Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 33
"Ayah, Bunda mana?"
Makan malam sudah selesai, tapi Mutiara masih ingin mengobrol dengan ibunya. Saat dia melewati ruang keluarga, dia melihat Anjar yang sedang duduk sambil bermain dengan ponselnya.
"Bunda lagi ngaji yasin, setelah maghrib tak sempat karena menyiapkan makan malam untuk kamu."
Cia begitu antusias, selepas maghrib dia langsung menyiapkan semua makanan yang disukai oleh putrinya itu. Dia bahkan menyiapkan bahan sendiri dan memasaknya sendiri.
Abidzar juga ikut membantu, pria yang terkenal malas itu mendadak rajin jika bersangkutan dengan Mutiara. Abidzar bahkan membelikan lemari lengkap dengan boneka Barbie dan menyimpannya di kamar Mutiara.
"Ngaji yasin itu biar apa?" tanya Mutiara sambil duduk tepat di samping ayahnya.
"Ini kan' malam Jumat. Umat muslim itu biasanya kalau malam Jumat suka memberikan hadiah kepada orang-orang yang sudah meninggal. Contohnya seperti mengaji Yasin."
"Biar apa, Yah?"
"Biar kuburan orang-orang yang sudah meninggal terlebih dahulu dari kita tetap terang benderang," jawab Anjar.
Mutiara tiba-tiba saja merasa penasaran dengan yang namanya mengaji Yasin itu seperti apa, dia ingin melihat dan juga ingin mendengarnya.
"Oh gitu, apa Tiara boleh melihat bunda yang sedang mengaji?"
Anjar tersenyum lebar dengan apa yang diinginkan oleh putrinya itu, justru kalau bisa Mutiara itu memang harus melihat bagaimana umat muslim mengaji atau melakukan kewajiban terhadap Sang Khalik.
Agar hatinya tergerak untuk masuk agama yang sama dengan dirinya, walaupun dia tak bisa melakukannya secara paksa.
"Boleh.Tentu saja boleh."
Anjar langsung berjongkok, Mutiara merasa bingung. Anjar menepuk pundaknya, kini dia paham kalau ayahnya ingin menggendong dirinya.
"Ayah mau gendong Tiara?"
"Ya," jawab Anjar.
"Tapi Tiara udah gede, berat. Nanti Ayah sakit pinggang."
"Tidak akan, Ayah cuma tua umurnya aja. Tapi, jiwanya tetap muda."
Mutiara tertawa, lalu dia naik ke punggung ayahnya. Anjar merasa senang sekali, walaupun Mutiara sudah dirasa lumayan berat, tetapi dia senang bisa memanjakan putrinya seperti itu.
Anjar merasa inilah saatnya untuk memanjakan putrinya, walaupun tidak bisa bebas karena Mutiara sudah memiliki suami, tetapi dia berjanji akan berusaha untuk tetap memanjakan Mutiara.
"Masuklah," ujar Anjar sambil menurunkan putrinya itu dari gendongannya.
Mutiara membuka pintu kamar ibunya dengan begitu perlahan, dia masuk ke dalam kamar itu dengan begitu hati-hati. Mutiara bisa melihat dengan jelas kalau ibunya sedang duduk sambil memakai mukena dan Mutiara bisa mendengar ibunya sedang melantunkan ayat suci Alquran.
Suara ibunya itu begitu merdu, bukan hanya terdengar indah di telinganya, tetapi sampai masuk ke dalam lubuk hatinya. Ada getaran aneh yang membuat dia tenang sekali.
Cia yang sedang serius mengaji Yasin tidak menyadari kedatangan putrinya, dia terus khusyuk mengaji, hingga beberapa saat kemudian dia pun sudah selesai mengaji dan menolehkan wajahnya ke arah Mutiara.
"Loh, Sayang. Sejak kapan kamu ada di dalam kamar Bunda?"
Mutiara tidak langsung menjawab, dia malah langsung mendekat ke arah Ibunya dan memeluk ibunya tersebut. Dia merasa senang sekali karena bisa mendapatkan kasih sayang ibunya.
Mutiara terlihat sangat manja, dia bahkan langsung tidur di pangkuan ibunya. Cia dengan cepat mengusap puncak kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Sejak tadi, apa yang Bunda baca? Kenapa terasa menyejukkan hati?"
"Bunda membaca Al-Quran," jawab Cia sambil tersenyum.
"Sangat enak didengar, kaya ada air yang disiram ke dalam hati. Kalau Tiara belajar membaca Al-Quran, apa boleh?"
"Masuk Islam dulu, baru Bunda ajarkan."
Mutiara mengerucutkan bibirnya. "Lalu, bagaimana dengan suamiku? Memangnya boleh wanita muslim menikah dengan laki-laki non muslim?"
"Bunda berharap kalian bisa masuk agama yang sama dengan Bunda, biar kita semuanya seiman. Tapi, Bunda tak akan memaksa."
"Tiara pikirkan terlebih dahulu," ujar Mutiara.
Cia menganggukkan kepalanya, lalu dia mengelus puncak kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang."
Baru kali ini Mutiara merasa begitu nyaman di dekat ibu kandungnya, cukup lama dia menikmati sentuhan tangan ibunya, hingga beberapa saat kemudian Mutiara mendongakkan kepalanya.
"Kalau Tiara bobo sama Bunda, boleh nggak?"
Mutiara merengek seperti anak kecil, tentu saja Cia tidak tega karena dalam hatinya dia juga ingin tidur bersama dengan putrinya. Walaupun kini putrinya sudah dewasa.
"Tentu saja boleh, asal Arkan tidak marah."
"Dia sudah bobo, jadi tak akan marah." Mutiara nyengir kuda setelah mengatakan hal itu.
Setelah keduanya mengobrol cukup lama, akhirnya keduanya tidur bersama. Mereka tidur saling memeluk, sambil tersenyum karena bahagia setelah sekian lama berpisah akhirnya bertemu kembali.
Anjar yang melihat keduanya tidur pun tersenyum, dia memilih mengalah untuk tidur di kamar tamu. Saat dia hendak masuk ke dalam kamar tamu, tiba-tiba saja dia melihat Arkan yang turun dari lantai 2.
Pria itu langsung menghampiri Anjar, Anjar tahu kalau pria itu pasti sedang mencari istri tercintanya.
"Ayah, apa Ayah melihat Tiara? Kok dia di kamar tidak ada ya," tanya Arkan.
"Tentu saja dia tidak ada di kamar, karena sekarang Tiara sedang ada di kamar bundanya."
"Loh, kok di kamar bunda? Sedang apa dia? Ini sudah malam loh, udah waktunya tidur."
"Dia sedang tidur dengan bundanya," jawab Anjar sambil terkekeh.
Arkan sedikit kecewa karena istrinya itu pergi tanpa memberitahu dirinya, kalau misalkan dia tidak bertemu dengan Anjar, pasti dia akan panik mencari istrinya tersebut.
"Kalau Tiara tidur dengan bunda, lalu aku tidur dengan siapa?"
"Mengalahlah malam ini untuk tidur sendiri, karena aku pun harus tidur sendiri."
Keduanya tertawa, lalu mereka mengobrol sambil menikmati secangkir kopi dan sambil nonton bola. Mertua dan menantu itu terlihat begitu akur sekali.
"Ayah tahu kalau kamu pria yang baik. Semoga saja kamu selalu bisa membahagiakan Tiara."
"Pasti, aku akan selalu berusaha membahagiakannya. Walaupun aku lebih tua dia belas tahun dari dirinya, tapi aku yakin aku bisa mengimbangi kehidupannya."
"Ayah percaya," ucap Anjar sambil menepuk pundak pria itu.