Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Kiriman Jantung
"Mundur! Semua mundur sepuluh meter! Jangan ada yang sentuh kotak itu!"
Teriakan Kalandra menggelegar di seluruh lantai satu markas besar kepolisian. Para polisi muda berlarian panik, menjauh dari meja resepsionis tempat sebuah kotak styrofoam putih tergeletak begitu saja.
Kotak itu terlihat biasa, seperti kotak ikan segar dari pasar. Tapi tidak ada yang berani meremehkannya karena ditutupnya tertulis dengan spidol merah darah: UNTUK DOKTER ZOYA TERSAYANG.
"Tim Gegana sudah jalan, Ndan! Perkiraan lima menit sampai!" lapor Raka dengan wajah pucat, pistolnya terarah ke kotak gabus itu.
"Kelamaan!" bentak Kalandra. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Dia baru saja tiba di kantor bersama Zoya setelah insiden pelacak di kerah jasnya. Rasa bersalah karena menjadi 'pembawa pesan' musuh masih membakar dadanya, dan sekarang teror itu diantar langsung ke depan hidungnya.
"Zoya, kamu tunggu di mobil. Jangan keluar," perintah Kalandra sambil menahan tubuh istrinya di balik pintu kaca lobi.
Zoya menepis tangan Kalandra. Dia melangkah maju, hidungnya mengendus udara seperti serigala pemburu.
"Itu bukan bom, Mas," ucap Zoya datar.
"Zoya! Jangan sok tahu! Hanggara itu gila, dia bisa ngerakit apa aja!"
"Bom punya bau khas. Belerang, potasium, atau residu plastik terbakar," jelas Zoya sambil terus berjalan mendekati kotak itu, mengabaikan teriakan histeris para polisi lain. "Tapi kotak ini... baunya amis. Amis darah dan dingin."
"Zoya! Berhenti!" Kalandra berlari menyusul, hendak menarik istrinya.
Tapi Zoya lebih cepat. Tanpa rasa takut sedikit pun, dia merobek lakban penutup kotak itu.
"Jangan!" teriak Raka dan Kalandra bersamaan.
Sreeet!
Tutup gabus terbuka.
Bukan ledakan api yang keluar. Melainkan uap putih dingin dari biang es (dry ice) yang langsung menyelimuti meja resepsionis. Bau anyir darah segar langsung menyengat, membuat beberapa polwan menutup mulut menahan muntah.
Di tengah tumpukan es kering yang mengepul itu, tergeletak sebuah organ merah tua seukuran kepalan tangan orang dewasa. Masih basah, masih merah, dan terlihat sangat segar.
Sebuah jantung.
Dan yang paling mengerikan, di permukaan otot jantung itu, terdapat sayatan luka yang diukir dengan sangat presisi membentuk huruf: Z.
"Bangsat..." desis Kalandra. Dia memalingkan wajah, merasa jijik sekaligus marah. "Dia kirim organ tubuh manusia ke kantor polisi?"
Zoya tidak berteriak. Dia juga tidak muntah. Dia justru mengambil sarung tangan karet dari saku jasnya, memakainya dengan tenang, lalu mengangkat jantung itu dari tumpukan es.
Darah menetes ke meja. Tes. Tes. Tes.
"Bukan manusia," koreksi Zoya dingin. Dia memutar-mutar organ itu di bawah lampu lobi. "Ini jantung sapi. Ukurannya terlalu besar untuk manusia, dan aorta-nya lebih tebal. Dia beli ini di pasar daging, bukan dari mayat."
"Sapi atau manusia, dia ngancam mau bedah kamu, Zoya!" seru Kalandra emosi. Dia menyambar kotak itu, berniat membuangnya. "Raka! Bakar sampah ini! Jangan sampai media tahu!"
"Tunggu," cegah Zoya tajam. Matanya menyipit, menatap lekat pada ukiran huruf 'Z' di daging jantung itu. "Ada yang aneh."
"Apanya yang aneh? Itu ancaman pembunuhan, Zoya!"
"Diam dulu, Mas. Aku lagi diagnosa pasien gila ini," potong Zoya.
Dia mendekatkan jantung itu ke matanya. Jari telunjuknya menelusuri alur sayatan pisau yang membentuk huruf Z.
"Luka sayat ini... tidak rapi," gumam Zoya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan. "Lihat ini, Mas. Kedalaman lukanya tidak konsisten. Di bagian atas huruf Z, sayatannya dalam dua milimeter. Tapi di bagian bawah, sayatannya meleset dan miring ke kiri. Dia ragu-ragu."
Kalandra mengerutkan kening, mendekat sedikit meski masih jijik. "Maksudnya?"
"Hanggara itu perfeksionis. Dulu waktu dia jadi dokter bedah, jahitannya selalu lurus sempurna kayak mesin. Tapi sayatan di jantung ini kasar, bergerigi di tepi," Zoya melempar jantung itu kembali ke dalam kotak dengan kasar. Dia melepas sarung tangannya.
"Dia gugup," simpul Zoya. Matanya berkilat penuh kemenangan. "Dia mulai stres karena kita lolos terus. Tangannya tremor. Emosinya tidak stabil. Dia bukan lagi 'The Puppeteer' yang tenang. Dia cuma orang panik yang lagi marah-marah."
Zoya menoleh ke arah pintu kaca lobi. Di luar sana, puluhan wartawan sudah berkumpul di balik garis polisi, penasaran dengan keributan di dalam. Kamera-kamera TV sudah siap menyorot.
Entah dari mana mereka tahu.
"Raka," panggil Zoya.
"Y-ya, Bu?"
"Buka pintu lobi. Biarkan wartawan masuk ke teras. Siapkan mikrofon."
"Kamu gila?!" Kalandra mencengkram lengan Zoya. "Kamu mau ngapain? Kamu itu target, Zoya! Jangan cari mati!"
Zoya menatap suaminya lekat. "Dia nonton kita, Mas. Dia pasti nonton berita. Kalau kita sembunyi ketakutan, dia menang. Aku mau hancurkan egonya sekarang juga."
Zoya melepaskan tangan Kalandra, merapikan rambutnya, lalu berjalan tegak keluar pintu kaca.
Flash kamera langsung menyambar-nyambar seperti kilat badai. Pertanyaan wartawan berdengung ribut.
"Dokter Zoya! Apa benar ada teror jantung?"
"Apa Hanggara masih hidup?"
Zoya mengangkat tangan. Hening seketika. Dia menatap lurus ke salah satu lensa kamera TV yang sedang siaran langsung, seolah dia sedang menatap mata Hanggara di seberang sana.
"Untuk Hanggara, yang sedang menonton ini," suara Zoya lantang dan jernih, tanpa getar sedikit pun.
"Terima kasih kiriman jantung sapinya. Sayang sekali, teknik memotongmu sudah tumpul."
Zoya tersenyum mengejek, senyum yang sangat menyakitkan bagi seorang narsis seperti Hanggara.
"Irisan di ventrikel kiri miring dua milimeter. Ukiran hurufnya jelek dan gemetar. Kamu sakit apa, Dokter? Parkinson? Atau ketakutan?"
Zoya memajukan wajahnya ke kamera, tatapannya menantang maut.
"Tanganmu gemetar, Hanggara. Kamu sudah tua dan tidak relevan. Kalau mau bedah aku, sembuhkan dulu tanganmu yang cacat itu. Jangan bikin malu dunia kedokteran."