Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Ruang keluarga kediaman utama keluarga Aditama terasa mencekam malam itu, seolah oksigen di dalamnya telah disedot habis. Lampu kristal gantung raksasa di langit-langit memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantul pada lantai marmer Italia yang dingin. Namun, kemewahan itu terasa hampa.
Di dinding utama, sebuah lukisan besar mendominasi ruangan. Potret seorang wanita anggun dengan senyum keibuan yang lembut mendiang Nyonya Aditama, ibunda Putra, yang telah berpulang lima tahun lalu akibat penyakit jantung. Sejak kepergiannya, rumah besar ini kehilangan nyawanya, menyisakan tiga anak yang tumbuh dengan cara mereka masing-masing dalam menanggapi kehilangan.
Di sofa kulit import berwarna cokelat tua, dua gadis muda duduk dengan wajah masam yang merusak kecantikan mereka. Mereka adalah Putri 25 tahun dan Kinan 23 tahun, adik-adik kandung Putra.
Kinan, si bungsu yang terkenal manja, impulsif, dan sangat fashionable, sedang menggulir layar ponselnya dengan kasar. Jari-jarinya yang lentik dengan kuku bercat merah darah mengetuk layar dengan gemas.
"Sumpah, Mas Putra pasti sudah gila karena kebanyakan kerja," desis Kinan tajam. Ia menyodorkan ponselnya ke wajah kakaknya. "Liat deh, Mbak Putri! Namanya Citra Anindya. Feeds Instagram-nya berantakan banget! Isinya foto makanan pinggir jalan sama quote-quote galau nggak jelas. Followers-nya cuma dua ratus, itu pun kayaknya akun bot semua."
Putri, sang kakak perempuan yang bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan high-end fashion, melirik sekilas dengan tatapan malas namun tajam. Ia menyesap wine-nya perlahan, gesturnya anggun namun memancarkan arogansi.
"Simpan hp-mu, Kinan. Sakit mataku melihat selera rendah begitu," ucap Putri dingin. "Dia pelayan restoran, kan? Apa yang kamu harapkan dari kasta jelata seperti dia? Dia pasti mendekati Mas Putra karena uang. Dasar cewek murahan, gold digger kelas teri."
"Aku nggak terima ya, Mbak!" seru Kinan lagi, suaranya melengking memenuhi ruangan. "Masa ipar kita level-nya jongos? Mama itu anak diplomat, Papa pengusaha sukses. Kita ini blue blood! Nanti kalau aku ajak dia ke arisan sosialita, aku mau taruh di mana muka aku? Bisa diketawain sama geng-ku kalau punya kakak ipar yang baunya bau bawang!"
Putri meletakkan gelasnya dengan denting keras. "Bukan cuma soal malu, Kinan. Pikirkan warisan dan reputasi perusahaan. Kalau media tahu Putra Aditama menikahi gadis tidak berpendidikan, saham bisa anjlok. Mas Putra benar-benar tidak pakai otak kali ini."
Suara langkah kaki tegas terdengar dari arah pintu depan, memotong pembicaraan berbisa mereka.
Putra masuk. Pria itu baru saja pulang dari acara lamaran di rumah Citra yang baginya seperti neraka dunia. Wajahnya lelah, dasinya sudah longgar, dan ekspresinya lebih keruh dari air comberan. Aura dinginnya langsung mendominasi ruangan, membuat para pelayan yang sedang membersihkan debu menunduk takut dan mundur teratur.
"Kenapa kalian berisik sekali? Suara kalian sampai terdengar ke garasi," tegur Putra datar saat melewati ruang tengah, tanpa menoleh sedikit pun.
Putri dan Kinan langsung berdiri serempak. Mereka tidak takut pada kakak sulung mereka itu; justru mereka merasa memiliki hak veto dalam urusan keluarga ini.
"Mas Putra!" panggil Putri tajam, nadanya menuntut penjelasan. Ia melipat tangan di dada, dagunya terangkat angkuh. "Mas serius mau nikah sama cewek kampung itu? Siapa namanya... Citra?"
Putra berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, menatap kedua adiknya dengan tatapan bosan yang menusuk. "Namanya Citra. Dan ya, saya akan menikah dengannya dua minggu lagi. Kenapa? Ada masalah dengan keputusan saya?"
"Jelas ada masalah besar!" sambar Kinan emosi, tak bisa menahan diri. Ia melangkah mendekati Putra, mengibaskan rambut panjangnya yang wangi salon mahal. "Mas, sadar dong! Mas itu Putra Mahesa Aditama. CEO! Masa nikah sama pelayan restoran lulusan SMA yang nggak jelas asal-usulnya? Dia itu nggak selevel sama kita, Mas! Bikin malu keluarga besar Aditama aja!"
Putra menyipitkan matanya, kilat berbahaya mulai terlihat. "Kinan, jaga bicaramu. Urusan siapa yang saya nikahi bukan urusanmu."
"Kinan bener, Mas," tambah Putri, suaranya lebih tenang namun setajam silet. Ia menunjuk lukisan besar di dinding. "Coba Mas pikir, kalau Mama masih ada... Mama pasti menangis darah liat putra kesayangannya nikah sama perempuan rendahan begitu. Mama selalu bilang, cari istri yang setara, yang bibit bebet bobotnya jelas. Bukan gembel yang dipungut dari restoran kumuh."
Menyebut nama "Mama" dalam konteks merendahkan adalah kesalahan fatal.
Rahang Putra mengeras seketika. Urat di lehernya menegang. Suhu di ruangan itu seolah turun drastis hingga titik beku. Tatapan bosan Putra berubah menjadi tatapan membunuh. Ia melangkah maju dua langkah besar, membuat Kinan refleks mundur karena takut melihat kemarahan yang tertahan di mata kakaknya.
"Jangan pernah... sekali lagi, jangan pernah bawa-bawa nama Mama untuk urusan kotor mulut kalian," geram Putra rendah, suaranya bergetar menahan amarah. "Keputusan ini datang dari Papa, dan saya menyetujuinya demi stabilitas perusahaan. Kalian pikir saya menyukai gadis itu? Tidak. Sama sekali tidak."
Kinan dan Putri terdiam, saling berpandangan dengan bingung. Mereka mengira Putra telah diguna-guna atau jatuh cinta buta.
"Dengar baik-baik," lanjut Putra, suaranya kembali datar, dingin, dan tanpa emosi. "Pernikahan ini hanya formalitas bisnis. Gadis itu tidak akan mengubah apa pun di rumah ini. Dia tidak akan menjadi nyonya besar yang menggantikan posisi Mama. Tidak akan pernah."
"Tapi tetep aja, Mas!" Kinan masih mencoba membantah, meski nyalinya menciut. "Dia bakal tinggal sama Mas, kan? Di apartemen penthouse Mas? Dia bakal bawa aura miskinnya ke hidup kita! Dia pasti norak, jorok, dan bikin malu!"
Putra membuang napas kasar, memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia terlalu lelah untuk meladeni drama picisan adik-adiknya. Baginya, Citra hanyalah objek yang harus ada di sana, tidak lebih berharga dari pajangan meja.
"Lakukan apa yang kalian mau. Saya tidak peduli," ucap Putra dingin, memberikan "lampu hijau" yang mengerikan bagi kedua adiknya. "Asal jangan ganggu pekerjaan saya di kantor. Kalau kalian tidak suka dia, anggap saja dia tidak ada. Atau terserah kalian mau memperlakukan dia bagaimana. Saya tidak akan membelanya."
Setelah mengucapkan kalimat kejam itu yang secara tak langsung menyerahkan Citra ke kandang singa Putra berbalik dan naik ke lantai atas menuju kamarnya, meninggalkan kedua adiknya yang masih berdiri dengan napas memburu.
Sepeninggal Putra, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu mewah itu. Namun kali ini, senyum Putri perlahan mengembang. Sebuah senyum miring yang licik.
"Dengar itu, Kinan?" bisik Putri pelan, matanya berkilat jahat. "Mas Putra sendiri nggak peduli sama istrinya. Dia nggak akan membela si udik itu."
Kinan menoleh, matanya berbinar penuh rencana jahat. "Maksud Mbak?"
"Kita bikin dia nggak betah," ujar Putri penuh dendam, menatap pintu kamar kakaknya di lantai atas. "Kita bikin si upik abu itu sadar diri kalau dia masuk ke neraka, bukan istana Cinderella. Kita kerjain dia habis-habisan, mental dan fisik, sampai dia sendiri yang lari nangis-nangis minta cerai sama Mas Putra."
Kinan tertawa kecil, membayangkan rencana-rencana jahat di kepalanya. "Setuju banget, Mbak. Liat aja nanti pas dia udah sah masuk keluarga ini. Aku bakal jadiin dia pembantu gratisan. Enak aja mau jadi kakak ipar aku. Dia harus tahu tempatnya di mana di dapur, bukan di ruang tamu."
Di kejauhan, lukisan mendiang Nyonya Aditama tetap tersenyum damai, tak mengetahui bahwa kedua putrinya sedang merencanakan kehancuran mental bagi seorang gadis polos bernama Citra, yang bahkan belum menginjakkan kaki di rumah itu. Awan gelap tampaknya akan segera menyelimuti kehidupan pernikahan Citra sebelum janji suci itu diucapkan.
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih