NovelToon NovelToon
MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Hamil di luar nikah / Berbaikan / Tamat
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.

Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.

Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.


Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Angin laut yang asin membelai wajah Alana, membawa pergi sisa-sisa aroma debu proyek. Pradipta melepas sepatunya, menggulung celana panjangnya, dan mengajak Alana berjalan di atas pasir putih yang masih terasa hangat.

"Dengar suara itu?" Pradipta berhenti, menunjuk ke arah deburan ombak yang menghantam karang dengan ritme yang teratur. "Laut tidak pernah meminta maaf karena ia pasang, dan ia tidak pernah merasa bersalah saat ia surut. Ia hanya mengikuti alamnya. Begitu juga kamu, Alana."

Alana melepaskan alas kakinya, membiarkan kakinya terbenam dalam pasir yang lembut. "Tapi laut punya ruang yang luas, Pradipta. Sedangkan saya... saya merasa selama ini ruang saya hanya sekecil tuntutan orang tua saya."

"Maka buatlah duniamu seluas pantai ini," balas Pradipta lembut. Ia berdiri di samping Alana, menatap lurus ke cakrawala. "Kamu tahu kenapa saya mengajakmu ke sini? Karena di depan laut, kita semua hanyalah butiran kecil. Masalahmu, tuntutan ibumu, dan semua 'larangan menangis' itu... semuanya tampak tidak berarti dibandingkan luasnya samudra ini."

Alana menarik napas dalam-dalam. Udara laut yang murni seolah membersihkan sesak yang menyumbat dadanya sejak siang tadi. Ia menatap kakinya yang sesekali disapu air laut yang dingin. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus melakukan apa-apa. Ia tidak harus menjadi manajer yang hebat, tidak harus menjadi anak yang berbakti.

"Pradipta," panggil Alana lirih.

"Ya?"

"Bolehkah saya... menangis sekarang? Benar-benar menangis tanpa alasan pekerjaan atau keluarga? Hanya karena saya lelah menjadi Alana yang dulu?"

Pradipta berbalik sepenuhnya menghadap Alana. Ia tidak memberikan pelukan yang mengekang, melainkan memberikan ruang yang aman. "Menangislah sampai air laut ini terasa tawar dibandingkan air matamu. Saya tidak akan pergi. Saya akan berdiri di sini, menjagamu agar tidak terseret arus."

Dan di sana, di bawah langit Bali yang mulai gelap, Alana akhirnya luruh. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat. Namun kali ini, tidak ada rasa sesak yang mencekik. Setiap tetes air mata yang jatuh ke pasir seolah membawa pergi serpihan-serpihan rasa sakit dari masa kecilnya.

Pradipta tetap diam di sampingnya, menjadi saksi bisu atas runtuhnya dinding pertahanan terakhir Alana. Ia tahu, setelah air mata ini kering, Alana yang berdiri di hadapannya bukan lagi sekadar penyintas, melainkan seorang perempuan yang sudah benar-benar merdeka.

"Terima kasih," bisik Alana setelah beberapa lama, suaranya parau namun jernih.

Pradipta tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus. "Jangan berterima kasih. Kamu yang melakukan semua kerja kerasnya. Saya hanya menemani."

Sambil berjalan kembali ke arah mobil, Pradipta menggenggam tangan Alana—kali ini lebih erat. Di kejauhan, lampu-lampu kapal nelayan mulai menyala satu per satu, menjadi penanda bahwa meskipun hari telah gelap, selalu ada cahaya bagi mereka yang berani mencarinya.

Perjalanan kembali dari pantai menuju hotel dilewati dalam keheningan yang menenangkan. Tidak ada lagi beban yang menggantung di antara mereka; yang ada hanyalah sisa-sisa kedamaian dari deburan ombak tadi. Alana sesekali melirik tangannya yang masih digenggam Pradipta di atas tuas transmisi—sebuah pegangan yang seolah meyakinkannya bahwa ia tidak sedang bermimpi.

Sesampainya di lobi hotel, Pradipta tidak mematikan mesin mobilnya. Ia menoleh ke arah Alana, matanya menunjukkan kelelahan yang selama ini ia sembunyikan demi menjadi "pelabuhan" bagi wanita itu.

"Alana, saya hanya bisa mengantarmu sampai di sini," ujar Pradipta lembut. "Penerbangan saya ke Jakarta dijadwalkan dua jam lagi. Ada klien dari Singapura yang harus saya temui besok pagi jam tujuh tepat."

Alana tertegun. Ia baru menyadari betapa besar pengorbanan pria ini. Pradipta benar-benar terbang ke Bali hanya untuk menemaninya menangis selama satu jam di pantai, lalu langsung kembali ke medan perangnya sendiri.

1
falea sezi
resain lah oon
falea sezi
jangan betele tele
falea sezi
prett bgt muter doank. g jelas. ne novel. pantes g ada like wong peran utama. oon bkin mual
Lilack Sunrise: pakai lah bahasa Indonesia yang baik dan benar , kamu kayaknya yang oon semua tulisan di kasih titik.gagap loe
total 1 replies
falea sezi
resain pergi jauh dr. dipta yg. plin plan. pengecut dr ortu toxic
falea sezi
Resain aja alana pradipta aja goblok
falea sezi
bodoh di manfaatnya ortunya diem aja pergi lah bego
Desi Santiani
yaa tamat thor
RM
bagus bgt kenapa sepi pembaca y
byyyycaaaa: Terim ma


terimakasih sudah mampir kak🙏🤗
total 1 replies
RM
bagus banget kenpa sepi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!