Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan mantan istri Farhan
Seharian ini Helena dan si bungsu bermain di dalam ruang kerja Farhan, Nael bahkan sampai ketiduran setelah kelelahan bermain bersama Helena.
"Kamu mau pulang duluan atau nanti bareng sama aku?" tanya Farhan kepada Helena yang duduk sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya agar tidur Nael semakin nyenyak.
Helena menggelengkan kepala, "Kalau aku pulang sekarang, aku takut Nael kebangun," ucap Helena dengan volume yang sangat kecil agar tidak mengganggu Nael.
"Tidak apa-apa, agar kamu juga bisa istirahat setelah sampai rumah," ucap Farhan.
"Apa boleh mas?" tanya Helena.
Farhan terkekeh geli dengan istrinya yang masih saja takut dalam mengambil tindakan, "memangnya tidak boleh kenapa, mas tau kamu juga kelelahan, itulah mengapa mas bertanya apa kamu ingin pulang sekarang atau bareng mas? lihat guratan lelah di wajahmu sangat terlihat,"
Helena akhirnya mengangguk, dirinya memang kelelahan juga, karena setelah makan siang ini, ia dan Nael bermain lari-larian di ruang playground yang memang Farhan buatkan khusus untuk Nael, saat ia berusia satu tahun.
Waktu itu Farhan dan istrinya bercerai, dan hak asuh Nael jatuh kepadanya, karena memang sedari awal Nael lebih dekat dengan papanya di bandingkan mamanya, ia selalu menangis jika berada jauh dari Farhan itulah mengapa tak asuh Nael jatuh kepada Farhan.
Lalu karena Farhan harus tetap bekerja sekaligus mengurus Nael, ia membuatkan playground khusus di dalam ruangannya yang di perluas lagi, sekaligus dengan tempat istirahat Nael. Jadi Farhan tetap bisa fokus bekerja sedangkan Nael akan sibuk bermain playground dengan Sus Widya.
"Pulang sama sopir kantor ya,"
"Iya, mas," jawab Helena terkekeh pelan melihat mimik wajah suaminya yang terlibat aneh. Entah khawatir karena melihat raut kelelahan Helena atau memang karena khawatir jika Nael tidak tidur dengan nyaman jika terus-terusan berada di dalam gendongannya.
Dan Helena memilih berpikir opsi pertama, Farhan memang sangat menyayangi anaknya tapi Helena juga bisa merasakannya jika ia juga sangat dicintai oleh suaminya.
"Sini, biar mas yang gendong Nael sampai masuk mobil," kedua tangan Farhan terbuka siap menyambut Nael yang tertidur, tapi Helena menggelengkan kepalanya.
"Mas lanjut kerja lagi, aku bisa loh gendong sampai ke bawah,"
"Tidak apa, biar mas saja, setelah kamu duduk nyaman di mobil, baru gendong Farhan lagi," paksa Farhan membuat Helena mau tak mau menyerahkan Nael ke dalam gendongannya suaminya.
"Nael sudah mulai berat loh ini, terakhir di timbang kan minggu lalu, beratnya sudah sampai 12 kilogram,"
Helena mengangguk, "aku masih sanggup kalau segitu mas, masih belum terlalu berat untuk aku,"
"Iya, tapi jangan sering-sering kamu gendong, mas gak mau nanti Nael jadi senang waktu kamu gendong terus, nanti lama-lama kamu bisa sakit pinggang," peringat Farhan mengingat tubuh istrinya yang kurus dan tidak terlalu berisi membuat ia sedikit khawatir jika terus-terusan menggendong Nael yang beratnya sudah mencapai 12 kilogram.
***
Helena yang baru saja masuk ke dalam rumah terkejut mendapati seorang wanita dengan yang sedang memeluk Kenzo juga Freya di sisi kanan dan kirinya.
Kening Helena mengerut karena selama tiga bulan ia menjadi ibu rumah tangga di rumah itu, ia sama sekali belum pernah melihat wanita dengan rambut berwarna hitam pekat, wajahnya terlihat ayu juga berseri, bahkan wajahnya terlihat masih sangat muda. Apakah itu saudara dari keluarga Farhan atau siapa? Cantik sekali. pikir Helena yang terpana dengan pesona wanita berambut hitam legam itu.
"Jadi ini mama baru kalian?" tanya wanita itu menatap Helena dengan tatapan, entahlah. Helena tidak bisa mengartikannya, seperti tatapan kagum sekaligus mengejek.
"Loh, emangnya kapan aku punya mama baru?" tanya balik Freya menatap sinis Helena dan mengeratkan pelukannya kepada wanita itu.
Helena tersenyum canggung, lalu mencoba menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat.
"Saya Helena istri dari mas Farhan," ucap Helena memperkenalkan diri dengan tangan kanannya yang terangkat untuk bersalaman dengan wanita yang Helena masih tidak tau siapa.
Hening. Jabatan tangannya tak terbalas, bahkan wanita di depannya itu malah diam menatap Helena dengan tatapan menyelidik.
"Berikan Nael kepadaku!" wanita itu malah mengulurkan tangannya hendak mengambil Nael yang terlelap di pundak Helena.
"Maaf, tapi Nael sedang tidur," tolak Helena sopan.
"Berapa lama kamu di sini?"
Helena mengerutkan keningnya bingung, maksudnya ia sudah berapa lama tinggal di sini?
"Sudah tiga bulan lebih," Helena menjawab dengan sedikit kaku. Kenapa aura wanita itu semakin terasa kuat bahkan terasa mengintimidasi Helena.
"Berikan Nael kepada mama, kamu tidak dengar?" bentak Freya kepada Helena karena malah mengulur-ngulur waktu.
"mama," lirih Helena menatap wanita di hadapannya. Jadi wanita berambut hitam itu mama kandung dari ketiga anak tirinya. Kenapa Farhan tidak bercerita jika mereka berpisah karena bercerai, karena selama ini, yang Helena tahu jika mantan istri Farhan sudah meninggal, itulah mengapa tidak ada yang bisa menggantikan posisi seorang ibu di hati Freya juga Kenzo.
"J-jadi kamu mama m-mereka?" tanya Helena pelan, hampir seperti berbisik.
"Berikan Nael kepadaku!" wanita itu benar-benar tidak mengharap pertanyaan Helena, ia malah merebut paksa Nael yang sedang terlelap di pundak Helena.
Detik itu juga, Nael yang merasa tubuhnya ada yang menarik kasar langsung menangis karena terkejut, bahkan ia hampir saja terjatuh jika tidak ditahan dengan tangan Helena yang sigap.
"Lepaskan tanganmu dari anak saya!"
Helena langsung menjauhkan tangannya dan tubuh Nael dan mundur beberapa langkah. Sedangkan Nael melihat siapa yang menggendongnya langsung menangis kencang dan mencari keberadaan Sus Widya, Sus Widya yang sedang berada di dapur langsung berlari dan menghampiri Nael yang berteriak-teriak memanggil-manggil nama susternya.
"Lihat kan, Nael jadi menangis gara-gara kamu tidak langsung memberikan Nael ke mama," teriak Freya mendorong Helena agar sedikit menjauh dari mamanya juga Nael yang memberontak ingin di gendong susu Widya.
"Oke, Nael sama sus Widya dulu ya," ucap wanita itu lembut dan langsung memberikan Nael kepada babysitternya. Setelah berada di pelukan sus Widya, barulah Nael berhenti menangis dengan menyembunyikan wajahnya di pundak Sus Widya.
"Lain kali, jangan paksa Nael kalau Nael tidak mau sama kamu,"
Setelah mengatakan hal itu kepada Helena, Freya langsung menggandeng tangan mamanya untuk pergi keluar dari rumah, sebenarnya mereka sudah siap untuk pergi jalan-jalan, tapi mantan istri Farhan itu sengaja menunggu kedatangan Nael karena ia ingin menggendong Nael, memang sejak bayi, Nael tidak begitu dekat dengan mamanya, bahkan Nael tidak pernah sekali pun meminum air asi dari mamanya. Jadi sangat wajar jika Nael menangis saat digendong oleh mama kandungnya.
Satu-satunya yang bisa dekat dengan Nael hanya Helena, bahkan dengan kakak kakanya pun Nael tidak akan pernah mau di gendong. Nael tipikal balita yang sangat sulit di dekati.
"Kalian mau kemana?"
Farhan yang baru saja sampai rumah langsung mengerutkan dahinya bingung melihat Freya dan Kenzo yang sudah siap pergi keluar dengan mama kandungnya.