NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemungkinan Mengerikan

Malam di istana selalu tampak megah dari kejauhan—atap-atap berlapis emas yang memantulkan cahaya bulan, lentera-lentera merah yang menggantung anggun di setiap lorong, dan barisan pengawal yang berdiri tegak tanpa cela. Namun bagi Bai Ruoxue, malam itu terasa seperti jaring yang menutup perlahan, menyesakkan, dan tak memberinya ruang untuk bernapas.

Sudah tiga kali ia mendatangi tabib kekaisaran yang sama.

Tiga kali.

Dan tiga kali pula jawaban yang ia terima tak berubah sedikit pun.

“Selir Xue, denyut nadi ini jelas. Ini nadi ganda. Anda sedang mengandung.”

Tabib itu bukan orang sembarangan. Dua puluh tahun mengabdi pada kekaisaran. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa bangsawan. Tak pernah sekalipun diagnosisnya meleset. Bahkan Kaisar sendiri mempercayainya tanpa ragu.

"Saya adalah tabib kekaisaran yang sudah bersumpah dan mengabdi lama. Saya tidak akan mengatakan hal yang berdusta."

Namun Bai Ruoxue tetap tidak percaya.

Ia duduk di ruang pribadinya, kedua tangan bertumpu di meja rendah, napasnya tak beraturan. Di hadapannya, mangkuk porselen berisi ramuan penenang yang belum disentuh.

Hamil.

Bagaimana mungkin?

Ia dan Kaisar hidup dalam satu istana, tetapi bukan dalam satu hati. Pernikahan mereka adalah kesepakatan politik, bukan pertemuan cinta. Hubungan mereka dingin, formal, terukur. Kaisar jarang menginap di paviliunnya. Bahkan ketika ia datang, jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari sungai yang membelah ibu kota.

Lalu kehidupan siapa yang tumbuh di rahimnya?

Bai Ruoxue menekan pergelangan tangannya sendiri, meraba denyut nadi seperti yang dilakukan para tabib. Ia terlatih. Ia tahu cara membaca tubuhnya. Dan setiap kali ia mencoba menyangkalnya, tubuhnya justru mengkhianatinya.

Detak halus itu tetap ada.

Dua denyut dalam satu aliran.

Ia merasa seperti berdiri di tepi jurang yang tak terlihat dasarnya.

Jika kehamilan ini benar… maka ada dua kemungkinan yang sama-sama menghancurkan.

Pertama—ia mengandung anak Kaisar. Namun mengapa Kaisar menolak mengakuinya?

Kedua—ia mengandung anak seseorang yang bahkan tak pernah ia sentuh.

Kemungkinan kedua membuat darahnya terasa membeku.

“Tidak…” bisiknya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Ini pasti kesalahan.”

Ia sungguh sangat frustasi, karena ia tak memiliki ingatan apapun milik Bai Ruoxue. Ia menjadi tidak tahu bagaimana pergerakan tubuh ini sebelum ia memasuki tubuhnya.

Karena itu ia mengambil keputusan nekat.

Ia akan mencari tabib terbaik di luar kekaisaran. Tabib yang tak berada di bawah bayang-bayang istana. Tabib yang tak bisa dipengaruhi oleh kekuasaan atau ketakutan.

Wilayah utara. Tempat terpencil dengan udara tipis dan jalur berbahaya. Di sana tinggal seorang tabib legendaris yang menolak panggilan istana dan hidup menyendiri. Orang-orang menyebutnya eksentrik, bahkan gila. Tapi tak ada yang meragukan keahliannya.

Masalahnya, ia tak bisa pergi tanpa izin.

Saat ia menghadap Kaisar untuk menyampaikan keinginannya, aula pribadi terasa lebih dingin dari biasanya. Kaisar duduk di singgasananya yang rendah, mengenakan jubah hitam bersulam naga emas. Wajahnya tampan, tegas, namun sulit dibaca.

“Kau ingin meninggalkan istana?” suaranya dalam, tanpa emosi.

“Hamba hanya ingin memastikan kesehatan, Yang Mulia,” jawab Bai Ruoxue dengan kepala tertunduk, tetapi suaranya stabil. “Tabib di luar istana mungkin memiliki pandangan berbeda.”

Tatapan Kaisar menajam.

“Apakah kau meragukan tabib kekaisaran?”

“Bukan meragukan,” ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap lurus. “Hanya ingin memastikan.”

Keheningan memanjang.

Udara terasa berat.

Akhirnya Kaisar berbicara, nada suaranya datar. “Aku memiliki inspeksi di wilayah utara beberapa hari lagi. Kau boleh ikut. Tapi kau tidak akan pergi sendiri.”

Hatinya menegang.

Ia ingin pergi untuk menjauh dari sorot mata istana. Untuk mencari kebenaran tanpa tekanan. Namun kini justru ia harus melakukan perjalanan panjang bersama pria yang menjadi pusat dari segala misteri ini.

“Hamba mengerti, Yang Mulia." katanya pelan, meski di dalam dadanya bergolak.

Dan malam ini, sebelum keberangkatan esok hari, ia bersiap-siap. Shuang Shuang bergerak cekatan, melipat pakaian dan menyiapkan obat-obatan. Wajah pelayan setianya itu penuh kekhawatiran.

“Nona harus menjaga diri. Perjalanan ini tidak singkat,” ucapnya lembut.

Bai Ruoxue tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja.”

Namun tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih rata.

Baik-baik saja?

Ia bahkan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya sendiri.

“Shuang Shuang, ambilkan selendang bulu di ruang penyimpanan. Yang warna putih.”

“Baik, Nona.”

Pintu tertutup pelan.

Sunyi.

Hanya suara lilin yang berdesis kecil dan angin malam yang menyentuh tirai sutra. Bai Ruoxue menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya.

Lalu—

Suara kayu bergeser.

Sangat pelan.

Tapi cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri.

Ia menoleh perlahan.

Jendela yang tadi tertutup kini terbuka sedikit. Angin masuk lebih deras, membuat nyala lilin bergetar liar.

Dan sesosok bayangan hitam melompat masuk dengan gerakan yang terlalu ringan untuk manusia biasa.

Dunia seperti membeku.

Pria itu.

Pria berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup kain gelap. Hanya matanya yang terlihat—tajam, dingin, dan begitu dikenalnya.

Ingatan tentang malam itu menghantamnya seperti badai. Tangan besar yang tiba-tiba mencengkeram lehernya. Tekanan yang membuatnya hampir tak bisa bernapas. Tatapan itu—tatapan yang sama seperti sekarang.

Bai Ruoxue mundur refleks.

Tumitnya menyenggol meja kecil. Botol-botol kaca dan kotak kayu jatuh berderak ke lantai. Suara pecahnya porselen memantul di dinding kamar.

Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia yakin pria itu bisa mendengarnya.

Pria itu melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Gerakannya tenang. Terukur. Seolah ia tak merasa berada di wilayah terlarang.

“Hati-hati,” ucapnya pelan.

Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan angin malam.

“Jangan bergerak terlalu cepat.”

Bai Ruoxue merasakan tenggorokannya kering.

“Apa yang kau inginkan?” suaranya bergetar meski ia berusaha tegar.

Pria itu menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Lalu pandangannya berhenti pada perutnya.

“Anda sedang hamil, kan?”

Kalimat itu seperti petir yang membelah dadanya. Tubuhnya membeku. Bagaimana dia tahu?

Tangannya refleks melindungi perutnya.

“Itu bukan urusanmu,” desisnya, meski ketakutan jelas terdengar dalam suaranya.

Pria itu tersenyum tipis di balik kain penutup wajahnya—ia bisa melihat kerut halus di sudut matanya.

“Kudengar Kaisar tak mau mengakuinya.”

Darahnya seperti berhenti mengalir. Desas-desus itu sudah menyebar sejauh ini?

“Atau…” pria itu melangkah lebih dekat, jarak mereka kini hanya beberapa langkah, “ia memang tahu sesuatu yang tidak anda tahu.”

Bai Ruoxue merasakan lututnya melemah, tetapi ia menolak jatuh.

“Apa maksudmu?”

Pria itu tidak menjawab langsung. Tatapannya menusuk, seperti ingin menembus lapisan pertahanan terakhirnya.

“Kalau begitu…”

Suasana terasa semakin sesak.

“Apa…” napasnya tercekat.

Pria itu berhenti tepat di depannya. Cukup dekat hingga ia bisa merasakan hangat napasnya di udara dingin.

“Ia jadi anakku?”

Waktu seakan berhenti. Bai Ruoxue merasa seolah tanah di bawah kakinya runtuh.

“Apa katamu?” suaranya hampir tak terdengar.

Jantungnya berdentam keras, bukan hanya karena takut—tetapi karena kalimat itu menyentuh sisi tergelap dari pikirannya. Sisi yang selama ini ia tekan dan tolak untuk dipikirkan.

Pria itu tidak mundur.

Tatapannya tak bergeser.

Dan Bai Ruoxue berdiri di sana, terperangkap di antara ketakutan, kemarahan, dan sebuah kemungkinan yang terlalu mengerikan untuk diakui.

1
Emmastlen95
good job
Syamsu Ducha
di tunggu up nya thor
Jeni Permata06
kapan up lagi
aleena
lalu apakah tidakk ada sekilas inngatan miik bay rouxue yg asli
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!