Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curahan Hati yang Salah Alamat
Jane menarik napas panjang, jemarinya gemetar saat mengetik balasan untuk Mr. A. Di tengah kesunyian kamarnya, hanya suara detak jam dinding yang menemani pergulatan batinnya. Ia merasa Mr. A adalah satu-satunya pelabuhan aman untuk menumpahkan apa yang ia saksikan di kelas tadi.
Ms. J: Hari ini benar-benar berat, Mr. A. Kelas terasa seperti medan perang. Aku melihatnya... Julius. Dia terlihat sangat lelah. Lucia dan Clark bertengkar hebat tentang pertunangannya dengan Grace, dan dia hanya diam di sana, seolah-olah dia sedang memikul beban seluruh dunia sendirian.
Ms. J: Rasanya menyakitkan melihat seseorang yang begitu hebat harus terlihat serapuh itu di balik laptopnya. Aku ingin sekali melakukan sesuatu, tapi aku sadar siapa diriku. Aku hanya debu yang melihat matahari dari kejauhan. Aku merasa bodoh karena mencemaskannya, padahal dia bahkan mungkin tidak tahu aku ada di kelas itu jika aku tidak duduk tiga meter di belakangnya.
Di sisi lain kota, di dalam kamar yang luas dan dingin di kediaman Randle, Julius duduk di tepi tempat tidurnya. Layar ponselnya menyinari wajahnya yang kaku. Saat pesan dari Jane masuk bertubi-tubi, rahangnya yang tegas perlahan melunak.
Ia membaca kata demi kata. Rapuh. Menyakitkan. Mencemaskannya.
Julius memejamkan mata sejenak. Di dunia yang menuntutnya menjadi sempurna, hanya gadis tekstil ini yang mampu melihat bahwa dia sedang hancur. Bukan karena masalah saham, tapi karena kebebasannya sedang direnggut.
Ia mulai mengetik, suaranya di dalam kepala terasa jauh lebih lembut daripada suara dingin yang ia tunjukkan di kampus.
Mr. A: Dia tahu kau ada di sana, Ms. J. Percayalah. Terkadang, justru perhatian dari seseorang yang dianggap debu itulah yang membuatnya tetap tegak berdiri. Kau tidak bodoh karena mencemaskannya. Kau hanya memiliki hati yang tidak dimiliki oleh orang-orang konglomerat itu.
Mr. A: Jika kau punya kesempatan bicara padanya besok, apa yang akan kau katakan?
Jane menatap layar ponselnya, merenung cukup lama sebelum menjawab.
Ms. J: Aku hanya ingin bilang: "Tidak apa-apa untuk tidak menjadi sempurna sesekali. Kamu tidak harus memikul Randle Group sendirian malam ini." Tapi tentu saja, aku tidak akan pernah punya keberanian untuk mengucapkannya.
Pagi itu, kampus New Zealand diselimuti kabut tipis. Jane masuk ke kelas dengan mata yang sedikit sembab karena kurang tidur. Seperti biasa, ia duduk di baris ketiga.
Tak lama kemudian, Julius masuk. Namun kali ini, ia tidak langsung duduk. Ia berhenti sejenak di depan baris ketiga, menoleh ke arah Jane.
Henry yang baru masuk bersama seorang gadis baru langsung bersiul. "Woi, Jules! Tumben mampir di baris rakyat jelata?"
Julius tidak membalas ejekan Henry. Matanya tetap terkunci pada Jane. Untuk pertama kalinya, Julius tidak menatapnya dengan pandangan dingin yang tajam, melainkan dengan tatapan yang dalam, seolah ia sedang mencari kalimat yang Jane tulis di chat semalam di dalam bola mata gadis itu.
"Jane Montmartre," panggilnya rendah.
Jane tersentak, "Ya... Julius?"
"Laptopku bermasalah dengan data tekstil yang kau berikan kemarin. Ikut aku ke perpustakaan setelah kelas ini berakhir. Hanya kita berdua," ucap Julius tegas, lalu berjalan menuju kursinya di depan.
Lucia, Clark, dan Patrick saling pandang. Henry melongo. "Hanya berdua? Sejak kapan bos kita jadi doyan privat sama anak tekstil?" bisik Henry yang langsung dihadiahi injakan kaki oleh Lucia.
Jane menunduk, jantungnya berpacu liar. Ia teringat pertanyaan Mr. A semalam. Apakah ini kesempatan yang dimaksud oleh sang peramal? Atau apakah Julius mulai menyadari sesuatu?
Yang Jane tidak tahu adalah, di bawah meja dosen yang sedang bersiap mengajar, tangan Julius sedang menggenggam ponselnya erat. Di layarnya tertulis sebuah catatan pendek yang ia buat untuk dirinya sendiri:
Dia melihatku. Jane melihatku.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍