NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAGI PERTAMA DI DESA QINGHE

Wei Chen terbangun sebelum matahari terbit.

Bukan karena ingin. Tapi karena tubuh barunya ini — entah karena kebiasaan pemilik sebelumnya atau karena udara dingin — memaksanya bangun.

Duduk di tikar usang, dia merasakan tubuhnya. Kaku. Pegal. Tidur di lantai beralas tikar tipis jelas berbeda dengan kasur spring bed di penthouse-nya dulu.

Tapi anehnya, dia tidak merasa terganggu.

Dia berdiri, meregangkan badan. Di luar, langit mulai terang. Kabut tipis menyelimuti desa. Suara ayam jantan berkokok bersahutan.

Wei Chen melangkah keluar gubuk.

Desa Qinghe di pagi hari berbeda dengan malam hari. Hidup. Orang-orang mulai beraktivitas. Asap mengepul dari dapur-dapur. Bau kayu bakar dan nasi hangat.

Dia berjalan ke sumur umum, mengambil air untuk cuci muka. Dingin. Menyegarkan.

"Bangun pagi."

Wei Chen menoleh. Mei Ling berdiri di ambang pintu dapurnya, memegang ember. Rambutnya masih agak berantakan, matanya masih sayu. Tapi dia sudah tersenyum kecil.

"Biasa," jawab Wei Chen.

"Duduk sana." Dia menunjuk bangku kayu di beranda. "Aku masak."

Wei Chen ingin bilang tidak perlu. Tapi Mei Ling sudah masuk ke dapur.

Dia duduk. Mengamati desa yang mulai ramai.

Anak-anak berlarian ke sawah. Pria-pria membawa cangkul. Wanita-wanita sibuk di dapur. Gerobak-gerobak berderit membawa sayuran.

Kehidupan yang sederhana, pikirnya. Tapi nyata.

Dua puluh menit kemudian, Mei Ling keluar dengan dua mangkuk.

Bubur panas dengan sedikit sayur dan telur rebus. Sederhana. Tapi aromanya... harum.

"Makan." Dia meletakkan satu mangkuk di depan Wei Chen. "Aku bukan juru masak hebat. Tini cukup."

Wei Chen mengambil sendok. Menyendok bubur itu. Memasukkannya ke mulut.

Hangat. Gurih. Sederhana.

Tapi rasanya... berbeda. Bukan karena bumbunya. Tapi karena... siapa yang memasak.

"Enak?" tanya Mei Ling, matanya berharap.

Wei Chen mengangguk. "Enak."

Mei Ling tersenyum lebar — senyum yang membuat wajahnya bersinar.

"Syukurlah. Aku takut kau tidak suka."

Wei Chen makan diam-diam. Mei Ling juga makan. Mereka tidak bicara. Tapi heningnya nyaman.

Setelah selesai, Mei Ling mengambil mangkuk.

"Sekarang," katanya, "kau ikut aku."

"Ke mana?"

"Ke sawah. Janji bantu kerja, kan?"

Wei Chen mengangguk. Berdiri.

Sawah itu tidak terlalu luas — mungkin seperempat hektar. Tapi untuk satu orang, cukup besar.

Mei Ling sudah turun, kakinya terbenam lumpur. Dia memberi contoh.

"Lihat. Cabut bibit yang sudah siap, lalu tanam di sini — lihat jaraknya. Satu jengkal. Jangan terlalu rapat."

Wei Chen melihatnya bekerja. Gerakannya lincah, terlatih. Seperti sudah ribuan kali melakukannya.

Dia melepas sandal, turun ke sawah.

Lumpur itu dingin. Lembut. Aneh, tapi tidak menjijikkan.

Dia mencoba mencabut bibit. Tangannya — yang terbiasa memegang pulpen dan laptop — kaku. Batang padi itu licin. Beberapa kali putus.

Mei Ling melihat, tapi tidak tertawa. Dia mendekat.

"Pegang di sini." Tangannya memandu Wei Chen. "Dekat akar. Tarik pelan-pelan."

Tangan Wei Chen — di bawah sentuhannya — terasa hangat. Dia bisa mencium aroma Mei Ling — campuran tanah, keringat, dan sesuatu yang manis.

"Begitu," kata Mei Ling, melepaskan tangannya. "Coba lagi."

Wei Chen mencoba. Kali ini berhasil.

"Bagus." Mei Ling tersenyum. "Lanjutkan."

Mereka bekerja bersama. Satu jam. Dua jam.

Matahari semakin tinggi. Panas mulai terasa. Punggung Wei Chen pegal — otot yang tidak biasa dipakai.

Tapi dia tidak berhenti.

Sampai akhirnya, Mei Ling berkata, "Istirahat. Nanti panas."

Mereka duduk di pematang sawah, di bawah pohon kecil. Mei Ling mengeluarkan botol air dari keranjangnya.

"Minum."

Wei Chen minum. Airnya dingin. Segar.

"Kau... tidak seperti yang kukira," kata Mei Ling tiba-tiba.

"Memangnya kau kira bagaimana?"

"Orang kota. Manja. Cepat menyerah." Dia menatap Wei Chen. "Tapi kau tidak."

Wei Chen tidak menjawab.

"Di mana kau belajar kerja keras?" tanya Mei Ling.

Di bumi. Di mana aku harus berjuang dari nol untuk membangun perusahaan.

"Dulu," jawabnya singkat.

Mei Ling mengangguk. Tidak bertanya lebih lanjut. Dia tipe orang yang tahu batas.

Mereka diam. Menikmati angin.

Sore harinya, setelah selesai di sawah, Wei Chen diajak ke kebun belakang rumah.

Mei Ling punya kebun kecil — cabai, tomat, terong, dan beberapa tanaman obat.

"Ini ibu yang tanam dulu," katanya sambil menyiram. "Sekarang aku yang rawat."

Wei Chen mengamati tanaman itu. Hidup. Tumbuh. Ada yang berbuah.

"Kau tahu tentang tanaman obat?" tanyanya.

"Sedikit." Mei Ling menunjuk beberapa tanaman. "Ini jahe, untuk masuk angin. Ini kunyit, untuk luka. Ini sambiloto, untuk panas."

Wei Chen mendekat, memerhatikan dengan teliti.

"Kalau tanaman ini sakit — layu, atau berjamur — bagaimana?"

Mei Ling mengerutkan kening. "Biasanya... dibiarkan saja. Atau cabut kalau parah."

"Tidak ada obatnya?"

"Obat?" Mei Ling tertawa kecil. "Tanaman juga bisa diobati?"

"Bisa." Wei Chen memegang daun yang sedikit menguning. "Kalau tahu penyebabnya, bisa diobati."

Mei Ling menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Kau tahu banyak tentang tanaman?"

"Tidak terlalu." Wei Chen melepaskan daun itu. "Tapi aku tahu banyak tentang... sistem."

"Sistem?"

"Cara kerja sesuatu. Kenapa sesuatu bisa hidup, kenapa bisa mati." Wei Chen menatap kebun itu. "Tanaman, mesin, manusia — semua punya sistem."

Mei Ling diam. Mencerna.

"Aneh," katanya akhirnya.

"Memang."

Tapi dia tersenyum.

Malam harinya, setelah makan malam, mereka duduk di beranda.

Mei Ling mengeluarkan sebuah buku usang — sampulnya robek, kertasnya menguning.

"Ini buku ibu," katanya. "Tentang kultivasi."

Wei Chen mengangkat alis. Kultivasi? Dia pernah dengar istilah itu — dari novel-novel silat yang dibacanya dulu.

"Di desa ini, semua orang kultivasi?" tanyanya.

"Bukan semua. Tapi banyak." Mei Ling membuka buku itu. "Katanya, dengan kultivasi, kita bisa hidup lebih lama, lebih kuat, lebih sehat."

"Kau kultivasi?"

"Sedikit." Suaranya rendah. "Tapi bakatku biasa-biasa saja. Sudah dua tahun, masih di level paling rendah."

Wei Chen mengambil buku itu. Membacanya sekilas.

Bahasa asing. Tapi anehnya... dia bisa mengerti. Mungkin efek reinkarnasi — pikirannya.

Qi. Meridian. Dantian. Inti Emas.

Kata-kata asing itu mulai masuk.

"Kau tahu cara kultivasi?" tanya Mei Ling.

"Belum."

"Mau belajar?"

Wei Chen menatapnya. Matanya bersinar — antusiasme yang tulus.

"Kau mau ajar?"

"Bisa coba." Dia tersenyum malu. "Tapi aku bukan guru bagus."

"Cukup."

Mei Ling mengangguk. Lalu, di bawah cahaya bulan, dia mulai mengajar.

Duduk bersila. Mengatur napas. Merasakan qi.

Wei Chen mencoba mengikuti. Awalnya susah — pikirannya penuh, tidak bisa tenang.

Tapi perlahan, dengan bimbingan Mei Ling, dia mulai merasakan sesuatu.

Hangat. Mengalir. Di perut bagian bawah.

Aku... merasakannya?

Itu baru permulaan. Tapi cukup.

Saat membuka mata, dia melihat Mei Ling tersenyum.

"Bagus. Untuk pertama kali, kau hebat."

Wei Chen tidak menjawab. Tapi di dadanya, ada rasa hangat — bukan dari qi, tapi dari pujian itu.

Chapter 2 END.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!