NovelToon NovelToon
REINKARNASI ALKEMIS SUCI

REINKARNASI ALKEMIS SUCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Reinkarnasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: ARIYANTO

Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.

Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.

Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.

Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.

Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.

bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Dia menyembunyikan diri di balik batang pohon besar dengan kulit kasar, mengamati sekelompok ayam hutan dengan bulu berwarna coklat kemerahan yang sedang mencari makan di antara rerumputan dan dedaunan kering. Ada sekitar sepuluh ekor ayam dalam kelompok tersebut – beberapa ayam jantan dengan mahkota berwarna merah cerah, dan beberapa ayam betina dengan bulu yang lebih kusam tapi lebih tebal. Dia mengamati pola gerakan mereka dengan cermat, mencatat bahwa salah satu ayam betina yang sedang berada sedikit jauh dari kelompoknya terlihat lebih lemah dan sering tertinggal saat mencari makan.

Dengan gerakan yang cepat dan sangat lembut, Xue Xiao menghampiri ayam tersebut tanpa membuat sedikit pun suara. Saat dia sudah cukup dekat, dia mengulurkan tangannya dengan kecepatan luar biasa dan menangkap ayam tersebut dengan lembut di antara kedua tangannya. Ayam itu mencoba terbang dan berkokok kesakitan dengan keras, tapi kekuatan Xue Xiao cukup untuk menahannya tanpa menyakitinya – dia hanya menekan tubuh ayam dengan kekuatan yang tepat agar tidak bisa bergerak bebas tapi tidak menyebabkan cedera.

Saat dia hendak membawa ayam tersebut pergi, dia melihat ada sarang kecil yang terbuat dari rerumputan kering dan bulu ayam di balik semak berduri yang tumbuh di tepi sungai. Dia mendekat dengan hati-hati dan melihat ke dalam sarang – terdapat enam butir telur ayam hutan dengan warna coklat muda yang masih segar dan hangat. Dia mengambil tiga butir telur saja dan meninggalkan yang lain, mengetahui bahwa penting untuk tidak mengambil semua sumber daya agar binatang tersebut bisa tetap berkembang biak di hutan.

Setelah mendapatkan ayam dan telur, Xue Xiao melanjutkan perjalanannya untuk mencari binatang lain yang bisa dia pelihara. Saat berjalan melewati area dengan banyak semak dan rerumputan tinggi, dia mendengar suara klik klik yang khas dari kelinci liar yang sedang makan dedaunan. Dia mengikuti suara tersebut dan menemukan dua ekor kelinci liar dengan warna bulu putih bersih dan satu ekor kelinci dengan bulu berwarna coklat muda. Mereka sedang berlari dan melompat dengan lincah di antara pepohonan kecil.

Untuk menangkap kelinci yang lebih lincah dibandingkan ayam, Xue Xiao menggunakan kecepatan dan kekuatan tubuhnya dengan cerdik. Dia tidak mengejar mereka secara langsung karena tahu itu akan membuat kelinci berlari lebih cepat. Sebaliknya, dia mengambil jalan pintas dengan melompat melewati beberapa batang pohon kecil, lalu menghadang kelinci di ujung jalur mereka. Dengan satu gerakan cepat, dia menangkap dua ekor kelinci sekaligus dengan tangan kirinya dan kanannya, masing-masing dengan daya cengkeram yang cukup kuat agar mereka tidak bisa melarikan diri tapi cukup lembut agar tidak menyakitinya.

Setelah merasa cukup dengan hasil tangkapannya, Xue Xiao kembali ke gubuk untuk membuat kandang bagi ayam dan kelinci tersebut. Dia memilih area di belakang gubuk yang terlindungi dari angin dan terkena sinar matahari cukup banyak. Dengan menggunakan batang bambu yang sudah dia siapkan sebelumnya, dia membuat kandang dengan struktur yang kokoh dan aman. Bagian bawah kandang dibuat dari anyaman bambu yang rapat agar tidak ada binatang kecil yang bisa masuk atau keluar, sementara bagian atas dibuat dengan pintu yang bisa dibuka dan ditutup dengan mudah untuk memberikan makanan dan membersihkan kandang.

Untuk makanan binatang peliharaannya, dia mengumpulkan dedaunan segar dari jenis tumbuhan yang sudah dia pastikan aman untuk dimakan – termasuk daun pisang muda, dedaunan kacang liar, dan rumput segar yang tumbuh di tepi danau. Dia juga memberikan biji-bijian liar yang dia kumpulkan dari hutan dan sedikit sisa daging serigala yang dia simpan dari beberapa hari yang lalu. Saat memberi makan mereka, dia mengamati perilaku ayam dan kelinci dengan cermat, mencatat bagaimana mereka bereaksi terhadap jenis makanan tertentu dan bagaimana cara mereka berinteraksi satu sama lain.

Saat matahari mulai miring ke arah barat dan memberikan warna jingga keemasan pada permukaan danau, Xue Xiao kembali ke kebunnya untuk memeriksa kondisi tanamannya. Dia dengan senang hati melihat bahwa beberapa bibit sayuran berdaun hijau sudah mulai menunjukkan tunas hijau kecil yang segar – tanda bahwa tanah yang dia siapkan memang subur dan cocok untuk pertumbuhan tanaman. Dia juga melihat bahwa beberapa benih kacang hijau liar sudah mulai menetas, dengan akar kecil yang mulai merambat ke dalam tanah.

Sambil duduk di tepi kebun dengan tubuh yang sedikit lelah tapi puas, Xue Xiao mulai merencanakan untuk membuat alat-alat sederhana yang bisa membantu dia dalam pekerjaan sehari-hari. Dia berencana membuat cangkul dari kayu keras dan batu yang diasah menjadi tajam untuk merawat kebun dengan lebih mudah dan presisi. Selain itu, dia juga akan membuat keranjang dari anyaman bambu dengan berbagai ukuran untuk menyimpan hasil panennya nanti, serta membuat wadah penyimpanan dari kulit kayu yang lebih kokoh untuk menyimpan bahan alkemis dan makanan kering.

Dia juga mulai merencanakan untuk menjelajah area hutan yang lebih jauh beberapa hari ke depan, dengan tujuan mencari jenis tumbuhan obat yang lebih beragam dan mungkin menemukan artefak atau bahan khusus yang bisa dia gunakan untuk mengembangkan kemampuan alkemis nya. Meskipun tahu bahwa hutan berkabut ini penuh dengan bahaya dan mungkin ada makhluk lain yang kuat, dia merasa percaya diri dengan kekuatan tubuhnya yang luar biasa.

Di malam hari, setelah api unggun menyala dengan hangat di depan gubuk, Xue Xiao menyantap makan malam yang cukup lezat – daging ayam panggang yang dibumbui dengan bubuk daun mint liar dan kayu manis liar, ditambah dengan umbi talas liar yang dibakar di atas bara api dan diberi sedikit garam yang dia dapatkan dari tanah liat yang dia bakar dan di filtrasi. Saat makan, dia juga mencoba satu butir telur ayam hutan yang dia bakar, merasakan rasa yang gurih dan lezat.

Setelah makan malam selesai, dia duduk di depan gubuknya sambil melihat ke arah langit yang penuh dengan bintang-bintang cerah. Dia merenungkan kehidupan barunya di hutan berkabut ini – jauh berbeda dengan kehidupan yang dia jalani di dunia asalnya sebagai salah satu kultivator terkuat yang dihormati. Di sana, dia dihormati oleh banyak orang, memiliki kekuatan yang luar biasa, dan hidup dalam kemewahan yang disediakan oleh klannya. Tapi di sini, dia harus hidup seperti manusia biasa yang harus bekerja keras untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal.

Namun meskipun begitu, dia merasa ada kedamaian yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya di dunia asalnya – di mana persaingan dan khawatir akan pengkhianatan selalu mengikutinya. Di hutan yang tenang dan damai ini, dia bisa fokus pada dirinya sendiri dan membangun kehidupan dari awal tanpa harus khawatir akan musuh atau orang yang ingin mengambil kekuatannya.

"Meskipun dunia ini tidak memiliki energi spiritual yang melimpah seperti dunia asalku, tapi dunia ini memberiku kesempatan kedua untuk hidup – kesempatan untuk membangun kehidupan yang benar-benar milikku sendiri," gumamnya dengan tatapan yang penuh tekad, sambil melihat ke arah kebun dan kandang binatang yang sudah dia bangun dengan tangannya sendiri. "Aku akan membuat kehidupan yang baik di sini. Aku akan mengembangkan kemampuan alkemis ku hingga mencapai tingkat yang lebih tinggi, aku akan menjaga kebun dan binatang peliharaanku dengan baik, dan suatu hari nanti, aku akan menemukan tujuan sejati ku di dunia yang baru ini."

Suara nyanyian cicak dan suara gemericik air dari danau menjadi irama malam yang menyertainya, sementara dia mulai merencanakan rencana kerja untuk hari esok – termasuk membuat alat-alat yang dia butuhkan dan mulai mengumpulkan bahan untuk membuat ramuan alkemis yang lebih baik dari yang dia buat sebelumnya.

1
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!