Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih memikirkannya
"Siapa wanita itu, kenapa kau menatapnya terus? Suka ya?"
Tanya perempuan yang bersama Ethan. Namanya Liana, sepupu Ethan yang tinggal di luar negeri. Dia sedang berlibur dua minggu di Indonesia. Sampai sekarang keluarga mereka masih suram karena Kara, sang keponakan tercinta yang hilang dalam kecelakaan belum ditemukan juga.
Liana juga dengar tentang kehidupan percintaan Ethan hancur. Sudah dari enam tahun yang lalu. Pasca Kara hilang jatuh di jurang, beberapa bulan kemudian hubungan Ethan dan sang kekasih putus. Padahal keduanya hampir menikah. Jadi, tujuan Liana datang ke sini adalah untuk mencarikan jodoh buat Ethan.
Laki-laki itu sudah 43 tiga tahun. Wajah boleh awet muda, tapi umur tidak bisa menipu. Kasihan sekali kalau dia terus-terusan jadi perjaka tua. Eh, nggak perjaka lagi. Ethan pernah punya kekasih yang hampir menikah, pasti mereka sudah berhubungan intim. Ya, pasti Ethan bukan perjaka tua lagi. Tapi tetap saja dia belum punya pasangan sampai sekarang karena telah putus dengan mantan kekasihnya.
"Aha, kalau kau suka, bagaimana kalau kenalan saja. Aku lihat perempuan tadi cantik, agak cocok denganmu yang tampan ini. Gayanya juga sederhana. Keluarga kita nggak mandang harta kan? Tunggu sebentar di sini, aku akan mengejarnya untuk di ajak kenalan, dia pasti akan suka padamu."
Liana hendak pergi namun dengan cepat Ethan menarik tangannya, menatap sang adik tajam. Sudah kepala tiga tapi kelakuannya kayak abg muda.
"Jangan gila. Aku tidak butuh wanita. Ayo pulang." kata Ethan datar lalu berjalan meninggalkan Liana.
Liana memutar matanya malas.
"Sebenarnya apa yang di lakukan mantan kekasihnya sih sampai-sampai hatinya berubah lebih keras dari batu." katanya kesal sendiri.
"Ethan, tunggu!"
Liana mengejar Ethan. Semakin melihat Ethan seperti itu, semakin dia penasaran dengan mantan kekasih pria itu.
Begitu sampai rumah, Ethan segera masuk ke kamarnya Ia membanting pintu. Liana sampai kaget.
"Astaga, emosinya betul-betul tidak stabil. Lama-lama aku bisa mati berdiri menghadapi laki-laki seperti itu." Liana menghembuskan nafas kasar, lalu berjalan menuju dapur. Dia kesal dengan sikap Ethan.
Di kamar, Ethan membanting tubuhnya di sofa. Ia mengusap wajahnya kasar. Setelah bertahun-tahun, ia tidak pernah menyangka akan melihat wajah itu lagi. Wajah yang tidak pernah bisa hilang dari hatinya. Ethan tidak menyangkal, sampai sekarang ia masih sering memimpikan Dira. Namun begitu wajah itu muncul, ingatan saat Dira telanjang, bercumbu dengan Jeremy ikut masuk dalam ingatannya. Fakta itu membuat kepalanya serasa mau pecah.
Ia tidak bisa melupakan wanita itu, tapi juga tidak bisa melupakan rasa sakit karena dikhianati.
"Ahhhhkh!"
Pria itu melempar barang apa saja yang ada di dalamnya.
"Pergi, pergi, pergi!"
Tukasnya kasar. Tangannya meremas kepalanya kencang akibat rasa sakit yang luar biasa. Seperti inilah Ethan enam tahun belakangan. Kepalanya akan terus sakit tiap kali memikirkan Dira. Dia berusaha mengusir bayangan itu jauh-jauh, tapi tidak bisa.
Sementara itu di tempat lain, Dira memasuki sebuah apartemen sederhana. Bukan rumah kontrakan kecil yang berada di lorong kumuh lagi. Sekarang, ia bisa menyewa apartemen yang sedikit lebih baik dari tempat tinggalnya dulu. Tempat yang baru mereka tempati satu bulan yang lalu.
Mereka memang baru kembali lagi ke Jakarta setelah bertahun-tahun. Sejak putus Dengan Ethan, Dira dan Raka pindah ke Bandung, di sebuah desa kecil. Tempat yang nyaman dan tidak mengeluarkan biaya hidup yang tinggi.
Selama proses kehamilannya, wanita itu banyak membaca dan belajar hal-hal baru. Ia juga mendapatkan pekerjaan yang lumayan bagus dari warga desa. Orang-orang di desa yang dia tinggali bersama Raka begitu baik. Mereka tidak menghakimi dirinya yang hamil tanpa suami. Sebaliknya, mereka menerimanya dengan baik. Mereka bahkan membantu mencarikan dia pekerjaan. Gaji pas-pasan tapi cukup untuk kehidupan sehari-hari serta uang sekolah Raka.
Satu tahun setelah Dira melahirkan, dia punya uang tabungan yang cukup untuk kuliah di sebuah universitas cukup bagus di Bandung. Dia ambil kuliah online, mengingat ada anak yang harus dia urus. Jadi tahun-tahun itu, Dira kuliah sambil kerja, sambil ngurus anak. Raka sering membantunya kalau libur sekolah. Tetangga mereka juga sering datang bermain dengan anaknya ketika dia harus ikut kuliah online.
Dira sangat bersyukur menemukan desa yang di dalamnya masih terdapat banyak orang-orang baik. Namun dia juga tahu, mereka tidak mungkin tinggal di sana seumur hidup. Raka harus sekolah di sekolah yang bagus. Dia sendiri berhasil di terima di salah satu perusahaan Farmasi di Jakarta. Namanya perusahaan Sinogenix. Salah satu perusahaan besar yang memiliki ribuan karyawan.
Gajinya bisa di bilang sangat tinggi untuk ukuran warga biasa seperti dia tentunya. Dira tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Meski itu artinya mereka harus pindah kembali ke Jakarta. Namun demi adiknya, serta putranya, dia akhirnya mengambil keputusan tersebut.
Itu sebabnya mereka di sini sekarang. Setelah enam tahun lamanya.
"Mamaa!"
Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun berlari kepelukannya. Mukanya tembem sekali. Bocah itu sangat lucu dan imut. Dira menggendongnya.
Arelio Dira putra. Itu nama anaknya. Dia tidak mungkin menggunakan nama belakang Ethan bukan? Meski pria itu ayah kandungnya. Dira rasa Ethan pasti akan lebih membencinya kalau tahu dia berani melahirkan anak pria itu.
"Hai, anak mamaa ..."
"Mama paman Raka nggak mau kasih Arel candy. Padahal Arel mintanya satu aja." lapor bocah itu manja, tangannya menunjuk Raka yang duduk di sofa.
"Paman Raka pelit, hmph!" tambahnya lagi. Kali ini menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang mama.
Dira dan Raka saling bertukar tatap lalu tertawa kecil.
"Cup, cup, cup, uh anak mama sayang. Nanti mama hukum paman Raka-nya ya." Dira pura-pura menatap galak ke sang adik yang sudah tumbuh tinggi.
"Mm! Paman Raka harus di hukum berdiri. Biar capek! Kalo udah capek, pasti paman Raka haus. Terus, pas paman Raka minum di dapur, kita ambil candy-nya diam-diam ya ma? Arel tahu paman Raka simpen candy-nya di mana."
Raka tertawa keras. Keponakannya lucu sekali. Dira ikut tertawa, mengecup puncak kepala Arel.
"Paman denger rencana licik kamu bocah."
"Hmph! Arel gak temenan lagi sama paman Raka!" Pelukan bocah kecil itu makin kuat di tubuh mamanya.
Dira duduk, tangannya tak berhenti mengelus-elus lembut punggung Arel sampai bocah itu tertidur.
"Kakak gak capek? Naik kereta Whoosh atau biasa?"
"Biasa. Gak capek sayang. Udah biasa."
"Ada surat-suratnya?" tanya Raka lagi. Dira mengangguk.
"Sekolah baru kamu gimana?" ia balik bertanya.
"Baik. Aku udah punya temen baru. Mereka semua baik banget, apalagi yang namanya Bian. Aku sama dia langsung akrab pas ketemu."
Dira tersenyum. Dia senang. Dari dulu dia tahu benar Raka selalu suka tinggal di kota. Lihat saja sekarang, bocah remaja itu tampak antusias sekali.
terimakasih thor udah up