Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 23: Mahkota Berdarah
Debu dari runtuhan Menara Matahari masih melayang di udara, berkilauan tertimpa cahaya fajar yang perlahan menyapu sisa-sisa pertempuran di Ibu Kota Aurora. Bau mesiu dan sihir yang terbakar mulai memudar, digantikan oleh aroma tanah basah setelah hujan badai semalam. Di dalam ruangan takhta yang kini tak lagi memiliki atap, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara napas Alaric yang tersengal dan rintihan pelan dari para ksatria yang terluka di kejauhan.
Alaric masih mendekap Elara, seolah-olah jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita itu akan menguap menjadi cahaya seperti sang Kaisar. Elara tampak sangat rapuh; kulitnya hampir setransparan porselen, dan helai rambut putihnya yang biasanya bercahaya kini tampak kusam, kehilangan energi sihirnya.
"Alaric..." suara Elara hampir tak terdengar, sebuah bisikan yang lebih halus dari hembusan angin. "Ayah... di mana Ayah?"
Alaric mengusap pipi Elara dengan ibu jarinya yang kasar. "Kael sudah pergi menjemputnya di kediaman Lane. Dia selamat, Elara. Seluruh pasukan penjaga istana telah meletakkan senjata mereka begitu cahaya putih itu menyapu kota. Mereka tahu kekuasaan Kaisar sudah berakhir."
Kekosongan di Atas Takhta
Meskipun Kaisar telah tiada, masalah besar baru saja dimulai. Kekaisaran Aurora kini seperti tubuh tanpa kepala. Para bangsawan dari faksi netral mulai bermunculan dari persembunyian mereka, berkumpul di koridor istana dengan wajah penuh kecemasan dan keserakahan yang tersembunyi. Mereka mencari tahu siapa yang akan duduk di kursi emas itu selanjutnya.
Alaric membantu Elara berdiri. Meski lemah, Elara menolak untuk digendong. Ia ingin berjalan dengan kakinya sendiri menuju Takhta Matahari yang masih berdiri tegak di ujung ruangan, meski sebagian permata hiasannya telah pecah.
"Jika aku tidak duduk di sana sekarang," ucap Elara sambil menatap kursi besar itu, "maka dalam satu jam, mereka akan mulai saling membunuh untuk memperebutkannya. Kita tidak bisa membiarkan pengorbanan ini sia-sia."
Dengan langkah yang perlahan namun pasti, Elara menaiki anak tangga takhta. Setiap langkah terasa seperti memikul beban seluruh nyawa yang hilang dalam perang ini. Saat ia sampai di puncak, ia berbalik menghadap ke arah aula yang kini mulai dipenuhi oleh para kapten Avalon, ksatria Ravenhurst, dan para bangsawan yang ketakutan.
Alaric berdiri di anak tangga di bawahnya, menghunus Duskbringer dan menancapkannya ke lantai marmer dengan suara dentuman yang bergema. "HORMAT PADA PENYELAMAT AURORA! HORMAT PADA ELARA VON LANE!"
Satu per satu, para ksatria Avalon berlutut. Ksatria perunggu yang masih tersisa di dermaga seolah merasakan momen itu, mengeluarkan suara dengungan rendah yang menggetarkan fondasi istana. Para bangsawan yang ragu akhirnya ikut berlutut, menyadari bahwa kekuatan militer dan sihir yang ada di ruangan itu tidak bisa dilawan.
Pertemuan dengan Sang Ayah
Pintu aula utama terbuka lebar, dan Marquess Lane masuk dengan langkah tergesa. Wajahnya yang tua tampak lebih lelah, namun matanya memancarkan kebanggaan yang tak terlukiskan saat melihat putrinya berdiri di depan takhta.
"Elara..." Marquess Lane berhenti di tengah aula, napasnya tertahan. "Kau... kau benar-benar melakukannya."
Elara turun dari takhta dan berlari kecil menuju pelukan ayahnya. Di sana, di hadapan semua orang, ia melepaskan topeng ketegarannya dan menangis di bahu ayahnya. "Aku melakukannya untuk kita, Ayah. Agar tidak ada lagi yang bisa menyentuh keluarga kita."
Marquess Lane mencium kening putrinya, lalu menoleh ke arah Alaric. "Grand Duke, terima kasih telah menjaganya. Tapi sekarang, tugas yang lebih berat menanti. Rakyat sedang menunggu di luar gerbang. Mereka butuh penjelasan, mereka butuh harapan."
Pengadilan Bagi Para Pengkhianat
Penobatan tidak bisa dilakukan secara instan. Ada darah yang harus dibersihkan dan pengkhianatan yang harus diadili. Selama tujuh hari berikutnya, Elara memimpin pengadilan darurat. Mengenakan pakaian hitam formal, ia duduk di kursi pengadilan, memilah satu per satu bangsawan yang terlibat dengan Solis Invicta.
"Countess Beatrice," Elara memanggil nama sepupu permaisuri yang pernah ia pikirkan saat di Avalon.
Wanita itu maju dengan tubuh gemetar. "My Lady... saya dipaksa! Valois mengancam akan membunuh anak-anak saya!"
Elara menatapnya dengan tatapan yang dingin, tatapan yang ia pelajari dari Alaric. "Setiap orang yang berdiri di sini memiliki alasan untuk pengkhianatan mereka, Beatrice. Tapi kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain: informasi. Berikan aku nama-nama jaringan Solis Invicta yang masih bersembunyi di wilayah Timur, dan aku akan mempertimbangkan untuk membiarkan keluargamu tetap memegang gelar mereka."
Dengan cara itulah Elara mulai membersihkan sisa-sisa racun di kekaisaran. Ia tidak membantai semua orang; ia menggunakan rasa takut dan harapan sebagai alat untuk membangun loyalitas baru. Ia bukan lagi gadis naif yang bisa diracuni dengan mudah; ia adalah seorang politikus ulung yang terlahir dari bara dendam.
Malam Sebelum Penobatan
Malam sebelum hari penobatan resmi sebagai Empress Regnant pertama dalam sejarah Aurora, Elara berdiri di balkon kamarnya. Alaric datang membawakannya sebuah kotak beludru merah.
Di dalamnya terdapat sebuah mahkota yang berbeda dari mahkota kaisar sebelumnya. Mahkota itu terbuat dari perak murni yang dipadukan dengan kristal obsidian hitam—melambangkan persekutuan antara cahaya Lane dan kegelapan Ravenhurst.
"Aku memesan ini secara khusus dari pengrajin terbaik di Avalon," bisik Alaric sambil memakaikan mahkota itu di kepala Elara. "Kau tampak sempurna."
Elara menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Apakah kau akan tetap di sampingku, Alaric? Sebagai permaisuriku? Atau kau akan tetap menjadi Grand Duke yang bebas di perbatasan?"
Alaric memegang pinggang Elara dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu. "Aku akan menjadi apa pun yang kau butuhkan. Jika kau butuh seorang jenderal, aku akan berperang. Jika kau butuh seorang suami, aku akan mencintaimu. Dan jika kau butuh seseorang untuk menanggung dosa-dosamu, aku akan melakukannya dengan senang hati."
Elara membalikkan tubuhnya dan mencium Alaric dengan penuh gairah. Ciuman itu bukan lagi tentang pelarian atau ketakutan, melainkan tentang kemenangan dan masa depan. Namun, di tengah kemesraan itu, Elara teringat akan penglihatan terakhir yang ia dapatkan saat menyerap energi menara.
"Alaric," Elara melepaskan pelukannya, wajahnya mendadak serius. "Ada satu hal yang tidak kukatakan padamu. Saat energi itu masuk ke tubuhku, aku melihat sesuatu di masa depan. Sebuah bayangan besar dari seberang lautan. Solis Invicta hanyalah pion kecil bagi kekuatan yang lebih besar di benua lain."
Alaric tidak tampak terkejut. Ia hanya mengeratkan genggamannya pada tangan Elara. "Kalau begitu, kita akan membangun kekaisaran ini menjadi benteng yang tak tertembus. Kita memiliki darah Lane, pedang Ravenhurst, dan pengetahuan dari masa depanmu. Biarkan mereka datang, Elara. Kita akan menyambut mereka dengan api."
Hari Penobatan
Matahari terbit dengan megah di hari kedelapan. Seluruh penduduk ibu kota berkumpul di alun-alun besar di depan istana. Ketika Elara melangkah keluar menuju balkon utama, mengenakan gaun kebesaran berwarna putih dan emas dengan mahkota perak di kepalanya, sorak-sorai rakyat terdengar seperti guntur yang mengguncang bumi.
Elara mengangkat tangannya, dan seketika ribuan orang itu terdiam.
"Rakyat Aurora!" suara Elara diperkuat oleh sihir pemurnian, terdengar jelas hingga ke ujung kota. "Hari ini, kita tidak hanya merayakan berakhirnya seorang tiran. Kita merayakan lahirnya sebuah era di mana kebenaran tidak lagi dikubur di bawah emas pengkhianatan. Aku, Elara von Lane, bersumpah demi darahku dan demi nyawa yang telah hilang, bahwa aku akan menjadi pelindung bagi kalian semua. Matahari yang lama telah terbelah, tapi cahaya yang baru kini telah lahir!"
Saat ia mengucapkan kalimat itu, Ksatria Perunggu di pelabuhan secara serentak menghantamkan senjata mereka ke tanah, menciptakan irama yang agung. Alaric berlutut di depan Elara di hadapan seluruh rakyat, menyerahkan pedangnya sebagai simbol kesetiaan abadi militer kepada takhta.
Elara Lane, gadis yang pernah mati dalam kesunyian karena pengkhianatan cinta, kini telah bangkit sebagai penguasa tertinggi. Dendamnya telah tuntas, tapi perjalanannya sebagai sang Empress baru saja dimulai. Ia tahu bahwa takhta ini berdarah, tapi ia akan memastikannya menjadi landasan bagi kedamaian yang abadi.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔