Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: LATIHAN PERTAMA
Pagi di Lorong Kegelapan tidak pernah benar-benar sunyi.
Ayam berkokok dari berbagai arah, bersahut-sahutan seperti orkestra tanpa konduktor. Bau asap kayu bakar mulai tercium—para ibu sudah memasak sarapan untuk keluarga mereka. Anak-anak berlarian di gang sempit, sebagian membantu orang tua, sebagian hanya bermain sebelum tugas harian dimulai.
Yun-seo terbangun dengan sensasi hangat di dadanya. Yehwa masih tidur, meringkuk di pelukannya seperti malam-malam sebelumnya. Wajahnya tenang, bebas dari ketegangan yang biasa menghiasinya.
"Ini sudah jadi kebiasaan," batin Yun-seo. "Berbahaya."
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya perlahan, berusaha tidak membangunkan Yehwa. Tapi ratu iblis itu punya insting tajam—matanya terbuka begitu Yun-seo bergerak sedikit.
"Pagi," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pagi. Maaf, nggak sengaja bangunin."
Yehwa menggeleng, duduk perlahan. Rambutnya berantakan, tapi tetap terlihat cantik—mungkin karena memang dasarnya cantik. Ia meregangkan tubuh, dan Yun-seo buru-buru mengalihkan pandangan.
"Fokus, Yun-seo. Fokus. Ini ratu iblis, bukan cewek biasa."
Tapi hatinya susah diatur.
"Mandi," kata Yehwa singkat. "Kita harus ke toko Kakek Hwang pagi ini. Banyak yang harus dilakukan."
"Iya, iya."
Mereka bergantian mandi di sungai kecil yang jadi sumber air warga Lorong Kegelapan. Airnya dingin, tapi Yun-seo sudah mulai terbiasa. Setelah itu, mereka mengambil jatah sarapan di dapur umum—bubur hangat dengan sedikit kimchi—lalu berjalan menuju toko alat tulis Hwang.
---
Toko itu sudah buka ketika mereka tiba.
Hwang Cheol-soo duduk di kursi rotannya seperti biasa, memegang kuas dan melukis di atas kertas. Tapi begitu melihat mereka datang, ia tersenyum lebar dan memberi isyarat masuk.
"Kupikir kalian akan datang pagi ini." Ia menutup pintu toko, memasang papan "Tutup Sementara". "Mari ke belakang."
Di ruang rahasia belakang, teh hangat sudah tersedia. Mereka duduk mengelilingi meja bundar, dan Hwang Cheol-soo memulai pelajaran pertamanya.
"Yang Mulia, kau ingin memulai latihan untuk mengaktifkan kembali insting bertarungmu. Tapi tanpa kekuatan, kau harus mengandalkan fisik dan teknik." Ia menatap Yehwa serius. "Kau siap?"
Yehwa mengangguk tegas. "Aku tidak punya pilihan."
"Bagus. Maka kita mulai dengan dasar." Hwang Cheol-soo bangkit, mengambil dua tongkat kayu dari sudut ruangan. "Ini pengganti pedang. Yang Mulia akan mengajarkan dasar-dasar ilmu pedang pada Yun-seo. Sementara itu, aku akan mengajarkanmu cara mengaktifkan cincin."
Yun-seo terbelalak. "Tunggu, tunggu. Aku juga harus latihan?"
"Kau pikir kau bisa duduk manis saja?" Hwang Cheol-soo tertawa. "Kau pelindung Yang Mulia. Kau harus bisa bertahan kalau diserang."
"Tapi aku nggak bisa apa-apa!"
"Makanya belajar."
Yehwa mengambil satu tongkat, merasakan beratnya. Ekspresinya sedikit berubah—mungkin teringat masa lalu saat masih bisa mengendalikan Pedang Bayangan yang legendaris.
"Ini... ringan sekali," gumamnya.
"Karena ini cuma tongkat kayu. Tapi untuk belajar, cukup." Hwang Cheol-soo memberi tongkat lain pada Yun-seo. "Nah, Yang Mulia, silakan mulai."
Yehwa menghadap Yun-seo. Ekspresinya berubah—dari dingin biasa menjadi dingin instruktur galak.
"Berdiri."
Yun-seo berdiri kaku.
"Bukan begitu." Yehwa mendekat, memukul betis Yun-seo dengan tongkatnya pelan. "Kaki selebar bahu. Lutut sedikit ditekuk. Berat badan di tengah."
Yun-seo mencoba mengikuti. Yehwa memukul lagi—sedikit lebih keras.
"Lutut tekuk, bukan kaku!"
"Aduh!"
"Diam. Fokus."
Yun-seo menggertakkan gigi, mencoba memperbaiki posisi. Yehwa mengamati, lalu mengangguk.
"Sedikit lebih baik. Sekarang, pegang pedang—maksudku tongkat—dengan kedua tangan. Tangan kanan di depan, kiri di belakang. Jangan terlalu kencang, nanti kaku. Jangan terlalu longgar, nanti lepas."
Yun-seo mengikuti instruksi. Yehwa mengelilinginya, memeriksa dari berbagai sudut. Setiap kali ada yang salah—pukul.
"Ini siksaan," erang Yun-seo setelah pukulan kesepuluh.
"Ini latihan. Kau pikir jadi pendekar itu enak?" Yehwa mendengus. "Aku dulu mulai latihan umur tiga tahun. Setiap hari dipukul, dicambuk, dipaksa bangun jam 3 pagi. Ini masih murah hati."
Yun-seo membayangkan Yehwa kecil dipukuli terus—dan tiba-tiba merasa iba.
"Oke, oke. Aku lanjut."
---
Dua jam kemudian, Yun-seo sudah bisa melakukan posisi dasar dengan benar—setidaknya menurut Yehwa.
Sekarang ia belajar ayunan dasar. Atas-bawah, samping, tusukan. Gerakan sederhana yang harus diulang ratusan kali.
"Angkat pedang di atas kepala, ayunkan ke bawah dengan tenaga dari pinggang, bukan lengan. Lagi."
Yun-seo mengayun. Tangannya pegal, bahunya linu, tapi ia terus mencoba.
"Lagi."
Ayun.
"Lagi."
Ayun.
"Lagi."
Ayun.
Hwang Cheol-soo mengamati dari samping sambil sesekali tertawa kecil. "Semangat, Nak. Yang Mulia pelatih yang baik."
"Ia sadis," gumam Yun-seo di sela ayunan.
"Tapi efektif. Lihat, ayunanmu sudah lebih baik dari satu jam lalu."
Yehwa mengangguk puas. "Istirahat sepuluh menit. Lalu lanjut."
Yun-seo jatuh terduduk, mengusap keringat. Tubuhnya terasa seperti habis lari maraton. Ia tidak pernah menyangka latihan fisik bisa separah ini.
Yehwa duduk di sampingnya, memberi air minum. "Kau kuat juga," katanya pelan.
"Itu pujian?"
"Pengakuan. Manusia biasa biasanya menyerah setelah satu jam latihan dasarku."
"Berarti aku luar biasa?"
Yehwa meliriknya. "Kau narsis."
Yun-seo tersenyum lelah. Tapi dalam hati, ia senang. Yehwa mulai bercanda—meskipun masih sarkastik. Itu kemajuan.
---
Sesi berikutnya adalah tentang mengaktifkan cincin.
Hwang Cheol-soo duduk di hadapan Yun-seo, memegang tangannya yang memakai cincin.
"Cincin Pemanggil ini bukan perhiasan biasa. Ia terbuat dari batu jiwa—material langka yang bisa menyimpan dan menyalurkan energi." Ia menjelaskan pelan. "Fungsinya utama memang untuk memanggil pahlawan dari dunia lain. Tapi ia juga punya fungsi sekunder: perisai."
"Perisai?"
"Coba kau fokus. Rasakan cincin itu. Apa kau merasakan sesuatu?"
Yun-seo memejamkan mata, mencoba merasakan. Awalnya tidak ada apa-apa. Hanya logam dingin di jari. Tapi setelah beberapa saat... ada getaran halus. Seperti detak jantung kedua.
"Aku... merasakan sesuatu. Seperti... denyut?"
"Bagus. Itu energi dalam cincin." Hwang Cheol-soo tersenyum. "Sekarang coba salurkan. Bayangkan energi itu mengalir dari cincin ke seluruh tubuhmu. Membentuk lapisan pelindung."
Yun-seo mencoba. Susah. Pikirannya kemana-mana. Tapi ia terus berusaha, berkonsentrasi penuh.
Tiba-tiba, cincin itu bersinar redup. Cahaya merah tipis menyelimuti tangannya—hanya sesaat, lalu menghilang.
"Apa?!"
"Berhasil!" Hwang Cheol-soo tepuk tangan. "Meskipun baru sebentar, kau berhasil mengaktifkannya. Itu kemajuan besar."
Yehwa menatap dengan tatapan aneh—campuran kagum dan... sesuatu yang lain.
"Kau bisa mengaktifkan Cincin Pemanggil di percobaan pertama?" tanyanya tidak percaya.
"Katanya iya."
"Itu... tidak normal. Biasanya butuh berminggu-minggu latihan."
Yun-seo mengangkat bahu. "Mungkin aku jenius?"
Yehwa mendengus. "Atau mungkin cincin itu memilihmu karena suatu alasan."
Hwang Cheol-soo mengangguk serius. "Mungkin. Cincin Pemanggil tidak memanggil sembarang orang. Ia memanggil yang cocok. Yang memiliki potensi."
Yun-seo menatap cincinnya. Potensi? Ia yang selama ini cuma dianggap anak biasa, siswa pas-pasan, pemuda tanpa masa depan cerah? Potensi apa yang ia miliki?
Tapi sebelum sempat berpikir lebih jauh, tiba-tiba—
DUAR!
Suara ledakan keras dari luar. Getaran terasa sampai ke ruang bawah tanah. Hwang Cheol-soo bangkit cepat, wajahnya berubah serius.
"Apa itu?" tanya Yehwa waspada.
Mereka berlari keluar. Di langit Ibu Kota, asap hitam membubung dari arah barat. Teriakan panik mulai terdengar dari kejauhan.
"Serangan!" teriak seseorang. "Iblis menyerang!"
Yun-seo menoleh pada Yehwa. Wajah ratu iblis itu pucat.
"Bukan aku," bisiknya. "Aku tidak punya kekuatan. Ini bukan aku."
Tapi raut wajahnya berkata lain—ia takut. Bukan pada serangan itu sendiri, tapi pada apa artinya.
Hwang Cheol-soo menggenggam bahu mereka berdua. "Kalian harus sembunyi. Cepat. Jangan sampai ketahuan siapa pun."
"Tapi—"
"Cepat!" bentaknya keras.
Yun-seo menarik tangan Yehwa, berlari ke arah Lorong Kegelapan. Di belakang mereka, suara ledakan susulan terdengar, diikuti teriakan perang dan benturan senjata.
Ibu Kota Murim sedang diserang.
Dan di tengah kekacauan itu, ratu iblis tanpa kekuatan harus bersembunyi dari musuh yang mungkin—atau mungkin tidak—adalah bangsanya sendiri.
---