Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Panggilan Darurat dan Transformasi Pertama
[Aku butuh bantuanmu, Heras.] Suara Luminar kembali terdengar di kepalanya, kali ini dengan nada yang lebih mendesak namun tetap tenang. [Manusia di Bumi sedang menghadapi ancaman besar. Makhluk-makhluk mengerikan telah muncul, dan mereka mengincar nyawa makhluk hidup. Kau adalah satu-satunya yang aku pilih untuk membantu menghentikan mereka.]
Heras masih menatap panel status yang perlahan memudar di hadapannya, namun kata-kata Luminar membuatnya kembali tersadar pada kenyataan. "Menyelamatkan manusia? Aku?" Heras tertawa getir, menatap kakinya yang tak berdaya. "Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa melindungi orang lain?"
[Kau memiliki potensi yang tidak dimiliki orang lain. Dan sekarang, kita tidak punya waktu untuk berdebat. Kita harus pergi dari sini sekarang juga.]
"Pergi ke mana?" tanya Heras bingung.
[Ke pasar tradisional di ujung jalan utama. Aku merasakan aura makhluk itu sangat kuat di sana. Ia sudah melewati daerah sekitar sekolah dan bergerak ke arah yang lebih padat.]
"Pasar?" Heras mengerutkan kening, keheranan. "Kenapa bisa ada monster di pasar? Itu kan jauh dari laut. Bukankah monster-monster itu berasal dari samudra akibat meteor dulu?"
[Benar. Mereka berasal dari laut. Tapi coba kau pikirkan, ke mana limbah air dan sampah dari daratan dibuang? Melalui apa mereka mengalir kembali ke laut?]
Pertanyaan itu membuat Heras terdiam sejenak, lalu matanya membelalak saat sadar akan jawabannya. "Irigasi... Saluran air..." gumamnya pelan. "Mereka menyusup lewat saluran air, masuk ke sistem irigasi yang menjalar ke seluruh kota, dan muncul di tempat yang paling dekat dengan pemukiman padat... Pasar."
[Tepat sekali. Mereka mencari sumber energi dan makanan, dan tempat dengan banyak manusia adalah target utama mereka. Kita harus segera ke sana sebelum terlambat.]
Heras menghela napas panjang, lalu dengan gerakan cepat yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun, ia memutar roda kursi rodanya. Anehnya, hari ini kursi roda itu terasa begitu ringan. Tangannya yang mendorong ban terasa begitu bertenaga, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang membantu mengurangi beban.
Saat ia mulai bergerak meninggalkan teras sekolah, Heras merasakan perubahan aneh pada tubuhnya. Tubuhnya terasa lebih ringan, dan energinya seolah meluap-luap dari dalam. Pandangannya menjadi lebih tajam, ia bisa mendengar suara langkah kaki siswa lain di koridor yang jauh lebih jelas, dan bahkan angin yang berhembus terasa lebih terasa di kulitnya. Responnya terhadap lingkungan sekitar meningkat drastis.
"Apa yang terjadi padaku? Aku merasa... sangat kuat," bisik Heras, menatap tangannya yang tergenggam erat.
[Itu adalah dampak turunan dari status kita saat bersatu dalam bentuk manusia.] jawab Luminar santai. [Angka-angka yang kau lihat di jendela status tadi bukan sekadar tampilan. Mereka nyata, memengaruhi fisik dan mentalmu. Saat kita bersatu, kekuatan itu mengalir ke tubuhmu, membuatmu melebihi batas manusia biasa meskipun kau masih dalam wujud aslimu.]
Heras tidak menjawab, ia hanya terus mendorong kursi rodanya semakin cepat. Jalan yang biasanya terasa panjang dan melelahkan baginya, hari ini terasa begitu singkat. Namun, kegembiraan karena merasa memiliki kekuatan kembali segera sirna saat ia semakin dekat dengan pasar tersebut.
Dari kejauhan, sudah terdengar suara teriakan panik, pecahan kaca, dan raungan keras yang tidak manusiawi. Asap hitam mengepul di atas atap-atap bangunan pasar. Hati Heras mencelos.
Mereka terlambat.
Saat Heras sampai di pinggiran area pasar, pemandangan di depannya benar-benar mengerikan. Orang-orang berlarian ketakutan, berdesakan mencoba keluar dari area itu. Beberapa toko sudah hancur berantakan, dan di tengah kekacauan itu, terlihat bayangan makhluk besar yang sedang mengamuk.
"Monster..." desis Heras, kakinya yang lumpuh seolah merasakan getaran tanah akibat langkah makhluk itu. Rasa takut mulai merayap kembali, diikuti oleh bayangan-bayangan masa lalu—rasa sakit saat kakinya hancur, tatapan benci orang-orang, dan perasaan tak berdaya yang selama ini membelenggunya.
"Tidak... Aku tidak bisa..." Heras gemetar, tangannya lepas dari roda kursi roda. "Aku tidak mau merasakannya lagi. Aku tidak mau terluka lagi. Luminar, carilah orang lain saja..."
[Heras, lihat mereka.] Suara Luminar terdengar lembut namun tegas. [Mereka butuh bantuan. Jika kita mundur sekarang, banyak nyawa yang akan hilang. Apakah kau ingin melihat orang-orang lain merasakan penderitaan yang sama sepertimu? Apakah kecepatan dan kekuatan yang kau miliki ini hanya untuk dirimu sendiri?]
"Tapi aku takut!" seru Heras, air matanya kembali menetes. "Aku sudah kehilangan segalanya! Aku tidak mau kehilangan sisa hidupku juga!"
[Kau tidak kehilangan apa-apa. Kau justru akan mendapatkan kembali apa yang telah hilang. Bersamaku, kau tidak sendirian. Ingatlah, rasa sakit itu adalah bukti bahwa kau masih hidup, dan hidup itu berarti ada kesempatan untuk berubah.]
Kata-kata Luminar menembus hati Heras. Ia melihat sekelilingnya—ibu-ibu yang menangis melindungi anaknya, orang tua yang terjatuh dan tak bisa bangun, teriakan minta tolong yang menyayat hati. Di tengah kekacauan itu, ia melihat bayangan dirinya sendiri dulu—orang yang berusaha menyelamatkan meski berisiko nyawa.
Apakah ia akan lari lagi? Atau ia akan berdiri kali ini?
"Aku... aku tidak mau menjadi pengecut lagi," gumam Heras, perlahan menggenggam kembali roda kursi rodanya, lalu menatap lurus ke arah monster itu dengan mata yang mulai berubah. "Luminar... Kita lakukan ini."
[Itulah jawaban yang aku tunggu. Ayo, Heras!]
Seketika, cahaya putih yang menyala meledak dari dada Heras. Cahaya itu begitu terang, menutupi seluruh tubuhnya, membuat orang-orang di sekitarnya berhenti sejenak dan menatap heran.
Heras merasakan sensasi aneh di seluruh tubuhnya. Kulitnya yang lentur terasa meregang, lalu mengeras, menjadi lebih keras dari tulang, lebih kuat dari baja. Bentuk tubuhnya membesar, berubah dari manusia biasa menjadi sosok yang gagah dan perkasa.
Warna dominan yang muncul adalah putih bersih, melambangkan kesucian niat yang kembali menyala. Namun, di atas warna putih itu, terdapat garis-garis hitam yang tajam dan modis, melingkar di lengan, kaki, dan dadanya, memberikan kontras yang menakjubkan dan aura kekuatan yang tak tertandingi.
Saat cahaya meredup, berdiri di sana bukan lagi Heras yang lumpuh di kursi roda, melainkan sosok Luminar dalam wujud pertamanya—putih dengan garis hitam, siap menghadapi monster di hadapannya.