Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Nyanyian Mati Sang Gagak
Langit Kota Emerald pada malam itu terasa mengancam. Sejak siang tadi, kilat menyambar tanpa diiringi rintik hujan. Ketegangan bergelayut dalam diam.
Kamar belakang keluarga Kusuma yang biasa digunakan Arya kini berantakan. Jendela pecah berantakan dengan hembusan udara malam masuk menyelinap dingin. Arya menyedekapkan kedua tangan, matanya menyipit menangkap aroma darah yang masih melekat dari belati bengkok ketiga utusan Gagak Hitam tersebut.
"Rendahan," gumamnya, matanya menatap tiga titik noda di atas rumput halaman, tempat para penyusup mendarat beberapa jam lalu.
Sementara itu, di lantai atas, Nadia tidak bisa memicingkan matanya. Kekacauan hari-hari ini, walau berujung kesuksesan yang di luar dugaan, memaksanya menyadari satu fakta pahit: kesuksesannya memancing para serigala di luar sana yang lebih mengerikan dibandingkan paman dan bibinya.
Ponsel Nadia bergetar di atas nakas.
"Nadia." Suara di seberang sana sangat pelan, berat, dan tenang. Darma Kusuma.
"Ayah? Ayah seharusnya banyak istirahat."
"Tidak. Sesuatu telah terjadi, Nadia. Rumah sakit baru saja disusupi."
"Apa?!" Nadia nyaris memekik sebelum menutup mulutnya sendiri dengan tangan.
"Ada orang... beberapa orang masuk menyelinap. Mereka memakai topeng. Beruntung, ada seseorang, mungkin orang bayaran yang tak aku ketahui, entah dari Emerald Group atau orang lain. Mereka menumpas penyusup itu dalam hitungan detik. Ruanganku kini dijaga ketat. Bagaimana keadaan rumah, Nak?"
Tubuh Nadia menegang. Ia teringat suara-suara aneh dari arah belakang rumah. Mungkinkah?
"N-nanti kuhubungi kembali, Ayah."
Nadia melempar selimut, menyalakan senter ponsel, dan bergegas turun dari kamarnya. Rumah ini membesar sejak pamannya angkat kaki. Kini, kesunyiannya terasa merongrong. Nadia berjalan dengan ujung jari telanjang di sepanjang selasar panjang, langkahnya tertuju ke kamar belakang tempat Arya biasanya menenangkan diri.
Aroma angin malam menyapu pipi Nadia, namun tidak murni. Ada anyir. Tangannya gemetar begitu menyentuh gagang pintu.
Klek.
Matanya melebar. Pecahan jendela berserakan, dan Arya sedang mengemasi sebilah belati beracun sisa si pembunuh di atas lipatan saputangan. Wajah Arya terfokus, tapi segera mengalihkan pandangan kepadanya. Sorot mata pria ini masih tetap dalam dan tidak terbaca.
"Arya, apa yang... apa yang terjadi?" serak suara Nadia.
"Malam yang cukup berangin. Jendelanya terbanting," balas Arya dengan nada sangat rata, seolah tidak terjadi apapun, sambil memasukkan lipatan saputangan ke dalam jaketnya.
"Berhentilah berbohong padaku!" Nadia akhirnya hilang kesabaran. Tubuhnya bergetar, setengah karena marah dan sebagian besarnya adalah karena teror dari panggilan ayahnya baru saja. "Ayah baru diserang di rumah sakit, dan ini... jendela ini meledak begitu saja? Beri tahu aku, apa kau... kau terlibat, Arya?!"
Pria di depannya tak bereaksi selama sekian detik, kemudian tersenyum muram. Senyuman yang mengisyaratkan seribu pedang.
Arya berjalan mendekati istrinya, cukup dekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan. Nafas dingin yang Arya hembuskan memberikan sensasi dominan di balik bahu Nadia.
"Bukan terlibat, Nadia," bisik Arya tenang. "Tapi kamilah alasan mereka ada di sini. Saat cahaya menyilaukan dan menarik kekuasaan, maka lalat tak terlihat dari segala sisi kegelapan pasti bermunculan."
Arya mengangkat sebelah tangan dan menyelipkan poni Nadia yang menjuntai lelah. "Kau tidak perlu peduli siapa lalat-lalat itu. Bagianmu adalah di terang, membangun kembali kerajaan ini. Bagianku..." Matanya berkilat menatap kaca retak. "...adalah membersihkan kegelapan di luar."
Di luar sana, jauh di kawasan tersembunyi, sebuah klub malam milik jaringan gelap Gagak Hitam baru saja menembus waktu tengah malam. Musik berdentum memekakkan, menutupi lantai tersembunyi di ruang bawah tanah.
Pemimpin Gagak Hitam cabang Emerald, "J", duduk di atas sofa beludru, menyesap cerutu dengan senyum percaya diri. Tiga anak buah terbaiknya, si trio elang yang dikirimkannya ke kediaman Kusuma malam ini, belum melapor. Tetapi, tidak pernah dalam sejarah mereka gagal. Tidak untuk mengurus seekor anjing peliharaan.
Pintu ganda ruang bawah tanahnya di dobrak kencang. Dua penjaga terhempas bersama pintu.
BRAK!
Semua orang di ruangan itu menoleh, senjata dikokang, tapi segera bergetar dan menjatuhkan pegangan mereka.
Di ambang pintu, berdirilah Herman Atmaja, wajahnya nyaris tidak berbentuk. Pucat. Berkeringat dingin. Tangan Herman menyeret sesuatu... atau tepatnya, seseorang.
Itu adalah salah satu dari trio elang, tak sadarkan diri, kakinya remuk tak beraturan.
"Kau..." J mematikan cerutunya, alisnya bertaut. "Apa-apaan ini, Herman? Di mana sisanya? Kenapa dia kau bawa kemari?!"
"D-dia... Tuan..." Suara Herman nyaris hilang, air mata ketakutan membasahi jas mahalnya. "Pemuda itu..."
Belum sempat Herman melanjutkan, sebuah suara santai menyapa dari lorong gelap di belakang punggungnya. Suara yang membelah musik berisik dengan presisi menyakitkan telinga.
"Trio Elangmu tidak akan kembali, Tuan J."
Sesosok pria muda melangkah keluar dari kegelapan, kedua tangannya dimasukkan santai ke saku jaket katun yang warnanya sudah memudar. Arya melangkah masuk ke sarang dari sindikat paling mengerikan di kota tersebut, persis seperti orang asing yang tak sengaja masuk ke taman bermain.
"Siapa kau?!" J merogoh laci di balik mejanya, mengeluarkan revolver. "Penjaga! Tembak!!"
Empat pembunuh yang tersisa di ruangan langsung mengarahkan laras. Arya hanya menghela napas.
"Malam ini sungguh berisik."
Dalam sekejap mata, Arya menghilang.
Tidak. Dia tidak menghilang. Kecepatannya jauh melampaui kemampuan visual biasa yang mengawasi. Hanya dalam beberapa detakan jantung, suara patahan tulang menggema, bercampur rintihan.
Satu detik kemudian, keempat pembunuh itu bergeletak di lantai, senjata mereka hancur berkeping-keping.
J membeku, revolvernya tak sanggup diangkat. Ia seperti dihadapkan pada iblis yang baru bangkit dari neraka.
Arya kini berdiri hanya satu jengkal darinya, dengan telapak tangan menahan meja. Matanya menyala redup dalam cahaya temaram.
"Kau menargetkanku, itu bodoh. Namun kau menargetkan ayah mertuaku, itu adalah tiket pulang ke dunia bawah." Arya menyeringai.
Herman di sisi pintu mulai merangkak, putus asa mencoba melarikan diri.
Arya melirik lewat bahunya tanpa berbalik. "Dan kau, Herman Atmaja. Pulanglah, temui putramu. Tanyakan padanya warna peti mati apa yang ingin ia pesan untuk kalian berdua besok siang."
J menjatuhkan pistolnya, berlutut tak berdaya.