NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 — PUBLIC CLAIM

Malam gala belum benar-benar selesai.

Musik masih mengalun lembut, membelai rungu dengan nada-nada yang sopan. Gelas-gelas kristal masih beradu pelan, menciptakan denting yang sinkron dengan tawa tamu-tamu VIP yang terjaga volumenya. Segalanya tampak sempurna.

Namun, di luar dinding ballroom ini, udara terasa sangat berbeda.

Lebih tajam. Lebih lapar. Para wartawan yang tadi hanya diberi makan pernyataan diplomatis, kini sedang mengintai, menunggu sesuatu yang lebih eksplisit untuk dikunyah.

Alinea berdiri di dekat balkon dalam ballroom, mencoba mencuri napas di tengah sesaknya kemewahan. Dari balik kaca tinggi, ia bisa melihat kilat kamera di lobi—seperti kunang-kunang yang haus akan skandal.

Tangannya masih terasa hangat. Hangat yang tertinggal dari genggaman Arsenio di red carpet. Hangat dari sisa tarian mereka tadi. Dan yang paling membekas—hangat dari kalimat-kalimat yang terlalu jujur untuk sekadar disebut sebagai strategi komunikasi.

Malam ini belum mencapai klimaksnya. Alinea bisa merasakannya di balik kulitnya. Sesuatu yang besar sedang menunggu untuk meledak.

“Kamu baik-baik saja?” suara Arsenio terdengar di belakangnya.

Alinea menoleh.

Ia terlihat lebih santai, tapi sorot matanya masih siaga.

“Aku cuma… butuh udara,” jawabnya.

Arsenio berdiri di sampingnya, jaraknya tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk terasa.

“Mama bicara lagi ke kamu?” tanyanya.

“Tidak secara langsung.”

“Tapi?”

Alinea tersenyum kecil. “Tapi tatapannya cukup jelas.”

Arsenio menghela napas pelan.

“Aku sudah bicara dengan beliau.”

“Dan?”

“Beliau tidak suka kejutan.”

“Dan kamu memberi beliau satu malam ini.”

Arsenio menoleh, menatap Alinea dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Aku tidak melakukan itu untuk mengejutkan siapa pun.”

“Lalu?”

Arsenio terdiam sesaat.

“Karena aku lelah melihat kamu diperlakukan seperti placeholder.”

Kata itu membuat dada Alinea menghangat sekaligus menciut.

Placeholder. Sementara. Kontrak.

Semua istilah itu menempel di dirinya seperti label diskon. Pengingat bahwa ia punya harga, tapi tidak punya nilai.

“Arsenio…” suaranya pelan, “apa kamu yakin?”

“Yakin soal apa?”

“Melangkah sejauh ini.”

Arsenio tidak menjawab.

Sebab sebelum kata-kata itu sempat meluncur, seorang staf PR berlari mendekat—memecah keheningan mereka dengan napas yang memburu.

“Pak, media masih menunggu di lobi. Mereka minta closing statement. Isu tadi belum reda.”

Arsenio menegang.

“Siapa saja?”

“Beberapa media besar. Mereka ingin klarifikasi langsung.”

Alinea menatapnya.

Ini bisa jadi akhir malam yang elegan. Atau, awal dari badai yang baru.

“Kamu tidak harus,” katanya cepat.

Arsenio menatapnya.

“Kalau aku tidak bicara sekarang, narasi itu akan hidup lebih lama.”

“Aku bisa hadapi.”

“Aku tahu kamu bisa.”

Tatapan mereka bertemu.

“Tapi bukan berarti kamu harus sendirian.”

Lobi hotel masih terang benderang.

Wartawan berkerumun di balik pembatas. Kamera siap. Mik terangkat. Begitu Arsenio dan Alinea melangkah keluar dari lift, atmosfer langsung meledak.

“Pak Arsenio! Apakah hubungan Anda serius?”

“Apakah benar sebelumnya hanya kontrak kerja sama?”

“Apakah keluarga Anda menyetujui?”

Pertanyaan bertubi-tubi.

Alinea berdiri di sampingnya.

Kali ini tidak ada koreografi. Tidak ada briefing. Hanya insting.

Arsenio mengangkat tangan memberi isyarat tenang.

“Saya akan menjawab satu kali,” katanya tegas.

Sunyi perlahan terbentuk.

“Banyak spekulasi tentang hubungan saya dan Alinea.”

Arsenio melirik sekilas ke arah Alinea.

Bukan untuk meminta izin. Tapi untuk memastikan perempuan itu masih ada di sana.

“Saya tidak akan membahas detail pribadi. Tapi saya ingin meluruskan satu hal.”

Alinea merasakan detak jantungnya meningkat.

Cepat. Terlalu cepat.

“Dia bukan sementara.”

Sederhana dan sangat dramatis. Efek "meledak tanpa suara" itu memberikan kesan shock yang dalam.

Kalimat itu jatuh seperti bom yang meledak tanpa suara.

Beberapa wartawan saling pandang, tertegun. Detik berikutnya, suasana pecah mereka mulai berteriak lagi, lebih liar dari sebelumnya.

“Jadi Anda serius?”

“Apakah ini berarti akan ada pertunangan?”

“Apakah kontrak itu memang pernah ada?”

Arsenio tidak mundur.

“She’s not temporary.”

Kali ini lebih jelas. Lebih lambat. Lebih tegas.

Kilatan kamera membabi buta, melahap ekspresi mereka tanpa sisa. Alinea merasa dunia seakan berhenti sepersekian detik.

Bukan sementara. Bukan placeholder. Bukan lagi strategi.

Tapi... "bukan sementara" juga berarti sesuatu yang lain.

Permanen? Serius? Komitmen?

Kepalanya berputar. Kata-kata itu terasa jauh lebih berat daripada kontrak mana pun yang pernah ia tandatangani.

Arsenio melanjutkan, “Saya tidak membawa seseorang berdiri di samping saya di depan publik kalau itu hanya fase.”

Fase.

Jadi, ada fase sebelumnya? Atau, ini adalah sebuah pengakuan penuh?

Semua terasa campur aduk. Logika dan perasaannya bertabrakan di tengah riuhnya kilatan kamera.

Seorang wartawan nekat bertanya, “Apakah Anda mencintainya, Pak?”

Sunyi lagi.

Dan kali ini, Alinea benar-benar ingin waktu berhenti.

Ia menoleh sedikit ke arah Arsenio, sebuah permohonan bisu di matanya. Jangan. Jangan jawab itu di sini. Jangan jadikan ini panggung.

Arsenio terdiam. Sepersekian detik lebih lama dari biasanya. Sebuah jeda yang membuat seluruh lobi seakan menahan napas.

Lalu berkata, “Beberapa hal tidak perlu diumumkan untuk menjadi nyata.”

Jawaban aman. Namun, ia tidak mundur.

Arsenio kemudian menggenggam tangan Alinea lagi—tepat di depan semua kamera. Genggaman yang mantap, yang berbicara jauh lebih keras daripada pernyataan apa pun yang bisa ia susun.

Di sudut lobi, Nadia berdiri.

Gaun merahnya masih menyala, kontras dengan wajahnya yang kini lebih pucat dari biasanya. Ia hanya bisa menonton dari kejauhan—melihat panggung yang seharusnya miliknya, kini sepenuhnya dikuasai orang lain.

“She’s not temporary.”

Kalimat itu menggema di kepalanya.

Nadia mengira Arsenio hanya akan memberi jawaban diplomatis. Ia mengira tekanan keluarga cukup kuat untuk membuatnya tetap hati-hati. Ia salah.

Tak jauh dari sana, Mama Arsenio berdiri dengan wajah kaku. Bukan amarah yang meledak, melainkan tatapan seseorang yang baru saja menyadari bahwa permainan ini sudah berubah level.

“Dia terlalu impulsif,” bisik Nadia pelan.

Mama tidak menjawab.

Tatapannya terkunci pada genggaman tangan itu. Sebuah titik kecil yang meruntuhkan seluruh rencananya malam ini.

Di dalam mobil menuju apartemen, suasana jauh dari glamor.

Tidak ada musik. Tidak ada komentar. Hanya napas yang terlalu terasa. Arsenio menatap ke depan, sementara Alinea menatap tangannya sendiri.

“She’s not temporary.”

Kalimat itu seharusnya membuatnya tenang. Tapi, justru membuatnya panik.

“Kenapa kamu bilang itu?” akhirnya Alinea bertanya.

Arsenio menoleh.

“Karena itu benar.”

“Benar dalam arti apa?”

“Dalam arti aku tidak melihat kamu sebagai fase.”

Jawaban itu terdengar logis. Tapi, hati Alinea tidak puas.

“Arsenio… kamu sadar nggak kalimat itu berat?”

“Aku sadar.”

“Dan kamu yakin siap dengan konsekuensinya?”

“Konsekuensi apa?”

“Ekspektasi.”

Alinea menatapnya sekarang.

“Begitu kamu bilang aku bukan sementara, orang akan menganggap aku masa depan.”

Sunyi.

Arsenio mengerti sekarang. Ini bukan cuma soal publik. Ini soal tekanan yang berpindah ke bahu Alinea.

“Aku tidak bermaksud membebani kamu.”

“Tapi kamu melakukannya.”

Nada suaranya tidak marah.

Lebih seperti orang yang takut.

“Aku butuh waktu untuk memahami kita,” lanjut Alinea pelan. “Dan kamu baru saja membuat seluruh negeri merasa punya hak menilai kita.”

Mobil berhenti di lampu merah.

Cahaya merah memantul di wajah mereka, memberi kesan tajam dan asing di tengah kesunyian yang mencekam.

Arsenio menatapnya lebih lama.

“Apa kamu ingin aku menarik ucapanku?”

Pertanyaan itu membuat dada Alinea mencelos.

“Tidak.”

Alinea menjawab terlalu cepat.

Karena jauh di dalam, kalimat itu adalah sesuatu yang ia ingin dengar. Ia hanya tidak siap mendengarnya di panggung sebesar itu.

“Aku cuma… takut,” akunya jujur.

“Takut apa?”

“Kalau kamu bilang itu karena emosi malam ini. Karena tekanan. Karena ingin membungkam Nadia.”

Arsenio menggeleng pelan.

“Aku bilang itu karena aku muak melihat kamu diperlakukan seperti opsi.”

Sunyi lagi.

“Aku bukan ahli hubungan,” lanjutnya lebih pelan. “Tapi aku tahu satu hal. Kalau aku membiarkan narasi itu hidup, aku kehilangan kamu pelan-pelan.”

Jantung Alinea berdetak tak beraturan.

“Kehilangan?” ia mengulang.

“Ya.”

Satu kata. Tegas. Dan sangat tidak CEO.

Mobil kembali berjalan. Alinea menatap ke luar jendela, membiarkan lampu kota lewat seperti garis-garis cahaya yang memudar cepat.

“She’s not temporary.”

Alinea mengulanginya dalam hati. Bukan sementara. Tapi apakah itu berarti selamanya? Atau hanya… belum tahu kapan berakhir?

Di dalam dirinya, dua perasaan saling tarik-menarik. Hangat dan takut. Bangga dan panik.

Karena untuk pertama kalinya, ini bukan lagi kontrak. Bukan lagi latihan. Bukan lagi simulasi citra. Ini nyata. Terlalu nyata.

Dan kenyataan selalu lebih menakutkan daripada kesepakatan tertulis mana pun.

Sesampainya di apartemen, Arsenio mematikan mesin.

Suara mesin yang hilang meninggalkan kekosongan yang menyesakkan. Mereka tidak langsung turun. Hanya ada detak jam di dasbor dan sisa hawa dingin AC yang perlahan memudar.

Pintu apartemen di atas sana terasa seperti benteng, tapi di dalam mobil ini, mereka masih terjebak dalam gema kalimat tadi.

“Alinea.”

Alinea menoleh.

“Aku tidak tahu bentuk akhirnya seperti apa,” katanya jujur. “Tapi aku tahu aku tidak ingin kamu pergi setelah semua ini selesai.”

Semua ini.

Gala. Isu. Tekanan. Atau… hubungan mereka?

Satu kata "bukan sementara" itu menggantung di udara, membiaskan makna. Apakah Arsenio sedang menyelamatkan citra, atau dia sedang menyelamatkan mereka?

Alinea menatapnya lama.

“Kamu tidak bisa bilang aku bukan sementara lalu berharap aku tidak takut.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu tidak bisa menganggap satu kalimat publik cukup untuk membuktikan sesuatu.”

Arsenio mengangguk pelan.

“Aku tidak menganggapnya cukup.”

“Lalu?”

“Anggap itu awal.”

Awal. Bukan akhir.

Bukan janji selamanya, tapi sebuah langkah pertama.

Alinea menarik napas dalam. Ia tidak tahu apakah itu cukup, tapi malam ini di depan dunia, ia tidak lagi disebut sebagai sebuah fase. Dan itu mengubah segalanya. Baik di mata publik, maupun di dalam hatinya sendiri.

Karena sekarang, ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kata "sementara".

Dan mungkin... itulah yang paling membuatnya panik.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!