NovelToon NovelToon
SURA Penahluk Siluman

SURA Penahluk Siluman

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Isekai
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Miasma

DRAP!

DRAP!

DRAP!

Hentak kaki Sura melesat kencang melintasi jalanan desa. Menggendong wanita yang tak sadarkan diri, wajahnya tampak pucat dengan bibir membiru.

"Siapa? Siapa yang bisa menolongnya?" batin Sura mengeratkan gigi,

Menatap sekeliling, teralih pada rumah kayu, sepetak kebun tanaman obat bertumbuh lebat di halaman belakangnya.

"Di sana!"

Tubuhnya berlari, berdiri di depan pintu, mengetuk dengan keras.

TOK! TOK! TOK!

Pembatas itu terbuka, menerbitkan senyum harap di wajah Sura. Mendapati pasangan yang tak lagi muda memandanginya dengan raut kebingungan,

"Apa kalian bisa membantuku?"

"Silahkan masuk," Wanita tua itu bergeser memberi jalan.

"Apa yang terjadi?"

Menatap punggung Sura yang baru saja membaringkan wanita ke atas ranjang bambu.

"Aku tidak tahu, tiba-tiba dia pingsan. Aa--sebelumnya dia berkuda, apa mungkin kelelahan?"

"..." Nenek itu hanya diam, menoleh ke suaminya yang seorang tabib.

Tanpa tunggu lama pria tua tadi berjalan, memeriksa nadi dan melihat kondisi Ratih dari dekat.

Alisnya mengernyit, sedetik kemudian terbelalak, reaksi aneh yang membuat Sura penasaran.

"Sepertinya, kalian bukan warga desa sini..."

"Iya, kami dari desa Rena." Sura mengangguk singkat,

"Apa kalian sempat ke perbatasan?"

Sura terdiam sejenak lalu menjawab lirih, "Iya..."

Tak mungkin mengatakan kalau mereka justru telah melewati dan berkeliaran di sana.

"Dia pingsan karena terlalu banyak menghirup miasma. Untung belum terlambat, biar kubuatkan ramuan untuk mengembalikan energi baiknya..."

"Miasma?" sontak Sura penasaran,

Mengikuti punggung renta yang sibuk meracik beberapa tanaman obat. Mengambil sejumput dedaunan kering dan bahan lain, lalu ditumbuk pada batu kali berukuran besar,

"Iya, miasma. Udara kutukan dari wilayah siluman."

"Walau ada di perbatasan, kadang angin meniupnya ke sini. Kami biasa membantu para warga yang terkena miasma,"

"Bahkan kami sering menemukan mayat tergeletak di sekitar sini,"

"Apa mereka juga mati karena miasma?" Sura tertegun,

"Hais...jadi kamu tidak tahu apapun?"

"Lain kali jangan keluar sembarangan! Apa lagi sampai ke perbatasan. Tubuh manusia itu, tidak kuat terkena miasma..."

"Jika dibiarkan tubuh kita akan mati mengering dan berubah menjadi tanah,"

"Segawat itu? Pantas saja, udara di istana terasa sesak. Tapi, kenapa tubuhku baik-baik saja?" benak Sura keheranan.

GEDUBRAK!

Angin kencang membanting pintu, bersamaan dengan satu kalong kecil yang terhantam masuk ke dalam.

"Tutup pintunya. Di luar sedang badai," tegur kakek pada sang istri.

Nenek pun beranjak menuruti, hendak menutup rapat pintu rumah mereka. Namun dikagetkan oleh kalong kecil yang tiba-tiba mendekat,

CIT! CIT! CIT!

Suara kecil itu menggema ke seluruh ruang, tak henti terbang mengitari segala arah dan membingungkan semua orang.

"HUS! HUS! Cepat keluar," usir nenek berulang kali mendongak, mengangkat tubuhnya, mencoba memukul dengan sapu lidi.

CIT! CIT! CIT! Mulai berkelut dan menghantam sayap tipisnya ke telinga Sura,

"Hh..." Sura mengibas cepat karena risih,

Belum sadar sampai denging suara yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Sura, ini aku! Lawar..."

"Hah? Lawar," sontak Sura mengejutkan semua orang.

"Hust!! Jangan berteriak. Cuma kamu yang bisa mendengar suaraku,"

"Benarkah?" pikirnya mengangkat alis,

Menoleh sekilas, mendapati pasangan yang memandanginya dengan wajah kebingungan.

"Hahaha...tiba-tiba saya keingat lawar daging. Kayaknya enak kalau kalong ini dijadikan lawar dan dimakan sama nasi hangat,"

"Hih!!" Lawar memekik ketakutan,

"Kalong itu bawa penyakit. Lebih baik dibunuh terus dibuang," sahut Kakek bersikap dingin.

Langsung membuat Lawar terjatuh lemas, tak kuasa mendengar kalimat sadis yang diarahkan padanya.

Nenek bersiap memukul, namun Sura berhasil mendahului. "Eh, sepertinya sudah mati..."

"Pasti karena tadi nabrak pintu,"

Menunduk ke bawah, sembari menggoyangkan sayap.

Kembali menatap lekat wujud kalong yang sangat berubah. Badannya lebih kecil, tak ada tanduk bahkan memiliki dua mata seperti hewan kalong pada umumnya,

"Biar saya saja yang membuangnya keluar..."

Sura pergi, pintunya ditutup rapat sebelum mebangunkan Lawar. Menepuk berulang kali bahkan menekan kuat perut yang hanya sebesar ibu jarinya,

"Hh! Jangan makan aku!" sontak Lawar terbang menjauh,

"Siapa yang mau memakanmu? Ga ngenyangin sama sekali," lugas Sura membuang muka.

"Hh!" Lawar membuang muka,

Mereka saling memunggungi, enggan berbincang seperti bocah yang tengah bertengkar. Sesekali Sura melirik, perlahan mulai lelah,

"Apa yang terjadi denganmu?"

"Apanya?" Lawar kebingungan, tak memahami maksud Sura.

"Wujudmu mengecil, dan terlihat seperti hewan liar."

"Hah! Benarkah?" terdengar syok, memandang cepat kedua sayapnya.

"Sepertinya ini efek miasma. Katanya siluman akan melemah jika terlalu lama di wilayah manusia,"

"Terus, buat apa kamu ke sini?"

"Tentu saja, menyusulmu! Ayo cepat pulang. Terjadi keributan besar di istana,"

"Keributan...keributan apa?" Sura mengernyit cemas,

"Raja marah besar. Seluruh kerajaan sedang dilanda badai karena amukannya!"

"Patih Anubis menyebar berita kalau penyusup itu dan kamu adalah sepasang kekasih. Terus kalian kabur bersama meninggalkan istana,"

"Berita tolol apaan---dasar, anjing keparat!" gertak Sura mengepalkan tangan,

Tak sabar untuk memberinya pelajaran. Sura pun kembali masuk, maksud hati ingin berpamitan.

Matanya memandang takjub pasangan yang begitu telaten dalam mengobati Ratih.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Sura memastikan,

"Iya, tenang saja. Obatnya sudah kuminumkan, tinggal menunggu sampai dia sadar kembali..."

"Kalau begitu, tolong bantu aku menjaga--"

"Jangan pergi!" sontak Ratih mengigau,

"...?!" Mereka tersentak kaget,

Meski tampak tak sadarkan diri, sebenarnya jiwa manusia yang terjangkit miasma juga merasakan sakit.

Mereka menahan dan melawan miasma yang berusaha menggerogoti inti tubuhnya.

Entah segigih apa tekad yang membuat Ratih sadar begitu cepat.

"Aku mohon, jangan tinggalkan aku."

BLAR!!

Petir menyambar, menoreh kilatan cahaya di langit. Seluruh kerajaan berubah menjadi gelap meski malam belum tiba,

Di tengah aula, para siluman saling menatap satu sama lain, tampak risau. Insting mereka dibuat panik oleh kemarahan Raja yang tak kunjung reda,

"Aku harus melakukan sesuatu." tegas Anubis dalam hati,

Sifat liciknya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

"Mau sampai kapan anda menunggu? Bagaimana kalau Kele berbohong?"

"Hng..." Raja mengerang kuat,

"Pengawal! Ambilkan tongkat sihirku. Biar aku sendiri yang menghukumnya,"

"Tongkat sihir? Bukankah itu pusaka kerajaan?"

Mereka mulai berbisik, tak menyangka Raja akan mempergunakan benda yang belum pernah disentuh sejak menduduki tahta.

Kele tersentak, melirik satu pengawal yang baru berjalan pergi. "Tunggu, Raja! Saya tidak berbohong."

"Katanya tongkat itu milik Raja pertama dan diwariskan secara turun temurun,"

"Hhh..." Anubis menyeringai, menikmati setiap bisikan yang menggema memenuhi ruang.

"Hust! Lihat itu,"

Semua mata memandang, beralih pada tongkat kayu panjang berwarna cokelat yang dibawa masuk oleh pengawal.

"Silahkan, Raja."

Tangannya terulur demi menggapai tongkat, menatap lekat permata ungu yang tertanam di ujungnya.

Terpancar sinar redup di sekitar permata, tersimpan sihir yang konon katanya hanya bisa digunakan oleh Raja.

"Kakekku pernah bilang, tongkat itu mampu menghancurkan 1 kerajaan dalam sekejap mata."

"Tamat sudah, Kele tidak akan selamat..."

"Hh!!" Kele menggeleng lirih,

Ketakutan melihat Raja yang telah mengarahkan ujung tongkat kepadanya.

"Raja!"

"Hh...?" Serentak menoleh,

Mengikuti suara lantang yang memanggil, Lawar terbang melesat berdiri memunggungi kakaknya.

"Tolong, ampuni kakak saya."

Raja mendongak, menanti kehadiran orang lain, namun tak ada siapapun di sana. Hanya hembusan angin, menyusul dan menerpa mata.

"Syukurlah, kalian sudah datang---" ucap Kele tersedak saat menoleh,

"Dimana, Sura? Cepat suruh dia masuk." imbuhnya antusias,

Namun Lawar hanya menunduk lesu. "Aku kembali sendirian,"

"Maaf, Raja. Saya tidak bisa mengajaknya kembali,"

1
Lili
Seru thor😍
Lili
😍dapat rejeki banyak kalau gini
Anonymous
💪Gacor banget si Sura😍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!