NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 21: Penyelamatan Brutal

Dua belas jam telah berlalu sejak penculikan Aluna. Dua belas jam yang terasa seperti dua belas tahun bagi Arsen.

Ia tidak tidur. Tidak makan. Tidak bergerak dari ruang kerja pribadinya yang kini dipenuhi dengan laptop, peta, dan beberapa orang yang ia sewa detektif swasta, mantan polisi, bahkan seorang hacker yang terkenal di dunia bawah.

Wajah Arsen tidak lagi tampan dan terkontrol. Matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam, rahangnya ditumbuhi janggut tipis karena tidak sempat bercukur, dan tangannya yang berbalut perban karena luka dari memukul lantai tadi bergetar setiap kali memegang ponsel menunggu panggilan dari Darren.

"Pak Arsen," panggil Rian hacker muda yang ia sewa dengan bayaran sangat tinggi. "Kami sudah melacak panggilan terakhir dari Tuan Darren. Meskipun dia menggunakan burner phone, kami bisa melacak tower terdekat."

Rian menunjuk pada peta di laptop.

"Sinyal berasal dari area ini kawasan industri di Cakung. Banyak gudang kosong di sana. Kemungkinan besar beliau menahan Nona Aluna di salah satu gudang itu."

Arsen bangkit dengan cepat, meraih jas hitamnya.

"Berapa banyak gudang?"

"Sekitar... dua puluh tiga gudang, Pak."

"Bagus. Kita datangi semuanya."

"Tapi Pak, itu akan memakan waktu..."

"MAKA KITA BERGERAK CEPAT!" bentak Arsen dengan suara yang membuat semua orang di ruangan itu terdiam.

Ia menarik napas, berusaha mengendalikan amarahnya.

"Siapkan tim," ucapnya dengan suara yang lebih terkontrol tetapi tidak kalah berbahaya. "Aku tidak peduli harus menghancurkan berapa gudang. Aku tidak peduli harus menghabiskan berapa uang. Temukan Aluna. SEKARANG."

Pukul 23.00 WIB, Arsen dan timnya yang terdiri dari enam bodyguard terlatih, Pak Budi, dan Rian tiba di kawasan industri Cakung. Kawasan itu gelap, sepi, hanya diterangi beberapa lampu jalan yang redup.

Mereka memulai pencarian gudang demi gudang, satu per satu. Kebanyakan kosong, sebagian terisi dengan barang-barang tua yang tidak terpakai.

Gudang kelima belas. Kosong.

Gudang keenam belas. Kosong.

Setiap gudang kosong membuat Arsen semakin frustrasi, semakin putus asa.

"Di mana dia?" gumamnya sambil tangannya yang berbalut perban mengepal erat. "Di mana Aluna?"

Gudang ketujuh belas.

Saat mereka mendekati gudang ini, Arsen melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar ada mobil hitam terparkir di belakang gudang. Mobil yang ia kenal. Mobil Darren.

"Di sini," bisik Arsen dengan suara yang bergetar campuran lega dan amarah yang membara. "Dia di dalam."

Pak Budi dan bodyguard-bodyguard lainnya langsung bersiap. Tetapi Arsen mengangkat tangannya.

"Aku masuk duluan," ucapnya dengan suara yang sangat tenang terlalu tenang, justru menakutkan.

"Tapi Pak Arsen, ini berbahaya..."

"Aku tidak peduli," potong Arsen sambil menatap pintu gudang dengan tatapan yang gelap. "Darren ingin bermain? Baik. Aku akan bermain. Tetapi dengan aturanku."

Ia meraih sebatang besi yang tergeletak di dekat gudang batang besi panjang yang berat, bisa membunuh jika diayunkan dengan kuat.

"Tunggu di sini," perintahnya. "Jangan masuk sampai aku memberikan sinyal. Dan jika kalian mendengar... apa pun dari dalam, jangan ikut campur kecuali aku yang meminta."

Dengan itu, Arsen mendorong pintu gudang yang tidak terkunci.

Di dalam gudang yang gelap, hanya diterangi beberapa lampu gantung yang redup, Aluna masih terikat di kursi. Tubuhnya gemetar karena dingin dan ketakutan. Bibirnya yang berdarah sudah mengering, pergelangan tangannya lecet karena terikat terlalu kuat.

Darren duduk beberapa meter darinya, bermain-main dengan ponselnya dengan santai.

"Sudah hampir dua belas jam," ucapnya tanpa menatap Aluna. "Arsen belum menghubungi lagi. Mungkin dia sudah menyerah padamu."

"Bohong," bisik Aluna dengan suara serak. "Arsen tidak akan menyerah. Dia akan datang."

"Ah, kepercayaan yang manis," ejek Darren sambil akhirnya menatap Aluna. "Tetapi kepercayaan tidak akan menyelamatkanmu, Aluna. Arsen mungkin mencintaimu, tetapi dia juga mencintai kekuasaannya. Dan aku yakin dia akan memilih bisnis daripada..."

BRAK!

Pintu gudang terbuka dengan keras, menabrak dinding hingga bergetar.

Di ambang pintu, berdiri Arsen Mahendra.

Tetapi ini bukan Arsen yang Aluna kenal. Ini bukan CEO yang selalu rapi dan terkontrol. Ini bukan pria yang selalu memakai topeng dingin.

Ini adalah Arsen yang sudah kehilangan segalanya. Rambutnya berantakan, jasnya kusut, matanya... matanya dipenuhi dengan amarah yang tidak waras. Di tangannya, sebatang besi panjang yang ia genggam dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"DARREN!" raungnya dengan suara yang menggelegar di gudang kosong itu.

Darren bangkit dengan cepat, senyum di wajahnya langsung pudar.

"Arsen... bagaimana kamu..."

"Kamu mengambil milikku," desis Arsen sambil melangkah masuk, setiap langkahnya berat dan mengancam. "Kamu MENGAMBIL SATU-SATUNYA HAL YANG KUMILIKI!"

Ia mengayunkan batang besi ke dinding terdekat, menghancurkannya dengan kekuatan yang mengerikan. Serpihan beton beterbangan.

Aluna terlonjak, menatap Arsen dengan mata membelalak. Ia tidak pernah melihat Arsen seperti ini begitu tidak terkontrol, begitu... berbahaya.

"Arsen, tenang," ucap Darren sambil mundur selangkah. "Kita bisa bicarakan ini dengan..."

"BICARAKAN?" Arsen tertawa tawa yang gelap, yang tidak waras. "Kamu menculik tunanganku. Kamu mengikatnya seperti binatang. Kamu membuatnya BERDARAH."

Matanya jatuh pada bibir Aluna yang berdarah, pada pergelangan tangan Aluna yang lecet.

Sesuatu di dalam Arsen benar-benar patah.

"Kamu akan membayar," bisiknya dengan suara yang membeku. "Dengan darahmu sendiri."

Darren meraih pisau dari sakunya pisau lipat yang ia sembunyikan untuk berjaga-jaga. Tetapi sebelum ia bisa menggunakan, Arsen sudah menyerangnya.

Batang besi itu diayunkan dengan kekuatan penuh, mengenai tangan Darren yang memegang pisau. Bunyi tulang retak terdengar jelas. Darren berteriak kesakitan, pisau jatuh dari tangannya.

"ARSEN! HENTIKAN!" teriak Aluna, air mata mengalir di pipinya. "TOLONG, JANGAN..."

Tetapi Arsen tidak mendengar. Ia tidak bisa mendengar apa pun selain raung amarah di kepalanya sendiri.

Ia menendang Darren hingga terjatuh, lalu berlutut di atas tubuh pria itu. Tangannya yang sudah berbalut perban dan sekarang balutannya basah dengan darah segar mencengkeram kerah Darren.

"Kamu pikir kamu bisa mengambil dia dariku?" desis Arsen tepat di wajah Darren. "Kamu pikir aku akan membiarkanmu HIDUP setelah menyentuhnya?"

Kepalan tangannya menghantam wajah Darren. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Darah mulai memercik dari hidung Darren yang patah, dari bibirnya yang robek, dari pelipisnya yang sobek.

"ARSEN, HENTIKAN!" teriak Aluna lagi, suaranya pecah. "KUMOHON! DIA SUDAH CUKUP! TOLONG HENTIKAN!"

Tetapi Arsen tidak berhenti. Tangannya terus bergerak memukul, memukul, memukul sampai wajah Darren hampir tidak bisa dikenali lagi.

"Ini untuk Aluna," desis Arsen di antara pukulan. "Ini untuk membuatnya takut."

Pukul.

"Ini untuk membuatnya berdarah."

Pukul.

"Ini untuk membuatku hampir KEHILANGAN AKAL SEHAT."

Pukul terakhir begitu keras hingga kepala Darren membentur lantai beton dengan bunyi yang mengerikan.

Darren tidak bergerak lagi. Tubuhnya lemas, darah mengalir dari berbagai luka di wajahnya.

Arsen berdiri dengan napas tersengal, tangannya kedua tangannya sekarang berlumuran darah. Bukan darahnya sendiri. Darah Darren.

Ia menatap tangannya dengan tatapan kosong, seolah baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

Lalu ia menoleh pada Aluna.

Aluna menatapnya dengan mata yang dipenuhi air mata campuran lega, takut, dan... horor.

"Aluna," bisik Arsen dengan suara serak. Ia melangkah mendekat, tangannya yang berdarah terangkat untuk menyentuh Aluna.

Tetapi Aluna menyentak refleks ketakutan yang membuat jantung Arsen hancur.

"Jangan... jangan sentuh saya dengan tangan itu," bisik Aluna dengan suara gemetar.

Arsen berhenti, menatap tangannya yang berlumuran darah, lalu menatap Aluna dengan tatapan yang... patah.

"Aku... aku hanya ingin menyelamatkanmu," bisiknya, suaranya pecah. "Aku hanya ingin..."

"Dengan membunuhnya?" tanya Aluna, air mata terus mengalir. "Dengan menjadi... monster?"

Kata itu menusuk lebih dalam dari pisau mana pun.

Arsen jatuh berlutut di depan Aluna, tidak peduli lututnya terendam genangan darah Darren.

"Aku tidak peduli aku monster," bisiknya dengan suara yang sangat pelan. "Aku tidak peduli aku kehilangan kewarasan. Yang aku peduli adalah kamu. Menyelamatkanmu. Membawamu pulang."

Tangannya yang bergetar meraih tali yang mengikat Aluna, melepaskannya dengan hati-hati meski tangannya sendiri penuh darah.

Saat Aluna akhirnya bebas, tubuhnya langsung lemas. Arsen menangkapnya, memeluknya erat meski ia tahu ia mengotori Aluna dengan darah di tangannya.

"Maafkan aku," isaknya di rambut Aluna. "Maafkan aku karena membuatmu melihat sisi tergelap dariku. Maafkan aku karena menjadi monster. Tetapi aku... aku tidak bisa kehilanganmu. Aku tidak bisa."

Aluna menangis dalam pelukan Arsen menangis karena lega, karena takut, karena trauma dari apa yang baru saja ia saksikan.

"Bawa saya pulang," bisiknya akhirnya di dada Arsen. "Tolong... bawa saya pulang."

Arsen mengangguk, mengangkat Aluna dalam gendongannya bridal style dan berjalan keluar dari gudang berdarah itu, meninggalkan Darren tidak sadarkan diri di lantai.

(Darren masih hidup. Napasnya masih terdengar meski lemah. Tetapi ia akan ingat malam ini selamanya malam di mana ia belajar untuk tidak pernah lagi menyentuh apa yang menjadi milik Arsen Mahendra.)

Di mobil, dalam perjalanan pulang, Aluna duduk di pangkuan Arsen di kursi belakang. Arsen memeluknya erat terlalu erat seolah takut jika ia melepaskan, Aluna akan menghilang lagi.

"Maaf," bisiknya terus-menerus. "Maaf, maaf, maaf."

Aluna tidak menjawab. Ia hanya menangis dalam pelukan Arsen, tubuhnya gemetar, pikirannya dipenuhi dengan gambar wajah Darren yang berdarah, dengan suara tulang yang retak, dengan... amarah yang tidak waras di mata Arsen.

Ia mencintai Arsen. Sangat mencintai.

Tetapi malam ini, ia melihat sisi Arsen yang ia tidak tahu ada sisi yang begitu gelap, begitu brutal, begitu... menakutkan.

Dan ia tidak tahu apakah ia bisa hidup dengan mengetahui bahwa pria yang mencintainya dengan lembut adalah pria yang sama yang bisa memukuli seseorang hampir sampai mati tanpa ragu.

Tetapi satu hal yang ia tahu dengan pasti:

Arsen Mahendra akan melakukan apa pun, APA PUN untuk melindunginya.

Bahkan jika itu berarti menjadi monster.

Bahkan jika itu berarti kehilangan kewarasannya.

Dan entah bagaimana, pengetahuan itu membuat Aluna merasa... aman dan ketakutan pada saat yang bersamaan.

Jangan lupa VOTE ⭐ COMMENT 💬 dan SHARE 🔄 ya!

OH MY GOD! 😱😱😱 ARSEN BENAR-BENAR BRUTAL! Dia memukuli Darren sampai hampir mati dengan TANGAN KOSONG! Darah di mana-mana! Ini bukan lagi possessive... ini OBSESI LEVEL MAKSIMAL! 🔥

Dan reaksi Aluna... "Jangan sentuh saya dengan tangan itu" 💔 Dia TAKUT pada Arsen tapi juga LEGA diselamatkan! Conflict of emotions yang INTENSE BANGET!

"Aku tidak peduli aku monster. Yang aku peduli adalah kamu" - THIS LINE THO! 😭

Kalian gimana nih? Takut sama Arsen setelah lihat sisi brutal-nya? Atau malah makin jatuh cinta karena dia rela jadi monster demi Aluna?

Dan Aluna sekarang... dia bakal bisa move on dari trauma ini? Atau hubungan mereka udah rusak permanently?

Follow untuk update part selanjutnya!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!