NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 – RUMAH YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Defit Karamoy pergi tanpa menoleh.

Langkahnya menjauh dari rumah itu, namun dadanya terasa semakin berat, seolah ada bagian dirinya yang tertinggal atau justru sesuatu dari rumah itu yang ikut terbawa bersamanya. Udara malam terasa sesak. Napasnya pendek-pendek, dan setiap denyut jantungnya seperti memanggil nama yang tidak ingin ia dengar.

Ia tidak tahu bahwa sejak pintu belakang tertutup, rumah itu tidak pernah benar-benar tenang lagi.

Di dalam rumah, Bu Ratna duduk gemetar di sofa.

Pecahan patung masih berserakan di lantai. Tidak ada yang berani membersihkannya. Pak Armand berdiri di tengah ruang tamu, wajahnya kaku, rahangnya mengeras bukan marah, melainkan ketakutan yang ia tolak untuk diakui.

“Itu cuma… listrik,” katanya akhirnya. “Korsleting.”

Tidak ada yang menjawab.

Maya berdiri di dekat tangga, memeluk tubuhnya sendiri. Matanya terus menatap pintu belakang, meski Defit sudah lama pergi.

“Ayah,” katanya pelan, suaranya bergetar. “Ini bukan pertama kalinya.”

Pak Armand menoleh tajam. “Apa maksudmu?”

Maya menelan ludah. “Sejak Defit diusir… aku sering dengar suara dari halaman belakang. Seperti… sesuatu yang berjalan di tanah.”

Bu Ratna menggeleng keras. “Jangan bicara sembarangan!”

Namun tangannya gemetar saat ia meraih tasbih kecil di sakunya kebiasaan lama yang tak pernah ia akui masih ia lakukan.

Lampu ruang tamu kembali berkedip.

Sekali.

Lalu stabil.

Pak Armand menghela napas berat. “Kita tidur. Besok semuanya akan normal.”

Tidak ada yang percaya pada kata-kata itu.

Malam itu, Maya tidak bisa tidur.

Ia berbaring di kamar, menatap langit-langit. Setiap bunyi kecil membuat jantungnya melonjak. Jam berdetak terlalu keras. Angin menggeser tirai meski jendela tertutup rapat.

Lalu

Tok.

Suara itu datang dari luar jendela.

Maya menahan napas.

Tok… tok…

Seperti jari mengetuk kaca.

“Ini cuma ranting,” bisiknya pada diri sendiri. Tapi tubuhnya sudah dingin oleh ketakutan.

Ia memaksakan diri bangkit dan mendekat. Perlahan, tirai ditarik sedikit.

Halaman belakang gelap. Pohon tua itu berdiri diam, akarnya seperti bayangan yang menjalar.

Tidak ada siapa-siapa.

Maya menghela napas lega terlalu cepat.

Karena di pantulan kaca jendela, tepat di belakang bahunya,

ia melihat bayangan tinggi berdiri.

Maya menjerit.

Ia berbalik cepat.

Kosong.

Tidak ada siapa pun di kamar.

Air mata jatuh. Lututnya melemas. Ia terduduk di lantai, memeluk dirinya sendiri.

“Defit…” bisiknya, penuh penyesalan.

Di kamar utama, Bu Ratna terbangun mendadak.

Dada sesak. Napas terengah. Ia merasa seperti sedang ditatap. Perlahan, ia menoleh ke arah lemari.

Pintu lemari terbuka sedikit.

Padahal ia yakin telah menutupnya rapat.

Dari dalam, tercium bau tanah basah.

“Armand…” ia mengguncang suaminya. “Bangun.”

Pak Armand membuka mata dengan kesal. “Ada apa lagi?”

Belum sempat Bu Ratna menjawab, terdengar suara berat dari bawah lantai.

Duk… duk…

Seperti sesuatu yang mengetuk dari dalam tanah.

Pak Armand duduk tegak. Wajahnya memucat.

“Itu… apa?”

Ketukan itu berhenti.

Keheningan menggantung.

Lalu terdengar suara gesekan perlahan seperti akar yang bergerak.

Bu Ratna menangis tertahan. “Aku tidak suka rumah ini…”

Pak Armand menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak puluhan tahun, ia tidak punya jawaban.

Menjelang pagi, hujan turun lagi.

Pohon tua di halaman belakang bergoyang meski tidak ada angin. Akar-akarnya tampak lebih keluar dari tanah, seperti sesuatu yang sedang tumbuh atau bangun.

Di kontrakan sempitnya, Defit terbangun dengan dada sesak.

Ia duduk tegak, keringat dingin membasahi punggungnya. Di telinganya, terdengar jeritan samar bukan dari luar, melainkan dari kejauhan yang terasa dekat.

Ia memegang dadanya.

“Apa yang terjadi…” bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Namun di dalam dirinya, ia merasakan sesuatu bergerak pelan, puas.

Dan jauh di sana, rumah yang pernah menolaknya

mulai memahami satu kebenaran yang terlambat:

mengusir Defit bukanlah akhir dari penderitaan mereka

melainkan awalnya.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!