"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga puluh empat.
Justru itu, Alendra!" sahut Monica cepat. "Semakin kita mengejarnya, semakin dia merasa dirinya penting. Dia ingin kita marah, dia ingin kita merasa terancam. Tapi jika kita membiarkannya pergi seolah-olah dia adalah butiran debu yang tidak berarti... itulah hukuman terberat bagi Raisa. Dia haus akan pengakuan. Mari kita beri dia kesunyian."
Najwa, yang sedari tadi hanya menyimak, akhirnya angkat bicara. "Mama benar, Kek." ucapnya tersenyum, senyum yang terlihat polos bagi siapapun yang melihatnya.
Semua mata tertuju pada Najwa.
"Membiarkan seseorang pergi adalah bentuk kekuatan yang paling tinggi," lanjut Najwa tenang.
"Jika dia ingin berperang, biarlah dia menyiapkan pasukannya di luar sana. Tapi di rumah ini, di perusahaan ini, kita tidak boleh lagi membuang energi untuk kebencian. Kita harus memperkuat diri kita sendiri."
Kakek Suhadi menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Monica, kali ini aku akan mendengarkan insting seorang ibu darimu. Tapi kau, Afkar..." Kakek melirik Afkar yang masih tertunduk. "Kau tetap harus bertanggung jawab atas kekacauan yang kau bawa ke rumah ini."
Afkar mendongak, matanya merah. "Aku tahu, Yah. Aku akan melakukan apa pun untuk menebusnya. Bahkan jika aku harus menjadi bawahan Najwa di kantor sekalipun" balasnya dengan wajah mantap, biarlah statusnya lebih rendah dari anaknya, tapi dengan selalu berada di dekat putrinya,itu akan membuat Afkar merasa lebih tenang.
" kalau begitu, silahkan istrahat..." tegas kakek Suhadi.
" Dan kau Najwa, jangan lupa, besok setelah pulang kuliah, lanjut ke perusahaan, kakek akan lebih dulu berada di sana" lanjut sang kakek sebelum berdiri dan menghilang dari balik tembok ruang keluarga.
Najwa hanya mengangguk mendengar ucapan sang Kakek, baginya hidupnya yang sekarang lebih menantang.
***
Keesokan harinya setelah pulang kuliah, seperti yang di perintahkan oleh sang kakek, Najwa langsung pergi ke kantor nya tanpa mengganti pakaiannya.
Di ruang kerja Najwa yang tenang, sinar matahari masuk menembus jendela besar. Najwa duduk dengan sikap tubuh yang tegak namun tidak angkuh. Saat Afkar masuk membawa laporan, Najwa segera berdiri dari kursinya, sebuah bentuk penghormatan seorang anak saat orang tuanya memasuki ruangan.
Afkar menyerahkan map dengan tangan sedikit gemetar "Najwa... maaf, ini laporan audit divisi properti yang kamu minta kemarin. Papa sudah menyelesaikannya semalaman."
Najwa menerima map tersebut dengan kedua tangan dan sedikit membungkuk "Terima kasih banyak, Pa. Maaf kalau Najwa harus merepotkan Papa sampai larut malam. Papa sudah makan siang? Wajah Papa terlihat lelah." tanya Najwa sedikit sendu, namun ia mencoba untuk tetap profesional.
"Tidak apa-apa, Nak. Papa senang bisa membantu. Papa merasa ini satu-satunya cara Papa bisa menebus waktu yang hilang. Hanya saja... Papa merasa tidak enak hati karena posisi kita di kantor ini." jawab Afkar tersenyum .
Najwa mempersilakan ayahnya duduk di sofa tamu, bukan di depan meja kerjanya, agar suasana terasa lebih kekeluargaan. Ia kemudian duduk di hadapan ayahnya, bukan di kursi direktur.
"Pa, dengarkan Najwa. Di rumah, Papa adalah orang tua yang Najwa hormati dan sayangi. Di kantor ini, kita bekerja sebagai tim untuk menjaga amanah Kakek. Najwa tidak menganggap Papa sebagai bawahan, tapi sebagai penasihat yang paling Najwa percaya karena Papa lebih berpengalaman." kata Najwa tersenyum.
Mata berkaca-kaca Afkar "Tapi Najwa, Papa sudah sangat berdosa padamu. Harusnya Papa yang melindungimu, bukan malah kamu yang bekerja keras memperbaiki kesalahan Papa." jawab Tuan Afkar dengan sendu, memang gara-gara dirinya kurang peka di perusahaan, sehingga dengan mudahnya Bagas menjadi mata-mata dan mendapati kerugian yang cukup besar, namun berkat kecerdasan Najwa, semuanya tidak berlarut-larut, dengan segera Najwa menanganinya sampai ke akarnya.
"Semua manusia bisa khilaf, Pa. Najwa tidak ingin Papa merasa tertekan. Najwa butuh Papa di samping Najwa, bukan di belakang Najwa. Jadi, tolong jaga kesehatan Papa, ya? Kalau Papa lelah, jangan dipaksakan. Najwa sedih kalau Papa sampai sakit." balas Najwa tersenyum miris melihat wajah papanya yang terlihat lelah,tapi terlalu di paksakan.
Afkar mengangguk pelan, merasa hatinya begitu sejuk mendengar kata-kata putrinya. Di balik kelembutan itu, Najwa tetap menjaga agar pekerjaan tetap profesional, namun tanpa sedikit pun mengurangi adabnya.
" kalau begitu,Papa keluar dulu, ada banyak berkas yang perlu papa teliti lagi, Papa tidak mau kecolongan untuk kedepannya lagi" ucap Afkar berdiri,
" iya pah, silahkan " balas Najwa sopan.
Setelah Papanya keluar ruangan, Najwa menghela nafasnya panjang.
" maafkan Najwa pah, Najwa berjanji tidak akan selamanya berada disini, bagaimanapun juga, Najwa tidak berhak berada di sini, tunggu kak Alendra atau akan Adrian siap, barulah Najwa akan menyerahkan semuanya kepada mereka" gumamnya pelan, Najwa sendiri tidak bercita-cita sebagai penguasa, keinginannya , setelah menikah nanti ,ia ingin menjadi ibu rumah tangga.
***
Di Singapura, Raisa sedang berada di butik mewah, namun pikirannya jauh melayang ke Jakarta. Santi masuk membawakan sebuah tablet yang menampilkan grafik saham.
"Sesuai permintaanmu, kita sudah mulai menyerap saham Suhadi Group lewat perusahaan cangkang. Tapi Raisa... apa kau yakin ingin melakukan ini? Najwa itu tetap adikmu, kau bagian dari mereka, dulu mereka sangat memanjakan mu" ucap Santi masih mencoba untuk membujuk putrinya.
Raisa menatap pantulan dirinya di cermin, mengenakan gaun sutra yang elegan "Dia tidak melepaskanku karena sayang, Bu. Dia melepaskanku agar dia bisa terlihat seperti pahlawan. Dia ingin aku merasa berhutang budi padanya selamanya. Aku benci itu." itulah pemikiran kotor Raisa pada Najwa, yang sebenarnya tidak mau tersaingi.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"tanya Santi dengan wajah penasaran, untuk saat ini mengalah lebih baik,
"Ibu bilang Ibu punya sengketa lahan lama dengan Kakek Suhadi di daerah Jawa Barat, kan? Aku ingin Ibu menghidupkan kembali kasus itu. Biarkan Najwa sibuk dengan urusan hukum dan media. Di saat dia lengah, aku akan masuk sebagai 'penyelamat' saham mereka yang jatuh, lalu aku akan menyingkirkannya dari kursi direktur itu secara perlahan." ucap Raisa dengan tersenyum misterius.
Santi mendesah pelan "Kau sangat mirip dengan kakek kandung mu jika sedang marah, Raisa. Dingin dan terencana, bedanya kami dulu hidup miskin."
***
Malam harinya, Najwa pulang dan mendapati Monica sedang menunggunya dengan segelas air zam-zam dan kurma.
"Najwa, Nak... ini diminum dulu supaya badannya segar. Mama tahu kamu sibuk sekali hari ini." ucap Monica dengan tulus, ia sangat sadar, kalau Najwa benar-benar baik dan tulus.
Najwa tersenyum tulus, mencium tangan Monica "Terima kasih, Ma. Repot-repot sekali. Harusnya Mama istirahat saja."
"Mama tidak bisa tenang kalau belum lihat kamu pulang. Najwa... Mama mau tanya. Bagaimana Papa di kantor? Apakah dia merepotkanmu?" tanya Monica cemas.
"Papa sangat membantu, Ma. Hanya saja Papa sering merasa tidak enak hati. Najwa sudah bilang kalau Najwa tetap sayang Papa, tapi sepertinya Papa masih sangat menyesal."jawab Najwa pelan.
"Maafkan mama nak, ini semua salah mama, dan biarlah itu jadi prosesnya untuk berubah, Nak. Oh iya, ada surat tanpa nama yang datang sore tadi untuk Kakek. Mama tidak berani membukanya, Mama taruh di meja kerja Kakek." balas Monica merasa bersalah.
Najwa mengangguk, namun perasaannya mendadak tidak enak. Ia teringat kata-kata kakeknya tentang musuh dalam selimut.