Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 – Bayangan yang Mengikuti
Api merah membakar separuh blok kota barat Astra City. Gedung-gedung yang sudah retak kini runtuh sepenuhnya, dan jalanan dipenuhi kilatan energi merah kehitaman.
Raka mendarat keras di tengah aspal yang retak, energi biru menyelimuti tubuhnya.
Kayla melayang turun di sampingnya, gravitasi berputar pelan di sekitar kakinya.
Di depan mereka—
Seorang pria berdiri di tengah kobaran api.
Rambutnya hitam panjang, mantel gelap berkibar tertiup panas ledakan. Matanya menyala merah, tapi tidak liar seperti Astra biasa.
Ia tenang.
Terlalu tenang.
“Jadi… ini Alpha Prime?” ucapnya pelan.
Raka mengepalkan tangan.
“Berhenti panggil aku itu.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Menarik. Bahkan belum menerima namanya sendiri.”
Kayla berbisik pelan pada Raka,
“Hati-hati. Energinya stabil. Ini bukan Astra liar.”
Pria itu membungkuk sedikit.
“Perkenalkan. Namaku Vareth. Eksekutor Eclipse.”
Raka menatap tajam.
“Apa maumu?”
Vareth berjalan perlahan, api di sekelilingnya seakan menyingkir.
“Kami hanya ingin berbicara. Tapi Helios selalu lebih dulu menanamkan ketakutan di kepalamu.”
Kayla mengangkat tangan, gravitasi mulai menekan tanah di bawah Vareth.
“Kalau hanya bicara, kenapa bakar satu blok kota?”
Vareth tersenyum miring.
“Untuk memastikan kalian datang.”
Tiba-tiba—
Bayangan di belakang Vareth bergerak.
Adrian muncul.
“Aku sudah bilang, cara kalian selalu berlebihan.”
Vareth melirik tanpa menoleh.
“Dan kau selalu terlalu lembut, Adrian.”
Raka mengerutkan kening.
“Jadi kau benar-benar bagian dari mereka.”
Adrian menatap Raka, wajahnya sulit ditebak.
“Aku bagian dari kebenaran yang tidak ingin kau dengar.”
Raka melangkah maju.
“Kalau begitu katakan sekarang!”
Vareth tertawa kecil.
“Baiklah. Alpha Prime, kau bukan sekadar eksperimen Helios. Kau adalah inti dari Proyek Astralis. Mereka mencoba menciptakan wadah bagi inti kosmik murni.”
Kayla terdiam.
“Wadah?”
Adrian melanjutkan, suaranya lebih rendah.
“Energi yang kau miliki bukan kekuatan manusia. Itu pecahan dari entitas kosmik yang jatuh sebelum Gerhana Abadi.”
Raka merasakan dadanya bergetar.
“Entitas…?”
Vareth mengangguk.
“Makhluk yang ada sebelum dunia mengenal waktu. Helios mencoba mengikat energinya ke tubuh bayi yang kompatibel.”
“Dan bayi itu aku,” bisik Raka.
Sunyi beberapa detik.
Kayla menatap Adrian tajam.
“Kenapa Eclipse peduli?”
Vareth tersenyum tipis.
“Karena Helios ingin mengendalikan entitas itu. Kami ingin membebaskannya.”
Raka mengangkat kepala.
“Membebaskan? Kau sadar itu bisa menghancurkan dunia?”
Vareth menatap langit merah.
“Dunia ini sudah retak. Kami hanya ingin melihat apa yang lahir setelah kehancuran.”
Kayla mendesis pelan.
“Gila.”
Tiba-tiba energi merah menyala di tangan Vareth.
“Namun sebelum semua itu… kami ingin memastikan satu hal.”
Ia menatap Raka dalam.
“Seberapa stabil wadahnya.”
BOOOM!
Gelombang energi merah meledak ke arah Raka.
Kayla langsung meningkatkan gravitasi, mencoba menahan tekanan.
“Raka! Jangan terpancing!”
Raka mengangkat tangan, plasma biru membentuk perisai. Dua energi bertabrakan, menciptakan ledakan cahaya yang mengguncang gedung di sekitarnya.
Adrian melompat mundur ke bayangan.
Vareth tersenyum lebar.
“Bagus. Sangat bagus.”
Raka menggertakkan gigi.
“Aku bukan wadah!”
Ia mendorong energi biru lebih kuat, memecah gelombang merah Vareth.
Tanah retak.
Api padam seketika oleh tekanan kosmik.
Kayla merasakan gravitasi di sekelilingnya kacau.
“Raka… energimu melonjak!”
Vareth melangkah mundur satu langkah, tapi masih tersenyum.
“Ya… ini yang kami tunggu.”
Raka menatapnya dengan mata biru menyala penuh.
“Kalian semua hanya ingin menggunakanku!”
Energi kosmik meledak dari tubuhnya, membentuk lingkaran cahaya raksasa.
Gedung-gedung bergetar.
Langit merah di atas mereka sedikit merekah.
Adrian berteriak dari bayangan,
“Raka! Jika kau lepaskan lebih jauh, retakan itu akan melebar!”
Kayla terbang mendekat, memeluk Raka dari belakang, meningkatkan gravitasi di sekitar tubuhnya untuk menstabilkan.
“Fokus padaku!” teriaknya. “Jangan pada mereka!”
Raka terengah.
“Aku… aku tidak ingin jadi alat siapa pun…”
Kayla berbisik di telinganya,
“Maka jangan jadi alat. Pilih sendiri jalurmu.”
Perlahan, cahaya biru meredup.
Lingkaran energi mengecil.
Vareth memperhatikan dengan serius.
“Menarik. Sangat menarik.”
Ia menatap Adrian.
“Dia lebih stabil dari prediksi.”
Adrian menjawab datar,
“Aku sudah bilang.”
Raka menatap Vareth tajam.
“Jika kau datang hanya untuk menguji aku, maka ujiannya selesai. Pergi.”
Vareth tersenyum tipis.
“Belum. Tapi untuk malam ini… cukup.”
Ia berbalik.
“Sampaikan pada Helios… Eclipse sudah melihat masa depan mereka.”
Tubuhnya berubah menjadi serpihan cahaya merah dan menghilang.
Sunyi.
Hanya suara api yang tersisa.
Kayla perlahan melepaskan Raka.
“Kau hampir merobek langit lagi.”
Raka menatap tangannya yang gemetar.
“Entitas kosmik… wadah… Alpha Prime…”
Ia menatap Adrian.
“Seberapa banyak yang belum kau katakan?”
Adrian terdiam sesaat.
“Cukup banyak.”
Raka mendengus.
“Kalau begitu mulai bicara.”
Adrian menatap retakan langit di atas mereka.
“Baik. Tapi bukan di sini. Karena jika Vareth berani muncul, berarti pemimpin Eclipse sudah bergerak.”
Kayla mengerutkan kening.
“Pemimpin?”
Adrian mengangguk pelan.
“Dan dia… jauh lebih berbahaya.”
Angin malam kembali berhembus.
Retakan di langit tampak sedikit lebih jelas dari sebelumnya.
Raka menyadari satu hal:
Ia bukan hanya diincar.
Ia sedang diperebutkan.
Dan perang sebenarnya… baru saja dimulai.