NovelToon NovelToon
Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.

Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Layvin Aditama - Asisten yang Perhatian

Hujan turun deras sejak tadi sore.

Naura berdiri di halte bus dengan badan basah kuyup. Payung yang dia bawa ternyata jebol. Entah sejak kapan. Yang jelas sekarang dia basah dari kepala sampai kaki.

Dingin.

Sangat dingin sampai giginya gemeretak.

Jam delapan malam tapi jalanan masih ramai. Mobil mobil berlalu lalang dengan lampu menyilaukan. Air hujan memantul dari aspal. Bunyi klakson di mana mana. Jakarta seperti biasa. Tidak pernah tidur.

Naura memeluk dirinya sendiri. Mencoba cari kehangatan dari tubuhnya sendiri yang sudah dingin.

Seharusnya dia telepon sopir keluarga Erlangga untuk jemput. Tapi Naura tidak mau. Tidak mau merepotkan. Lagipula naik bus lebih... lebih seperti Naura yang dulu. Naura yang biasa. Bukan Nyonya Erlangga yang hidup di mansion megah.

Bus yang Naura tunggu belum datang juga.

Sudah tiga puluh menit dia berdiri di sini.

Kaki mulai pegal. Badan makin dingin. Kepala mulai pusing.

Mungkin Naura akan sakit besok.

Tapi tidak apa apa.

Setidaknya ibu sudah selamat. Itu yang penting.

Tiba tiba ada mobil berhenti tepat di depan halte.

Mobil hitam mengkilap. Mewah. Bukan mobil biasa.

Naura tidak peduli. Mungkin orang kaya yang berhenti sebentar untuk telepon atau apa.

Tapi jendela mobil terbuka.

Dan wajah yang familiar muncul dari dalam.

"Nyonya Naura?"

Naura menoleh kaget.

Layvin.

Layvin Aditama.

Asisten pribadi Nathan yang pernah Naura lihat beberapa kali di mansion. Pria tinggi dengan wajah tampan tapi lembut. Tidak seperti Nathan yang dingin. Layvin punya senyum hangat dan mata yang ramah.

"Layvin?" Naura tidak percaya. "Kenapa kamu ada di sini?"

Layvin keluar dari mobil dengan payung. Dia berlari ke arah Naura dan langsung membuka payung di atas kepala Naura meski Naura sudah basah semua.

"Pertanyaannya kenapa Nyonya ada di sini? Kenapa tidak telepon supir untuk jemput?" suara Layvin terdengar khawatir. Bukan menyalahkan. Tapi khawatir tulus.

"Aku... aku habis dari rumah sakit... tidak mau merepotkan..."

Layvin menatap Naura dari atas ke bawah. Melihat badan Naura yang basah. Baju yang lengket di kulit. Rambut yang menetes air. Wajah yang pucat.

"Nyonya akan sakit kalau pulang seperti ini. Ayo naik. Saya antar"

"Tidak usah Layvin... aku bisa naik bus..."

"Nyonya Erlangga tidak seharusnya pulang dengan cara seperti ini"

Ada sesuatu di nada bicara Layvin. Sesuatu yang membuat Naura tidak bisa menolak. Bukan karena dia paksa. Tapi karena dia... peduli? Seperti benar benar peduli sama Naura?

Naura akhirnya mengangguk pelan.

Layvin membukakan pintu belakang. Naura masuk dengan canggung. Duduknya di ujung kursi. Takut baju basahnya mengotori jok mobil yang bersih.

Tapi Layvin langsung ambil selimut dari bagasi dan berikan ke Naura. "Pakai ini Nyonya. Biar tidak kedinginan"

Naura menerima selimut itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih..."

Layvin naik ke kursi depan dan menyalakan penghangat mobil. Suhu di dalam mobil langsung hangat. Naura merasa seperti dibungkus kehangatan setelah berjam jam di udara dingin.

Mobil melaju pelan. Layvin tidak ngebut. Hati hati karena jalan licin.

"Nyonya dari rumah sakit?" Layvin bertanya sambil sesekali melirik dari kaca spion.

"Iya... ibu baru selesai operasi..."

"Operasi jantung kan?"

Naura kaget. "Kamu tahu?"

Layvin tersenyum tipis. "Saya asisten Tuan Nathan. Saya tahu semua tentang keluarga Erlangga. Termasuk keluarga Nyonya"

Oh.

Berarti Layvin juga tahu Naura nikah kontrak?

Berarti Layvin juga tahu Naura cuma istri bayaran?

Naura menunduk. Malu tiba tiba.

"Operasinya sukses?" Layvin bertanya lagi. Suaranya lembut. Tidak menghakimi. Tidak meremehkan.

"Iya... sukses... ibu selamat..."

"Alhamdulillah. Pasti Nyonya lega sekali"

Naura mengangguk. Air matanya tiba tiba mau keluar lagi. Entah kenapa kalau ada yang bersikap baik, Naura jadi gampang nangis.

"Nyonya sendirian di rumah sakit?"

Naura mengangguk lagi.

Layvin diam sebentar. Tangannya menggenggam setir lebih erat. "Tuan Nathan tidak menemani?"

"Dia... dia sibuk..."

Sibuk.

Alasan yang selalu Naura pakai untuk belain Nathan meski Nathan memang tidak peduli.

Layvin tidak bilang apa apa lagi. Tapi Naura bisa merasakan ada sesuatu di keheningan itu. Seperti Layvin tahu kebenaran tapi tidak mau bilang.

"Nyonya pasti capek. Istirahat saja. Masih sepuluh menit lagi sampai rumah"

Naura memejamkan mata. Kepalanya bersandar di jendela. Bunyi hujan di luar terdengar menenangkan. Bunyi mesin mobil halus. Kehangatan dari penghangat membuat tubuhnya rileks.

Tanpa sadar Naura tertidur.

Tertidur dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya.

Tertidur dengan wajah yang terlihat damai untuk pertama kalinya sejak lama.

***

"Nyonya... Nyonya Naura... kita sudah sampai..."

Suara lembut membangunkan Naura.

Dia membuka mata perlahan. Bingung sebentar. Di mana dia? Oh iya. Di mobil Layvin.

Naura langsung bangkit. "Maaf... maaf aku ketiduran..."

"Tidak apa apa Nyonya. Nyonya pasti sangat lelah"

Naura melihat ke luar jendela. Mereka sudah sampai di depan gerbang mansion Erlangga. Hujan masih turun tapi tidak sederas tadi.

"Terima kasih Layvin... terima kasih sudah antar aku pulang..."

Naura mau turun tapi Layvin lebih dulu keluar dan bukakan pintu untuk Naura. Bahkan buka payung lagi biar Naura tidak kehujanan.

"Hati hati Nyonya"

Naura turun dengan kaki yang masih lemas. Layvin jalan di sampingnya sambil pegang payung. Mereka berdua berjalan ke pintu depan mansion.

Di teras, Naura berhenti dan menatap Layvin.

Pria ini... pria yang baru Naura kenal beberapa kali ini... lebih peduli dari suami Naura sendiri.

Lebih perhatian dari Nathan yang bahkan tidak mau datang ke rumah sakit.

"Layvin..." suara Naura pelan. "Kenapa kamu baik banget sama aku?"

Layvin terdiam.

Hujan turun di belakangnya. Wajahnya terlihat sayu di bawah lampu teras.

"Karena Nyonya pantas diperlakukan dengan baik"

Kata kata sederhana itu membuat dada Naura sesak.

Pantas diperlakukan dengan baik.

Tapi kenapa suaminya sendiri tidak memperlakukan Naura dengan baik?

Kenapa orang asing lebih peduli dari orang yang seharusnya mencintainya?

Air mata Naura jatuh.

Tapi kali ini bukan air mata sedih.

Air mata terharu.

"Terima kasih Layvin... terima kasih banyak..."

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah...

Naura tersenyum.

Tersenyum tulus.

Senyum yang sampai ke mata.

Senyum yang membuat wajahnya terlihat hidup.

Layvin membalas senyum itu.

Senyum lembut yang membuat matanya menyipit sedikit.

"Sama sama Nyonya. Kalau Nyonya butuh apa apa, jangan ragu telepon saya. Ini kartu nama saya"

Layvin memberikan sebuah kartu nama. Naura menerimanya dengan hati hati. Seperti menerima sesuatu yang berharga.

"Sekarang masuk ya Nyonya. Ganti baju yang kering. Minum air hangat. Istirahat. Besok harus ke rumah sakit lagi kan?"

Naura mengangguk. "Iya... mau jenguk ibu pagi pagi..."

"Kalau mau, saya bisa antar Nyonya besok"

"Tidak usah Layvin... kamu pasti sibuk..."

"Tidak sibuk kok. Besok Tuan Nathan ada meeting seharian jadi saya agak luang"

Tuan Nathan.

Mendengar nama itu membuat senyum Naura sedikit memudar.

"Oke... kalau tidak merepotkan..."

"Tidak merepotkan sama sekali"

Mereka berdiri di sana beberapa detik dalam keheningan.

Hujan masih turun.

Angin sepoi sepoi.

Ada sesuatu di udara. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang membuat Naura tidak mau masuk ke dalam rumah yang dingin itu.

Tapi akhirnya Naura melangkah mundur. "Aku masuk dulu ya. Hati hati di jalan Layvin"

"Iya Nyonya. Selamat istirahat"

Naura masuk ke mansion.

Pintunya ditutup pelan.

Layvin masih berdiri di luar.

Di bawah payung dengan hujan turun di sekelilingnya.

Dia menatap pintu yang baru saja ditutup Naura.

Senyumnya perlahan memudar.

Berubah jadi tatapan sendu.

Tatapan yang penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dia ucapkan.

Kenapa?

Kenapa wanita sebaik Naura harus menderita di tangan Nathan?

Kenapa wanita yang tulus seperti dia harus hidup tanpa cinta?

Kenapa wanita yang rapuh seperti dia harus kuat sendirian?

Layvin sudah kenal Nathan bertahun tahun.

Sudah jadi asisten pribadi Nathan hampir lima tahun.

Dia tahu Nathan itu pria baik. Pekerja keras. Cerdas. Bertanggung jawab.

Tapi untuk urusan hati?

Nathan dingin.

Tertutup.

Masih terikat pada masa lalu.

Masih mencintai Mahira yang meninggalkannya lima tahun lalu.

Dan Naura?

Naura jadi korban.

Korban cinta yang tidak pernah dia minta.

Korban pernikahan yang tidak pernah dia inginkan.

Korban takdir yang kejam.

Layvin mengepalkan tangan.

Dia tidak seharusnya peduli.

Naura istri bosnya.

Naura bukan siapa siapa untuk Layvin.

Tapi entah kenapa...

Entah kenapa setiap kali Layvin lihat Naura tersenyum sedih...

Setiap kali dia lihat Naura menangis sendirian...

Setiap kali dia lihat Naura berjuang sendiri...

Ada sesuatu di dada Layvin yang sakit.

Sesuatu yang membuat dia ingin melindungi Naura.

Ingin membuat Naura tersenyum.

Ingin membuat Naura bahagia.

Tapi dia tidak bisa.

Karena Naura istri Nathan.

Karena Layvin cuma asisten.

Karena Layvin tidak punya hak.

Layvin berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya.

Hujan membasahi bahunya karena payung tidak dia pegang dengan benar.

Tapi dia tidak peduli.

Yang dia pedulikan hanya satu.

Naura.

Wanita yang membuat hatinya bergetar untuk pertama kalinya sejak lama.

Wanita yang tidak boleh dia cintai.

Wanita yang tidak akan pernah jadi miliknya.

Layvin masuk ke mobil dan menatap mansion Erlangga dari kaca depan.

Rumah besar itu terlihat megah dengan lampu lampu yang menyala.

Tapi Layvin tahu di balik kemegahan itu ada kesepian.

Ada air mata.

Ada wanita yang menangis sendirian di kamar.

Wanita bernama Naura.

Dan Layvin hanya bisa duduk di sini.

Di luar gerbang.

Menatap dari jauh.

Tanpa bisa berbuat apa apa.

Mobil perlahan melaju meninggalkan mansion.

Meninggalkan Naura yang sekarang sedang berdiri di jendela kamarnya.

Menatap mobil Layvin yang menjauh.

Dengan senyum tipis masih tersisa di bibirnya.

Senyum yang akan hilang begitu dia lihat kamar Nathan yang gelap.

Begitu dia sadar suaminya bahkan tidak peduli dia pulang atau tidak.

Begitu realita kembali menghantam.

Tapi untuk malam ini...

Setidaknya untuk beberapa jam ini...

Naura punya kenangan hangat.

Kenangan tentang seseorang yang peduli.

Seseorang yang memperlakukannya dengan baik.

Seseorang bernama Layvin Aditama.

Dan di hatinya yang sudah lama mati rasa...

Ada sesuatu yang bergetar kecil.

Sesuatu yang berbahaya.

Sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Sesuatu yang bernama harapan.

1
Masitoh Masitoh
semoga Naura baik2 saja..pergi mulakan hidup baru..buat nathan menyesal
Leoruna: jangan bertahan dengan laki2 seperti Nathan ya kak🤭
total 1 replies
kalea rizuky
pergi jauh naura
Esma Sihombing
cerita kehidupan yg sangat menarik
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
pergi aza Naura untuk menjaga kewarasan mu,dan bayi mu, buat Nathan menyesal
kalea rizuky
minta cerai aja dan pergi jauh biarkan penghianat bersatu nanti jg karma Tuhan yg berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!