"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga puluh tiga
Suasana di meja makan kediaman Suhadi pagi itu terasa sangat berat. Denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara di ruangan yang luas itu. Kakek Suhadi duduk di ujung meja dengan gurat wajah yang tak terbaca, sementara Afkar dan Monica duduk tertunduk, tidak berani menyentuh sarapan mereka.
Setelah meneguk teh hangatnya, Kakek Suhadi meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang tegas, membuat semua orang tersentak.
"Damar," panggil Kakek Suhadi pada orang kepercayaannya yang berdiri sigap di sudut ruangan. "Siapkan tim. Aku ingin kalian menyisir seluruh pelabuhan dan mencari tahu siapa yang membawa mobil hitam semalam. Cari Raisa sampai ketemu."
Kakek menoleh pada Najwa, Alendra, dan Adriansyah. "Kalian juga, jangan biarkan urusan ini menggantung. Raisa membawa banyak rahasia keluarga ini di kepalanya. Dia berbahaya jika berada di tangan yang salah."
Najwa mengangguk patuh, "Baik, Kek. Najwa akan bantu lewat jaringan..."
"TIDAK! Jangan cari dia!"
Suara Monica memotong pembicaraan itu. Ia berdiri dari kursinya, tangannya gemetar menekan pinggiran meja. Matanya sembab, sisa tangis semalam masih terlihat jelas.
Kakek Suhadi mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu, Monica? Dia anak yang sudah kau besarkan, dan mengkhianati keluarga kita , bahkan menghina mu. Kau tidak ingin tahu dia selamat atau tidak?"
Monica menggeleng kuat-kuat, air matanya kembali luruh. "Cukup, Ayah. Biarkan dia pergi. Biarkan dia menghilang. Bagaimana pun juga, dia putri ku, putri yang aku rawat dengan penuh cinta, aku tidak tega melihat nya berada di jeruji besi...hiks hiks hiks"
"Monica, apa yang kau katakan?" Afkar mencoba memegang tangan istrinya, namun Monica menepisnya dengan kasar.
"kemarin..." suara Monica tercekat. "Sebelum dia pergi , aku melihat kebencian yang murni untuk kita semua. Jika kita mencarinya, kita hanya akan memberinya panggung untuk menyakiti kita lagi." usul Monica membuat Najwa terheran.
Monica menatap Najwa dengan tatapan penuh rasa bersalah yang teramat dalam. "Najwa, maafkan Mama... Mama sadar sekarang. Selama ini Mama melindungi monster di bawah tempat tidur kita sendiri, sementara Mama membuat semuanya membencimu, maafkan mama nak.. hiks hiks".
Najwa mengangguk" Najwa sudah memaafkan mama" balas Najwa yang tidak bisa membenci.
Monica kemudian bersimpuh di hadapan Kakek Suhadi. "Ayah, aku mohon. Jangan cari Raisa. Biarkan dia hidup dengan pilihannya sendiri. Jika dia kembali karena kita yang mencari, dia akan merasa dirinya masih berharga bagi kita. Biarkan dia sadar bahwa dengan kepergiannya semalam, dia benar-benar telah kehilangan segalanya dari keluarga ini."
Najwa melangkah mendekat, lalu berjongkok untuk merangkul bahu Monica. "Ma... bangkitlah. Jangan seperti ini."
"Najwa... gara-gara dia , Suryo hampir mencelakaimu semalam hiks hiks hiks," tangis Monica pecah di pelukan Najwa. "Mama malu... Mama sangat malu karena pernah membelanya mati-matian di depanmu. Tolong, jangan cari dia. Biarkan ini menjadi hukuman baginya, kehilangan keluarga yang tulus mencintainya."
Kakek Suhadi terdiam lama. Ruangan itu kembali sunyi, hanya terdengar isak tangis Monica yang menyesali kebutaannya selama belasan tahun.
"Baiklah," ucap Kakek Suhadi akhirnya dengan suara berat. "Jika itu maumu. Kita tidak akan mencarinya. Tapi jika dia kembali untuk mengusik ketenangan cucu-cucuku... saat itu, aku tidak akan mengenalnya sebagai manusia lagi."
" tapi kita semua harus tetap waspada" lanjutnya.
Tanpa mereka sadari, keputusan untuk tidak mencari Raisa justru memberikan ruang bagi Raisa dan ibu kandungnya, Santi, untuk menyusun rencana yang jauh lebih rapi di balik bayang-bayang.
***
Sementara di tempat lain Santi menghela napas lega, ia meraih tangan Raisa dan menggenggamnya erat. "Anak buahku sudah membereskan semuanya, Raisa. Identitasmu, jejakmu di pelabuhan semalam semuanya sudah dihapus. Besok pagi kita sudah ada di luar negeri. Kau aman sekarang, Nak. Ibu berjanji tidak akan ada yang bisa menyentuhmu lagi."
Raisa menarik tangannya dengan kasar. Ia menoleh, menatap Santi dengan mata yang menyala.
"Aman tidak cukup, Bu! Ibu pikir aku senang dilarikan seperti pecundang?" suaranya dingin, menusuk hingga ke tulang. "Najwa... dia tidak melaporkanku. Dia melepaskanku pasti karena dia merasa menang. Dia merasa kasihan padaku karena dia tahu aku tidak punya siapa-siapa lagi di rumah itu. Aku benci dikasihani!"
Santi mencoba tetap tenang, meski hatinya perih melihat kebencian di mata putrinya. "Sayang, dengarkan Ibu. Kita mulai hidup baru. Di Singapura, kita punya perusahaan properti dan teknologi yang harus kau kelola. Lupakan mereka. Lupakan keluarga Suhadi yang tidak menghargaimu itu."
Raisa tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar mengerikan di tengah kesunyian kamar hotel. "Lupakan? Ibu salah. Aku tidak akan melupakannya bahkan untuk satu detik pun. Justru karena dia melepaskanku , Najwa telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia memberiku napas, dan napas itu akan kugunakan untuk meniupkan api yang akan membakar seluruh hidupnya."
"Raisa, cukup..." bisik Santi.
"Tidak, Bu! Dia pikir dia sudah menang karena punya kakek yang hebat ? Dia hanya memberiku waktu untuk membangun senjata yang lebih mematikan. Aku akan mempelajari setiap kelemahannya, setiap gerak-gerik bisnisnya. Aku akan membangun kerajaan yang akan menghancurkan kerajaan Suhadi sampai ke pondasi terbawah."
Raisa mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Dia akan memohon padaku untuk membunuhnya, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku akan membiarkannya hidup dalam kemiskinan dan kehinaan, persis seperti yang dia lakukan padaku semalam."
Santi hanya bisa terdiam, menatap putrinya dengan ngeri. Ia menyadari satu hal, ia tidak hanya membawa pulang seorang putri, tapi ia telah menjemput badai yang siap menghancurkan apa saja.
" bagaimana aku bisa merubah putriku untuk menjadi baik" gumam Santi dalam hati melihat wajah putrinya dengan sendu, ternyata keputusan nya meninggalkan putrinya pada orang kaya itu salah, putrinya tumbuh dengan keangkuhan,dan ambisius. Ia menyesal.
***
Sementara itu, di ruang makan yang kini dipenuhi ketegangan baru, Kakek Suhadi menatap Monica dengan tajam.
"Kenapa, Monica? Kenapa kau begitu keras kepala melarang kami mencari Raisa?" tanya Kakek dengan suara menggelegar.
Monica menyeka air matanya, ia menatap Kakek dengan keberanian yang jarang ia tunjukkan. "Karena jika Ayah mencarinya, Ayah hanya akan menyiram bensin ke api yang sudah menyala di hati anak itu. Aku ibunya, Ayah! Meski bukan ibu kandung, aku yang menyuapinya selama sembilan belas tahun. Aku tahu setiap kerutan di dahinya."
"Tapi dia bisa mencelakakan Najwa lagi!" sela Alendra tidak sabar. "Dia punya akses, dia punya informasi!"
"Justru itu, Alendra!" sahut Monica cepat. "Semakin kita mengejarnya, semakin dia merasa dirinya penting. Dia ingin kita marah, dia ingin kita merasa terancam. Tapi jika kita membiarkannya pergi seolah-olah dia adalah butiran debu yang tidak berarti... itulah hukuman terberat bagi Raisa. Dia haus akan pengakuan. Mari kita beri dia kesunyian."
Najwa, yang sedari tadi hanya menyimak, akhirnya angkat bicara. "Mama benar, Kek."sahut Najwa tersenyum, senyum yang terlihat sangat polos bagi siapapun yang melihatnya.
Semua mata tertuju pada Najwa.
lanjuuut Thor 😍😍