Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Luka Di Dua Kerajaan
Hari pernikahan Simon tiba, setelah mengucapkan janji pernikahan. Tiba saatnya saling berciuman, Simon membuka penutup wajah pengantinnya dan sedikit terkejut, "Astaga tak cantik sama sekali. Seharusnya tak usah kubuka." Dia berkata pelan namun masih terdengar oleh pengantin wanita. Mendengar ucapan itu, dia merasa sakit hati. Sebab dia tak menginginkan menikah dengan Simon, namun tak bisa menolak perintah Raja.
Setelah acara pernikahan selesai, pengantin wanita hendak berganti pakaian untuk menjamu tamu undangan di aula. Namun Simon tiba-tiba masuk kamarnya dan menyuruh para pelayan keluar.
"Kau sudah jadi istriku, jadi lakukan kewajibanmu sekarang." Ucap Simon sembari menutup pintu dengan kencang. Pengantin wanita itu tersentak dengan suara pintu yang tertutup keras.
"Yang Mulia, sekarang belum waktunya. Masih banyak tamu undangan yang harus disapa." Jawabnya dengan elegan.
"Tamu bisa menunggu. Jika tak mau menunggu bisa pulang saja. Siapa namamu? Karena wajahmu jelek, aku juga susah mengingat namamu." Ucap Simon.
Mendengar ucapan Simon itu, pengantin wanita makin sakit hati namun mencoba menahan diri tak tetap bersikap anggun, "Nama saya Nancy, Yang Mulia."
"Sudah basa-basinya, cepat lepas gaunmu itu." Perintah Simon.
"Yang Mulia..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya itu. Simon menarik gaunnya hingga robek. Serta menarik dan mendorong Nancy ke atas ranjang.
"Aku tak suka dibantah! Ingat itu baik-baik." Simon mencengkeram pipi Nancy dengan paksa. Dan mencium bibirnya dengan paksa. Lalu memaksanya tanpa memedulikan Nancy yang sudah kelelahan.
"Kau tak menyukai ini kan? Akupun sama! Jadi cepatlah hamil anakku supaya aku tak perlu melakukan hal ini denganmu lagi. Kalau kau tak kunjung hamil, terpaksa aku akan melakukan ini tanpa henti hingga kau hamil." Simon kembali memaksa Nancy lagi. Nancy hanya terbaring pasrah dan air mata mengalir keluar dari matanya.
"Palingkan wajah jelekmu itu atau kalau perlu tutupi. Membuatku muak saja." Ucap Simon.
'Muak katamu? Tapi kau tetap melakukan hal menjijikanmu itu padaku. Dasar sampah!' Batin Nancy marah.
Setelah Simon merasa capek, dia menyuruh Nancy bersiap menyambut tamu di aula. Dia memanggil pelayan untuk membantu Nancy bersiap. Sebelum Simon meninggalkan kamar Nancy, dia berkata, "Datanglah ke kamarku malam ini." Tanpa menunggu respon dari Nancy, Simon berjalan keluar.
Pelayan yang melihat penampilan Nancy hanya terdiam seolah tak melihat apapun. Simon dan Nancy menyambut tamu sebentar. Dan duduk bersama dengan Raja dan selirnya. Selir itu memandang sinis Nancy, dan Nancy hanya pura-pura tak menyadarinya dan bersikap elegan. Sementara Simon, entah menghilang kemana. Jelas sekali sedang menghabiskan waktu dengan gadis lain di suatu tempat.
***
Malam harinya, Nancy mendatangi kamar Simon. Saat Simon menyuruhnya masuk, Nancy terkejut ada tiga gadis di ranjang bersama Simon. Saat Simon menoleh ke arah Nancy, Simon menyuruh ketiga gadis itu keluar. Dan menyuruh Nancy mendekat ke ranjang Simon. Apa yang terjadi setelahnya hanya Nancy yang tau. Yang pasti ketika pelayan masuk keesokan paginya, Nancy duduk diam di pojok kamar dengan tatapan kosong. Dalam hatinya, dia merasa benar-benar jijik dengan Simon. Entah berapa lama dia bisa bertahan hidup berdampingan dengan Simon.
Berminggu-minggu berlalu, hingga beberapa bulan. Datang bulan adalah hal yang dinantikan Nancy, sebab Simon tak akan menyentuhnya. Namun juga hal yang membuatnya sedih, karena setelah berhenti datang bulan, Simon akan menyentuhnya lagi. Simon memperlakukan Nancy dengan kasar. Raja mengetahui perlakuan Simon pada Nancy, namun memilih diam asalkan Simon bisa memiliki keturunan. Suatu hari Nancy tak datang bulan, dokter memeriksanya dan menyatakan bahwa Nancy hamil. Kabar itu membuat Raja sangat bahagia, namun Nancy lah yang benar-benar merasa lebih bahagia. Sebab penderitaannya berakhir. Simon tak akan lagi menyentuhnya. Dan Raja mengumumkan bahwa setelah cucunya lahir, Raja akan turun tahta dan digantikan oleh Simon. Mendengar hal itu, selir sangatlah kesal. Mencoba mendekati Nancy namun gagal, sebab Nancy cukup waspada terhadapnya. Nancy pun meminta perlindungan dan penjagaan lebih ketat hingga bayi yang dikandungnya itu lahir. Raja pun mengabulkannya. Jadi orang-orang yang ingin menemui Nancy dibatasi. Dan hanya menempatkan pelayan dan pengawal kepercayaan saja. Serta semua makanan dan minuman yang akan dikonsumsi Nancy harus melewati pemeriksaan ketat. Awalnya Nancy mengabaikan bayi dalam kandungannya itu. Dia berpikir setelah melahirkannya, dia akan meminta untuk bercerai dari Simon dan meninggalkan bayinya itu. Namun seiring perutnya membesar, dia mulai menyayangi bayi dalam kandungannya itu. Bahkan tak sabar menantikan kelahirannya.
***
Tiba saatnya Nancy melahirkan. Raja dan selir serta kedua orang tua Nancy menunggu di luar kamar Nancy. Sementara Simon sibuk bercumbu dengan gadis lain. Simon selama ini hanya menghabiskan malam dengan gadis-gadis yang masih perawan saja. Dia berpikir dengan begitu dia tak akan tertular penyakit kelamin. Namun pemikirannya itu salah.
Suara tangisan bayi terdengar, Nancy melahirkan seorang bayi laki-laki. Nancy pun menangis bahagia, sebab penantiannya berakhir. Akhirnya dia bisa bertemu dengan bayi yang selama ini dikandungnya itu. Dan menamainya Julien.
***
Di kerajaan Cyrven, menjelang sehari sebelum hari pernikahan Victor. Victor menghadiri jamuan di kediaman keluarga Sylvaine. Mereka berangkat bersama, sepanjang perjalanan mereka hanya membicaran tentang pekerjaan. Wilayah keluarga Sylvaine cenderung banyak bukit dan lembah, sehingga pemandangan cukup bagus. Jalanan lebih banyak memutari bukit jadi benar-benar bisa menikmati perjalanan tanpa rasa bosan dengan disuguhi pemandangan alam yang indah. Setibanya di sana, mereka disambut ayah dan ibu Sylvaine.
"Terima kasih telah menyempatkan hadir di jamuan kami, Yang Mulia Putra Mahkota." Sambut ayah Sylvaine.
"Paman tak perlu bersikap formal seperti ini. Lagipula saya juga sudah lama sekali tak mengunjungi wilayah Paman ini." Jawab Victor.
"Ayo masuk, masa mau ngobrol di luar." Ajak Ibu Sylvaine dengan lembut.
Sylvaine menggandeng lengan Victor dan berjalan masuk bersama-sama dengan anggun dan elegan. Mereka menuju ruang makan sebab mereka tiba tepat waktu makan siang. Makanan yang disajikan terasa cocok di lidah Victor dan membuatnya makan cukup banyak dibandingkan porsi makan biasanya. Mengetahui hal itu, Sylvaine tersenyum kecil dan makan dengan elegan. Suasana di sana cukup hangat. Namun salah satu pengawal Victor menyampaikan kabar bahwa ada masalah penting yang harus segera ditangani. Mendengar hal itu, Victor pun bersiap dan memohon ijin untuk segera kembali ke istana. Ibu Sylvaine terlihat kecewa, namun Victor mengatakan bahwa Sylvaine bisa berada di sini lebih lama dan Victor hanya akan kembali sendirian ke istana. Awalnya Sylvaine enggan menerima usul Victor itu. Namun Victor meyakinkannya dan akhirnya Sylvaine setuju. Lalu Victor bergegas kembali ke kereta kudanya setelah berpamitan.
Ditengah perjalanan ternyata ada beberapa pohon besar yang tumbang yang menghalangi jalan disebabkan tanah longsor, sehingga tak memungkinkan untuk dilewatinya. Akhirnya Victor menyuruh untuk mencari jalan lain. Namun pengawalnya mengatakan bahwa jalan lain itu lebih rawan longsor karena harus turun melewati lembah. Tapi Victor mengatakan untuk mencobanya terlebih dahulu, sekiranya terlihat berbahaya pilihan terakhir kembali ke rumah keluarga Sylvaine. Saat kereta hendak berbalik, tiba-tiba tanah sedikit bergetar dan bergegas untuk meminta Victor segera turun dari kereta kudanya. Namun semua terjadi begitu cepat, getaran tanah itu disebabkan batu besar yang menggelinding turun dari atas bukit dan langsung menghantam tepat di kereta kuda yang dinaiki Victor dan menyebabkan longsor. Batu besar itu menindih kereta kuda di dasar lembah dan tertimbun tanah longsor. Sebagian penjaga ikut terjatuh dan penjaga yang tidak terjatuh segera turun untuk mengevakuasi Victor. Ada sekitar sepuluh korban luka-luka dan lima korban meninggal. Satu diantara korban meninggal itu adalah Victor.
Bersambung...