raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
debaran yang terkutuk
Lembah Eternum menjadi saksi bisu atas anomali yang belum pernah terjadi dalam sejarah tiga ratus tahun perang saudara.
Di tengah hamparan tanah yang retak akibat benturan sihir, udara terasa statis. Ribuan prajurit dari kedua belah pihak mematung, senjata mereka masih terhunus, namun nyali mereka lumpuh melihat pemandangan di depan mata: Raja Ferdi, sang personifikasi maut, menurunkan pedang Ebon-Slayer-nya yang legendaris.
Ferdi menatap tangannya yang masih bergetar. Getaran itu bukan berasal dari kelelahan otot—ia bisa bertarung selama tujuh hari tujuh malam tanpa berkeringat—melainkan berasal dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Dari balik rongga dadanya.
"Apa yang kau lakukan padaku, Penyihir?" suara Ferdi menggeram, lebih rendah dan lebih berbahaya dari sebelumnya. Mata hitamnya yang biasanya sedingin ruang hampa kini berkilat dengan api kemarahan yang membingungkan.
Vani masih terduduk di tanah, napasnya terengah, namun tangannya tetap terulur, jemarinya hampir menyentuh pelindung kaki baja milik Ferdi. "Aku tidak melakukan apa-apa, Ferdi. Aku hanya menunjukkan cermin pada jiwamu."
"BOHONG!"
Ferdi berteriak, suaranya menggelegar hingga meruntuhkan bongkahan batu di tebing sekitarnya. Ia menyentakkan pedangnya ke samping, membelah udara dengan gelombang energi hitam yang menghancurkan sisa-Sisa pepohonan yang malang.
"Kau menggunakan sihir terlarang! Kau meracuni darahku dengan mantra pengikat! Katakan, mantra apa ini?! Kenapa jantungku terasa seperti sedang dihujam ribuan jarum panas setiap kali aku menatap matamu?"
Vani perlahan bangkit, menggunakan tongkat peraknya sebagai tumpuan. Cahaya di sekelilingnya meredup, namun tidak padam. Ia menatap Ferdi bukan dengan kebencian, melainkan dengan rasa ingin tahu yang tenang.
"Itu bukan racun, Ferdi. Itu adalah kehidupan. Kau telah membeku begitu lama sehingga saat kehangatan menyentuhmu, kau merasa seolah-olah sedang terbakar."
"Aku tidak butuh kehangatan!" Ferdi melangkah maju, mencengkeram kerah zirah perak Vani dan mengangkatnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
Di sinilah perdebatan itu memuncak. Di antara deru angin badai dan aroma belerang.
"Dengar baik-baik, Gadis Cahaya," desis Ferdi, taringnya nyaris terlihat saat ia bicara.
"Aku telah membantai raja-raja yang lebih kuat darimu. Aku telah meratakan kota-kota yang lebih megah dari Luxeria hanya dengan satu jentikan jari. Bagiku, membunuh adalah seni yang paling murni. Aku tidak pernah ragu. Aku tidak pernah menyesal. Tapi sekarang..."
Ia menjeda, wajahnya mengencang menahan rasa sakit yang tak terlihat.
"Sekarang, setiap kali aku berniat memenggal kepalamu, tanganku terasa seberat gunung. Setiap kali aku ingin menghancurkan jantungmu, jantungku sendiri yang menjerit protes. Kau... kau telah merusak senjataku yang paling mematikan: ketidakpedulianku!"
Vani tidak memalingkan wajah. Ia justru membawa tangannya yang mungil untuk menyentuh pergelangan tangan Ferdi yang mencengkeramnya. "Kenapa kau begitu takut pada perasaan itu, Ferdi? Apakah menjadi manusia lebih menakutkan bagimu daripada menjadi monster?"
"Menjadi manusia adalah kelemahan!" Ferdi menghempaskan Vani kembali ke tanah, seolah-olah sentuhan wanita itu adalah api yang membakar kulitnya.
"Manusia bisa dikhianati. Manusia bisa terluka. Manusia bisa mati karena rindu. Aku adalah abadi! Aku adalah kegelapan yang tak terpatahkan!"
"Kau bukan kegelapan yang tak terpatahkan, kau hanya kesepian yang tak tertahankan," bantah Vani, suaranya meninggi, menandingi amarah Ferdi. "Kau membangun istana obsidian itu untuk mengurung dirimu sendiri, bukan untuk melindungi rakyatmu. Kau takut jika kau membiarkan satu orang saja masuk ke hatimu, seluruh fondasi kekuasaanmu yang rapuh itu akan hancur."
Ferdi tertawa sumbang, suara tawa yang kering dan menyakitkan telinga. "Kesepian? Aku memiliki ribuan pelayan yang bersujud padaku! Aku memiliki dunia di telapak tanganku!"
"Tapi kau tidak memiliki siapa pun untuk diajak bicara saat malam terlalu panjang, bukan?" Vani melangkah mendekat, mengabaikan ujung pedang Ferdi yang kembali terangkat meski dengan ragu-ragu. "Kau melihatku di bola kristal itu, dan kau merasa tertarik. Bukan karena kau ingin membunuhku, tapi karena kau mendambakan sesuatu yang tidak kau miliki. Cahaya. Kedamaian."
"TUTUP MULUTMU!" Ferdi mengayunkan pedangnya, namun kali ini serangannya meleset jauh di samping kepala Vani, menghancurkan tanah di belakangnya. "Aku akan membunuhmu sekarang juga! Aku akan membuktikan bahwa ramalan tua bangka itu salah!"
Ferdi mencoba memfokuskan energinya. Ia memanggil seluruh kebencian yang ia simpan selama berabad-abad. Ia membayangkan wajah ayahnya yang kejam, pengkhianatan para jenderalnya, dan dinginnya malam di Nocturnis. Ia membangun dinding kebencian di dalam pikirannya.
Namun, setiap kali ia melihat ke arah Vani—melihat ketulusan di mata biru jernih itu, melihat noda tanah di pipinya, melihat keberanian yang tak tergoyahkan—seluruh kemarahannya meluap seperti air yang disiramkan ke bara api.
Deg. Deg. Deg.
Jantungnya berdenyut kencang. Terlalu kencang.
"Sialan... berhenti..." gumam Ferdi, ia mulai mundur, memegangi dadanya. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis sang Raja Kegelapan.
Biasanya, saat ia menghadapi musuh, ia merasakan sensasi dingin yang menenangkan. Membunuh baginya seperti minum air saat haus; alami dan memuaskan. Namun kali ini, proses "membunuh" terasa seperti mencoba memotong lengannya sendiri. Ada hambatan mental dan fisik yang belum pernah ia temui.
Vani melihat kerentanan itu. "Ferdi, lihatlah sekelilingmu. Prajuritmu bingung. Mereka melihat raja mereka sedang berperang dengan dirinya sendiri, bukan dengan musuhnya.
Berhentilah melawan takdir."
"Takdirku adalah menguasai dunia, bukan berlutut di hadapan seorang wanita!" Ferdi meraung.
Ia kembali menyerang, kali ini dengan membabi buta. Pedang hitamnya beradu dengan perisai cahaya Vani berkali-kali.
Ting! Ting! Ting!
Bunyi logam dan sihir bergema. Ferdi berteriak setiap kali ia mengayunkan senjata, mencoba menenggelamkan suara detak jantungnya sendiri dengan suara bising pertempuran.
"Mati kau! Mati! Kenapa kau tidak mati?!" Ferdi menggeram frustrasi.
Dalam satu momen, Vani sengaja menurunkan perisainya. Ia berdiri diam, membiarkan dadanya terbuka lebar untuk serangan Ferdi.
"Lakukan, Ferdi. Jika kau benar-benar maut, ambil nyawaku sekarang. Akhiri perang ini. Akhiri penderitaanmu,"
tantang Vani dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan seorang kekasih.
Ujung pedang Ebon-Slayer melesat secepat kilat menuju jantung Vani. Para prajurit Luxeria berteriak histeris. Jenderal Aris mencoba berlari menolong, namun ia terlalu jauh.
Pedang itu berhenti.
Ujungnya yang runcing hanya berjarak satu milimeter dari kulit leher Vani. Satu gerakan kecil saja, maka darah sang cahaya akan tumpah. Namun, tangan Ferdi terkunci. Otot-otot lengannya menegang hingga pembuluh darahnya menonjol, seolah-olah ia sedang menahan beban seluruh dunia agar tidak jatuh.
"Kenapa..." Ferdi terengah-engah, matanya memerah. "Kenapa aku tidak bisa melakukannya?"
"Karena kau mencintaiku, Ferdi. Bahkan sebelum kita saling mengenal nama," bisik Vani.
Ferdi melepaskan pedangnya. Senjata mematikan itu jatuh ke tanah dengan bunyi denting yang memilukan. Sang Raja Kegelapan mundur beberapa langkah, wajahnya pucat pasi, ekspresinya dipenuhi dengan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia menatap Vani dengan pandangan stres yang mendalam. Ia merasa asing dengan tubuhnya sendiri. Ia merasa dikhianati oleh nuraninya yang tiba-tiba bangkit. Di matanya, Vani bukan lagi sekadar musuh yang harus dikalahkan, melainkan teka-teki mematikan yang tidak bisa ia pecahkan.
"Ini salah... ini semua salah..." Ferdi menjambak rambut hitamnya sendiri, tampak seperti pria yang sedang kehilangan akal sehat. "Kau bukan manusia. Kau adalah iblis yang menyamar menjadi cahaya untuk menyiksaku!"
Tanpa peringatan, Ferdi berbalik dan berlari menuju kudanya yang sehitam malam.
"Mundur! Semuanya mundur!" teriak Ferdi kepada pasukannya dengan suara yang serak dan pecah.
Prajurit Nocturnis, yang terbiasa dengan perintah tegas tanpa kompromi, tampak bingung namun segera mengikuti perintah raja mereka. Ferdi memacu kudanya menjauh dari Lembah Eternum, meninggalkan medan perang yang belum selesai.
Di atas kudanya, Ferdi terus memegangi dadanya. Setiap debaran jantung terasa seperti ejekan. Ia stres, ia kacau, dan ia muak. Selama bertahun-tahun ia adalah penguasa atas hidup dan mati, namun hari ini, ia menyadari bahwa ia bahkan tidak bisa menguasai tangannya sendiri untuk membunuh satu orang wanita.
"Aku akan mencarimu lagi, Vani," bisik Ferdi di tengah deru angin, napasnya masih terasa sesak oleh kehangatan yang tertinggal. "Dan saat itu tiba, aku akan memastikan jantung ini sudah mati kembali. Aku tidak akan membiarkan perasaan terkutuk ini menghancurkanku."
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Ferdi tahu bahwa itu adalah kebohongan terbesar yang pernah ia katakan pada dirinya sendiri.
Cahaya itu tidak hanya menyentuh bayangannya; cahaya itu telah menanam benih di dalam kegelapannya, dan ia tidak tahu bagaimana cara mencabutnya tanpa membunuh dirinya sendiri.
Penutup
Bab 2 ada lanjutannya. memang saya sengaja untuk mempersingkat pertarungan karena full nya ada di pertengahan bab.
agar nyambung baca bab 1 demi 1 yaa bagaimana pendapatmu dengan bab 2 ini tulis di kolom komentar yaa jika ada kekurangan atau ingin bertanya ...... Terimakasih sudah membaca sehat selalu 🙏🙏