Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa sebenarnya dia?
Sore hari terlihat Sugeng mengikat leher keempat sisa kambingnya dengan tambang. Ia hendak menjual keempat kambing tersebut, agar polisi tak curiga ia dapat uang dari mana untuk membuka warung dan membuatkan usaha untuk kakaknya.. ya! Sugeng berencana membuatkan usaha untuk kakaknya, dan Sugeng juga berencana untuk merehap kamar mandi rumahnya.
Sugeng menarik keempat kambingnya dan berjalan hendak ke pasar menjual kambing kambingnya.
Di halaman Sugeng berpapasan dengan Isna yang hendak masuk kerumah.
Tampak Isna hanya menunduk saja, sambil melangkah pelan.
"Na.. bilangin uti sama Mbak Sekar. Mas mau ke pasar jual kambing.." jawab Sugeng..
"Iy.. iya mas... hati hati.." sahut Isna seraya menatap Sugeng sesaat.
Sugeng pun berlalu begitu saja...
"Pak.." Sapa Sugeng tersenyum kepada tukang cilok di sebrang jalan.
Tukang cilok itu balas tersenyum.. "iya mas.. mau kemana, siang siang gini? Mau ajak kambingnya jalan jalan ya mas?" Tanya tukang cilok itu bercanda.
"Nggak pak.. mau di jual kambing kambing ini, duitnya mau buat rehap kamar mandi soalnya di rumah saya sekarang ada kakak saya sama anaknya cewek cantik lagi... bahaya nanti kalau ada yang ngintip. Duluan ya pak." Ujar Sugeng.
"Iya mas, hati hati." Jawab tukang cilok itu.
Sugeng berjalan menjauh... tampak tukang cilok itu menyipitkan matanya memandangi Sugeng.
"Dia sepertinya pemuda baik baik, dari tampangnya dan tata cara bicaranya dia layaknya orang baik.. apakah benar ia pelakunya? Dia bahkan rela menjual semua kambingnya demi merehap kamar mandi, dia pasti tak ingin ada yang berniat buruk kepada keluarganya.." batin Tukang Cilok itu.
Ia langsung mengirim pesan kepada para rekan rekannya.
Tak lama kemudian Pak RT dan beberapa warga setempat datang kerumah Sugeng, karena mendapatkan kabar bahwa ada wanita yang tinggal di rumah Sugeng agar tak terjadi kesalah pahaman.
Tampak Pak RT dan dua warga duduk di ruang tamu... dengan di depannya ada nenek Ratmi, Sekar.
"Kopi bapak-bapak.." ujar Isna seraya menatap kopi di meja.
"Iya.."
"Bew.. ini anaknya mbak Sekar ya? Beneran mirip sama ibunya waktu muda dulu, ya?"
"Hehe iya pak, makasih..." jawab Sekar cengengesan. Sementara Isna hanya diam saja, ia sama sekali tak tersenyum dan ekspresinya seolah menyimpan kesedihan..
Mereka semua terus berbincang hingga tak lama kemudian dua polisi datang, memberi salam.
Nenek Ratmi pun mempersilahkan mereka masuk.
"Permisi bapak bapak,, maaf mengganggu waktunya. Di sini saya mau meminta keterangan kepada nenek Ratmi.." ucap salah satu polisi.
"Keterangan apa ya pak?" Tanya Nenek Ratmi.
"Emm... semalam apakah cucu ibu yang bernama Sugeng itu ada di rumah?" Tanya salah satu polisi.
"Tunggu dulu! Ada apa ini? Apa ini ada hubungannya dengan kasus Linda? Dan bapak mencurigai Sugeng? Ngga mungkin, dia anak baik baik!" Bantah Nenek Ratmi.
"Kami sedang mengumpulkan bukti, nek. Kami tidak menjadikan Sugeng sebagai tersangka. Di kasus ini hanya Sugeng yang memiliki dendam kepada Bu Linda dan dia yang berpotensi melakukan ini semua." Sahut polisi lainnya.
Nenek Ratmi hendak marah marah namun Pak RT terlebih dahulu memotong.
"Sugeng tadi malam nonton orang main gaple di gardu pak... sama ikut ronda juga. Iya kan To, Jo?" Ucap Pak RT.
Kedua warga di sampingnya mengangguk.
"Iya pak, tadi malem Sugeng ada di Gardu, dia memang sering main kesana.. walaupun bukan jadwal rondanya." Sahut Yanto.
"Benar Pak, tapi tadi malem Sugeng sedikit aneh.. dia duduk diem aja di pos.. pas saya tanya katanya lagi pusing, banyak pikiran. Makanya kita semua diemin dia aja, mungkin dia memang lagi banyak pikiran." Sahut Jojo di angguki Pak RT dan Yanto.
"Hmm... apa di sekitar Gardu itu ada CCTV yang bisa membuktikan kebenaran Sugeng berada di sana?" Tanya salah satu polisi.
"Ada pak.. Rumah Bu Wati kan halaman depannya ada CCTV pasti Gardu juga kesorot.." jawab Pak RT.
"Iya juga ya.. pak.."
"Kalau begitu ayo kita segera kesana."
Ketiga bapak bapak dan kedua polisi itu akhirnya pergi menuju kerumah Bu Wati untuk mengecek CCTV.
"Nek, ada apa sih? Kok tiba tiba ada polisi cari Sugeng?" Tanya Sekar penasaran.
Nenek Ratmi kemudian menceritakan semua berita tentang Linda yang di rampok dan kemungkinan besar di perk*sa, ia juga menceritakan tentang Sugeng yang terpaksa meminjam uang kepada Linda secara diam diam tanpa sepengetahuan Sekar.
Tampak Sekar dan Isna tercengang mendengar itu..
"Ma.. maksud nenek selama ini, Sugeng berjuang sendiri?" Mata Sekar berkaca kaca.
Nenek Ratmi mengangguk, "ya, dia meminjam uang Linda dan berusaha melunasi sendiri.. kamu sengaja ngga di kasih tau, takut ngerepotin apalagi waktu itu Isna masih kecil, pengeluaran kamu pasti lebih besar.."
"Ma.. maaf, nek.. Sekar emang benar benar ngga berguna. Pantes aja Sugeng milih putus sekolah, ternyata itu alasannya! Dia pasti ngga mau jadi beban nenek dan lebih fokus lunasin hutang itu... terus sekarang apa hutangnya udah lunas nek?"
"Alhamdulilah sudah.. walaupun ngga sekolah pinter adek kamu itu nyari uang.. katanya waktu umur dia 14 tahun dia udah jadi author novel online gitu... buat cerita apa apalah ngga paham nenek, bayarannya pake dollar dia kumpulin sampe kekumpul seratus juta lebih dan dia buat lunasin hutang itu.."
Sekar terkejut, dalam hatinya dia berucap, "author? Apa iya Sugeng bisa buat novel... dia ngga sekolah.. apa iya dia tahu letak tanda baca? hmm tapi bisa aja, mungkin aja dia banyak baca novel dan banyak dikit pengetahuan tentang buat novel yang bagus."
Isna termenung, ia kemudian berjalan masuk ke kamar dan berbaring di sana seraya menatap langit langit kamar yang di penuhi dengan sarang laba laba dan debu.
"Ternyata ngga semua laki laki jahat.. tapi, apa iya Mas Sugeng itu bisa jadi author?" Batin Isna ia sedikit tak percaya dengan itu.
***
Di tempat lain tampak kedua polisi itu memicingkan matanya menatap rekaman ulang CCTV tadi malam.
Tampak di gardu atau pos ronda para bapak bapak duduk berkumpul di sana seraya tertawa terbahak bahak dan bermain gaple. Di sana juga ada Pak RT, Jojo dan Yanto.
Kedua polisi itu memperhatikan Sugeng yang duduk dengan pandangan kosong di bawah pohon mangga samping gardu.
Ya! Di sana tampak jelas Sugeng duduk dengan tatapan kosong seolah tidak memiliki jiwa, ia hanya diam.. tak berkumpul dengan bapak bapak lainnya.
Kedua polisi itu mengirim rekaman CCTV itu kepada Pak Jaya...
"Baik terimakasih Bu Wati karena telah berkenan menunjukan rekaman ini.. kami pamit dulu.." ujar salah satu polisi.
"Ya Pak sama sama..."