Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Sisi Lain Sang Tuan
Arlan melangkah masuk ke dalam penthouse dengan energi yang meluap-luap. Aroma kesuksesan dari ruang rapat tadi seolah memicu hormon testosteronnya ke tingkat maksimal. Ia melempar jas mahalnya ke sofa, melonggarkan dasi dengan gerakan kasar, dan langsung menuju kamar utama. Pikirannya sudah dipenuhi imajinasi lïår tentang bagaimana ia akan kembali menaklukkan Amara sore ini.
Namun, pemandangan di dalam kamar membuatnya terpaku di ambang pintu.
Lampu kamar temaram. Di atas ranjang luas itu, Amara tertidur pulas dalam posisi menyamping. Kenzo juga terlelap, wajah kecilnya terbenam nyaman di dada pengasuhnya yang terbuka. Sinar matahari sore yang keemasan jatuh tepat di atas kulit mereka, menciptakan gambaran yang begitu damai dan murni.
Gåïråh Arlan sempat memuncak melihat lekukan tubuh Amara yang terekspos, namun ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Ia mendekat, merangkak perlahan ke atas ranjang agar tidak membangunkan Kenzo. Tangan besarnya mulai merayap, mengelus þåhå mulus Amara dan berniat menyusup ke area §êñ§ï†ï£ñɏå.
"Nngghh... T-Tuan?" Amara terbangun. Matanya perlahan terbuka, namun tidak ada binar gåïråh di sana.
Arlan menyeringai, mulai mêñ¢ïµmï leher Amara yang penuh tanda merah. "Aku pulang lebih awal untuk menagih janjiku, Amara. Aku sangat lapar melihatmu seperti ini."
Arlan baru saja akan menarik selimut lebih rendah ketika ia menyadari napas Amara tersengal. Saat ia menatap wajah gadis itu, Arlan tertegun. Mata Amara sudah berkaca-kaca, air mata menggenang di pelupuknya dan siap tumpah kapan saja.
Arlan seketika menghentikan semua gerakannya. "Kenapa? Apa aku menyakitimu?" tanyanya, suaranya berubah menjadi rendah dan serius.
Pertanyaan itu justru meruntuhkan pertahanan Amara. Tangisnya pecah secara lirih, ia mencoba menutup wajahnya dengan satu tangan agar tidak membangunkan Kenzo yang masih terlelap di pelukannya.
"Hiks... m-maafkan saya, Tuan... saya tidak bermaksud menolak..." isak Amara sesenggukan. "Tapi... di bawah sana... rasanya sangat þêrïh, Tuan. Panas sekali. Sejak di pesawat, Tuan tidak berhenti... lalu semalam di jendela... saya... saya tidak bisa menutup kaki saya karena rasanya seperti terbakar."
Arlan mematung. Kata-kata Amara seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya. Ia melihat ke arah þåhå Amara yang sedikit gemetar, dan ia baru menyadari betapa egoisnya dia selama belasan jam terakhir. Ia telah memperlakukan Amara seolah gadis itu adalah boneka þêmµå§ tanpa batas, mengabaikan fakta bahwa †µßµh Amara memiliki ambang batas rasa sakit.
Rasa bersalah yang asing menusuk dada Arlan. Ia yang biasanya tidak peduli pada perasaan orang lain, kini merasa seperti ßåjïñgåñ yang paling rendah.
"Amara... lihat aku," Arlan meraih dagu Amara, memaksa gadis itu menatapnya. Ia melihat ketakutan dan rasa perih yang nyata di mata itu. "Maafkan aku. Aku terlalu dikuasai ñ壧µ sampai aku lupa kalau kau kesakitan."
Arlan menghela napas panjang, meredam gåïråhñɏå yang tadi menggebu. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Amara dengan lembut, memastikan gadis itu merasa aman.
"Aku berjanji," ucap Arlan tegas namun lembut. "Aku tidak akan mêñɏêñ†µhmµ lagi secara seksual sampai kau benar-benar sembuh. Sampai rasa perih itu hilang. Aku tidak ingin kau melakukannya karena takut padaku."
Amara tertegun. Ia tidak menyangka Tuan besarnya yang arogan bisa mengalah dan meminta maaf. Ia mengangguk pelan, menghapus sisa air matanya. "Terima kasih, Tuan... Terima kasih sudah mengerti."
Malam itu, tidak ada aktivitas panas di penthouse mewah tersebut. Arlan melepas kemejanya dan ikut berbaring di belakang Amara. Ia melingkarkan lengannya yang kekar ke pinggang Amara, menarik tubuh gadis itu agar merapat ke dadanya tanpa ada niat jahat.
Di tengah dinginnya salju London, mereka tertidur dalam posisi yang sangat hangat. Kenzo berada di pelukan Amara, terlindungi oleh dekapan pengasuhnya, sementara Amara didekap erat oleh Arlan dari belakang. Arlan mencium puncak kepala Amara sebelum terlelap, menyadari bahwa melindungi wanita ini jauh lebih memuaskan daripada sekadar mêñgågåhïñɏå.
***
Dua hari masa "gencatan senjata" yang diberikan Arlan benar-benar dimanfaatkan Amara untuk memulihkan diri. Arlan menepati janjinya; pria itu hanya memeluknya dengan lembut setiap malam tanpa menuntut lebih, meski Amara bisa merasakan detak jantung Arlan yang tidak beraturan setiap kali kulit mereka bersentuhan. Perhatian Arlan yang tulus, mulai dari memastikan Amara makan dengan teratur hingga membantu mengganti popok Kenzo, perlahan mulai menumbuhkan benih-benih perasaan yang lebih dalam di hati Amara.
Sore itu, langit London tampak cerah meski suhu masih cukup rendah. Arlan memutuskan untuk membawa mereka keluar dari kungkungan kemewahan penthouse.
"Pakai baju yang tebal. Kita ke Hyde Park," perintah Arlan singkat namun dengan nada yang hangat.
Sesampainya di taman seluas ratusan hektar itu, Amara dibuat terpukau kembali. Rumput yang tertutup sisa salju tipis, danau Serpentine yang tenang, serta orang-orang yang berjalan santai dengan anjing peliharaan mereka menciptakan suasana yang sangat damai. Amara berjalan perlahan sambil menimang Kenzo yang terbungkus jaket wol biru muda, membuat bayi itu terlihat seperti bola bulu yang sangat menggemaskan.
"Tuan, lihat! Kenzo tertawa melihat burung-burung itu!" seru Amara senang. Wajahnya berseri-seri, pipinya merah merona karena udara dingin, dan matanya berbinar tulus saat ia menunjukkan kawanan angsa di kejauhan pada sang bayi.
Arlan berhenti beberapa langkah di belakang mereka. Ia terdiam, memandangi sosok Amara yang begitu natural dan penuh kasih sayang. Sinar matahari sore yang keemasan jatuh di wajah Amara, membuatnya tampak begitu cantik di mata Arlan—bukan kecantikan yang menggoda seperti biasanya, melainkan kecantikan yang menenangkan jiwa.
Tanpa sadar, Arlan merogoh saku trench coat-nya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengarahkan kamera ke arah Amara dan Kenzo.
Ceklek.
Ia memotret momen saat Amara sedang mencium pipi gembul Kenzo dengan latar belakang pepohonan London yang eksotis. Arlan menatap hasil foto itu cukup lama. Bagi pria yang dunianya penuh dengan angka dan persaingan bisnis yang kejam, foto itu terasa seperti sebuah oase.
"Tuan? Kenapa Tuan tertinggal di belakang?" tanya Amara sambil menoleh dan tersenyum manis.
Arlan menyimpan ponselnya kembali, berusaha bersikap datar meski hatinya berdesir. "Tidak ada. Hanya memastikan pengasuh putraku tidak hilang di tengah taman."
Setelah puas berjalan-jalan, Arlan tidak mengajak mereka langsung pulang. Ia membawa mereka ke sebuah restoran fine dining yang memiliki area privat yang sangat nyaman.
"Makanlah sepuasmu. Kau butuh nutrisi agar ASI-mu tetap berkualitas untuk Kenzo," ucap Arlan saat pesanan makanan mewah datang satu per satu di hadapan Amara.
Amara merasa hatinya sangat berbunga-bunga. Sepanjang makan malam, Arlan banyak bercerita tentang masa mudanya saat dulu menempuh pendidikan di London. Tidak ada kata-kata kotor, tidak ada tuntutan §êk§µål, dan tidak ada intimidasi.
'Tuan Arlan ternyata bisa semanis ini,' batin Amara sambil menyuap makanannya. Ia merasa sangat bahagia karena menyadari bahwa hubungan mereka tidak hanya melulu tentang aktivitas panas di ranjang atau di depan jendela kaca, tetapi ada sisi kemanusiaan dan kehangatan yang mulai tumbuh di antara mereka. Amara merasa seperti benar-benar dihargai, bukan hanya sebagai pelayan þêmµå§ ñ壧µ, tapi sebagai bagian dari hidup Arlan dan Kenzo.
Namun, kedamaian itu terusik saat Arlan sedang memotong daging steak-nya, matanya tiba-tiba menajam menatap ke arah pintu masuk restoran.