecil mereka bertiga, yang dibuat Dika sejak Kinan sakit, jarang aktif sejak Kinan tiada.
Raka: Maaf gue menghilang, gue baik baik aja atau sedang berusaha baik, sampai bertemu di kantoar hari Senin.
Laras menjawab pertama. Emoji hati. Kalimat panjang tentang sup ayam yang bisa dipanaskan ulang. Tawaran untuk menjemput.
Maya menjawab kedua hanya satu kata: Oke.
Tapi itu cukup untuk saat sekarang, cukup.
---
Di Ruang Tunggu, Kinan menatap jendela dengan tubuh yang hampir tak terlihat.
"Dia mulai bangun pelan-pelan"
"Karena kamu diam."
Kinan tersenyum lemah
"Bukan karena aku diam, Karena dia capek. Sama seperti aku seperti semua orang yang pernah mencinta terlalu dalam."
"Dan sekarang, apa yang akan kamu lakukan?"
Kinan menata suaminya di jalan, berjalan pulang lambat tidak yakin.
" Aku akan tunggu, sampai mas Raka benar-benar hidup meski tanpa aku."
Wanita itu mengangguk perlahan seakan memberi restu pada kegilaan yang paling mulia.
---
mampir 🤭