NovelToon NovelToon
Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Harta Tersembunyi di Paviliun Bintang Jatuh

​Udara di Puncak Awan Berkabut, wilayah eksklusif Sekte Dalam, terasa lima kali lipat lebih padat oleh energi spiritual dibandingkan dengan Puncak Teratai Luar. Setiap tarikan napas seolah membersihkan paru-paru dan menjernihkan pikiran. Di sini, pepohonan pinus tumbuh lebih tinggi, dan aliran sungai memancarkan pendaran Qi alami.

​Li Jian berdiri di pelataran halaman kediaman barunya. Sebuah rumah batu yang layak, lengkap dengan ruang meditasi yang dilapisi formasi pengumpul Qi tingkat rendah. Ia kini mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman pedang perak di dada kiri—seragam resmi Murid Sekte Dalam. Di pinggangnya, tergantung sebuah medali giok hijau yang menjadi identitas barunya.

​Namun, kenyamanan ini tidak membuat Li Jian lengah. Ia tahu betul, fasilitas yang lebih baik berarti persaingan yang lebih kejam.

​"Berhentilah mengagumi pondok batu yang sempit ini," tegur Yueyin dari dalam ruang kesadarannya. Suaranya terdengar tidak sabar. "Energi di gunung ini memang sedikit lebih baik dari tempat pembuangan sampah di bawah sana, tapi ini masih jauh dari cukup. Pergi ke Paviliun Bintang Jatuh sekarang. Aku bisa merasakan percikan aura material tingkat tinggi dari kejauhan."

​Tanpa membuang waktu, Li Jian mengikat Gerhana—yang kini selalu terbungkus kain hitam—ke punggungnya dan melangkah keluar.

​Paviliun Bintang Jatuh terletak di pusat Sekte Dalam. Bangunan pagoda setinggi tujuh lantai itu terbuat dari kayu besi hitam, dengan genteng yang memantulkan cahaya kebiruan seperti langit malam. Tempat ini adalah urat nadi sekte, tempat murid menukarkan poin kontribusi dengan teknik bela diri, senjata, dan material langka.

​Di depan pintu masuk, seorang tetua keriput duduk bersila dengan mata setengah terpejam. Napasnya begitu pelan hingga ia terlihat seperti patung kayu. Namun, insting Li Jian berteriak waspada. Tekanan aura dari tetua ini jauh melampaui Zhao Tian; ini adalah kultivator tahap Bina Pondasi.

​Li Jian menundukkan kepala dengan hormat dan menunjukkan medali gioknya.

​Tetua itu hanya membuka sebelah matanya, melirik Li Jian sekilas. "Murid baru dari ujian kemarin. Kau mendapat seratus poin kontribusi gratis sebagai hadiah promosi. Lantai satu untuk material fana, lantai dua untuk material spiritual tingkat rendah. Jangan berani naik ke lantai tiga jika kau belum mencapai Tingkat Tujuh."

​"Terima kasih atas petunjuknya, Tetua," ucap Li Jian datar, lalu melangkah masuk.

​Bagian dalam paviliun itu luar biasa luas. Rak-rak kayu cendana berjejer rapi, memajang ribuan botol pil, gulungan teknik, dan bongkahan logam ajaib. Namun, di mata Yueyin, semua itu hanyalah tumpukan rongsokan.

​"Sampah. Sampah. Masih sampah," komentar Yueyin setiap kali Li Jian melewati deretan rak di lantai dua. "Besi Meteorit Api ini kualitasnya sangat buruk. Akar Ginseng Darah itu usianya bahkan belum genap seratus tahun."

​Li Jian terus berjalan dalam diam, mengabaikan tatapan heran beberapa murid senior yang melihatnya berkeliling tanpa mengambil apa pun.

​Tiba-tiba, langkah Li Jian terhenti. Suara Yueyin mendadak berubah tajam.

​"Berhenti. Putar tubuhmu ke arah sudut kiri belakang. Di rak paling bawah yang tertutup debu itu."

​Li Jian berjalan mendekati sudut ruangan yang remang-remang. Di rak kayu paling bawah, tergeletak sebuah batu seukuran kepalan tangan orang dewasa. Warnanya abu-abu kusam, permukaannya berpori kasar seperti batu apung biasa. Tidak ada pendaran Qi, tidak ada hawa dingin maupun panas.

​Namun, saat Li Jian mendekatkan tangannya ke batu itu, giok hitam di dadanya berdenyut hebat.

​"Batu Karang Netherworld!" seru Yueyin, nada suaranya dipenuhi kegembiraan yang jarang terdengar. "Orang-orang bodoh di sekte ini mengiranya batu mati karena semua aura Yin-nya terkunci kuat di dalam pori-porinya. Bocah, jika kau menyerap batu itu, kau bisa langsung menembus ke Kondensasi Qi Tingkat Lima, dan aku bisa memulihkan satu persen kekuatan jiwaku!"

​Li Jian segera mengambil batu kusam itu. Ia bisa merasakan sensasi sedingin es yang nyaris membekukan ujung jarinya dari balik permukaan batu tersebut. Ia membawanya ke meja administrasi di tengah ruangan yang dijaga oleh seorang diaken muda.

​"Aku ingin menukarkan ini," ucap Li Jian.

​Diaken itu melirik batu tersebut dan mendengus geli. "Batu Es Tak Bernama. Benda itu sudah ada di sana selama belasan tahun karena terlalu sulit dilebur untuk dijadikan senjata. Harganya lima ratus poin kontribusi."

​Alis Li Jian sedikit berkerut. "Lima ratus? Aku baru dipromosikan dan hanya memiliki seratus poin."

​"Maka kau tidak bisa membelinya, Saudara Junior," jawab diaken itu dengan nada meremehkan. "Di Sekte Dalam, batu spiritual tingkat rendah tidak laku di paviliun ini. Kami hanya menerima Poin Kontribusi. Jika kau ingin poin, pergilah ke Aula Misi dan pertaruhkan nyawamu seperti murid lainnya."

​Li Jian terdiam sejenak. Ia menatap lekat-lekat Batu Karang Netherworld itu, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. "Simpan batu ini. Aku akan kembali sebelum matahari terbenam besok."

​Saat Li Jian membalikkan badan dan berjalan keluar dari Paviliun Bintang Jatuh, ia menangkap kilatan siluet yang tak asing dari sudut matanya. Seorang pemuda berjubah putih bersembunyi di balik pilar lantai dua, memperhatikannya dengan senyum licik. Salah satu anak buah Zhao Tian.

​"Mereka mengawasimu," bisik Yueyin.

​"Aku tahu," batin Li Jian dingin. "Mendapatkan poin dari Aula Misi berarti aku harus keluar dari zona aman Sekte Dalam. Itulah yang Zhao Tian tunggu-tunggu."

​Li Jian membenarkan letak pedang Gerhana di punggungnya, matanya menatap tajam ke arah Aula Misi yang terletak di puncak bukit seberang. "Biarkan saja dia datang. Aku butuh target latihan untuk menguji tebasan baruku."

1
alex kawun
kecewa berat deh
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
Dian Pravita Sari
dlegek cerita gak tamat lagi pengarang nya binatang gak tanggung jawab
alex kawun
elok nya di certain dong suasana dan kesibukan sekte yg di tinggal kan mc nya
alex kawun
kagum dgn susunan bahasa dan kata2 dari author sangat rinci dan teratur , nampak kelas nya bukan kaleng2
semangat & lanjuuuut thor
Night Watcher
sayang banget zhao dibunuh..
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
Eko
bantaaaaaaiiiii
Eko
mantap Thor
Night Watcher
sbg sesama murid, kok zhao tian bisa berkuasa memerintah yg lain thor? apa penyebabnya?
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏
Eko
hahahaha...hanya mengantarkan nyawa
Eko
trik sampah licik
Eko
ayoooo lebih kuat lagi
Eko
mantap Thor
Eko
bantaaaaaaiiiii lah
Eko
ayoooo bantaaaaaaiiiii
Eko
alur cerita yang bagus dan menarik
Night Watcher
nyoba ngintib..
Lekat Wahyudi
👍👍👍
Udin Alex
lanjut thor
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!